aslkm wr wb ko ciek lai urang awak nan gagah a bisa jadi presiden walau sabanta
Assaat [image: Assaat] <http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Assaat_PYO.jpg> ------------------------------ Presiden Republik Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Presiden_Republik_Indonesia>(penjabat) *Masa jabatan* 27 Desember <http://id.wikipedia.org/wiki/27_Desember> 1949<http://id.wikipedia.org/wiki/1949> –15 Agustus <http://id.wikipedia.org/wiki/15_Agustus> 1950<http://id.wikipedia.org/wiki/1950> Pendahulu Soekarno <http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno> Pengganti Soekarno <http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno> ------------------------------ Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Menteri_Dalam_Negeri_Republik_Indonesia> ke-9 *Masa jabatan* 6 September <http://id.wikipedia.org/wiki/6_September> 1950<http://id.wikipedia.org/wiki/1950> –27 April <http://id.wikipedia.org/wiki/27_April> 1951<http://id.wikipedia.org/wiki/1951> Presiden Soekarno <http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno> Pendahulu Susanto Tirtoprodjo <http://id.wikipedia.org/wiki/Susanto_Tirtoprodjo> Pengganti Iskak Tjokrodisurjo<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Iskak_Tjokrodisurjo&action=edit&redlink=1> ------------------------------ Lahir 18 September <http://id.wikipedia.org/wiki/18_September> 1904<http://id.wikipedia.org/wiki/1904> [image: Bendera Belanda] <http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda> Banuhampu, Agam <http://id.wikipedia.org/wiki/Banuhampu,_Agam>, Sumatera Barat<http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat>, Hindia Belanda <http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda> Meninggal 16 Juni <http://id.wikipedia.org/wiki/16_Juni> 1976<http://id.wikipedia.org/wiki/1976>(umur 71) [image: Bendera Indonesia] <http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia> Jakarta<http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta>, Indonesia <http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia> Kebangsaan Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia> Agama Islam <http://id.wikipedia.org/wiki/Islam> *Mr. <http://id.wikipedia.org/wiki/Meester_in_de_Rechten> Assaat* (lahir di Dusun Pincuran Landai, Kanagarian Kubang Putih<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kubang_Putih&action=edit&redlink=1>, Banuhampu, Agam <http://id.wikipedia.org/wiki/Banuhampu,_Agam>, Sumatera Barat <http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat>, 18 September<http://id.wikipedia.org/wiki/18_September> 1904 <http://id.wikipedia.org/wiki/1904> – meninggal di Jakarta<http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta>, 16 Juni <http://id.wikipedia.org/wiki/16_Juni> 1976<http://id.wikipedia.org/wiki/1976>pada umur 71 tahun) adalah tokoh pejuang Indonesia, pemangku jabatan Presiden <http://id.wikipedia.org/wiki/Presiden> Republik Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia>pada masa pemerintahan Republik Indonesia <http://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Indonesia> di Yogyakarta<http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta>yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat <http://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Indonesia_Serikat>(RIS). Daftar isi [sembunyikan <http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#>] - 1 Latar belakang dan keluarga<http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#Latar_belakang_dan_keluarga> - 2 Pendidikan dan praktik advokat<http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#Pendidikan_dan_praktik_advokat> - 3 KNIP dan RIS <http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#KNIP_dan_RIS> - 4 Diasingkan <http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#Diasingkan> - 5 Acting Presiden Republik Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#Acting_Presiden_Republik_Indonesia> - 6 Pertentangan dengan Pemerintah Pusat<http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#Pertentangan_dengan_Pemerintah_Pusat> - 7 Akhir Hayat, Upacara Kebesaran<http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#Akhir_Hayat.2C_Upacara_Kebesaran> - 8 Pribadi <http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#Pribadi> - 9 Pranala luar <http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat#Pranala_luar> [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Assaat&action=edit§ion=1> ] Latar belakang dan keluarga Assaat belajar di sekolah agama *"Adabiah"* dan MULO<http://id.wikipedia.org/wiki/MULO> Padang <http://id.wikipedia.org/wiki/Padang>, selanjutnya ke School tot Opleiding van Inlandsche Artsen<http://id.wikipedia.org/wiki/School_tot_Opleiding_van_Inlandsche_Artsen> Jakarta <http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta>. Merasa tidak cocok menjadi seorang dokter, dia keluar dari STOVIA dan melanjutkan ke AMS<http://id.wikipedia.org/wiki/AMS>( SMU <http://id.wikipedia.org/wiki/SMU> sekarang). Dari AMS, Assaat melajutkan studinya ke *Rechts Hoge School* (Sekolah Hakim Tinggi) juga di Jakarta. Mr. Assaat menikah dengan Roesiah, dari Sungai Pua di *Rumah Gadang Kapalo Koto* 12 Juni <http://id.wikipedia.org/wiki/12_Juni> 1949<http://id.wikipedia.org/wiki/1949>, Dikaruniai dua orang putera dan seorang puteri. [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Assaat&action=edit§ion=2> ] Pendidikan dan praktik advokat Ketika menjadi mahasiswa RHS, ia memulai berkecimpung dalam gerakan kebangsaan, dalam gerakan pemuda dan politik. Saat itu Assaat giat dalam organisasi pemuda *"Jong Sumatranen Bond"*. Karier politiknya makin menanjak dan berhasil menjadi Pengurus Besar *"Perhimpunan Pemuda Indonesia"*. Ketika Perhimpunan Pemuda Indonesia mempersatukan diri dalam *"Indonesia Muda"*, ia terpilih menjadi Bendahara Komisaris Besar *" Indonesia Muda"*. Dalam kedudukannya sebagai mahasiswa, Assaat masuk ke dalam politik *"Partai Indonesia"* atau *Partindo*. Dalam partai ini, Assaat bergabung dengan pemimpin Partindo seperti: Adenan Kapau Gani<http://id.wikipedia.org/wiki/Adenan_Kapau_Gani>, Adam Malik <http://id.wikipedia.org/wiki/Adam_Malik>, Amir Sjarifoeddin<http://id.wikipedia.org/wiki/Amir_Sjarifoeddin>dll. Kegiatannya di bidang politik pergerakan kebangsaan, diketahui oleh pengajar dan pihak Belanda, sehingga dia tidak diluluskan walau sudah beberapa kali mengikuti ujian akhir. Tersinggung atas perlakuan itu, dia memutuskan meninggalkan Indonesia pergi ke Belanda. Di Belanda dia memperoleh gelar *"Meester in de Rechten"* (*Mr*) atau Sarjana Hukum. Sebagai seorang non-kooperator terhadap penjajahan Belanda, sekembalinya ke tanah air di tahun 1939 <http://id.wikipedia.org/wiki/1939> Mr. Assaat berpraktik sebagai advokat <http://id.wikipedia.org/wiki/Advokat> hingga masuknya Jepang <http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang> di tahun 1942<http://id.wikipedia.org/wiki/1942>. Di zaman Jepang beliau diangkat sebagai Camat<http://id.wikipedia.org/wiki/Camat> Gambir <http://id.wikipedia.org/wiki/Gambir>, kemudian Wedana<http://id.wikipedia.org/wiki/Wedana> Mangga Besar <http://id.wikipedia.org/wiki/Mangga_Besar> di Jakarta. [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Assaat&action=edit§ion=3> ] KNIP dan RIS Komite Nasional Indonesia Pusat<http://id.wikipedia.org/wiki/Komite_Nasional_Indonesia_Pusat> *(KNIP)* dan Badan Pekerjanya *(BP-KNIP)* pada masa revolusi dua kali mengadakah hijrah Karena situasi dianggap terlalu riskan, dan agar Revolusi Indonesia tetap berjalan. Berkedudukan awal di *Jakarta<http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta> *, dengan tempat bersidang di bekas *Gedung Komedi* (kini Gedung Kesenian Jakarta <http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Kesenian_Jakarta>) di Pasar Baru <http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_Baru> dan di gedung Palang Merah Indonesia <http://id.wikipedia.org/wiki/Palang_Merah_Indonesia> di Jl. Kramat Raya. Sekitar tahun 1945 <http://id.wikipedia.org/wiki/1945> KNIP dipindahkan ke Yogyakarta <http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta>. Kemudian pada tahun itu pula, pindah ke Purworejo<http://id.wikipedia.org/wiki/Purworejo>, Jawa Tengah <http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah>. Sampai saat situasi *Purworejo* dianggap kurang aman untuk kedua kalinya *KNIP* hijrah ke * Yogyakarta*. Pada saat itu Mr. Assaat duduk sebagai anggota sekretariatnya. Tidak lama kemudian dia ditunjuk menjadi ketua *KNIP* dan *BP-KNIP*. Tahun 1946 <http://id.wikipedia.org/wiki/1946>-1949<http://id.wikipedia.org/wiki/1949>( Desember <http://id.wikipedia.org/wiki/Desember>) ia menjadi *Ketua BP-KNIP*(Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat<http://id.wikipedia.org/wiki/Komite_Nasional_Indonesia_Pusat>). Ia terpilih menjadi *ketua KNIP* terakhir. Hingga *KNIP* dibubarkan, kemudian ia ditugasi sebagai Penjabat Presiden RI di kota perjuangan di Yogyakarta. [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Assaat&action=edit§ion=4> ] Diasingkan 19 Desember 1948<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=19_Desember_1948&action=edit&redlink=1>Belanda melancarkan Agresi Militer II <http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_II>. Mr. Assaat ditangkap Belanda bersama Bung Karno <http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno>dan Bung Hatta <http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Hatta> serta pemimpin Republik lainnya, kemudian di asingkan di Manumbing<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Manumbing&action=edit&redlink=1>di Pulau Bangka <http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Bangka>. [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Assaat&action=edit§ion=5> ] Acting Presiden Republik Indonesia *Desember 1949 - Agustus 1950*, *Mr.Asaat* menjadi *Acting Presiden Republik Indonesia* di *Yogyakarta*. Dengan terbentuknya *RIS* (Republik Indonesia Serikat), jabatannya sebagai Penjabat Presiden pada Agustus 1950 selesai, demikian juga jabatannya selaku ketua *KNIP* dan Badan Pekerjanya. Sebab pada bulan Agustus 1950<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agustus_1950&action=edit&redlink=1>, negara-negara bagian *RIS* melebur diri dalam *Negara Kesatuan RI*. Saat menjadi *Acting Presiden RI*, Assaat menandatangani statuta pendirian Universitas Gadjah Mada <http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Gadjah_Mada> di Yogyakarta. Setelah pindah ke Jakarta, Mr. Assaat menjadi anggota parlemen (DPR<http://id.wikipedia.org/wiki/DPR>-RI), hinga duduk dalam Kabinet Natsir<http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Natsir>menjadi Menteri Dalam Negeri September 1950<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=September_1950&action=edit&redlink=1>sampai Maret 1951<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Maret_1951&action=edit&redlink=1>. Kabinet Natsir bubar, ia kembali menjadi anggota Parlemen. Pada tahun 1955 <http://id.wikipedia.org/wiki/1955> ia menjabat sebagai * formatur* Kabinet <http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet> bersama Soekiman Wirjosandjojo <http://id.wikipedia.org/wiki/Soekiman_Wirjosandjojo> dan Wilopo <http://id.wikipedia.org/wiki/Wilopo> untuk mencalonkan Bung Hatta<http://id.wikipedia.org/wiki/Bung_Hatta>sebagai Perdana Menteri <http://id.wikipedia.org/wiki/Perdana_Menteri>. Karena waktu itu terjadi ketidak puasan daerah terhadap beleid<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Beleid&action=edit&redlink=1>(kebijakan) pemerintahan Pusat. Daerah-daerah mendukung Bung Hatta <http://id.wikipedia.org/wiki/Bung_Hatta>, tetapi upaya tiga formatur tersebut menemui kegagalan, karena secara formal, ditolak oleh Parlemen. [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Assaat&action=edit§ion=6> ] Pertentangan dengan Pemerintah Pusat Ketika Presiden Soekarno menjalankan Demokrasi Terpimpin<http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi_Terpimpin>, Assaat menentangnya. Secara pribadi Bung Karno tetap dihormatinya, yang ditentangnya adalah politik Bung Karno yang seolah-olah condong ke sayap kiri Partai Komunis Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia> . Mr. Assaat merasa terancam, karena Demokrasi Terpimpin adalah kediktatoran terselubung, ia selalu diawasi oleh intel serta PKI. Dengan berpura-pura "akan berbelanja" ia bersama keluarganya melarikan diri dengan berturut-turut naik becak dari Jl. Teuku Umar ke Jl. Sabang, dari sana dilanjutkan menuju Stasion Tanah Abang<http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Abang> . Mr. Assaat beserta keluarga berhasil menyeberang ke Sumatera<http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera>. Berdiam beberapa hari di Palembang. Ketika itu di Sumatra Selatan sudah terbentuk *"Dewan Gajah"* yang dipimpin oleh Letkol Barlian<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Letkol_Barlian&action=edit&redlink=1>. Di Sumatra Barat <http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatra_Barat> Letkol Ahmad Husein<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Letkol_Ahmad_Husein&action=edit&redlink=1>membentuk *"Dewan Banteng"*. Kol. Simbolon<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kol._Simbolon&action=edit&redlink=1>mendirikan *"Dewan Gajah"* di Sumatera Utara<http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Utara>, sementara Kol. Sumual<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kol._Sumual&action=edit&redlink=1>membangun *"Dewan Manguni"* (Burung hantu <http://id.wikipedia.org/wiki/Burung_hantu>) di Sulawesi <http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi>. Dewan-dewan tersebut bersatu menentang Sukarno yang dipengaruhi oleh PKI. Terbentuklah PRRI <http://id.wikipedia.org/wiki/PRRI> (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintahan_Revolusioner_Republik_Indonesia>). Assaat yang ketika itu baru tiba di Sumatera Barat<http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat>bergabung dengan PRRI <http://id.wikipedia.org/wiki/PRRI>. Kemudian berkeliaran di hutan-hutan Sumatera <http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera>, setelah Pemerintah Pusat menggempur kekuatan PRRI<http://id.wikipedia.org/wiki/PRRI> . [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Assaat&action=edit§ion=7> ] Akhir Hayat, Upacara Kebesaran Ketika berada di hutan-hutan Sumatera Barat<http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat>dan Sumatera Utara <http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Utara>, Mr. Assaat sudah merasa dirinya sering terserang sakit. Dia ditangkap, dalam keadaan fisik lemah dan menjalani *"hidup"* di dalam penjara *"Demokrasi Terpimpin"* selama 4 tahun 1962 <http://id.wikipedia.org/wiki/1962>-1966<http://id.wikipedia.org/wiki/1966>. Ia baru keluar dari tahanan di Jakarta<http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta>, setelah munculnya Orde Baru <http://id.wikipedia.org/wiki/Orde_Baru>. Pada tanggal 16 Juni <http://id.wikipedia.org/wiki/16_Juni> 1976<http://id.wikipedia.org/wiki/1976>, Mr. Assaat meninggal dirumahnya yang sederhana di Warung Jati Jakarta Selatan <http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta_Selatan>. Mr. Assaat gelar *Datuk Mudo* diantar oleh teman-teman seperjuangannya, sahabat, handai tolan dan semua keluarganya, dia dihormati oleh negara dengan kebesaran militer. [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Assaat&action=edit§ion=8> ] Pribadi Bagi orang-orang yang mengenalnya Asaat adalah pribadi yang sederhana. Ketika menjadi Penjabat Presiden, menurut pers, beliau tidak mau dipanggil *Paduka Yang Mulia*, lebih memilih panggilan *Saudara Acting Presiden*. yang menjadi agak canggung pada waktu itu. Akhirnya Assaat bilang, panggil saja saya *"Bung Presiden"*. Assaat bukan ahli pidato, dia tidak suka banyak bicara, tetapi segala pekerjaan dapat diselesaikannya dengan baik, semua rahasia negara dipegang teguh. Beliau taat melaksanakan ibadah <http://id.wikipedia.org/wiki/Ibadah>, tak pernah meninggalkan salat <http://id.wikipedia.org/wiki/Salat> lima waktu. Dan adalah pemimpin yang sangat menghargai waktu, seperti juga Bung Hatta. -- *SATRIADI.JAMBAK BATAM.67 LACIANO. GROUP **BUKITTINGG** * -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
