Bapak, Ibu, dunsanak kasadonyo Yth.

Berikut ambo lewakan hasil wawancara jo Pak Azmi Dt. Bagindo yang insya Allah 
akan diterbitkan di Haluan besok.

Wassalam

Syaf AL
Bogor
--------------------------

Sekjen LAKM DKI Jakarta, Azmi Dt. Bagindo:

Jangan Biarkan Minangkabau

Ditelan Arus Globalisasi

 

SUATU kemajuan dan perubahan memang tak bisa dielakkan. Sesuai sifatnya, 
manusia memang akan terus berubah karena makin berkembangnya ilmu pengetahuan 
dan teknologi yang mereka kuasai di era globalisasi ini.

 

Tetapi, haruskah orang Minangkabau mengorbankan etnisnya untuk mengikuti 
kemauan dan selera global itu? Sekretaris Lembaga Adat dan Kebudayaan 
Minangkabau (LAKM) DKI Jakarta, Azmi Dt. Bagindo, menegaskan; “Jangan biarkan 
Minangkabau ditelah arus globalisasi itu,” katanya dalam sebuah wawancara 
singkat dengan Haluan di Jakarta, sehubungan makin maraknya isu kristenisasi di 
Sumatra Barat dan makin longgarnya adat dan budaya Minang sehingga orang non 
muslim pun sudah diberi gelar adat.

 

Sebagaimana santer diberitakan melalui berbagai media, termasuk milis 
“rantaunet” yang menjadi media silaturahim di rantau maya bagi ribuan orang 
Minang di seluruh dunia, upaya kristenisasi di Sumatra Barat Nampak makin 
kental yang diawali dengan masuknya bantuan asing untuk korban bencana alam 
gempa bumi 2009 lalu. Di Padang, ninik mamak nan salapan suku pun sudah 
memberikan gelar adat kepada warga keturunan Tionghoa yang mereka nilai berjasa 
untuk kota ini.

 

Atas nama LAKM DKI Jakarta – sebuah lembaga kemasyarakatan yang ingin mengawal 
pelestarian adat dan budaya Minang di rantau—Azmi menolak mentah-mentah 
pemberian gelar itu. Bukan tidak menghargai jasa orang lain, apalagi mereka 
yang sudah menjadi warga dan penduduk Sumatra Barat, tetapi sepanjang aqidahnya 
tak sejalan dengan orang Minang yang Islam, maka pemberian gelar itu tak bisa 
dibiarkan.

 

Berikut petikan wawancara Azmi Dt. Bagindo dari pesukuan Tanjuang, asal 
Tanjuang Sani, Maninjau yang sudah merantau sejak 1970. Ia pernah bekerja 
sebagai bankir di Bank Danamon, namun kemudian merintis usaha transportasi 
antar pulau. Anak buahnya ada di mana-mana. Selamat mengikuti:

 

Upaya kristenisasi di Sumatra Barat diduga masih terus belangsung, pendapan 
anda?

 

Ini adalah kenyataan yang tak bisa dibantah. Diam-diam, kegiatan missioner itu 
terus berlangsung di Ranah Minang. Waktu pulang untuk ikut melihat dan 
menyalurkan bantuan gempa ke Sumatra Barat akhir 2009 lalu, saya sendiri 
melihat dan menemukan ada upaya-upaya asing untuk memurtadkan orang Minang 
dengan membagi-bagikan injil. Jadi, upaya kristenisasi itu bukan isapan jempol. 
Saya rasa, ini memang harus ditanggapi oleh kita masyarakat  Minang. Kalau 
dibiarkan, dia akan jadi masalah besar di kemudian hari.

 

Kenapa ada orang Minang yang mudah tergoda?

 

Pertama, Minang memang sudah menjadi target. Kedua,karena kurang iman. Ketiga, 
tentu karena tekanan ekonomi. Sikap tenggang rasa dan kesantunan social kita 
sudah makin meluntur. Pengaruh global itu sudah kian merasuk dengan makin 
menonjolnya kehidupan individu. Dari pintu inilah mereka masuk dengan mudah.

 

Bagaimana antisipasinya?

 

Dulu, Buya Hamka pun pernah mengemukakan bahwa ada keinginan untuk memisahkan 
adat dengan agama. Tujuannya, tentu supaya agama lain bisa masuk ke orang 
Minang. Nah, sekarang ABS-SBK harus kita laksanakan dan kita teggakkan dengan 
sungguh-sungguh, karena itulah benteng orang Minangkabau. Tungku tigo 
sajarangan di Ranah Minang dan di rantau harus digerakkan kembali. Saling 
mengisi dan saling mengingatkan anak kemenakan. Kalau tak ingin Minangkabau 
tinggal nama, jangan sepelekan masalah ini. Nanti, jalan benar-benar sudah 
diasak orang lalu.

 

Apa benar di Jakarta ini sudah ada persatuan Gereja Minang, persatuan Kristen 
Minang dan pastor Minang?

 

Saya memang pernah mendengar. Tetapi kenyataannya tidak ada. Ini adalah bagian 
dari strategi mereka untuk menggoyahkan sendi-sendi adat, budaya dan agama 
kita. Mana ada Kristen Minang. Minang itu adalah Islam. Kalau ada orang Minang 
masuk Kristen, mereka tak punya hak lagi memakai Minang. Kalau mereka sudah 
Kristen, mereka bukan orang Minang lagi, tetapi hanya sebagai orang Sumatra 
Barat. Basibak, basisiak, bainggo, babateh. Basisiah atah jo bareh. Mana yang 
orang Minang, mana yang orang kristen. Hati-hatilah dengan isu ini.

 

Bagaimana Anda melihat pemberian gelar adat untuk tokoh China Padang itu?

 

Saya bukan tak menghargai bahwa mereka adalah saudara kita juga sesama penduduk 
Sumatra Barat. Tetapi, sejak turun temurun, sesuai warih nan bajawek, pusako 
nan dipegang, tak ada sejarahnya memberikan gelar adat kepada orang yang bukan 
muslim. Kecuali dia segera memeluk Islam. Kalau tidak, dicabut lagi dan batal 
demi hukum.

 

Apa sikap LAKM?

 

Tegas menolak pemberian gelar itu, apapun alasannya. Kita sudah berkoordinasi 
dengan LKAAM Sumatra Barat. Kami sejalan. Malah, MUI Sumbar pun sudah 
mengeluarkan fatwa bahwa mereka yang menerima gelar itu harus segera memeluk 
Islam, kalau tidak, ya, dicabut gelarnya.

 

Apa sesungguhnya peran organisasi LAKM ini di rantau?

 

Pengawal adat dan budaya Minang. Orang Minang itu kan tidak yang di kampung 
saja, yang di ranatu juga orang Minang. Mulanya LAKM ini memang tak di anggap. 
Tetapi, sejalan dengan kemajuan zaman, ketika adat dan budaya mulai 
dikesampingkan karena tidak paham dan telah lahirnya dua generasi baru di 
rantau, orang pun akhirnya menyadari perlunya LAKM ini. Kami sudah banyak 
menerima konsultasi masalah adat, budaya dan persoalan nikah kawin. Tugas kita 
adalah, mangumpulkan nan taserak, manjapuik nan taicia, mangapuangkan nan 
hanyuik. Ibarat berburu, kita ambil peran memintas, supaya buruan jangan lari 
lebih jauh.

 

Sekarang makin banyak  Datuk yang berada di rantau, termasuk Anda. Apa 
pendapatnya?

 

Kalau menurut saya, tergantung orangnya. Kadang-kadang biarlah jauh, tetapi 
dekat. Untuk apa dekat kalau perannya justru jauh. Jauah di mato, tapi dekat di 
hati. Untuk apa dekat sekali kalau tidak berbuat? Kalau di lingkungan 
kepenghuluan saya, kami sudah memanfaatkan kemajuan teknologi itu dengan 
memakai SMS kalau mau rapat atau ada masalah. Bila akan rapat, biasanya saya 
diberi tahu lewat SMS dan kemudian saya diminta menelepon untuk didengar oleh 
peserta rapat. Ini tentu untuk memberikan pertimbangan atau memutuskan sesuatu 
hal.

 

Insya Allah, sebagai penghulu dari persukuan Tanjung dari Maninjau, saya sudah 
berusaha maksimal mengawasi dan mamayungi anak keponakan. Kami sudah terbitkan 
buku pegangan kepada anak kamanakan kami di mana pun berada. Komunikasi dengan 
kampung halaman pun tetap terjaga hingga sekarang. Insya Allah, “rantiang 
patah” saja di kampung, saya bisa tahu di Jakarta ini.

 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke