Hentikan?

Ya, memang gampang untuk meneriakan imbauan ini.
Yang paling berkompeten dalam masalah penyakit masyarakat (Pekat) modern, 
dampak dari ketimpangan pembangunan di mana-mana ini, adalah kerjasama 
Pemerintah dengan Pengusaha untuk bersinerji solid me-minimize jurang sosial 
yang semakin menganga di SumBar dan di seluruh bumi Nusantara.

Kalau saja generasi (muda) kerja di Sumbar mendapatkan pekerjaan yang layak 
buat membungkam perutnya yang berteriak lapar, dan buat pencari kain buat 
penutup punggungnya yang terbakar matahari...., tentu premanisme yang marak di 
SumBar dan di seluruh bumi Nusantara...., akan mereda. Tidak ada anak muda 
Minang (dan anak muda negeri lain di Nusantara) yang dilahirkan untuk jadi 
pareman. Lingkungannyalah yang "memaksa" mereka untuk jadi..... entah apa?!

Negeriku.................., Ooh neneriku..............!!!!!!!!!!!

Masalah sosial besar ini memang sangat penting dan genting untuk 
ditindaklanjuti oleh Pemda Sumbar secara sistemik dengan merangkul (dengan 
sesungguhnya) tigo tungku sajarangan di Minangkabau. 

Salam.......................,
mm***
Lk-2, >50 th, Bks


________________________________


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Syafruddin Ujang <[email protected]>
Tanggal: 24 Agustus 2011 20:49
Subjek: Hentikan Praktek Premanisme di Obyek Wisata
Ke: [email protected], [email protected],
[email protected], [email protected]


Layani Perantau Sebagai Wisatawan:

Hentikan Praktek Premanisme

di Obyek Wisata Sumbar



JAKARTA – Pemerintah daerah dan masyarakat Sumatra Barat diminta
memanfaatkan momentum mudik lebaran para perantau untuk membangun
citra elok pariwisata Ranah Minang di masa mendatang. Karena itu,
obyek wisata alam dan budaya yang akan banyak dikunjungi perantau
selama lebaran ini, harus mampu memperlihatkan pelayanan yang ramah,
bersih dan professional, serta jauh dari praktek premanisme dan
kebiasaan memanfaatkan ‘kesempatan dalam kesempitan’.

Demikian pendapat dan harapan yang disampaikan Ketua Umum Masyarakat
Peduli Pariwisata Sumatra Barat (MAPPAS) Nur’aini B. Prapdanu dan
Kasubdit Promosi Wisata Wilayah I, Direktorat Promosi Dalam Negeri,
Ditjen Pemasaran, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Raseno Arya,
dalam wawancara terpisah di Jakarta, Rabu (24/8) kemarin.

Nuraini mengemukakan, di samping wisatawan mancanegara yang selalau
ditunggu kedatangan mereka, wisatawan nusantara dari etnis Minangkabau
pun sesungguhnya merupakan potensi besar dalam memajukan pariwisata di
Ranah Minang.

Jumlah perantau Minang di berbagai daerah termasuk luar negeri
melebihi jumlah masyarakat yang tinggal di kampung. Bila ada 1 juta
orang Minang saja yang pulang tiap tahun dengan belanja Rp1 juta
perorang, kata Nur, aka nada Rp1 triliun uang yang beredar di Sumatra
Barat. “Ini sungguh potensi besar,” kata dia.

Tetapi, katanya mengingatkan, jangan sampai momentum mudik lebaran ini
dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dengan melakukan
praktek ‘premanisme’ di obyek-obyek wisata dengan menerapkan parkir
yang double dengan tarif yang melangit pula. Selain itu, para pedagang
sering dikeluhkan melakukan praktek main ‘pakuak’. “Ini namanya
menggunakan kesempatan dalam kesempitan,” tegasnya.

Dibenarkan oleh Sekjen MAPPAS Deddy Yusmen, Nur’aini mengaku sering
mendapat keluhan adanya praktek-praktek yang jauh dari nilai keelokan
negeri ini di masa lalu. “Saatnya pada momentum mudik lebaran ini
semua itu kita perbaiki dengan pengawasan yang ketat dari pemerintah
daerah. Jangan sampai ada citra buruk yang dibawa perantau,” katanya
mengingatkan.

Layani sebagai Wisatawan

Secara terpisah, Raseno Arya di ruang kerjanya, Kementerian Kebudayaan
dan Pariwisata, meminta Pemda Provinsi, Kota dan Kabupaten, serta
masyarakat Sumatra Barat melayani para perantau Minang yang mudik
lebaran ini layaknya sebagai wisatawan.

“Meski orang kampung sendiri, namun layanilah mereka sebagai wisatawan
karena sesungguhnya potensi perantau sangat besar dalam memajukan
pariwisata Ranah Minang di masa mendatang,” ujar putra kelahiran
Padang ini

Bentuk-bentuk pelayanan yang bisa diberikan, kata alumnus Fekon Unand
ini, adalah dengan memberikan informasi tentang obyek wisata di ranah
secara detail, menjaga citra yang baik di lokasi obyek wisata,
menyediakan toilet yang bersih dan menerapkan tarif parkir dan makanan
yang standar.

 “Demi citra pariwisata Ranah Minang ke depan, Pemda provinsi, kota
dan kabupaten harus mengawasi betul praktek-praktek yang bias merusak
dunia pariwisata itu sendiri,” katanya.

Untuk Kota Bukittinggi yang selalu diserbu oleh perantau selama
lebaran, Pemda dan seluruh unsur terkait agar bias berkoordinasi dalam
memberikan pengamanan, terutama terhadap lalu lintas. “Mungkin dari
sekarang sudah bisa ditata system lalu lintas, seperti memberlakukan
satu arah, serta menata perparkiran yang lebih baik,” ujarnya. --sal

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke