Sebuah sentilan tuk kita semua.
Semoga tahun ini shaum kita lebih "nendang"
dari tahun - tahun sebelumnya sehingga
dapat menjadi safa'at di hari akhir nanti,
amien ya rabbal 'alamien

wassalam,
harman

Jika Shaum Kita "Nggak 'Nendang" - Akmal Sjafril
Aug 22, '11 10:35 AM

 
assalaamu’alaikum wr. wb.

“It’s like a finger pointing at the moon,” kata seorang guru Kung Fu pada 
muridnya.  Sang murid yang berusaha mencerna kata-kata itu secara refleks 
langsung memelototi jari gurunya yang menunjuk ke angkasa.  Apa dinyana, ia 
langsung dihadiahi tamparan keras di kepalanya.

“Do not concentrate on the finger, or you will miss all of the heavenly glory!”

Begitulah cuplikan sebuah adegan dalam film Enter The Dragon, salah satu film 
yang membuat nama Bruce Lee terpatri dalam sejarah perfilman dan bela diri 
dunia sekaligus.  Adegan itu menunjukkan bagaimana karakter guru Kung Fu yang 
diperankan oleh Bruce Lee tengah mengajari seorang muridnya bagaimana cara 
menendang dengan benar.  Sesi latihan supersingkat itu (bahkan sesi latihan itu 
dilakukan di tengah-tengah waktu sang guru menerima tamunya) menunjukkan betapa 
besar perhatian karakter ini pada hal-hal yang mendetil.  Ia hanya menyuruh 
muridnya menendang tiga kali, mengoreksinya dan memberitahu apa yang benar dan 
yang salah dari gerakannya.  Setelah itu, sang murid kembali untuk berlatih 
sendiri lagi.

Mungkin sebagian orang tidak mengerti apa korelasi antara jari, bulan dan 
teknik tendangan yang efektif hanya dengan mengamati petikan dialog singkat di 
atas.  Bahkan mereka yang menonton filmnya secara utuh pun banyak yang belum 
sempat memahami adegan tersebut ketika film sudah beralih ke adegan 
berikutnya.  Yang ingin ditekankan oleh karakter Lee adalah bahwa tendangan 
yang dilakukan oleh muridnya itu secara teknis sudah benar, namun kurang 
mantap, karena tidak ada apa yang disebutnya sebagai ‘emotional content’.  
Istilah yang satu ini bukan berarti bahwa tendangannya harus emosional atau 
dilandasi amarah (semua ahli bela diri yang sejati tahu persis bahwa amarah 
justru merusak konsentrasi dan kualitas gerakan), melainkan haruslah ada 
kesatuan antara badan dan pikiran.  Singkatnya, pikiran dan perasaan terfokus 
pada satu tujuan.  Itulah sebabnya digunakan analogi jari yang menunjuk ke 
bulan.  Tidak ada manfaatnya berkonsentrasi ke jari yang
 menunjuk, karena yang harusnya menjadi pusat perhatian adalah bulan di langit.

Apa yang dijelaskan di sini juga tidak menunjukkan bahwa Bruce Lee (atau 
karakter yang diperankannya) tidak peduli dengan detil gerakan.  Penekanan pada 
fokus tujuan diberikan sekurang-kurangnya karena dua hal.  Pertama, karena 
secara teknis tendangan muridnya itu sudah benar dan cukup baik, hanya tinggal 
dimantapkan saja.  Kedua, karena Bruce Lee memiliki prinsip bahwa bela diri 
yang paling efektif itu adalah yang mengikuti anatomi tubuh manusia.  Itulah 
sebabnya Lee tidak dikenal karena jurus belalang sembah (the praying mantis), 
cakar harimau (the tiger claw), atau jenis-jenis jurus Kung Fu lainnya yang 
terinspirasi oleh gerakan hewan (jika tangan manusia berbeda dengan tungkai 
depan belalang sembah, lantas kenapa manusia harus memukul seperti belalang 
sembah?).  Lee adalah tokoh yang mempopulerkan Wing Chun ke level 
internasional, sedangkan Wing Chun adalah bela diri yang sepenuhnya menggali 
teknik-teknik yang dianggap efektif untuk anatomi
 tubuh manusia.   Nah, karena anatomi tubuh manusia toh secara umum sama saja, 
maka teknik tendangan yang efektif pasti sama saja.  Dengan pemahaman tujuan 
yang baik dan repetisi yang cukup, pasti tekniknya akan sama saja, baik ia 
orang India, Cina, Amerika, Nigeria, atau Nikaragua.  Kalau kakinya sama, maka 
teknik tendangan samping yang efektif pasti begitu-begitu juga.   Itulah 
sebabnya fokus pada tujuan menjadi demikian penting.

Baik dalam bela diri, olah raga, atau dalam hal-hal lainnya, kita semua tahu 
bahwa teknik yang benar tidak dapat dicapai hanya dalam satu-dua kali 
percobaan.  Sebab, setiap teknik pada hakikatnya bukanlah gerakan-gerakan 
parsial dari anggota-anggota tubuh, melainkan hasil dari kerja sama semua 
bagian itu.  Tendangan bukanlah gerakan yang hanya mengandalkan kaki, melainkan 
keselarasan dengan pinggang, posisi tangan, bahkan juga gerakan bahu.  Cara 
melakukan tembakan dalam basket juga bukan sekedar melempar dengan tangan, 
karena shoot yang benar melibatkan kolaborasi yang apik antara lutut, siku, 
bahu, jari-jemari dan seterusnya.  Hal ini bisa kita aplikasikan dalam segala 
hal.  Menulis bukan sekedar menceritakan suatu kejadian atau pemikiran, ilmu 
kedokteran bukan sekedar tahu penyakit dan bisa membuat resep, ekonomi 
(syariah) bukan sekedar menghitung laba-rugi pribadi, demikian seterusnya.  
Oleh karena itu, dalam segala hal, jam terbang menjadi
 penentu.  Jam terbanglah yang akan membedakan antara orang yang:

        * tahu cara yang benar
        * mampu melakukan dengan benar
        * terampil melakukan dengan benar
        * memiliki kearifan terhadap teknik yang benar
Shaum, seperti segala sesuatunya, juga dipengaruhi secara langsung oleh jam 
terbang.  Semua orang maklum jika anak usia 4-5 tahun ikut melaksanakan shaum, 
kemudian berbuka di waktu Zhuhur dan meneruskan hingga waktu berbuka yang 
sebenarnya.  Hal yang sama juga berlaku bagi para muallaf, karena ini adalah 
suatu hal yang baru bagi mereka.  Tubuh mereka perlu dikondisikan untuk 
beradaptasi dengan shaum.

Kalau jam terbangnya sudah bertambah tinggi, biasanya sejalan dengan 
bertambahnya usia, maka hal-hal lainnya mulai menjadi perhatian.  Mulai 
berlatih menjaga emosi, meninggalkan obrolan-obrolan tak bermanfaat dan 
sebagainya.  Lebih baik tidur daripada kelayapan.

Semakin tinggi jam terbangnya, maka tuntutannya pun semakin tinggi.  
Target-target dibuat.  Jumlahtilawah harian mulai dipertanyakan.  Shalat Dhuha 
menjadi ‘menu wajib’.  Ibadah-ibadah wajib dimantapkan, ibadah-ibadah Sunnah 
digetolkan.  Pemahaman terhadap ibadah shaum semakin tinggi.  Tidak ada lagi 
yang ingat soal lapar dan haus, bahkan kedua hal itu menjadi tidak relevan 
lagi.  Tidak ada lagi keluhan lemas-lemas atau badan tak bertenaga di bulan 
Ramadhan, karena tubuh sudah sangat terbiasa, hasil latihan selama 
bertahun-tahun.

Pada kenyataannya, sebagian umat Islam berada dalam kondisi yang sama seperti 
murid Kung Fu yang sedang belajar menendang tadi.  Seharusnya pandangannya 
difokuskan ke bulan, tapi perhatiannya malah ke jari yang menunjuk.  Matanya 
tidak tertuju pada keindahan yang tiada banding nun jauh di atas sana, 
melainkan pada jari yang sudah ia lihat jutaan kali sejak kelahirannya.  Tidak 
heran kualitas tendangannya tidak mengalami peningkatan yang signifikan.  
Tendangannya sudah benar, tapi hanya sekedar itu saja.

Shaum itu sama saja sederhananya dengan teknik tendangan.  Batasan shaum adalah 
waktu Subuh dan Maghrib.  Yang membatalkannya hanya tiga, yaitu makan, minum 
dan berhubungan suami-istri.  Selebihnya adalah perkara yang dibuat-buat oleh 
orang-orang yang ‘suka mencari masalah’, misalnya muntah dengan sengaja, 
menghirup air lewat hidung (yang ujung-ujungnya masuk ke kerongkongan juga), 
atau onani.  Hanya tiga hal tadi sajalah perkara halal yang diharamkan ketika 
sedang menjalankan ibadah shaum.  Selebihnya, yang wajib tetaplah wajib, yang 
sunnah tetaplah sunnah, yang makruh tetaplah makruh, yang mubah tetaplah mubah, 
dan yang haram sudah pasti tetap haram.  Semua kebaikan dilipatgandakan 
pahalanya, dan kemungkinan dikabulkannya doa menjadi semakin besar.  Kalau kita 
tidak banyak ‘mencari masalah’, shaum yang benar dan memenuhi syarat itu cukup 
demikian saja.

Patut disayangkan, masih banyak Muslim dan Muslimah yang sudah dewasa, sudah 
belasan atau puluhan tahun melaksanakan ibadah shaum Ramadhan, tapi 
pemikirannya masih saja berkisar di seputar lapar dan haus.  Di siang hari 
badannya lemas, maka kinerjanya menurun.  Begitu adzanZhuhur, langsung melesat 
ke Masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, kemudian tidur hingga waktu 
istirahat kantornya selesai.  Kerja tanpa gairah, menuntut pulang cepat, dan di 
akhir bulan mengharapkan THR.  Itulah siklus kerjanya di bulan Ramadhan.

Jika seharian di rumah, saking ‘beratnya’ shaum, maka yang dicari adalah 
hiburan dan hiburan.  Industri pertelevisian meresponnya dengan sangat baik.  
Bangun sahur langsung ditemani oleh acara lawak plus berbagai macam kuis.  
Setelah fajar menyingsing, acara konser live digelar seperti biasa; anak-anak 
muda yang entah sekolah entah kuliah entah bolos berkumpul seperti biasa pula.  
Bedanya, para host dan artis yang tampil di bulan Ramadhan biasanya pakai baju 
koko.  Sinetron-sinetron Ramadhan bermunculan, bahkan sinetron yang biasanya 
pun tampil ‘tidak biasa’ di bulan Ramadhan; karakternya banyak yang berjilbab, 
pakai baju koko, dan sedikit-sedikit mengucapkan “Ya Allah!”  Ada sedikit saja 
waktu, sekitar 15-30 menit, dimanfaatkan untuk taushiyah yang agak serius dan 
berisi menjelang berbuka.  Setelah itu, siklus hiburan berjalan seperti biasa.  
Tapi sebelum tidur, masih ada lagi hiburan lain yang menunggu, yaitu hasil 
perkawinan
 antara konser dan taushiyah, sebut saja ‘konser taushiyah’.  Para ustadz dan 
band-band terkemuka (tentu saja pakai baju koko) tampil bergantian.  Bahkan 
adakalanya belasan ustadz ditampilkan pada malam yang sama, di panggung yang 
sama.  Masing-masing dapat waktu memberikan taushiyah sekitar lima menit.  
Tentu saja, tampil bersama band-band yang sedang digandrungi itu, 
para ustadz pun tak boleh kalah menghibur.  Maka tampillah para ustadz dalam 
format yang serba interaktif dengan para penontonnya; mulai dari yel-yel 
bersama hingga menyanyi bersama.  Taushiyah-nya?  Wallaahu a’lam.  
Tidurnya?  Wallaahu a’lam juga, karena acara baru berakhir menjelang tengah 
malam.

Kasihan umat yang kebingungan.  Dari tahun ke tahun, pemahamannya 
tentang shaum hanya sekedar lapar dan haus saja.  Di koran-koran, siaran radio 
dan televisi, orang masih saja bertanya: apakahshaum batal jika kita muntah?  
Di mana-mana, ada saja yang berkata (entah berkelakar atau tidak), “Kok lemes?  
Puasa ya?”  Menjelang Ramadhan, orang-orang pergi makan bersama.  Katanya: 
“Mumpung masih bisa makan siang-siang!”  Seolah Ramadhan telah merampas hak-hak 
mereka, dan seolah tidak makan siang selama sebulan itu sedemikian 
menderitanya.  Belum masuk Ramadhan, orang sudah dibuai dengan ‘janji-janji 
kemenangan’, slogan ‘kembali ke fithrah’ dan berbagai diskon besar-besaran.  
Ramadhan datang, orang-orang sudah menanti datangnya Lebaran, seolah-olah ingin 
agar kesempatan emas itu segera lewat.  ‘Idul Fitri semakin mendekat, 
orang-orang pun semakin gelisah memikirkan baju baru yang belum dibeli, kue-kue 
yang belum disiapkan, dan
 THR yang belum dibagikan.  Ramadhan berlalu seperti bulan-bulan lainnya, tanpa 
jejak yang ditinggalkan kecuali beberapa potong pakaian di dalam lemari.  Tidak 
ada ‘oleh-oleh’ yang dibawa berupa amalan Sunnah yang menjadi kebiasaan baru, 
dan tak ada perubahan signifikan dari karakter diri kita.

Sedikit saja yang ingat bahwa tujuan akhir shaum adalah agar kita semakin 
ber-taqwa; yaitu semakin awas dengan keadaan diri kita, semakin berhati-hati 
agar tidak melalaikan kewajiban atau terjerumus dalam kemaksiatan.  Tidak 
heran, sebab pikiran mereka disibukkan dengan lapar dan haus, dan selebihnya 
adalah hal-hal yang tidak relevan.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

 
---------------------------------------------------------------------- 
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah

kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan 
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin 
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: [email protected]
website : www.lazismu.org

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke