Jumat, 26 Agustus 2011

Oleh Muhammad Baqir

Pada puncaknya para salihin akan berada di hadapan Realitas yang akan
meleburkan apa pun yang mendekati-Nya. Pada titik tersebut, tidak ada bahasa
apa pun yang bisa mengekspresikan Realitas itu kecuali "keheningan".

Dalam "keheningan mutlak" itulah Dia mulai berbicara. Dia berkata dalam
"keheningan", "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam al-qadr.."
Sang Realitas dengan misterius sekali telah merahasiakan apa pun hakikat
yang Dia telah turunkan dalam bungkusan sebuah kata ganti, yaitu "nya".

Kemudian, Dia mulai menceritakan tentang malam al-qadr, sebuah selimut
kegelapan yang sama sekali tidak bisa digarap dan dimengerti, "wa ma adraka
ma laylatul qadr.." Kegelapan misterius itu adalah kebaikan yang lebih baik
dari seribu bulan. Melimpah.

Sebenarnya kegelapan malam adalah rahasia yang jauh dari persepsi lahiriah
manusia. Namun, dalam rahasia itu terkandung sebuah rahasia lagi. Rahasia
dalam rahasia inilah yang tidak dimengerti oleh banyak manusia. Ketika Dia
menyatakan, "Kami telah menurunkannya.", sudah tentu Dia bermaksud
menurunkan "nya" itu kepada manusia-manusia terpilih atau yang sudah siap
untuk menerimanya.

"Turun" atau "al-inzal" dalam perspektif tasawuf adalah tajali, yaitu
"manifestasi" atau "disclosure". Sesuatu yang tersembunyi disingkapkan untuk
manusia terpilih itu. Dan, penyingkapan itu terjadi dalam batin manusia yang
terisyarat dengan kata "malam". Manifestasi "rahasia" itu telah
mentransformasi batin manusia menjadi baik.

Rahasia itu tidak akan turun ke dalam batin yang tidak pantas menerimanya.
Kata "al-qadr" sebenarnya mengisyaratkan kepada batin yang mulia. Nilai ini
tak akan diketahui kecuali di dalam kegelapan malam, batin manusia.

"Al-qadr" juga bisa dimaknai sebagai "al-qudrah", yaitu kekuatan. Namun,
jika "rahasia" itu diturunkan kepada gunung, sudah tentu gunung itu akan
hancur lebur karena tidak kuat dan tidak mampu menjadi wadah rahasia itu

Batin yang menyelubungi rahasia itu adalah lebih baik daripada seribu bulan
karena kesadaran itu tidak pernah terpisah dari kebaikan. Kesadaran itu
begitu tinggi dan luas sehingga kebaikannya tidak bisa dijangkau manusia
dengan secara biasa. Dalam batin manusia itu para malaikat turun menampakkan
keindahan mereka pada manusia tersebut. Bersama dengan para malaikat, sang
roh juga menampakkan dirinya. Semua ini terjadi dengan izin sang Tuhan. Ini
berarti bahwa batin manusia itu berada dalam alam malaikat "celestial" dan
juga "terrestrial".

Batin manusia ini adalah batin yang "salam", sejahtera, dan tenang, sama
sekali tidak terkontaminasi dengan kecacatan. Kesejahteraan dan ketenangan
ini akan memenuhi malam tersebut sampai terbit fajar. Ini berarti bahwa
batin manusia yang sadar itu akan berada dalam keadaan sejahtera dan tenang
hingga kedatangan Matahari Kebenaran, yaitu Tuhan dengan segala keindahan
ilahiah.

Batin manusia akan menjadi mulia atau menjadi "laylatul qadr" pada bulan
Ramadhan. Sementara itu, bulan Ramadhan untuk para sufi adalah momen-momen
terbakarnya jiwa manusia dengan cahaya Ilahi.

Kebakaran ini akan terjadi pada saat manusia "berpuasa". Puasa dalam
perspektif tasawuf adalah "al-imsak", yaitu menahan diri dari segala
ungkapan dan perbuatan dan gerak dan diam yang tidak "bi l-Haq" dan "li
l-Haq". Dengan kata lain, berpuasa bagi para sufi adalah menahan diri dari
dikuasai dan didominasi daya nafsu individualis. Menahan diri dari
pembicaraan, perbuatan dan tindakan, gerakan dan diam yang berasal dari diri
individualis.

Ini berarti, manusia harus menahan dirinya dari dirinya sendiri. Ia
membiarkan ungkapan, perbuatan, dan gerakan mengalir dari Tuhan, terjadi
dengan Tuhan, dan untuk Tuhan sekaligus menuju kepada Tuhan. Berpuasa dalam
pengertian inilah yang akan mentransformasikan batin manusia menjadi
"laylatul qadr". Pada saat dia menjadi "laylatul qadr", semuanya akan
terealisasi.

Batin yang sudah menjadi "laylatul qadr" adalah batin yang sejahtera dan
tenang, penuh dengan kesadaran dan kebijaksanaan. Batin seperti ini akan
bisa menyebarkan kesejahteraan kepada sekitarnya dan membawa ketenangan ke
dalam jiwa-jiwa yang mendekatinya serta memberi kebijaksanaan dan hikmah
kepada yang mencarinya.

---------------------------------

Muhammad Baqir Wakil Direktur Sophia Institute, Pengajar Tasawuf di
Universitas Paramadina

http://cetak.kompas.com/read/2011/08/26/03551996/menyambut.fajar.ilahi

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke