Padang Ekspres • Jumat, 14/10/2011 09:53 WIB • (e/mg11) • 60 klik

Ranah, Padek—Rasa malu tampaknya sudah menyingkir dari negeri ini.
Tanpa malu-malu, orang berada tetap menyikat raskin (beras miskin).
Meski untuk warga kurang mampu, kenyataannya ada juga warga kelas
ekonomi tinggi mengambil jatah beras tersebut.

Menurut Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM),
Zainuddin Dt Rajo Lengang, jika itu terjadi artinya kaum berpunya tak
lagi punya malu.

Di Kelurahan Alanglaweh dan Ranah Parak Rumbio, Kecamatan Padang
Selatan, misalnya, distribusi raskin sudah dimulai sejak Rabu (12/10)
lalu. Menurut seorang warga Ranah Parak Rumbio, Nang, 58, masih banyak
warga yang seharusnya mendapatkan raskin, tapi tidak menerima kupon
pembagian. Sebaliknya, ada beberapa warga yang tergolong mampu, malah
mendapatkan kupon jatah beras tersebut.

“Banyak, ada warga yang punya tiga mobil di rumahnya, tapi dia
mengambil jatah beras juga,” ucapnya kepada Padang Ekspres kemarin,
(13/10)
Ketika dikonfirmasi pada Kasi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Ranah
Parak Rumbio, Emiwati membenarkan hal ini. Dia mengakui tidak semua
keluarga tidak mampu menerima jatah raskin.

“Saya kira, ini kesalahan pendataan. Kebanyakan memang berasal dari
keluarga miskin, namun sebagian lagi orang-orang yang mengaku miskin”
sindirnya.

Emiwati berdalih data penerima raskin berasal dari data keluarga
miskin di Badan Pusat Statistik Provinsi Sumbar. Penerima raskin di
kelurahan ini 151 kepala keluarga.

“Kami cuma meneruskan data yang ada. Tidak mungkin kami memberikan
jatah lebih dari data gakin di BPS. Yang kami harapkan kalau
seandainya nanti ada pendataan kembali, sebaiknya pihak kelurahan juga
dilibatkan, karena kelurahan kan lebih mengetahui kondisi riil
warganya” harap Emiwati.

Hal yang sama juga terjadi di Kelurahan Alanglaweh, Kecamatan Padang
Selatan. Tidak semua orang miskin mendapatkan jatah beras ini. Kuota
kepala keluarga yang mendapatkan jatah raskin 149 kepala keluarga.
Sedangkan, masih banyak keluarga miskin yang belum terdata.
”Untuk menyiasati hal tersebut, kami mengalihkan jatah untuk keluarga
yang telah pindah, atau meninggal dunia, kepada keluarga yang belum
mendapatkan. Namun tentu saja hal tersebut tidak bisa diprediksi dan
membutuhkan waktu yang lama,” sebut Marni, Kasi Pemerintahan yang
ditugaskan untuk mengurus beras raskin di kelurahan tersebut. Harga
raskin berkisar antara Rp 1.600 sampai Rp 1.900/kg.

Tak Punya Malu
Ketua LKAAM Padang, Zainuddin Dt Rajo Lengang menjelaskan, fenomena
masyarakat mampu tetap menerima jatah beras untuk warga miskin
menandakan sudah hilang rasa malu. Pudarnya rasa malu itu berkaitan
dengan bergesernya keimanan (agama) umat.

Untuk itu, diperlukan kesadaran sendiri dan kontrol social dari
masyarakat. “Rasa malu itu yang sudah kurang. Beda kalau dulu,
jangankan dikatakan miskin, dikatakan kurang mampu saja masyarakat
tidak mau dan mereka akan berusaha memperbaiki ekonomi,” imbuhnya.
(e/mg11)

[ Red/Redaksi_ILS ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=14551

-- 



Wassalam
Nofend/34+ CKRG

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke