Batuka baruak jo cigak
Neo liberalisme, lanjutkan!

(Batanyo kabau ka padati
Bara lai jauahnyo pandakian)

Wassalam, HDB-SBK

=================

Sayidiman Suryohadiprojo: Nasionalisme Ekonomi yang Memajukan Bangsa

Kompas, Selasa, 12 Oktober 2010 | 03:02 WIB

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Dalam Kompas edisi 7 Oktober 2010 ada tulisan Gita Wirjawan, Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal, berjudul "Nasionalisme Ekonomi".

Patut dihargai bahwa pada masa kini, ketika ekonomi nasional diarahkan pada
sistem pasar bebas, ada pejabat pemerintah yang menulis terbuka tentang
nasionalisme ekonomi. Namun, dalam uraian Gita ada yang perlu ditanggapi
agar maksud baik menyelenggarakan nasionalisme ekonomi tak justru membawa
masalah bagi bangsa Indonesia.

Sebaiknya dalam menerapkan nasionalisme ekonomi, kita cari bahan
perbandingan pada praktik Jepang dan China yang dulu dan sekarang ekonominya
bergelora. Bukan semata-mata berorientasi kepada Amerika Serikat dan negara
Barat lainnya.

Gita menganggap kurang tepat besarnya fokus pada struktur kepemilikan ketika
melakukan investasi asing. Alasannya, banyak sektor penting bersifat padat
modal, padahal dana Indonesia amat terbatas. Dengan kata lain, Gita tak
keberatan bahwa kepemilikan itu di tangan asing asal bersedia menanamkan
modal besar demi memajukan sektor itu. Kalau pendapat Gita dilaksanakan,
banyak sektor penting di Indonesia dimiliki asing. Ekonomi Indonesia mungkin
maju, tetapi dikuasai asing. Indonesia tak lagi merdeka dan itu tak mungkin
diterima bangsa Indonesia yang tak mau dijajah bangsa lain.

Itu sebabnya, persoalan ini tak mungkin dihadapi dengan konsep pasar, tetapi
diperlukan peran pemerintah yang aktif dan tegas. Meski bukan negara
sosialis dan malah sekutu setia Amerika Serikat, Jepang efektif mengurus
ekonomi di bawah pengendalian pemerintah melalui administrative guidance.
Tak jarang hal ini membikin AS marah.

Atur BUMN dan swasta

Untuk mengatur investasi asing, pemerintah wajib menentukan sektor mana yang
kepemilikannya tak boleh di tangan asing. Atas dasar itu, pemerintah
mengatur BUMN dan swasta agar kepemilikan Indonesia terjamin dan
mengusahakan dana untuk menjamin kepemilikan. Karena dana itu sukar
diperoleh, memang diperlukan usaha pemerintah menentukan prioritas sektor:
mulai dari yang tertinggi dan mutlak dimiliki Indonesia sampai terendah.

Pada sektor penting lain yang bukan prioritas utama, diusahakan usaha
patungan yang memungkinkan partisipasi asing. Sesuai dengan derajat
prioritas sektor itu, peran asing dimungkinkan dominan kalau derajat
prioritas rendah. Namun, pemerintah harus saksama mengawasi bahwa peran
asing itu betul bermanfaat bagi Indonesia.

Pemerintah menentukan bahwa hasil produksi perusahaan yang punya peran asing
harus diekspor dan tak boleh dipasarkan di dalam negeri. Kemudian pemerintah
membangun perusahaan lain yang beroperasi dalam bidang sama dengan teknologi
yang digunakan dalam patungan itu. Pemerintah menjaga agar pasar dalam
negeri sepenuhnya dikuasai Indonesia.

Praktik demikian dilakukan China hingga dapat memanfaatkan modal dan
teknologi asing untuk kepentingannya sekaligus meningkatkan ekspornya.

Jelas sekali, selalu diusahakan agar kepentingan negara dan bangsa sendiri
menjadi ukuran. Dulu Jepang selalu didesak AS membuka pasar berasnya agar
beras AS dapat dipasarkan di Jepang dengan alasan lebih murah. Namun,
Pemerintah Jepang selalu menolak desakan AS itu karena tak mau mengorbankan
petaninya sebagai unsur tak terpisahkan masyarakat Jepang. Juga desakan AS
agar Jepang "memodernisasi" perdagangan dalam negerinya-dalam arti dibuka
secara bebas-tak pernah dilayani.

Nasionalisme ekonomi yang membawa kemajuan negara dan bangsa memang tak
menutup pintu bagi masuknya peran asing, bahkan dalam pemilikan perusahaan
yang rendah derajat prioritasnya. Namun, nasionalisme ekonomi memerlukan
peran pemerintah berlandaskan semangat kebangsaan kuat dan membawa bangsanya
maju sejahtera.

Praktik Indonesia Inc

Pemerintah perlu mengusahakan terwujudnya semangat dan praktik Indonesia
Incorporated yang meliputi seluruh dunia usaha, masyarakat, BUMN, dan swasta
untuk selalu mencapai kemajuan. Yang paling tak masuk akal, sikap
yang-dengan alasan globalisasi-menganggap wajar: dunia usaha Indonesia
dikuasai pihak terkuat, termasuk asing.

Ini dapat dilihat dari sikap yang memungkinkan Indosat dikuasai asing dan
sekarang membuka kepemilikan asing atas Bandara Soekarno-Hatta, bandara
utama Indonesia dengan nama proklamator kemerdekaan. Satu pengkhianatan atas
perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia!

Tanpa semangat kebangsaan yang kuat pada masyarakat dan Pemerintah
Indonesia, mustahil ada nasionalisme ekonomi yang bermanfaat bagi bangsa.
Ketika orang Jepang yang memimpin perusahaan swasta besar dan kuat seperti
Mitsubishi ditanya mengapa mau tunduk mengikuti administrative guidance,
jawaban mereka: orang-orang yang duduk di pemerintah, khususnya MITI, adalah
patriot kebangsaan yang pandai. Pengaturan yang mereka lakukan pasti untuk
kepentingan rakyat dan bangsa Jepang! Semangat itulah yang membuat ekonomi
Jepang maju pada 1970-an. Hal serupa kini terjadi di China!

Tantangannya, apakah Indonesia yang merebut kemerdekaan dengan perjuangan
masih punya semangat kebangsaan yang sanggup berjuang demi kemajuan dan
kesejahteraan bangsa.

Sayidiman Suryohadiprojo Mantan Dubes RI di Jepang

http://cetak.kompas.com/read/2010/10/12/03023423/nasionalisme.ekonomi.yang.m
emajukan.bangsa

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke