Dear All,

Utk di Sumbar, KA bisa hidup dulu dan bisa utk spill over angkutan Tronton yg 
menghancurkan jalan raya aja sudah bagus. Bayangkan 600-1000 truk Tronton yg 
masuk ke Sumbar setiap hari. Ditambah lg dg Batubara tambang dalam dr 
Sawahlunto yg mulai September ini. Jadi, jalur KA utk Komoditas/Logistics 
sampai Teluk Bayur sudah harus segera direalisir. Shortcut, suka tidak suka, 
sudah tidak bisa ditunda lagi. Menurut Prof. Emil Salim, kondisi angkutan di 
Sumbar, menurut beliau, negara sudah harus ikut turun membantu membangun dan 
mengembangkan KA. Shortcut dan jalur kereta api di Sumbar sudah harus segera. 
Sumbar punya keterbatasan menambah jumlah jalan raya mengingat topografi yg 
sangat tidak mudah. Gubernur juga sudah mengeluarkan SK Pembatasan Tonase 
Angkutan Jalan Raya yg sebetulnya SK tsb mengembalikan/mengingatkan aturan 
pembatasan tonase angkutan di jalan raya ini sesuai dg UU Negara yg telah ada 
dan berlaku. Ternyata selama ini aturan ini kurang
 dijadikan referensi operasional dilapangan...


Utk KA Cepat, biarlah di Jawa dulu yg akan mencoba. Setelah Jembatan Selat 
Sunda terealisir, barulah kita berharap ada KA Cepat dari Lampung sampai Aceh 
nanti. Insya allah... Marilah sama2 kita mulai dr bermimpi dulu...:)

Wass,
Nofrins
www.mpkas.west-sumatra.com
www.train.west-sumatra.com



Catatan Dahlan Iskan, CEO PLN
http://dahlaniskan.wordpress.com/2011/07/23/kecepatan-kereta-cepat-yang-amat-cepat/
 
Kecepatan Kereta Cepat yang Amat Cepat
Posted by administrator ⋅ 23 Juli 2011 ⋅ 
Tentu saya mencoba ini: naik kereta cepat jurusan Beijing 
-Shanghai yang masih kinyis-kinyis. Saya memang sudah mengaguminya sejak kereta 
ini direncanakan. Waktu itu, sambil berbaring di rumah sakit 
menunggu dilaksanakannya operasi ganti hati, saya bertekad, kalau saja 
diberi kesehatan dan umur panjang, saya akan mencoba kereta ini.
Inilah kereta cepat yang direncanakan dengan cepat dan dilaksanakan 
dengan cepat. Padahal, panjang jalur ini 1.350 km, hampir sama dengan 
Jakarta-Medan atau Jakarta-Makassar. Tepat 1 Juli lalu, bersamaan dengan hari 
kelahiran Partai Komunis Tiongkok, kereta ini sudah jadi dan sudah 
dioperasikan. Kalau saja saya tidak menjabat CEO PLN, tentu saya ingin 
mencobanya di hari pertama. Tapi, karena sekarang saya bukan lagi orang 
bebas, kesempatan itu baru datang di hari ke-18, saat saya ada urusan di 
Chengdu, Chongqing, Beijing, dan Shanghai.

Memasuki gerbong kereta ini, saya tidak begitu kaget. Ini bukan 
kereta tercepat yang dimiliki Tiongkok. Juga bukan kereta termewah di 
negeri itu. Saya sudah mencoba kereta tercepat di dunia yang dibangun 
Tiongkok dengan interior yang lebih mewah: maglev! Yang kecepatannya 430 
km/jam. Yang menghubungkan bandara Shanghai Pudong ke kota Shanghai.

Saya juga sudah mencoba kereta yang kecepatannya 350 km/jam dan 
interiornya juga lebih mewah. Yakni, kereta cepat jurusan 
Tianjin-Beijing (jarak 200 km ditempuh dalam 

29 menit) dan kereta cepat 
yang sama jurusan Shanghai-Hangzhou yang jaraknya sekitar 300 km.

Sebaliknya, saya juga pernah naik kereta malam tradisional di 
Tiongkok. Yang kecepatannya masih 120 km/jam. Yang di setiap kabinnya 
terdapat empat tempat tidur. Yakni, tempat tidur susun dua seperti 
kereta Bima jurusan Surabaya-Jakarta. Dulu jurusan Beijing-Shanghai 
dilayani kereta jenis ini. Jarak tempuhnya 9 jam. Harga karcisnya Rp 
600.000/orang. Banyak penumpang memilih berangkat petang atau agak malam agar 
tiba di tujuan pagi hari dalam keadaan segar karena bisa tidur 
sepanjang perjalanan.
Meski kini sudah ada kereta cepat yang baru, kereta jenis lama itu 
tidak dihapus. Hanya tinggal dua kali sehari. Sedangkan jadwal kereta 
cepatnya 42 kali sehari. Dengan kecepatan 300 km/jam, jarak 
Beijing-Shanghai ditempuh 4,50 menit.

Harga karcis kereta ini cukup mahal: Rp 850.000/orang untuk kelas 
ekonomi dan Rp 1,2 juta untuk kelas eksekutif. Dengan harga segitu, 
tentu inilah tiket kereta yang lebih mahal daripada pesawat terbang. 
Tiket pesawat Beijing-Shanghai bisa diperoleh dengan harga Rp 800.000 
untuk kelas ekonomi. Apalagi pada hari-hari pertama beroperasinya kereta cepat 
ini. Ada penerbangan yang mendiskon tiket pesawat hingga 50 
persen. Sebagian karena ketakutan yang tidak berdasar, sebagian lagi 
memang ngeri kehilangan penumpang.

Setelah kereta cepat ini dua minggu beroperasi, barulah perusahaan 
penerbangan merasa sedikit lega. Yakni, setelah kereta cepat ini 
mengalami gangguan. Sistem listriknya down sebanyak empat kali. Bukan 
disebabkan pemadaman bergilir, tapi karena terjadi gangguan sistem. 
Penumpang kecewa karena kereta terlambat sampai dua jam. Ternyata memang ada 
yang kurang sempurna pada sistem listrik kereta ini. Terutama untuk mengahadapi 
cuaca ekstrem: badai atau petir. Banyak penumpang yang 
kembali memilih pesawat. Perang diskon pun tidak terjadi lagi. Tarif 
pesawat kembali normal.

Susunan kursi di kereta ini mirip dengan di pesawat, tapi lebih 
lapang. Jarak dengan kursi depannya sangat longgar. Dengan kursi seperti itu, 
banyak penumpang yang langsung terlelap. Apalagi tidak ada 
gangguan suara glek-glek, glek-glek, glek-glek dari rodanya.

Di tengah lelapnya penumpang itu, tiba-tiba banyak yang terbangun. 
Yakni, ketika dari balik pintu yang memisahkan satu gerbong dengan 
lainnya terdengar teriakan orang yang sangat keras dengan nada marah 
yang hebat. Ketika pintu tertutup, suara itu hilang. Tapi, setiap pintu 
terbuka karena ada orang yang hendak ke toilet, suara itu kembali 
mengagetkan seluruh penumpang. Tiga jam lamanya orang itu 
berteriak-teriak seperti itu di telepon genggamnya. Tanpa henti. Dari 
kata-katanya dengan jelas bisa diketahui bahwa dia sedang bertengkar 
dengan ceweknya. Entah istri, entah pacar. Dia mengutuk habis-habisan 
ceweknya yang keluar rumah sampai jam 02.00. Dan segudang maki-makian 
lainnya.

Saya sendiri tidak menghiraukan. Saya memang memutuskan untuk tidak 
tidur sepanjang perjalanan ini. Tapi, itu karena saya ingin tahu apa 
saja yang terjadi sepanjang perjalanan. Saya juga berjalan-jalan ke 
gerbong ekonomi, ke gerbong restoran, dan ke toiletnya yang dua macam 
itu: duduk dan jongkok.
Tentu saya juga ingin tahu bagaimana kalau kereta ini melewati 
stasiun besar. Apakah tetap dengan kecepatan 300 km/jam atau 
dilambatkan. Stasiun besar pertama yang harus dilewati adalah Tianjin, 
kota yang saya pernah lama tinggal di sana. Memang tidak semua kereta 
cepat singgah di Tianjin. Yang saya naiki ini, GT 98, yang berangkat jam 16.00 
dari Beijing, termasuk yang tidak berhenti di Tianjin.

Ternyata untuk kereta yang tidak perlu berhenti di Tianjian tidak 
perlu melewati stasiunnya. Ada rel khusus yang mem-by-pass. Keretanya 
tidak perlu masuk kota Tianjin, melainkan melambung di luar kota. Meski jalur 
kereta Beijing-Shanghai ini melewati banyak kota, yang 
saya naiki ini hanya berhenti di dua stasiun: Jinan (ibu kota Provinsi 
Shandong) dan Nanjing (ibu kota Provinsi Jiangshu).

Ke depan, banyak sekali jalur kereta cepat jarak jauh seperti ini 
dibangun di seluruh Tiongkok. Tiongkok tidak akan lagi mengembangkan 
kereta maglev yang kecepatannya 430 km/jam. Terlalu mahal. Juga tidak 
lagi mengembangkan kereta dengan kecepatan 350 km/jam seperti jurusan 
Beijing-Tianjin karena terlalu boros listrik.
Menurut hasil studi di Tiongkok, kecepatan kereta yang paling 
ekonomis adalah 270 km/jam. Dari segi kecepatan sudah sangat cepat. Dari segi 
pemakaian listrik masih maksimal. “Kalau ingin kereta dengan 
kecepatan 350 km/jam atau lebih, sebaiknya tidak boleh lagi dengan 
sistem roda yang menempel di rel,” ujar hasil studi itu. Sepanjang masih 
menggunakan sistem roda yang menempel di rel, sebaiknya kecepatan 
maksimal 270 km/jam.

Itu ada pengecualian. Kecepatan 300 km/jam masih ekonomis manakala 
ditemukan sistem penghemat listrik. Sebenarnya beban listrik yang sangat besar 
terjadi saat kereta mulai berangkat. Tarikan pertama di setiap 
stasiun itulah yang memakan banyak listrik. Untuk menghindari hal itu, 
Tiongkok sedang menyiapkan sistem baru: jangan ada kereta yang berhenti 
di stasiun. Cukup mengurangi kecepatannya sambil “menyaut” gerbong baru 
yang sudah disiapkan berikut penumpangnya di stasiun itu.
Kalau sistem itu nanti berhasil, penumpang di suatu stasiun sudah 
harus naik gerbong sebelum kereta tiba di situ. Gerbong tersebut 
letaknya di atas dan harus siap digendong kereta yang segera menyautnya 
di stasiun itu. Dengan demikian, keharusan berhenti di stasiun bisa 
dihindari dan konsumsi listrik bisa lebih kecil.

Kini juara I, juara II, dan juara III kereta tercepat di dunia ada di Tiongkok. 
Ini kian meneguhkan posisi negara itu sebagai calon 
superpower baru. Kian bulat pendapat ahli yang mengatakan bahwa Tiongkok akan 
berhasil melampaui Amerika Serikat tahun 2016. Tidak lama lagi. 
Pada tahun itu, size ekonomi Tiongkok naik USD 8 triliun, dari USD 11 
triliun saat ini menjadi USD 19 triliun pada tahun 2016. Sedangkan zise 
ekonomi Amerika Serikat hanya naik USD 3 triliun, dari USD 15 trilun 
saat ini menjadi USD 18 triliun pada tahun 2016. Semoga saya masih bisa 
menyaksikannya! (*)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke