//email ko lah bajelo jelo tapaso ambo kuduang kok iyo sabanyaktu produksi ameh, tantu indak 36 point saham pt panambang tu. Mungkin lah bantuak roket tabang tinggi... Pak Ambiar Yth Negeri kita yang kurang hanya satu "Suharto versi abad 21" // Kita sebagai rakyat badarai hendaknya jangan asal telan saja apa yang kita lihat. Dizaman super highway lintas informasi sekarang sering sering lah kita berkata "Tidak Mungkin". kalau tidak mau hanyut dibawa arus. Orang tanpa pengatahuan tambang, baca sana sani ditambah obrolan tipi oleh para anggota DPR yang yang tak jelas dapat data dari mana ...jadilah kompor gas yang siap meledak. Para politisi memang memerlukan para pasukan sakit ini untuk transportasi ke puncak.., Mohon maaf bila tidak berkenan Zulkarnain Kahar From: Ambiar Lani <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Cc: "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; ambiar lani <[email protected]> Sent: Monday, October 10, 2011 2:32 AM Subject: Re: Re: [R@ntau-Net] Negara Nan Paliang Kayo
Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh Pak Saaf, Ibu Evy dan pak Anwar yang terhormat. Tread pak Anwar ini memang sangat menggugah dan bahkan lebih dari itu tread ini adalah persoalan mendasar yang harus menjadi kesadaran besar bagi semua orang Indonesia. Penentu menurut hemat saya tetap saja adalah seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali apapun profesi dan bidang kegiatannya. Namun apabila kita berbicara tentang "rakyat" (dalam tanda petik), maka sekali lagi yang terasa dalam lubuk hati kita yang paling dalam adalah keprihatinan. Karena mayoritas dari "rakyat" kita itu adalah warga negara yang berpendidikan relatif rendah dan tidak begitu memahami abc politik, maka ketika sebuah kesempatan diberikan kepada mereka untuk menentukan bagaiamana tataran politik masa depan bangsa ini ingin dibangun, maka pada waktu yang sama sesungguhnya mereka menetapkan pilihan atau sebuah keputusan politik yg bersifat meraba-raba, karena mereka memang tidak mengetahui visi dan misi yg sebenarnya dari institusi politik yang ada di muka mereka. Bahkan sekarang walaupun sistem pemilihan itu sekarang sudah dan sedang mengarah kepada sistem distrik, tetapi yang terjadi adalah bahwa para kandidate yang muncul adalah para investor-investor politik yang berhitung untung rugi dalam upaya mereka untuk duduk dalam sebuah lembaga yang terhormat yang bernama "Dewan Perwakilan Rakyat", atau dalam jabatan pelayan publik yang lainnya seperti; Bupati/Walikota, Gubernur dan bahkan juga jabatan Presiden sekalipun. Semenatara itu mereka yang dapat dikategorikan atau berlatar belakang sebagai orang-orang pergerakan, para pendidik dan pengajar, kaum cendiakawan dan lain-lain sejenisnya relatif nampak sepi dalam arena / gelanggang perebutan jabatan-jabatan publik tersebut, karena yang tersebut belakangan ini relatif lebih berkantong tipis dan cenderung mengedepankan style moralis dalam hal untuk memperoleh jabatan-jabatan publik. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
