Cakep! ~~."IJP".~~ -----Original Message----- From: Miftah Sabri St Mangkudun <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 15 Aug 2011 12:49:55 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [kahmi_pro_network] Cartagena oleh Es Ito
Seperti biasa, tulisan Ito selalu renyah. ada perspektif berbeda dari yg selama ini qt simak soal cartagena. hehe. salam MS Cartagenaby E.S Ito Posted on *August 15, 2011* under Kolom<http://itonesia.com/category/kolom/> http://itonesia.com/cartagena/ Lima puluh tahun, sembilan bulan dan empat hari lamanya Florentino Ariza menunggu tumbuh kembalinya cinta Fermina Daza. Roman masa muda yang tidak lekang oleh waktu dan tidak lapuk dalam kenangan. Jalinan roman ini oleh penulisnya Gabriel Garcia Marquez diberi judul El amor en los tiempos del colera atau Love In The Time of Cholera. Marquez, sang dewa realis, melukiskan kisah cinta itu terjadi di sebuah kota pelabuhan di dekat sungai Magdalena. Kota itu, walaupun hingga lembar terakhir Marquez tidak pernah menyebut namanya, adalah Cartagena. Kota dimana Nobelis Sastra itu menghabiskan masa mudanya, kuliah di universitas Cartagena dan kemudian memulai karir jurnalistiknya pada Koran El Universal. Cartagena bagi Marquez adalah sekolah menulis. Inspirasi yang terus mengalir hingga muara kata-kata yang menjadikannya penulis realisme magis terbesar di dunia. Bila sekarang kota ini jadi akrab di telinga kita tentu bukan karena Marquez atau Love in the Time of Cholera. Kita mungkin terhubung oleh sebait kata. Suatu ketika Marques pernah menulis, “kebohongan lebih nyaman dibandingkan keragu-raguan, lebih berguna daripada cinta dan lebih kekal dibandingkan kebenaran”. Di Cartagena, kita menajamkan untaian kata Marquez bahwa kebohongan bagi kita adalah sebuah kebenaran yang membuat nyaman setiap pecinta keadilan. Cartagena, kota indah di pinggir laut Karibia, adalah pilihan yang pantas untuk akhir dari sebuah petualangan. Asing di telinga tetapi akrab begitu mendengar nama negaranya, Kolombia. Memori kita akan menari-menari di ladang koka menemani petani yang dijaga oleh serdadu-serdadu kartel yang bengis. Di negara ini, kartel sempat berkuasa. Disini pula kita mengingat pembunuhan duo Escobar, satu gembong kartel narkoba dan satu lagi pemain sepakbola tim nasional Kolombia. Cartegena yang indah di tengah Kolombia yang liar, walaupun agak dipaksakan, cocok bagi sebuah akhir dari pelarian. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya seorang anak muda yang tengah belajar untuk rakus bisa sampai disini. Ada tangan tidak terlihat bermain. Ada tangan terampil yang menulis skenario. Alangkah jenakanya cerita ini. Awalnya, pemuda yang tidak bisa menulis bahasa Indonesia dengan baik dan katanya nyaris tidak bisa bahasa asing itu, tampak seperti kebanyakan orang seberang pulau yang cari peruntungan di Jakarta. Dia cepat belajar memahami hukum dan tatanegara di Indonesia serta kaitannya dengan cara bertahan hidup. Pasal perundang-undangan dan segepok aturan hanyalah lembaran kertas pembungkus ikan asin. Sebab aturan hukum tatanegara kita sangat sederhana, “sediakan uang maka saudara bisa mengelola negara!” Dia hanyalah seorang yang pragmatis, di jantung kekuasaan dia bisa menggunakan uang untuk menyiram taman bunga kerakusan yang terus tumbuh mewabah. Dia bukanlah yang pertama atau yang terbesar, dia hanya seorang yang terburu-buru ingin mendapatkan semuanya sendiri pada usia muda. Kesalahan pemuda ini bukanlah karena dia merugikan negara tetapi karena dia tidak berbagi dengan lebih banyak kawan sejalan. Dalam bisnis, tambah, kali, kurang bahkan pemangkatan sangat gampang, yang rumit adalah masalah pembagian. Dan ketika telunjuk mengarah padanya, melarikan diri awalnya pilihan yang mungkin sebab (bisa jadi) ada yang menjamin. Kisah paspor palsu hanyalah sampiran dalam sebait syair. Apatah mungkin orang yang wajahnya mirip tetapi jelas tidak sama, bisa tidak teridentifikasi oleh imigrasi mana pun. Manalah mungkin dia tidak terdeteksi sementara istrinya selalu bersamanya. Kita menikmati drama picisan ini, sebab di tengah kekacauan moral, cara terbaik untuk tetap waras adalah dengan menanggalkan batas antara yang nyata dengan yang fiksi. Kita tidak punya urusan dengan keadilan sebab semenjak keadilan dicari dengan cara pengundian, kita hanya berharap pada keberuntungan. Di Cartagena, Tuan Marquez bercerita tentang kapal berbendera kuning berisi penumpang yang kena wabah kolera yang tidak boleh didekati. Di Cartagena, kita melihat jet pribadi yang membawa seorang anak muda yang tengah belajar untuk rakus. Ada bendera kuning pula, dia tidak tersentuh. Ada harapan di balik penangkapannya, banyak hal akan terbongkar. Tetapi percayalah, Cartagena indah dalam cerita tetapi hampa dalam kenyataannya. Penulis skenario pelarian ini mungkin seorang yang melankolis. Dia membaca Marquez, mungkin sempat tinggal di benua yang sama. Tetapi dia alpa dalam detail, begitu banyak kejanggalan dalam pelarian ini. Di Indonesia setiap kejanggalan seringkali terkait dengan pengamanan kekuasaan. Ada yang terus meniupkan harapan di negeri ini, tetapi api itu telah padam. Penegak hukum punya gigi tanpa taring sebab terbiasa disuap dengan bubur. Jurnalisme tumbuh subur tetapi tidak lagi kuat mengakar, hanya ramai seperti sekumpulan siswa TK yang tengah berdarmawisata di gedung-gedung penting. Riuh dalam kata, miskin substansi. Sementara wakil rakyat hanyalah sekumpulan preman yang menunggu setoran di perempatan jalan. Dan eksekutif tampak seperti Kanguru betina yang sepanjang waktu mencemaskan anak di kantungnya. Dari tontonan politik sehari-hari kita terus belajar untuk menerima setiap kejahatan sebagai sebuah kebenaran. Menunggu keadilan di negeri ini akan jauh lebih panjang dari penantian Florentino Ariza akan cinta Fermina Daza. Maka kepada anak muda yang rakus itu, kita hanya bisa menyampaikan kutipan goresan pena Marquez dalam Love In The Time of Cholera, “Tenanglah, Tuhan menunggumu di depan pintu” (****) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Web Address http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/ MAKLUMAT: 1. MILIS INI TIDAK MENERIMA SEGALA BENTUK ATTACHMENT. 2. AGAR MENULISKAN NAMA ASLI (PANGGILAN ATAU NAMA LENGKAP). 3. TIDAK MENGUMBAR PERMUSUHAN DAN/ATAU MENGGUNAKAN KATA-KATA KASAR. dan 4. TIDAK MENYERTAKAN POSTING SEBELUMNYA ATAU YANG DITANGGAPI SECARA KESELURUHAN, CUKUP EMAIL BAGIAN/PARAGRAF YANG INGIN DITANGGAPI.Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
