satu lagi artikel bersejarah dari salah seorang pembaca website di lintau.
barangkali Ajo suryadi bisa mengomentari artikel beliau dibawah ko :

sumber :http://tapiselo.lintau.info/?p=324#more-324 dan
http://lintaubuoutara.tanahdatar.go.id

SUTAN HASYIM TUANKU TINGGI
Posted on 21/10/2011 <http://tapiselo.lintau.info/?p=324> by
admin<http://tapiselo.lintau.info/?author=1>

*SUTAN HASYIM TUANKU TINGGI : Penghoeloe Kapala – in het Lintonsche. *Secara
tidak sengaja, saat klik sana klik sini di dunia maya, kami dikejutkan oleh
adanya gambar di atas dari Tropen Museum di Leiden. Di sana tertulis bahwa
gambar ini adalah gambar sebuah mesjid di Lintau. Takjub dan senang dengan
adanya gambar foto lama yang masih disimpan oleh pihak museum Belanda,
sebagai pengetahuan buat kita akan ketinggian seni arsitektur masa silam
yang sangat piawai dalam membentuk bangunan rumah adat.

Sepintas kita lihat seperti bentuk sebuah roket yang siap luncur ke angkasa
dihiasi oleh tanduk-tanduk rumah gadang seperti lazimnya rumah gadang di
Minangkabau. Adanya sebuah rangkiang di sebelah kanan tampaknya membuat kita
berpikir bahwa bangunan ini bukanlah sebuah mesjid, karena rangkiang
berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi bagi pemilik rumah gadang ini.
Sangat tidak lazim di Minangkabau sebuah mesjid atau surau memiliki rangkian
yang ditempatkan di sampingnya.

Mungkin kita berpikir bahwa gambar ini adalah gambar sebuah mesjid karena
anjung tinggi yang menyerupai kubah atau menara mesjid ditempatkan pada
lantai atas rumah adat ini. Yakinlah bahwa anjung tersebut merupakan symbol
dari pepatah adat yang berbunyi: “adat basandi syara’ – syara’ basandi
kitabullah”. Anjung atap yang menyerupai kubah atau menara mesjid ini juga
akan banyak kita temui pada rumah-rumah adat di daerah Solok, namun di sana
penempatan anjung atap yang serupa ini ditempatkan pada atap beranda rumah
adat.

Yang perlu kita sampaikan di sini bahwa rumah adat seperti ini hanya ada
satu di Lintau. Pemilik rumah adat ini adalah seorang bangsawan tinggi
Minangkabau, putera dari seorang Rajo Adat di Buo, sebagaimana disampaikan
oleh salah seorang anak cucunya Bapak Fakhrudin Datuek Palindih, salah
seorang tungganai di Tepi Selo. Hal senada juga dinyatakan oleh Bapak Azhar
B, salah seorang cicit dari Sutan Hasyim Tuanku, di mana beliau mengaku
pernah masuk ke dalam rumah ini pada era tahun 1960-an, bahkan bermain-main
di anjung yang paling tinggi bersama-sama kakaknya.

Konfirmasi dari anak cucunya di Tepi Selo sudah cukup membuktikan bahwa
rumah adat ini bukanlah bangunan sebuah mesjid, namun adalah bangunan rumah
adat yang bercirikan pepatah “adat basandi syara’ – syara’ basandi
kitabullah”. Jika kita teliti lebih lanjut, pada bagian sebelah kiri depan
tampak garasi bendi bugih milik Sutan Hasyim Tuanku Tinggi, yang ditarik
dengan kudo bagonto saat Sutan Hasyim Tuanku Tinggi menunaikan tugasnya
sebagai Penghoeloe Kapala – in het Lintonsche dalam rangka melakukan
inspeksi ke nagari-nagari yang berada di Lintau.

Saat sekarang ini tak banyak lagi orang mengetahui tentang sejarah Sutan
Hasyim Tuanku Tinggi, walaupun namanya cukup banyak disebut dan dilaporkan
oleh para pejabat sipil maupun militer yang pernah ditugaskan di Lintau atau
Sumatera Barat. Dalam keterangan yang diberikan oleh anak cucunya, Sutan
Hasyim Tuanku Tinggi hanya dijelaskan sebagai anak Rajo Adat di Buo, yang
menetap di Kampung Rajo. Sebagai anak nagari Tepi Selo, Sutan Hasyim Tuanku
Tinggi berasal dari pesukuan Kuti Anyie di Tepi Selo, Kecamatan Lintau Buo
Utara, Kabupaten Tanah Datar. Namun siapa dan bagaimana catatan kecil
tentang Sutan Hasyim Tuanku Tinggi ini, mari sama-sama kita telusuri,
malala-malala awak, dengan keterangan masa silam baik dari catatan yang
ditinggalkan oleh Belanda maupun sejarah lisan dari para anggota keluarganya
yang masih tersisa atau mungkin sempat tercecer dalam catatan singkat yang
belum dipublikasikan.

Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh almarhum Haji Sabran Pahlawan
Garang, salah seorang pewaris Kerajaan Adat di Buo, konon kabarnya saat
Sutan Hasyim dilahirkan, ibunya Puti Fathimah Tuan Aciek Gadih Hitam wafat
sesaat setelah persalinannya. Ayahnya adalah Rajo Adat Buo yang terakhir
yaitu Nan Dipertuan Sembahyang Sultan Abdul Jalil Lukmanul Hakim Muningsyah.

Sebagai bayi piatu yang lahir tanpa mengenal ibunya, Sutan Hasyim dibawa ke
Buo oleh ayahnya untuk dipelihara oleh neneknya Tuan Gadih Puti Reno Sari
Alam, ibusuri Rajo Adat di Buo. Tuan Gadih Puti Reno Sari Alam adalah isteri
dari Raja Adat di Buo yang terhadulu Nan Dipertuan Bakumih Sultan Abdul
Jalil Shalahuddin Muningsyah. Iba melihat nasib cucunya yang piatu, Tuan
Gadih kemudian mencarikan ibu susuan buat Sutan Hasyim dan mendapatkan
seorang wanita dari pesukuan Caniago di Buo yang tidak diketahui lagi siapa
namanya.

Sebagai upah untuk menyusukan Sutan Hasyim ini, keluarga dari pesukuan
Caniago ini diberikan hadiah beberapa bidang sawah yang disebut Sawah Kubang
Gajah yang berada di Barat, tidak jauh dari tapal batas antara Buo dengan
Lubuk Jantan. Kelak setelah dewasa, Sutan Hasyim menikah dengan Reno Hilir,
anak dari Gonti Omeh adik perempuan ibu susuannya di Buo, sehingga
menimbulkan sedikit konflik adat di dalam nagari dengan sebab perkawinan jo
dunsanak dari ibu susuan yang saat itu dilarang oleh adat yang berlaku.

Tidak ada catatan yang jelas tentang kapan kelahiran Sutan Hasyim ini. Hanya
saja di dapat dari beberapa keterangan jika Sutan Hasyim wafat di awal abad
20, setelah perang belasting tahun 1908. Ia wafat di Tepi Selo dalam usia 85
tahun dan dimakamkan di Tepi Selo, tidak jauh dari Simpang Labueh Lintang.
Pastinya keterangan ini juga diperkuat dengan cerita dari keluarga bahwa tak
lama sebelum Sutan Hasyim wafat, Sutan Hasyim sering menjamu cicit-cicitnya
untuk makan bersama di rumahnya. Saat itu salah seorang cucunya Buyung
Kuning, cucunya dari Sutan Bagindo Hakim, diperintahkan oleh Sutan Hasyim
untuk digendong oleh seorang hulubalangnya menuju rumahnya.

Saat itu sang cucu kesayangan berusia 9 tahunan, sehingga sudah tidak pantas
lagi untuk digendong sebagai anak kecil. Kesimpulan dari keterangan ini,
dapat diperkirakan jika Sutan Hasyim wafat di tahun 1917, karena sang cucu
kesayangan lahir tahun 1908, saat perang Siti Hajir meletus di Lintau. Jika
dinyatakan bahwa Sutan Hasyim wafat berusia 85 tahun, maka Sutan Hasyim
diduga lahir tahun 1832, setahun sebelum Lintau ditaklukan untuk pertama
kalinya pada tahun 1833. Jadi adalah wajar jika saat itu Sutang Hasyim
diboyong oleh ayahnya ke Buo setelah ibunya wafat, karena saat itu Lintau
masih dalam penguasaan pejuang paderi.

Sutan Hasyim dan juga kakak-kakaknya berada di Buo untuk selama setahun
sebelum kemudian semua anggota keluarga kerajaan menyingkir ke Sumpur Kudus,
setelah Lintau ditaklukan pada tahun 1833.

Dari sepenggal kisah tersebut dapat dimengerti kenapa Sutan Hasyim begabung
dengan pejuang pidari. Selain ia kemudian harus mendukung perjuangan ayahnya
Nan Dipertuan Sembahyang, Sutan Hasyim pasti juga melihat dengan mata
kepalanya sendiri, akibat perang yang dilakukan oleh Belanda terhadap rakyat
Lintau yang penuh dengan banyak penindasan dan penganiayaan. Sutan Hasyim
tumbuh besar dalam masa peperangan dimana ia pasti wajib untuk bahu membahu
bersama saudara-saudaranya yang lain.

Walaupung Bonjol telah ditaklukan oleh Belanda pada tahun 1837, namun
perjuangan rakyat Minangkabau masih tetap berlanjut secara sporadis yang
dipimpin oleh masing-masing kepala rakyat. Selama ini pengetahuan kita
tentang perlawanan rakyat di Lintau hanya dipimpin oleh Saidi Muning Tuanku
Lintau. Namun sejarah mencatat jika perlawanan tersebut hanya berlangsung
sampai dengan tahun 1833, saat Lintau ditaklukan untuk pertama kalinya oleh
Mayor de Quay dan Saidi Muning Tuanku Lintau menyingkir ke daerah Palalawan,
Kampar Kiri dan dibunuh secara licik oleh Belanda di sana.

Setelah penaklukan Lintau tahun 1833 tidak berarti perlawanan rakyat Lintau
berakhir seperti yang dicatat oleh Eerste Liutenant Hnedrick yang ditugaskan
sebagai Komandan Militer untuk wilayah Lintau dan Koto Tujueh, yang
melaporkan jika sang komandan masih direpotkan oleh perlawanan rakyat sampai
dengan tahun 1855, dicatat adanya pertempuran antara Belanda dengan rakyat
yang dipimpin oleh Nan Dipertuan Sembahyang bersama anak-anaknya.

Berdasarkan catatan yang sampaikan oleh E. Netscher, Residen Sumatera Barat
saat itu , dalam bukunya yang berjudul “Aanteekeningen Omtrent
Midden-Sumatera, Aan Officiele Bescheiden Ontleend”, yang terbit tahun 1880
(halaman 45-47), jelas dinyatakan bahwa pada tahun 1864, Sutan Hasyim pernah
datang menghadap menghadap Residen untuk memintakan amnesti dari Pemerintah
Belanda untuk atas nama ayahnya agar Rajo Adat di Buo dapat pulang ke
Lintau, bermukim di Buo dan berjanji untuk tidak melakukan pemberontakan
terhadap Belanda dan menyerang pos-pos Belanda di Lintau dan Koto Tujueh.

Dari catatan tersebut dapat disimpulkan jika Sutan Hasyim sudah menyerah
kepada Belanda dan oleh Belanda Sutan Hasyim diberikan jabatan sebagai
Penghulu Kepala untuk wilayah Lintau. Namun permintaan Sutan Hasyim tersebut
ditolak mentah-mentah oleh Belanda dengan alasan bahwa Sutan Hasyim dan
ayahnya pernah memimpin rakyat Lintau untuk memberontak kepada Belanda.
Dalam pandangan Belanda akan lebih baik jika Nan Dipertuan Sembahyang hidup
jauh dari rakyatnya dan mudah untuk mengawasi rakyat Lintau dengan
menjadikan Sutan Hasyim sebagai Penghulu Kepala.

Dari sepotong cerita E. Netscher dan juga dapat kita temui pada laporan yang
lain yang ditulis oleh de Stuers dan H.M. Lange ada beberapa pertempuran di
Lintau yang dipimpin oleh Nan Dipertuan Sembahyang yang pastinya melibatkan
Sutan Hasyim dan saudara-saudaranya yang lain dalam perlawanan tersebut.
Pertempuran di Talang, Lubuk Jantan yang dicatat Liutenant Hendriks tahun
1850, mendesak pasukan Nan Dipertuan Sembahyang menyingkir ke Sumpur Kudus.
Dalam pertempuran itu dicatat Nan Dipertuan Talang, anak Raja Ibadat
terakhir gugur sebagai pejuang dan menurut cerita jenazahnya dimakamkan di
Laras Air tidak jauh dari Bukit Sigulieng Boreh.Namun demikian perjuangan
rakyat Lintau masih terus berlanjut sampai kemudian dinyatakan berakhir pada
tahun 1855.

Sadar akan posisinya sebagai Penghulu Kepala di Lintau, Sutan Hasyim masih
dapat menjamin untuk kepulangan beberapa anggota keluarganya menuju Lintau,
termasuk dua orang anak sepupunya dari pihak bako pulang ke Buo, Tuan Gadih
Puti Dina dan Sutan Sayidina Abbas Tuan Bujang Panji Alam. Kedua anak ini
adalah cucu Tuanku Radin Sunnah, Yamtuan Besar Negeri Sembilan yang banyak
membantu perjuangan rakyat Lintau melawan Belanda, melalui putera tertuanya
Tunku Lintau Tuanku Besar Seri Menanti.

Sutan Hasyim tidak dapat berbuat apa-apa lagi membantu keluarganya, hatinya
sedih teramat mendalam karena sang ayah tercinta tidak diijinkan Belanda
untuk pulang ke kampung halamannya. Keberadaan makam Sutan Lembang Lawik dan
Datuk Marajo di ustano rajo Cerenti, Kuantan Singingi, sudah membuktikan
kepada kita bahwa kedua orang kakak Sutan Hasyim juga tidak diijinkan oleh
Belanda untuk pulang ke Lintau setelah perang.

Tinggallah Sutan Hasyim seorang diri yang haya diangkat Belanda sebagai
Penghulu Kepala, di mana kemudian rakyat Lintau menghormatinya dengan gelar
Tuanku Tinggi. Masyarakat Lintau belumlah lupa jika Sutan Hasyim Tuanku
Tinggi memiliki kantor resmi di balai-balai adat Nagari Balai Tangah. Dari
sanalah Sutan Hasyim Tuanku Tinggi mengatur dan menjalankan tugasnya sebagai
Penghulu Kepala untuk jangka waktu yang cukup lama.

Sutan Hasyim selama hidupnya ada menikah dengan beberapa orang wanita.
Dicatat jika Sutan Hasyim menikah dengan Puti Saratika di Rumah Tabieng
Lubuek Jantan dan memiliki dua orang anak yaitu Sutan Malinggam Aceh Datuk
Simarajo Tuanku Mudo Nan Godang dan Puti Halimatus Sa’diyah Tuan Aciek Rumah
Tabieng. Di Rumah Labueh Kumbueng Lubuk Jantan, Sutan Hasyim memiliki
seorang anak perempuan yang dikenal dengan sebutan Tuo Labueh Kumbueng.

Sutan Hasyim juga menikah dengan Reno Hilir di Buo yang memberinya empat
orang anak yaitu Sutan Ibadat, Puti Cahayo Rajo, Puti Mayang Taurai dan Puti
Koroeng. Sutan Ibadat kemudian diangkat menjadi Khatib Mesjid di Buo dengan
gelar Sutan Khatib. Di Tepi Selo Sutan Hasyim juga diketahui memiliki
beberapa orang isteri dan anak. Sayangnya belum dicatat secara baik sehingga
yang bisa disebutkan disini hanya satu orang anak Sutan Hasyim, yakni Sutan
Bagindo Hakim Datuek Rajo Penghulu.

Pemberian nama Sutan Bagindo Hakim kepada anaknya di Tepi Selo, konon
kabarnya karena Sutan Hasyim sedang berduka saat ia tidak bisa membawa
ayahnya pulang ke Lintau. Dengan mengambil kata Hakim dari nama ayahnya
Sultan Abdul Jalil Lukmanul Hakim Muningsyah, seakan-akan memintanya untuk
selalu mengingat ayahnya yang jauh di pengasingan atau bisa jadi karena ada
kemiripan wajah antara cucu dengan kakeknya.
Sekelumit kisah lama ini harus diangkat kembali, dipublikasikan kepada
masyarakat agar tidak menjadi kisah yang memitologi.

Inilah sepotong kisah anak Lintau yang turut membela bangsa dan negerinya
dari penjajah yang jauh dari negeri yang jauh. Kehormatan ayahnya adalah
symbol kehormatan tanah airnya yang wajib dibela dengan taruhan apapun. Jika
kemudian Sutan Hasyim Tuanku Tinggi harus menyerah kepada Belanda, bahkan
kemudian diangkat menjadi Penghulu Kepala di Lintau, itu bukan berarti bahwa
Sutan Hasyim Tuanku Tinggi adalah pengkhianat.

Kedudukan Sutan Hasyim sebagai Penghulu Kepala adalah jaminan buat seluruh
anggota keluarganya yang diijinkan oleh Belanda untuk pulang ke Lintau
setelah perang dinyatakan selesai. Kita dibuktikan dengan adanya beberapa
negosiasi yang dilakukan oleh Sutan Hasyim sejak tahun 1861 demi untuk
mendapatkan ijin agar ayahnya Rajo Adat di Buo bisa pulang ke Lintau. Jika
kemudian Balanda hanya mengijinkan wanita dan anak-anak untuk pulang ke
Lintau, itu sudah merupakan taktik Belanda untuk mencegah perlawanan rakyat
timbul kembali.

Kembali ke Lintau dan menjadi Penghulu Kepala, itu artinya Sutan Hasyim
Tuanku Tinggi adalah satu-satunya otoritas lokal tertinggi yang diakui
Belanda. Itu sebabnya adalah wajar jika kemudian dua orang bule petinggi
Belanda ini berkenan untuk berfoto bersama Sutan Hasyim Tuanku Tinggi di
depan rumah adatnya yang artistik dan tidak ada duanya, untuk dapat kita
lihat saat sekarang ini seperti gambar di atas.

Perhatikan seorang kakek tua yang duduk di serambi yang memakai saluek
gadang dan baju beskap berwarna putih. Posisi gaya duduk sang kakek sangat
aristokrat dengan sebuah tongkat yang memanggul tangan kanannya, seolah-olah
memberitahukan kepada kita bahwa beliau adalah penguasa rumah adat itu. Nah
sekarang, siapakah rakyat Lintau yang berani berfoto dan bergaya di serambi
rumah milik seorang penghulu kepala di Lintau seperti yang kita lihat pada
foto di atas? Sepintas wajah bujur sirih sang kakek tua itu mengingatkan
kami kepada salah seorang cicitnya yang konon memang mirip dengan Sutan
Hasyim Tuanku Tinggi.

Saat ini kita hanya dapat memandangi sehelai foto saja karena bangunan fisik
rumah ini betul-betul sudah menjadi reruntuhan. Bangunan rumah adat ini
masih dapat terlihat dengan jelas sampai dengan awal tahun 1970-an, setelah
itu reruntuhannya hanya bermanfaat sebagai kayu bakar bagi para etek dan uwo
yang mau memasak nasi di dapur. Sungguh sangat-sangat disayangkan kita sudah
tidak bisa melihat lagi rumah adat ini seperti di Rumah Seberang Parik di
Lubuk Jantan.

Walaupun hanya sehelai foto yang masih bisa kita lihat sekarang, maka dengan
bekal foto inilah, mari kita bangun kembali rumah adat tercantik yang pernah
dibuat orang di Lintau, yang fakta sejarah mengatakan bahwa rumah adat itu
milik seorang bangsawan tinggi yang pernah berjasa buat tanah air yang
dicintainya. Dialah Sutan Hasyim Tuanku Tinggi, Penghoeloe Kapala – in het
Lintonsche.

Gambar diatas diambil dari
sini<http://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Moskee_en_surau_in_Lintau_TMnr_60054637.jpg>
.

Batam 21 Oktober 2011
Ricky Syahrul Panji Alam


-- 
=========== Salam Hormat ==========
Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau | Laki2 | 35 th
www.ephi.web.id  http://blog.ephi.web.id
Kumpulan Buku Saya :
http://blog.ephi.web.id/?page_id=275
FB : www.facebook.com/yuhefizar
e-Mail : [email protected]
Handphone  : 0812 677 7956
================================

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke