Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

*Untuak ka diranuang-ranuangkan sajo........... (tadi ambo kirim dari Yahoo,
mungkin tasangkuik tampakno).
*

*MUSYKIL*
* *
Hari Selasa yang cerah. Pak Broto dan istrinya datang bertamu ke rumah kami.
Mereka baru kembali dari mudik lebaran. Dalam suasana ceria di pagi yang
cerah itu kami berbincang-bincang santai. Tentang perjalanan mereka pulang
kampung. Pak Broto bercerita bahwa perjalanan itu seperti biasanya setiap
tahun, tersendat-sendat di tengah kemacetan arus lalu lintas.

‘Lama juga di kampung kali ini,’ aku berkomentar.

‘Lumayan….. Pas seminggu, kami berangkat dari sini hari Ahad dan tadi malam
sampai kembali di rumah,’ jawab pak Broto.

‘Aman-aman saja sepanjang perjalanan? Berapa jam di jalan?’ tanyaku lagi
bertubi-tubi.

‘Alhamdulillah….. Aman…. Tapi, ya itu….. Jakarta – Solo dua puluh jam lebih.
Berangkat dari rumah sehabis subuh, kami sampai di kampung sudah menjelang
sahur lagi. Begitu juga waktu pulang. Macet. Di mana-mana macet dan
berdesak-desak. Tidak ada perobahan dari tahun ke tahun,’ jawabnya.

‘Mungkin semakin macet barangkali karena saya dengar pemudik bersepeda motor
semakin bertambah. Perjalanan yang berat. Tapi….., tetap puasa selama dalam
perjalanan pulang waktu itu?’

‘Tinggal ibu Broto saja yang masih bertahan. Saya menyerah. Hari panas luar
biasa, dan jalanan macet. Di dekat Cirebon, saya dan anak-anak sudah tidak
sanggup lagi meneruskan puasa. Jam dua siang kami terpaksa batal.’

‘Sayang, ya,’ aku berkomentar asal-asalan.

‘Sayang memang…..  Tapi begitulah, resiko mudik……. Eh, ngomong-ngomong, *udo
* hari apa berhari raya?’ tanyanya. Sepertinya mengalihkan pembicaraan.

‘Hari Selasa. Sampeyan hari apa?’ jawabku sekalian bertanya pula.

‘Kami ikut pemerintah…. Hari Rabu. *Udo* pengikut Muhammadiyah rupanya.’

‘Kebetulan saja bersamaan. Saya bukan anggota Muhammadiyah.’

‘Sayang, ya…. Kita, umat Islam selalu saja berbeda hari berhari raya….’

Aku hanya tersenyum, tak menjawab.

‘Sepertinya orang Muhammadiyah terlalu *pede* dan ngotot. Mereka tidak mau
ikut pemerintah,’ pak Broto memancing-macing.

‘Sebenarnya………’ kataku ragu-ragu.

‘Sebenarnya bagaimana, *udo*?’

‘Sebenarnya……., kalau kita yakin tentang sesuatu hal, kita memang harus *
pede*. Harus berani mempertahankan keyakinan kita tersebut,’ jawabku.

Pak Broto menatap wajahku dengan pandangan penuh tanda tanya.

‘Orang Muhammadiyah begitu yakin dengan hasil perhitungan mereka. Dan mereka
tidak mau mundur setapakpun. Padahal……., demi kebersamaan, apa salahnya
mundur? Demi keutuhan umat. Apa bukan begitu pendapat *udo*?’

‘Entahlah. Tapi sayapun, ketika saya yakin bahwa hari raya kemarin itu jatuh
pada hari Selasa, saya juga tidak mau mundur. Tidak mau ikut dengan pendapat
pemerintah.’

‘Apa alasan *udo*?’

‘Saya percaya dengan hasil perhitungan. Baik yang dilakukan Muhammadiyah,
atau organisasi lainpun. Bahkan dari informasi yang saya dapatkan di
internet, dari Google. Ditambah pula kesaksian di bawah sumpah orang yang
melihat hilal pada hari Senin sore itu. Saya sangat percaya dan yakin dengan
semua itu, lalu saya tidak puasa lagi hari Selasa alias berhari raya pada
hari itu.’

‘Jadi bukan karena fanatik sebagai……… orang Muhammadiyah?’

‘Sudah saya katakan. Saya bukan anggota Muhammadiyah.’

Sedang kami asyik berbincang-bincang itu terdengar suara salam dari luar.
Rupanya ada bapak dan ibu Tahir, tetangga kami yang lain, yang juga baru
kembali dari Medan. Kami bersalam-salaman.

‘Rupanya baru sampai juga pak Tahir,’ pak Broto mengawali.

‘Tadi malam pak. Tadi subuh kami sudah bertemu di mesjid. Bukankah begitu *
udo*?’ jawab pak Tahir.

‘Pak Tahir lewat udara ya? Enak dan tidak capek,’ pak Broto menambahkan.

‘Lebih capek sedikit di kantong….he..he..he…’ jawabnya pula.

Ibu Tahir bergabung dengan bu Broto di ruang tengah. Istriku menyuruh kami
pindah ke meja makan. Ada mie goreng istimewa yang baru disiapkannya.

‘Wah! Kita masih benar-benar berhari raya rupanya,’ celetuk bu Broto.

‘Ada suatu hal yang musykil di pemikiran saya. Saya ingin menanya pendapat *
udo*,’ kata pak Tahir ketika kami duduk mengelilingi meja makan.

‘Tentang apa itu?’ tanyaku.
‘Sebelumnya…….., hari apa *udo* berhari raya?’ tanya pak Tahir pula.

‘Hari Selasa,’ jawabku pendek.

‘Nah! Itulah! Kami juga berhari raya hari Selasa. Tapi ada seorang kawan
menjelaskan bahwa dengan demikian berarti kita tidak taat kepada pemimpin.
Kepada pemerintah. Padahal al Quran memerintahkan agar kita taat kepada
pemimpin. Bagaimana itu *udo*?’

‘Perintah untuk taat kepada pemimpin itu benar. Allah memerintahkan kita
tentang yang demikian itu seperti firman-Nya dalam surah An Nisaa’ ayat 59,’
jawabku.

‘Jadi mungkin maksud *udo*……. Pemerintah kita sekarang ini bukan *ulil amri
minkum*. Apa demikian *udo*?’ giliran pak Broto bersuara.

‘Mereka ulil amri kita,’ jawabku tersenyum.

‘Lah….. Bagaimana dong *udo*. Kata teman saya itu sebetapa tidak
setujunyapun kita dengan pemimpin, namun kita wajib taat kepadanya. Bahkan,
jika kita mati dalam keadaan tidak taat kepada pemimpin, maka mati kita
seperti mati dalam keadaan jahiliyah. *Udo* pernah mendengar tentang hadits
itu?’

‘Pernah. Hadits itu insya Allah sahih,’ jawabku pula.

‘Lho…. Semakin bingung saya. Kalau begitu? Kalau *udo* tahu ayatnya, tahu
haditsnya, kenapa dong *udo* ikut berhari raya hari Selasa. Menyalahi
ketetapan pemerintah?!’

‘Iya, *udo*. Kok sepertinya *udo* tidak konsisten?’ pak Broto iku mendesak.

‘Baiklah! Surah An Nisaa’ ayat 59 itu berbunyi, artinya; *‘Hai orang yang
beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara
kalian! Sekiranya ada perbedaan di antaramu tentang sesuatu, maka
kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, sekiranya kamu memang beriman kepada
Allah dan hari akhirat………’*

Begitu bunyi ayat itu lebih kurang. Kita diperintah untuk taat kepada Allah.
Itu yang pertama. Taat dan patuh atas ketetapan-ketetapan Allah. Lalu yang
kedua, kita wajib taat kepada Rasulullah SAW. Terhadap apa saja yang
disampaikan oleh beliau baik itu perintah maupun larangan. Dan terakhir kita
wajib patuh dan taat kepada pemerintah. Namun urut-urutannya harus seperti
itu. Taat dulu kepada Allah, lalu kepada Rasulullah baru kepada pemimpin.
Artinya, kalau ada sesuatu ketaatan itu bertabrakan antara taat kepada
Allah, kepada Rasulullah dan kepada pemimpin, maka yang didahulukan adalah
taat kepada Allah. Sampai di sini apakah bapak-bapak faham dan setuju?’

Semua mengangguk-angguk, meski terlihat masih agak bingung.

‘Taat kepada pemimpin itu lebih banyak untuk urusan dunia. Ketika pemimpin
menyuruh kita taat membayar pajak, taat bergotong royong, taat menjaga
negeri, maka kita harus patuh. Kalau kita ingkari, di sanalah berlaku hadits
tadi itu. Seandainya kita mati, maka mati kita seperti mati dalam keadaan
jahiliyah.’

‘Tapi….. maaf, *udo*. Kemarin itu pemerintah menyuruh kita berhari raya di
hari Rabu. Apakah pemerintah tidak berhak memerintahkan seperti itu karena
itu untuk beribadah kepada Allah?’ pak Broto yang bertanya.

‘Tentu saja Pemerintah boleh menetapkan seperti itu. Tapi seyogianya,
pemerintah meniru contoh Rasulullah dan menyimak perintah Allah untuk
mempergunakan akal dalam menetapkan ayat-ayat Allah. Di jaman Rasulullah
SAW, ketika ada seseorang mengaku telah melihat anak bulan, orang itu
disuruh bersumpah dengan bersyahadatain, dan orang itu melakukannya, maka
pengakuan orang itu dijadikan landasan hukum. Rasulullah SAW memerintahkan
umat untuk mulai berpuasa ketika itu. Rasulullah memerintahkan untuk
mengamati munculnya bulan. Di jaman Rasulullah belum ada alat untuk
menghitung, untuk mengamati bulan selain dengan mata telanjang. Tapi
sekarang? Allah telah mengajarkan ilmu. Peredaran bulan itu bisa dihitung.
Dan itu menjadi tanda kepada orang yang berakal, firman Allah. Jadi kita
harusnya mempertimbangkan pula hal itu.’

‘Saya masih belum pas dengan perbandingan itu. Menurut saya, pemerintah
sebagai Ulil Amri tentu juga bersungguh-sungguh dalam ketetapan mereka.’

‘Saya tidak mengatakan bahwa pemerintah tidak bersungguh-sungguh. Tapi di
sini diperlukan pengujian dengan keyakinan kita sendiri. Kalau nanti di
pengadilan Allah kita ditanyai, kenapa kamu melakukan sesuatu, lalu kita
jawab karena saya taat kepada pemerintah, saya khawatir Allah tidak akan
menerimanya. Saya khawatir Allah akan menanyakan apakah kamu tidak
memikirkan yang diperintah pemimpinmu itu, karena ini dalam hal beribadah
kepada-Ku?’

‘Jadi bagaimana hubungannya dengan keterangan seseorang mati jahiliyah jika
dia tidak taat kepada pemimpin tadi, *udo*?’ tanya pak Tahir.

‘Begini, pak Tahir. Di sebuah negeri, di ujung sebuah benua, yang
penduduknya terdaftar hampir seratus persen beragama Islam. Pada suatu
ketika, seorang pemimpin negeri, presiden negeri itu, jadi pucuk dari Ulil
Amri mereka, berpidato begini. ‘Kita harus bekerja keras membangun negeri
kita ini. Tanpa kerja keras kita akan ketinggalan karena negeri kita ini
adalah negeri yang tandus. Kita harus bekerja keras. Kita tidak mungkin
bekerja keras kalau perut kita lapar. Kita pasti akan kelaparan kalau kita
berpuasa. Oleh karena itu, untuk kebaikan negeri kita, untuk membangun
negeri kita, saya perintahkan anda semua meninggalkan puasa Ramadhan.
Ikutilah saya, Saya tidak berpuasa Ramadhan,’ kata sang presiden sambil
mempertunjukkan minum air di hadapan rakyatnya di siang hari di bulan puasa.


Sekarang. Seandainya pak Tahir berada di antara rakyat negeri itu, apakah
pak Tahir akan mentaati perintah sang pemimpin tersebut?’

‘Apa iya ada yang seperti itu, udo?’ pak Broto seperti tidak percaya.

‘Itu contoh dari negeri jauh, pak Broto. Di negeri kita ini, di tahun enam
puluhan. Ada orang yang tahu tentang agama, orang yang dekat dengan
pemerintah, berpetuah agar jangan mengerjakan sembahyang. Jangan shalat,
begitu katanya. Orangpun bertanya, kenapa? Karena Al Quran mengancam orang
yang shalat. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka *wail* nanti di hari
kiamat.* ‘Fawaillullil mushshalliin….’* Dikutipnya ayat Allah sepotong saja.
Neraka wail bagi orang yang shalat. Apakah pak Broto akan mematuhi anjuran
seperti ini, apalagi dia menyitir ayat al Quran pula?’

‘Tentu kita tidak harus menelan bulat-bulat saja  Kita wajib menelaah apa
yang kita dengar, kalau memang dari yang disampaikan itu tidak pas,’ jawab
pak Broto.

‘Persis seperti itulah adanya. Dalam ketaatan kepada pemimpin, kita harus
mampu menyaring dan memikirkan. Jadi tidak kita telan bulat-bulat saja apa
yang mereka sampaikan, seperti kata pak Broto.’

‘Rumit juga, ya udo,’ pak Tahir mendesah.

‘Harusnya tidak rumit. Di mana rumitnya?’

‘Artinya akan selalu saja umat bertikai dalam penetapan hari raya.’

‘Mudah-mudahan suatu ketika nanti tidak lagi demikian. JIka Allah
berkehendak. Wallahu a’lam.’


                                                                *****


Wassalamu'alaikum,

Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke