Kamis, 28 Juli 2011 03:24, Harian Haluan

Bulan Juli ini, 62 tahun lalu, merupakan penggal terakhir perjalanan
sejarah PDRI (Des 1948-Juli 1949). Klimaksnya terjadi di Koto Kociek,
Padang Jopang, 50 Kota. Tepatnya tanggal 7 Juli 1949, sebuah rapat
umum diadakan antara pemimpin PDRI dan utusan dari pusat di bawah
pimpinan dr. Leimena, Moh. Natsir dan dr. Halim. Mengambil tempat di
rumah Ibu Djawahir, Koto Kociek, agenda rapat para para petinggi itu
hanya satu, yakni untuk menjemput kembali Mr. Sjafruddin
Prawi­ranegara selaku Kepala Pemerintahan PDRI untuk diajak kembali ke
ibukota Yogyakarta. Rapat dimulai jam 8 malam sampai menjelang subuh,
tetapi tanpa mencapai keputusan akhir.

Penggal terakhir perjalanan sejarah PDRI itu sesungguhnya mengandung
pesan sejarah yang amat penting. Penting karena persoalan bangsa
ternyata diputuskan di sebuah desa kecil. Di situ  berlangsung suatu
dialog ’kebangsaan’ yang penuh emosional, tetapi juga mengandung sisi
rasional-intelektual. Dan yang pasti ia tetap relevan sampai sekarang.
Mengapa demikian?  Pertama-tama, kilas balik peristiwanya dulu. Tahun
terakhir dari perjuangan kemerdekaan Indonesia (1949) disebut ‘zaman
darurat’. Selama tujuh bulan nasib RI yang diproklmasikan 17 Agustus
1945 itu dipertaruhkan lewat pemerintahan darurat (PDRI) setelah
Sukarno-Hatta ditangkap Belanda dengan beberapa menteri kabinet.
Kepala pemerintahan PDRI dipacit oleh Syafruddin Prawiranegara, orang
Sunda keturunan orang Minang juga.  Pusatnya di Sumatera Barat, dengan
kedudukan berpindah-pindah tempat. Setelah berjuang dengan pahit getir
mempertahankan NKRI dalam hutan yang penuh onak dan duri, tiba-tiba
ada yang mengebiri PDRI. Para pemimpin yang tadinya menyerah pasrah
dan ditawan di Bangka, kini tiba-tiba mengambil prakarsa. Bertindak
atas nama Republik, mereka berunding dengan Belanda di bawah
pengawasan UNCI, tetapi kehadiran PDRI tidak diusik-usik. Itulah yang
terjadi dalam perundingan Roem-Royen (Maret-Aril 1949) yang penuh
intrik.

Penggal terakhir perjalanan sejarah PDRI (Juli 1949) di Koto Kociek,
menyisakan sisi sejarah yang penuh emosi, tetapi juga sangat manusiawi
dan penuh empati. Siapa yang tidak kan berang, manakala dilangkahi
secara yang sewenang-wenang. Setelah bersudah payah menegakkan NKRI,
kini PDRI ditinggal sendiri. Silantai, Sumpur Kudus jadi saksi. Di
Koto Kociek, Padang Jopang kemelut sesama pemimpin Republik diakhiri.
Tatkala kecintaan terhadap negara dan bangsa mengatasi segala-galanya.
Ketika nasionalisme jadi acuan pemimpin rakyat, pemimpin yang tak mau
kehilangan akal sehat, memikirkan nasib rakyat agar bangsa ini
bermartabat.

Penggal terakhir perjalanan sejarah PDRI di Koto Kociek, juga
menyisakan sisi sejarah kearifan lokal. Ketika lewat perundingan
formal sampai subuh nyaris gagal. Karena rapat berlangsung emosional
dan vokal. Tiada keputusan yang dapat diambil secara kolegial. Maka
rundingan cara Minanglah jalan yang ditempuh. Lobi-lobi pribadi di
pencuran sewaktu mandi subuh. Tadi rapat semalaman berlangsung gaduh,
gagal menjernihkan masalah yang keruh. Hasilnya ternyata cukup ampuh.
Musyawarah dan mufakat cara Minang menjadi obat penyembuh. Yang
membuat hati Pak Syaf jadi luruh. Hingga bersedia kembali ke Yogya
tanpa disuruh-suruh.

Penggal terakhir perjalanan sejarah PDRI (Juli 1949) di Koto Kociek,
jelas-jelas menyisakan sisi nasionalisme puritan. Watak pemimpin yang
mendahulukan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan pribadi
atau handaitolan. Itulah kepemimpinan altruisme orang sebutkan, yang
lebih peduli dengan rakyat banyak ketimbang yang selalu dijerat
kesulitan dan kemiskinan. Itulah pemimpin tulen yang tak mau mengambil
kesempatan dalam kesempitan, yang tak suka menyabet ’cekeran’. Lewat
mark-up pejualan tanah atau lahan pembangunan. Akhirnya dikirim masuk
tahanan. Mereka ini bukan pemimpin ’benaran’, melainkan pejabat
karbitan, yang membayar mahal untuk mendapatkan kursi jabatan.

Akan halnya Mr. Syafaruddin Prawiranegara, setelah berangkat
meninggalkan 50 Kota menunju Yogyakarta, menyerahkan kembali mandatnya
secara suka rela. Dalam sebuah upacara negara, 13 Juli 1949, di
keraton Yogya, PDRI berganti nakhoda kepada Sukarno-Hatta. Sejak itu
persiapan perundingan Indonesia Belanda diputuskan di Den Haag. Di
sanalah berlangsung pertarungan menang atau kalah.  Yang berakhir
dengan penyerahan kedaulatan kepada pemimin rakyat negeri yang pernah
dijajah. Di Jakarta dan dan daerah persitiwa besar itu disambut
meriah. Namun di balik menyerah kalah, Belanda pun meninggalkan rimah.
Pertama, Irian Barat atau Papua tak hendak diserahkan pasrah. Kedua
Indonesia digantung dengan utang haram jadah. Odius debt istilah pakar
ekonomi dan sejarah, sebab Indonesia harus memikul biaya perang
Belanda untuk membunuh orang Indonesia yang memerdekakan negeri mereka
dari penjajah. Ketiga, masalah Uni-Indonesia Belanda, yang memaksa
Indonesia tetap berada di bawah ketiak Belanda. Ketiganya terpaksa
diterima delegasi Indonesia di Den Haag, asalkan Indonesia segera
memiliki kedaulatan penuh. Nyatanya Belanda terkecoh sudah. Sebab
tahun 1950 Perdana Menteri Moh. Natsir membubarkan RIS versi Belanda
lewat “Mosi Natrsir” yang penuh amanah.  Maka sejak itu selamatlah
NKRI dari niat Belanda memecah belah. Di situ jasa PDRI tergores dalam
tinta sejarah.

Merdeka itu ternyata tidak mudah. Enam puluh enam tahun berlalu sudah.
PDRI malang melintang menyusun barisan yang terpecah-pecah. Setelah
terbebas dari penjajah, banyak orng yang mendambakan masa depan yang
cerah. Nyatanya kini makin lama orang makin gerah. Karena tak tersua
antara perkataan dan kenyataan yang makin parah. Karena pemimpin lebih
suka berwacana dan membangun citra ketimbang memajukan kesejahteraan
rakyat di daerah.  Akhirnya agar kemerdekaan tidak digebyak-uyah,
marilah kita peringati PDRI dengan penuh khidmad dan meriah, agar
bangsa ini tak lupa sejarah, bahwa negeri ini dimerdekakan dengan
nyawa dan darah. Demi masa depan bangsa yang merdeka dari penjajah.
Bangsa Indonesia kini seharusnya berani tegak tengadah, dalam
pergaulan dunia global yang makin kehilangan arah. Tanpa PDRI, NKRI
yang kita cintai ini tak mungkin bersatunya pusat dan daerah. Karena
berkat PDRI-lah kita bersatu mempersambungkan matarantai perjuangan
yang terpecah-pecah, tatkala negeri bagai anak ayam kehilangan induk
tanpa ada yang memerentah.

MESTIKA ZED
http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7241:mungkinkah-nkri-ada-tanpa-pdri&catid=12:refleksi&Itemid=82

Wassalam
Nofend/34M-Ckr

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke