Sasudah salasai sahur, manunggu datangnyo waktu subuah...
 Tabaco pulo nan mambuek awak tasengeang......

Mungkin ado sangenek pesan nan bisa kito resapi.....
"Jan talalu capek picayo ka CASING yang aduhai"

Bisa batele kasadonyo beko

Salam
TR
---------------------

Diimami Pasien RSJ
..
Dikirim Oleh Bapak Sehat Ihsan Shadiqin


Kampung kami terletak di tengah kota Banda Aceh, persis di belakang Rumah Sakit 
Jiwa. Jalan menuju RSJ langsung melintasi kampung kami. Karena itu sering kali 
di jalan lewat pasien RSJ yang sudah lumayan sembuh untuk membeli rokok, beli 
mie, atau sekedar lewat tanpa alasan. Tidak semua yang lewat di sana bisa 
dinyatakan sembuh. Sebab beberapa yang saya jumpai masih suka ngobrol sendiri, 
berceramah, mengais tumpukan sampah mencari makanan, dan perilaku lainnya. 
Bahkan sering juga mereka menakut-nakuti anak-anak, meskipun tidak melakukan 
pelecehan seksual seperti yang kebanyakan dilakukan oleh orang yang mengaku 
tidak gila di berbagai daerah di Indoensia.

Kisah ini diceritakan oleh seorang bapak kepada saya, minggu lalu. Peristiwa 
ini sendiri terjadi tahun lalu, pas bulan puasa.

Sudah biasa masjid kami melaksanakan shalat berjamaah setiap waktu tiba. Saat 
matahari sudah menunjukkan waktu zuhur, seorang anak muda mengumandangkan azan 
menandakan shalat segera dimulai. Setelah azan, beberapa jamaah yang datang 
melaksanakan shalat sunat qabliah zuhur dua rakaat. Ini butuh waktu beberapa 
menit. Mereka melaksanakan di berbagian pojokan masjid. Sebagai di sisi 
dinding, ada di balik tiang, dan banyak pula di saf terdepan.

Seorang lelaki muda yang mengenakan serban berwarna putih bersih melaksanakan 
shalat persis di belakang tempat imam berdiri. Bajunya berwarna abu-abu 
mencapai lutut. Sementara celananya longgar dan hanya sampai ke mata kaki. 
Dengan pakaian demikian jelas, siapapun akan menduganya sebagai seorang yang 
terpelajar dalam agama. Sebab pakain demikian umumnya dipakai oleh orang yang 
baru tamat dari pesantren atau kiai atau kelompok oraganisasi islam tertentu 
yang banyak berkembang saat ini. Ia shalat sangat khusyuk. Bahkan muazin harus 
menunggu agak lama sebelum mengumandangkan iqamah karena ia belum menyelesaikan 
shalatya. Setelah selesai shalat ia berdoa dengan khusyuk pula, matanya sedikit 
terpejam dan kepala menengadah ke atas. Hingga tiba mu'azin mengumandangkan 
iaqamah, tanda shalat akan dimulai.

Melihat pakaian dan laku yang demikian, beberapa orang tua mempersilahkannya 
maju ke depan menjadi imam. Apalagi hari itu imam kampung tidak datang. Setelah 
melihat kiri dan kanan ia maju penuh percaya diri. Ia menghadap jamaah yang 
hanya satu saf dan dengan suara keras dan tegas mengatakan: Lurus, rapat dan 
rapikan saf, samakan tumit dengan garis hitam. Saf yang rapi adalah setengah 
dari pahala shalat. Lalu ia berbalik menghadap kiblat dan mengangkat takbir: 
Allaaaahu Akbar! Kami mengikutinya dari belakang.

Pada rakaat pertama setiap shalat sebenarnya tidak memerlukan waktu yang 
terlampau lama. Hanya membaca doa iftitah, al-fatihah dan sebuah surat pendek 
atau beberapa ayat dari al-Qur'an. Namun kali ini sudah berlangsung sedikit 
lama. Saya mendengar beberapa jamaah membatuk atau bedehem. Nampaknya mereka 
"mengingatkan imam" agar jangan terlalu lama. Tapi imam masih dalam posisinya 
semula. Satu...dua...empat... sudah lebih lima menit kami belum juga ruku'. 
Imam masih saja khusyuk dengan bacaannya. Bahkan sesekali ia terdengar berdesis 
melafalkan sesuatu.

Tiba-tiba, dari luar masjid terdengar suara gaduh. "Tadi dia di sini 
menghilangnya. Coba ke belakang masjid. Di kamar mandi. Tadi dia pakai serban 
putih....." entah apa lagi. Sepertinya ada banyak orang di luar sana yang 
sedang mencari orang tertentu.

"Nyopat lhon" (saya di sini) teriak sang imam tiba-tiba. Kami sangat kaget. 
Konsentrasi menjadi buyar. Apalagi tiba-tiba sang imam langsung berjalan ke 
luar masjid, menerobos saf di belakangnya. Ia terus berteriak. "Nyopat 
lhon...nyopat lhon...." Sebuah suara lain terdengar dari luar masjid. "Ooo.. 
ternyata kamu di sini. Cepat pulang ke Rumah Sakit. Pergi ngak permisi. Itu ada 
keluarga yang datang." Jamaah kamipun buyar lalu bubar. Kami tertawa cekikan 
bersama. Ternyata imam kami pasien rumah sakit jiwa. Kami terpaksa mengulang 
shalat dari pertama. 
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke