Sato Sakaki sanak Palanta RN nan ambo hormati. Sabananyo SBY pandai mamainkan trufnyo komah.
Indonesia termasuk negara yang indak kamarosot dengan kondisi dunia Eropa & Amerika yang sadang tasungkua. Indonesia dengan jumlah penduduk 240jt dan ketergantungan pada hanya export 24%, akan bertahan sampai tahun 2014. Dan ketahanan domestik iko intervensi pemerintah sangaik saketek. Jadi Eksekutif dan Legislatif bisa main petak umpet dipanggung politik ukatu Eropa & Amerika sadang tahanyak sampai akhir 2013. Indak usah diacuahkan banalah permainan urang2 itu, baliaklah awak ka pemberdayaan Ranah jo Rantau capek2 karano momentumnyo sadang ancak bana kiniko. Caronyo singkek bali sajo produk urang awak untuk kabutuhan rumah tangga si Minang dari ughang Minang Itu oleh2 nan didapek dari Forum Asean Investor kapatang di JW Marriot Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Darwin Bahar" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 20 Oct 2011 00:05:00 To: Palanta Rantaunet<[email protected]>; <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [R@ntau-Net] OOT Eep Saefulloh Fatah: Paradoks Yudhoyono Kompas, Rabu, 19 Oktober 2011 Hari-hari ini kita disuguhi drama Cikeas. Sejumlah tokoh datang bertandang karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundang. Media menaruh mereka di deretan nama yang sedang digadang-gadang masuk jajaran kabinet. Judul drama itu: Perombakan Kabinet. Ini sebetulnya bukan drama pertama. Drama sejenis kita tonton pada akhir Oktober 2009 saat SBY membentuk Kabinet Indonesia Bersatu II. Drama ini, bagi saya, menegaskan sejumlah paradoks SBY. Di tengah turunnya kepercayaan publik akan kemampuan Presiden dan pemerintahannya, SBY merombak kabinetnya. SBY ingin menunjukkan bahwa ia ingin memperbaiki kinerja pemerintahan dengan membuat kabinetnya lebih sigap dan tangkas. Namun, yang dilakukan adalah membikin pemerintahan makin tambun. Sejumlah departemen dan kementerian negara dilengkapi wakil menteri yang berdasarkan aturan perundang-undangan bukan anggota kabinet atau pejabat politik, melainkan pejabat karier atau birokrasi. Padahal, umumnya persoalan pokok departemen dan kementerian negara terletak pada lemahnya kepemimpinan, rendahnya kemampuan teknis-manajerial, dan/atau cederanya integritas sang pejabat politik. Walhasil, menciptakan organ wakil menteri tak akan memecahkan masalah-masalah itu. Ini seperti menggaruk kening ketika dengkul gatal. Wakil menteri hanya akan jadi tambahan organ birokrasi. Manakala tak tersedia mekanisme dan hubungan yang sehat dengan para menteri dan pejabat eselon 1 di sekitar menteri itu, wakil menteri potensial jadi beban bagi kepemimpinan departemen/kementerian. Terlebih, jika sang wakil menteri tak memiliki kecakapan cukup atau tak bisa menyinergikan kecakapannya dengan menteri dan para pejabat eselon 1, ia juga menjadi beban birokratis. Bagi departemen/kementerian negara yang sehat, penambahan wakil menteri berpotensi mengurangi kebugaran. Sementara di departemen/kementerian yang sudah tak bugar bisa tercipta situasi sudah jatuh tertimpa tangga. Pemerintahan kian tambun dan diisi banyak pejabat baru yang jadi beban politik dan birokrasi (serta finansial) baru. Kehadiran mereka bukan menggerakkan, melainkan menghambat akselerasi gerak dan hasil kerja pemerintahan. Itulah paradoks pertama. Presiden menginginkan peningkatan efektivitas pemerintahan dan reformasi birokrasi, tetapi pada saat sama membikin birokrasi pemerintahannya lebih tambun, tak tangkas, dan makin bermasalah. Alih-alih menghasilkan kecepatan dan ketangkasan gerak, "perombakan kabinet" ala SBY ini justru potensial menghasilkan parkinsonisasi. Parkinsonisasi adalah gejala pembesaran postur birokrasi yang tak menghasilkan peningkatan efektivitas, tetapi menghasilkan disfungsi (Cyril N Parkinson, Parkinson's Law, 1993). Merombak tanpa merombak Wakil menteri bukanlah pejabat politik dan bukan pula anggota kabinet. Lalu, mengapa Presiden memanggil mereka secara atraktif ke Cikeas di tengah upaya merombak kabinetnya? Saya duga jawabannya Presiden ingin memberikan kesan betapa seriusnya perombakan kabinet kali ini. Presiden ingin semua warga negara, melalui media massa, menyaksikan betapa banyak pos yang ia rombak dan betapa banyak tokoh baru akan terlibat. Jika benar demikian, maka jadilah itu paradoks kedua. Presiden ingin menunjukkan bahwa ia sedang sibuk merombak kabinet, tetapi dengan menciptakan jabatan wakil menteri yang bukan anggota kabinet. Jika pada akhir proses perombakan ini Presiden tak melakukan pergantian para menteri secara bermakna, paradoks ini akan menegas. Presiden hanya seolah-olah, bukan sungguh-sungguh, merombak kabinet. Lemah tetapi bertahan Paradoks berikutnya berkaitan dengan kemampuan bertahan dan kekuatan kepemimpinan. Rumus politik yang umum menegaskan, semakin kuat pemimpin, semakin mampu ia bertahan dalam kekuasaannya. Pemimpin yang lemah, menurut rumus itu, tak akan mampu bertahan. Kelemahan pemimpin biasanya ditandai kebimbangan dalam bersikap, kelambanan langkah, ketidakberanian mengambil risiko, kecenderungan untuk memuaskan semua pihak, kompromi berlebihan terhadap kepentingan pragmatis partai-partai peserta koalisi pemerintahan, dan ketidaktegasan menghadapi para menteri atau para pembantunya sendiri. SBY membalik rumus itu. Justru kelemahan kepemimpinan presidenlah yang membuatnya mampu bertahan. Fenomena SBY pun menjadi semacam ironi jika kita sandingkan dengan fenomena Presiden BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid. Baik Habibie maupun Abdurrahman Wahid terbukti menjalani masa kepemimpinan dengan penuh nyali. Keduanya sangat berani mengambil risiko dengan membuat banyak kebijakan tak populer dan tak lazim. Usia kekuasaan keduanya ternyata pendek belaka. Dalam hal nyali, SBY berbeda secara diametral dengan keduanya, tetapi justru menjadi presiden Indonesia terlama sepanjang era reformasi. Ujian bagi fenomena SBY juga akan datang dari fenomena Presiden AS Barack Obama. Obama adalah presiden yang penuh nyali. Secara berani, ia banyak membuat kebijakan tak populer yang berusaha mengubah wajah Amerika Serikat (AS) secara mendasar. Obama kemudian menuai banyak kecaman terutama dari lawan-lawan politiknya, kalangan yang tak sepaham dengannya, dan warga yang belum atau salah paham. Ia disebut-sebut sedang membawa AS ke sistem sosialis. Popularitasnya belakangan ini anjlok. Jika Obama bisa bertahan, terpilih kembali dalam Pemilu 2012, ia memperkuat rumus umum bahwa ia bertahan karena kuat. Namun, jika Obama tak bisa bertahan, ia seperti menegaskan rumus SBY: jika mau bertahan, jadilah pemimpin yang lemah. Banyak orang menduga perombakan kabinet ala SBY kali ini akan kian menguatkan kesan bahwa Presiden senang mengulur waktu, membuat solusi yang tak berkaitan dengan sumber masalah, berkompromi dengan kepentingan pragmatis mitra koalisi, serta menghindari sebisa mungkin risiko-risiko dari langkah dan kebijakan yang dia ambil. Jika ini benar terjadi, terkuatkanlah paradoks SBY. Dengan paradoks ini, ia membuktikan sulitnya mengawinkan legitimasi dan efektivitas, sebagaimana diingatkan Seymour Martin Lipset pada awal 1960-an. Di satu sisi, SBY sangat telaten mengurus legitimasi dirinya dengan mematut-matut diri supaya tetap populer di mata publik dan kompromistis berhadapan dengan partai-partai politik. Sebegitu telatennya sehingga ia abai mengurus efektivitas kepemimpinan dan pemerintahannya. Jika gaya ini berlanjut dalam perjalanan tiga tahun ke depan, sebuah persoalan sangat serius menunggu SBY di ujung pemerintahannya: ia memerintah dalam waktu lama tetapi tak meninggalkan warisan sistemis penting bagi masa depan Indonesia. EEP SAEFULLOH FATAH Pendiri dan CEO PolMark Indonesia http://cetak.kompas.com/read/2011/10/19/02244156/paradoks.yudhoyono -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
