Bung Andiko, sekedar urun rembug, ada dua catatan saya ttg thread di atas: 1) 
Semen Padang tidak didirikan oleh kita orang Minangkabau, tapi oleh perusahaan 
Belanda pd tahun 1910; sekarang sudah merosot hanya jadi anak perusahaan Semen 
Gresik yg notabene baru didirikan pd tahun 1950-an; 2) oleh karena faktor 
sejarah, kelihatannya peran orang MK sebagai suatu etnik dlm kehidupan 
berbangsa memang menonjol antara tahun 1920-an sampai tahun 1950-an pasca Dewan 
Banteng dan PRRI, setelah itu merosot tajam; secara komparatif saya  mendapat 
kesan bhw etnik Batak dari luar Jawa yg memegang peran besar pasca PRRI, bukan 
MK. 
Tentu, secara perseorangan lumayan banyak tokoh MK yg tampil di pentas 
nasional, tapi kalah banyak jika dibanding dgn etnik Batak.
Sungguh menarik bahwa berbagai seminar yg diadakan orang MK sendiri sejak 2003 
umumnya bernada mineur.
Jadi 'garis hidup orang MK dalam kehidupan berbangsa' tidaklah bersifat genetik 
atau kultural, tetapi historis, bisa meningkat dan bisa juga melorot, 
tergantung pada ikhtiar, perjuangan, dan kohesi internal. 
Rasanya sudah saatnya diadakan studi antropologi  komparatif yg bersifat 
dinamis ttg peranan berbagai etnik di Indonesia, termasuk ttg kita orang MK. 
Menurut Sensus Nasional th 2000, ada 1.072 etnik di Indonesia, 11 etnik di 
antaranya mempunyai warga di atas satu juta jiwa, termasuk etnik MK.
Tanpa studi seperti itu, saya khawatir kita hanya asyik sendiri dengan 
'kebesaran' MK masa lampau. Berbagai berita di media Sumbar ttg kondisi orang 
MK kontemporer sungguh merisaukan saya.
Bagaimana 'garis hidup orang MK dalam kehidupan berbangsa' ke masa depan, 
tergantung pada yg kita perbuat bersama saat ini (Q: Ar Ra'd: 11).
Wassalam, 
SB.

-------Original Email-------
Subject :[R@ntau-Net] Garis Hidup Orang MK dalam Kehidupan Berbangsa
>From  :mailto:[email protected]
Date  :Tue Oct 04 21:33:38 Asia/Bangkok 2011


Sanak Palanta

Dari diskusi dgn seorang sosiolog terkenal: 4 Suku besar dari sisi
jumlah di Indonesia adalah 1. Jawa, 2. Sunda, 3. Cina, 4. Madura. Suku
Minang tidak signifikan secara jumlah, tetapi signifikan dalam sisi
sebaran tokoh, mulai dari sektor bisnis, intelektual, militer, dll. Di
Sumatera, 3 suku yg punya peran signifikan baik dalam pendekatan
jumlah atau sebaran intervensi yaitu Aceh, Batak dan Minang. Karena
itu, mamang adat "Takuruang handak dilua, taimpik andak diateh" harus
diterjemahkan secara positif, dalam konteks "KECERDASAN & KECERDIKAN'
dan harus menjadi modal untuk mempengaruhi kehidupan bangsa
selanjutnya, jika tak ingin menjadi remah-remah dan korban dlm
perjalanan pembangunan bangsa. Takdir orang Minang bukan menjadi
pengekor, tapi pewarna, karena itu Semen Padang punya motto "Kami
telah berbuat, sebelum anda memikirkan". Nah pertahankan itu.

Maaf, terlalu bersemangat
Salam
andiko sutan mancayo

Saafroedin Bahar  Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke