Assalamulaikum wr wb Selamat Idul Fitri 1432H. Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Taqabbalallahu minna waminkum.
Nampaknya cukup banyak partisipan yang memberikan tanggapan berkenaan dengan penetapan tanggal 1 Syawal 1432H dan akhirnya juga membuat kami untuk ikut turun sato maota. Menurut hemat kami tanggal apapun yang mau ditetapkan pada satu wilayah tertentu, adalah mustahil - sekali lagi adalah mustahil - tanggal 1 (satu) jatuh pada hari yang berbeda pada wilayah atau daerah yang sama. Dengan logika yang demikian dengan mudah dapat diambil kesimpulan bahwa bila pada satu wilayah atau daerah terdapat dua penetapan tanggal 1 yang berbeda, maka dapat dipastikan yang satu adalah benar dan yang lain adalah salah. Yang mana yang benar? Allahu a'lam! Patut disadari bahwa penetapan tanggal 1 Syawal, berkaitan dengan konsekwensi-konsekwensi hukum fiqh. Maksudnya pada kontek ini, pada tanggal 1 Syawal tersebut seluruh umat Islam/orang yang beriman dilarang atau diharamkan untuk melaksanakan ibadah berpuasa. Sementara itu menurut hemat kami, metode rukyat dan hisab bukanlah dua metode yang satu dengan yang lainnya bertentangan atau harus dipertentangkan. Kedua metode atau pendekatan tersebut harus diletakkan pada konstelasi saling melengkapi, hisab sebagai metode perhitungan dan rukyat sebagai pembuktian dari yang diperhitungkan. Namun tetap perlu dicatat bahwa angka 0,001 melimeter dapat ditulis, tapi siapa yang mampu secara implementatif menunjukkan angka 0,001 melimeter tersebut, tapi yang jelas angka itu ada. Demikian juga halnya dengan keberadaan hilal pada angka kurang dari 2 derajat dalam metode perhitungan di atas ufuk atau (misalnya 1,5 derajad), siapa yang mampu melihatnya dan atau memperlihatnya (dengan rukyat ) secara implementatif...? Agaknya tentu sulit, karena banyak faktor yang mempengaruhi, termasuk salah satunya keadaan cuaca. Secerah-cerahnya hari yang namanya ufuk tersebut akan selalu berselimut awan. Namun secara perhitungan (hisab) sudah dapat dipastikan bahwa hilal tersebut sudah ada. Sebagai catatan tambahan ambo setuju dengan pak Ahmad Ridha, bahwa setiap muslim itu adalah Muhammad-iyah, karena kata iyah itu menunjukkan pengertian kepengikutan. Oleh sebab itu terus terang kami agak keberatan pemakaian kata iyah itu kepada selain Muhammad SAW yang selama ini banyak ditemukan di tengah umat Islam. Syukran katsira ~ Wallahu a'lam. Wassalam Ambiar Lani (59+/L/Jakarta-Bekasi) ________________________________ From: Ahmad Ridha <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tuesday, September 6, 2011 9:48 AM Subject: Re: [R@ntau-Net] Kita Khan Orang Muhamadyah. [*] 2011/9/6 Dedi Nofersi <[email protected]> Manuruik ambo pandapek dari Muhammadiyah nan batua, karano jaleh dan pasti. Pak Dedi, saya yakin para ahli astronomi tidak akan mengatakan hitungan mereka jelas dan pasti yang bebas dari kesalahan. Rumus pada akhirnya merupakan perkiraan terhadap fenomena yang diukur. Oleh karena itu, metode hisab bervariasi. Berhubung Bapak menyinggung masalah hari raya haji, mari kita ambil contoh terkaitnya. Misalkan seseorang yang yakin dengan suatu metode hisab pergi melaksanakan ibadah haji, lalu penetapan 1 Dzulhijjah pada tahun itu di Makkah berbeda dengan hitungannya (dan ini sangat mungkin terjadi mengingat Arab Saudi menggunakan metode rukyat). Apakah dia harus melakukan rangkaian hajinya sendiri, termasuk waktu pelaksanaan wukuf? Haji, puasa Ramadhan, dan hari raya adalah syi'ar-syi'ar Islam yang di dalamnya umat Islam menampakkan kebersamaan. Ucapan takbir, yang biasanya dibaca secara lirih, diperintahkan untuk dilantangkan. Apakah bagus kalau wukuf Arafah dilakukan sendiri-sendiri? Tentang waktu shalat, dampaknya tidak sebesar penetapan awal bulan, karena dampak perbedaannya lebih kecil. Sebagai contoh, jika ada keraguan bahwa bayangan belum cukup panjang untuk waktu 'ashr, tidak perlu menunggu terlalu lama. Namun memang sangat sayang ketergantungan yang terlalu besar terhadap hitungan menjadikan banyak orang tidak lagi mampu menentukan waktu shalat sendiri. Padahal paling tidak untuk zhuhur dan 'ashr mudah dilakukan. Allahu Ta'aala a'laam. Wassalaam, -- Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
