Membangun Kebudayaan Maritim        
oleh
Indra J Piliang 
Sabtu, 13 Agustus 2011 03:14  
Dalam rangka mengisi waktu luang ketika menghadiri  acara Partai Golkar di 
Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman, saya  berkesempatan 
memancing di pantai Piaman Laweh. Atas jasa baik Pak  Akhir, mantan 
Kepala Sekolah Usaha Perikanan Menengah Negeri (SUPMN)  Pariaman, saya 
dan sejumlah teman berlayar ke lautan biru. Semula, kami  merencanakan 
untuk memancing pada malam hari.
Tetapi, kondisi muara sungai 
Batang Naras sedang pasang elang (tidak  tinggi), maka kapal tidak bisa 
melaut. Terpaksa kami menunggu pagi hari,  lalu berangkat pada 19 Juli 
2011. 
Ombak menampar-nam­par. Perjalanan yang terasa 
menantang. Kapal  tergoncang. Pengalaman yang sudah lama tidak saya 
rasakan dan alami.  Terakhir kali menyeberangi laut dengan motor boat 
saya lakukan dari  Ternate ke Tidore tahun 2008, bolak-balik. Dan perahu kami 
mendekati  perahu nelayan yang sendirian memancing ikan. Sejumlah 
teman jatuh  terkapar, mabok laut.
Siangnya, kami singgah di Pulau Kasiak (Pulau Pasir) milik Departemen Kelautan 
dan Perikanan RI.
Sejumlah pekerja sedang membangun tempat tinggal bagi petugas menara mer­cusuar 
yang dipa­sang di pulau itu.
Pulau kecil yang indah khas tropis. Ma­tahari me­nyengat. Sekitar  pukul tiga 
sore baru kami ke laut lagi, memancing, setelah puas bermain  di Pulau 
Kasiak.
Saya tentu tak ingin ber­cerita soal apa yang kami 
rasakan dan lihat  selama perjalanan memancing itu. Yang saya sadari 
kemudian, ternyata  “orang Pariaman” tidak bisa melaut. Lalu, bagaimana 
dengan nasib Anggun  Nan Tongga yang sudah berubah menjadi hotel? 
Bagaimana juga dengan  Nang­kodo Baha? Apakah benar suku bangsa 
Minang­kabau tidak memiliki  penge­tahuan yang cukup tentang dunia 
maritim? Ataukah kemaritiman  identik dengan Malin Kundang, seorang anak yang 
lahir miskin, lalu  menjadi saudagar di rantau orang dan dianggap 
durhaka kepada ibunya?
***
Sumatera Barat langsung 
berbatasan dengan Lautan Hindia. Di sinilah  dulu, pada akhir abad ke 
16, para peda­gang Eropa berdatangan dan  melayarkan kapal menuju Pulau 
Jawa hingga Ternate dan Tidore. Pantai  Pariaman salah satu menjadi 
tempat persinggahan itu, selain Tiku di  Agam.
Hanya saja, 
melihat Pa­riaman dan Padang Paria­man dari arah lautan,  terasa sekali 
betapa sulitnya men­cari muara untuk melabuhkan kapal.  Apalagi 
pelabuhan yang memang dibuat oleh manusia, sama sekali tidak  ada.
Padahal, pelabuhan adalah jembatan bagi dunia darat dan dunia laut.
Tanpa ada pelabuhan, sulit sekali bagi kapal-kapal skala kecil dan  menengah 
untuk bersandar. Perahu-perahu barangkali dengan mudah bisa  dibawa ke 
muara sungai atau dihela bersama-sama naik ke pasir pantai.
Tapi 
kapal jelas tidak bisa. Kalau tidak ada pelabuhan, bagaimana  manu­sia, 
ikan, ataupun hasil angkutan laut lainnya bisa didaratkan?
Kalau 
dihitung, dari 19 kabupaten dan kota di Sum­bar, terdapat 7  kabupaten 
dan kota yang memiliki lautan, yakni Kabupaten Pasaman Barat,  Kabupaten Agam, 
Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kota Pa­dang,  
Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Kepu­lauan Mentawai.
Artinya, terdapat 7 Dinas Kelautan dan Perikanan di Sumbar, ditambah dengan 
Dinas Kelau­tan dan Peri­kanan di tingkat provinsi.
Dari sini saja terlihat betapa laut menjadi wilayah yang dibelah-belah oleh 
dinas-dinas pemerintahan daerah.
Padahal, ketika saya me­man­cing sore harinya, laut membawa kami  hanyut sampai 
ke Tiku, Kabupaten Agam. Soalnya, kapal tidak ditambatkan.
Sauh 
sama sekali tidak dilepaskan. Nah, kondisi ini sama dengan para  
nelayan. Mereka datang dari pelbagai daerah, lalu memasuki wi­layah laut yang 
luas itu. Tidak ada pagar di lautan biru itu.
Pantai 
Pariaman yang dimasuki pelaut dari Sibolga atau Pesisir  Selatan atau 
Jawa, sudah biasa. Sebagian malah menggunakan bom ikan,  sehingga 
merusak ter­umbu karang. Dinas-dinas pemerintah sama sekali tak  
terlihat ramai, ketika kasus-kasus seperti itu terjadi.
Luasnya 
laut dan ba­nyaknya dinas, jelas kurang efektif bagi  pengelolaan laut 
dan isinya, berikut penduduk yang mencari makan di  dalam­nya. Saya kira akan 
jauh lebih efektif dan efisien apabila  dinas-dinas kelautan di 
masing-masing kabupaten dan kota di Sumbar ini  disatukan. Selain 
nelayan yang diatur sedikit, masalah yang dihadapi di  lautan juga tidak 
terlalu banyak. Dengan penyatuan kekuatan, akan ada  usaha yang lebih 
serius lagi di depan untuk memajukan bidang kelautan  dan perikanan di 
Sumbar.
***
Di luar laut, nelayan ataupun dinas-dinas 
peme­rintah, patut kita  pikirkan kembali kehadiran maritim dalam 
kebudayaan Minang­kabau.
Dari tambo kita tahu betapa daerah pesisir diang­gap mewakili daerah rantau.
Akibatnya, sebagai daerah rantau, daerah pesisir kurang mewakili struktur 
“peme­rintahan” adat di ranah Minang.
Yang lebih celaka lagi, daerah pesisir dianggap sebagai pintu masuk segala 
sesuatu yang merusat adat dan budaya Minangkabau.
Daerah pesisir dan laut telah menjadi anak tiri dalam kebudayaan  Minangkabau. 
Akibatnya, perlakuan atas pesisir dan laut juga tidak  selayaknya. 
Bupati Padang Pariaman (yang meliputi Kota Pariaman dan  Kabu­paten 
Kepulauan Mentawai) Anas Malik, dulu, member­sihkan pantai  Pariaman 
dari kotoran manusia. Pekerjaan yang justru mengharumkan  namanya.
Hanya saja, sampai seka­rang, nasib pesisir bagaikan halaman belakang sebuah 
rumah yang tak boleh terlihat oleh tamu.
Sudah saatnya Sumatera Barat memikirkan lagi per­kem­bangan daerah  pesisir 
dan laut, berikut para nela­yan yang mempertaruhkan hidup di  dalamnya. 
Paling tidak, saya melihat ada be­berapa kapal nelayan yang  tidak 
digunakan, milik Pem­da Kabupaten Padang Pa­riaman.
Menurut 
informasi yang saya peroleh, kapal-kapal pemberian pemerintah  pusat itu sulit 
melaut. Pertama, biaya pembelian bahan bakar­nya yang  mahal. 
Kedua, konstruksinya yang tidak sesuai dengan laut Sumbar yang  
bergejolak.
Padahal, dari lautlah sejumlah nama terkenal di jagat mitologi  Minangkabau, 
termasuk Malin Kundang, Anggun Nan Tongga dan 
Nangkodo  (Nahkoda) Baha. Diperlukan penggalian yang lebih dalam atas 
model-model  teknologi yang pernah digunakan di laut oleh rak­yat 
Sumatera Barat.
Begitu juga hubungan perdagangan, aga­ma, budaya 
dan politik yang  pernah begitu hiruk-pikuk di pantai barat Sumatera 
pada abad-abad  lampau.
Dari sana, sudah saatnya memikirkan 
kebudayaan maritim di  Minangkabau. Kontruksi yang sudah ada dalam 
tradisi, tinggal digali dan  ditelusuri dengan visi yang jauh menjangkau ke 
depan. Kalau tidak,  Sumatera Barat hanya akan tergantung kepada 
kebudayaan agraris yang  semakin lama semakin terdesak oleh kemajuan 
zaman. Begitulah…
 
INDRA J PILIANG
(Ketua Dewan Pendiri Nangkodo Baha Institute) 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke