Ditulis oleh Teguh, Selasa, 26 Juli 2011 03:14

Minangkabau tak pernah kering menginspirasi sia­pa­pun. Adat dan
budayanya yang unik dengan menganut sistem kekerabatan mat­rili­neal,
seolah menyihir, terutama bangsa dari belahan Eropa dan Amerika,
berlama-lama mendalami Minangkabau.

Maka, jangan heran, tak sedikit buku lahir dari peneliti asing tentang
Minangkabau yang menjadi rujukan dan buku baboon untuk studi
Minangkabau. Sebut saja Christine Dobbin, menulis buku Gejolak
Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847.
Buku ini menguraikan secara tepat, sejarah ekonomi Minangkabau
pedalaman pada pada 18, yang memang masih terbatas diketahui. Faktor
ekonomis itu dikesankan mendorong proses reformasi Islam di peda­laman
Minangkabau, yang tercermin dalam gerakan Padri, yang sebagian pakar
menilai masih konroversial hingga kini.

Itu hanya sekadar contoh bagaimana Minangkabau dengan segenap isi di
dalamnya masih menjadi kajian yang menarik bagi orang lain.

Beberapa waktu lalu, wartawan Haluan, Meidella Syahni selama sepekan,
bersama dua jurnalis asing menelisik secara saksama tentang adat dan
budaya Minangkabau dengan mewawancari beberapa sumber yang berkompeten
dengan budaya Minangkabau.

Jurnalis itu adalah Daniella Saphiro, seorang jurnalis lepas asal New
York City, Amerika Serikat dan Susan Schulman yang biasa berdomisili
di London, Inggris, sengaja datang ke ranah Minang untuk meneliti
kebudayaan, bahasa dan sistem adat istiadat Minang yang selanjutnya
menjadi bahan liputannya.

Keduanya bekerja sebagai jurnalis dan kameramen untuk The Daily Beast
dan News Week. Kedua media yang berbasis di Negeri Paman Sam ini
mengutus mereka untuk mempelajari keunikan budaya Minang, terutama
yang berkaitan dengan sistem matrilineal yang dianut masyarakat
Minangkabau.

“Sebagai satu etnik besar yang ada di dunia, kami ingin mengetahui
bagaimana sistem matrilineal diterapkan di sini. Selain itu kami juga
ingin mengetahui keunikan apa saja yang dimiliki Minangkabau sehingga
bisa menjadi suku bangsa yang cukup dikenal di dunia internasional,”
ujar Danielle ketika Haluan menanyakan alasannya datang yang ranah
Minang ini.

Bagi mereka, sistem matrilineal Minangkabau merupakan sesuatu yang
sangat menarik karena memberikan porsi yang besar dan penting terhadap
kaum perempuan dalam masyarakat Minangkabau.

“Sangat berbeda dengan kebanyakan sistem yang ada di Barat, ketika
laki-laki dan perempuan cenderung berkompetisi untuk mendapatkan
kesetaraan, ternyata di Minangkabau justru perempuan diberikan
penghargaan lebih dalam semua aspek kehidupan. Kami ingin mengetahui
bagaimana penerapannya,” tambah Susan.

Dijelaskannya, mengetahui berbagai budaya dan tradisi yang ada di
Minangkabau akan menjadi magnet bagi masyarakat di luar Minang untuk
datang. Yang justru sangat menarik lagi, adalah perpaduan adat
Minangkabau dengan Islam sebagai agama yang melandasinya.

“Ya, dengan berbagai konflik dan pencitraan yang dialami Islam saat
ini kami ingin mengetahui bagaimana Islam dan budaya Minang bisa
dijalankan di sini,” ujar Susan lagi.

Filosofi adat bersendi syarak., syarak bersendi Kitabullah, merupakan
simpul penting mengtegrasikan adat dan Islam. “Dari titik dan
pemahaman ini, kami ingin tahu tingkat operasionalnya dalam kehidupan
sehari-hari orang Minang,” kata Daniella Saphiro.

Dalam perjalanan penelitian sejak Selasa (19/7) lalu hingga Senin
(25/7), kedua wartawan ini telah melakukan wawancara dengan beberapa
tokoh adat, penghulu, datuak, bundo kanduang, perempuan-perempuan
Minang. Beberapa di antaranya adalah Ketua Lembaga Kerapatan Adat
Minangkabau (LKAAM) Kota Padang, Prof Zainuddin Dt Rajo Lenggang,
Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar, Prof Dr Rhauda Thaib, dan beberapa
ahli kesenian dan budayawan Minangkabau lainnya.

Perjalanan mereka juga diselingi dengan berkeliling di berbagai tempat
bernilai adat dan sejarah Minangkabau seperti kawasan pusat Songket,
Pandai Sikek, daerah Kerajaan Pagaruyung, Batu Sangkar, dan beberapa
daerah lain seperti Payakumbuh, Bukittinggi dan Pariaman. (h/cw16)

http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7162:dua-jurnalis-perempuan-dalami-minangkabau&catid=21:khas&Itemid=91

Wassalam
Nofend | 34+ | Cikasel

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke