Teori Domino Gempa Bumi

24/10/2011 by gempa padang<http://gempapadang.wordpress.com/author/gempapadang/>
Sejak beberapa dasawarsa para seismolog memiliki impian, dapat meramalkan
dengan tepat kapan dan dimana gempa bumi hebat akan terjadi. Pada awal tahun
90-an, para seismolog mencapai terobosan besar dalam penelitian gempa.
Walaupun pola gempa bumi amat rumit, dan sifat patahan, sesar atau penujaman
sulit diramalkan, namun penelitian seismik terbaru menunjukan, adanya kaitan
antara satu gempa besar dengan gempa berikutnya.Dengan optimisme yang
dibarengi sikap berhati-hati, para ahli gempa melihat adanya peluang besar
bagi peramalan gempa secara akurat. Kuncinya adalah dengan meneliti pola
interaksi antara satu gempa bumi dengan yang lainnya. Pengenalan Interaksi
antar gempa semacam itu, akan sangat berguna bagi peramalan gempa bumi.
Sekarang ini, mayoritas peneliti gempa menganut pendapat, sebuah patahan
atau penujaman akan tenang kembali, setelah terjadinya gempa dan gempa
susulan. Situasi tenang dapat berlangsung sampai beberapa ratus tahun,
hingga kerak bumi dapat kembali menghimpun energinya, dan melepaskannya
sebagai gempa.Teori ini memang tetap berlaku. Akan tetapi, penelitian
terhadap interaksi seismik menunjukan, kemungkinan terjadinya gempa di
sepanjang patahan atau penujaman, meningkat dengan faktor pangkat tiga,
setelah terjadinya sebuah gempa hebat baik di patahan bersangkutan maupun di
kawasan yang berdekatan. Para peneliti gempa, mengembangkan teori yang
disebut “stress pemicu”. Landasan dari teori ini adalah, regangan atau
stress yang dilepaskan pada saat gempa, diteruskan ke zone kegempaan
tetangga. Stress ini, dapat memicu terjadinya gempa berikutnya di zone
kegempaan tetangga
tersebut.<http://gempapadang.wordpress.com/2011/10/24/teori-domino-gempa-bumi/domino-plate/>Analisis
data seismik, yang dilakukan tim peneliti yang dipimpin pakar geofisika Ross
Stein dari pusat penelitian geologi di Menlo Park California, menunjukan
stress yang dilepaskan pada saat terjadinya gempa, tidak menghilang begitu
saja. Akan tetapi diteruskan di sepanjang zone kegempaan atau patahan
bersangkutan, hingga ke zone gempa yang berdekatan. Hal ini dapat
menimbulkan dampak yang fatal. Penelitian sejak tahun 1992, terhadap sekitar
selusin zone kegempaan dunia menunjukan, stress di kawasan tsb sudah
terakumulasi cukup besar. Jika stress meningkat sekitar beberapa bar saja,
hal ini cukup untuk memicu terjadinya gempa hebat.Sebelumnya hipotesis
“stress pemicu” tidak banyak diperhatikan. Sebab dalam peramalan gempa, hal
ini dinilai tidak berperan banyak. Akan tetapi, belakangan ini, terori
“stress pemicu” semakin diakui, dan menjadi landasan baru, bagi peramalan
risiko seismik di kawasan kegempaan. Dengan teori “stress pemicu”, fenomena
sejumlah gempa besar, baik di kawasan patahan San Andreas yang amat terkenal
di California maupun di Jepang dan di Turki, yang semula belum diketahui
polanya, menjadi dapat diterangkan. Memang masih banyak yang harus
dilakukan, untuk memantapkan teori “stress pemicu” sebagai landasan
peramalan gempa yang akurat. Terutama untuk dapat lebih mengerti dampak
timbal balik antara masing-masing gempa bumi.Tiga dekade lamanya, ratusan
peneliti gempa terkemuka gagal menemukan pola konsisten dari aktivitas
seismik atau kegempaan global. Berbagai metode yang dikembangkan, baik
pengukuran pergerakan kerak bumi, gas, pergerakan fluida maupun energi
elektromagnet, tidak dapat secara akurat meramalkan kaitan antara gempa yang
sudah terjadi dengan gempa berikutnya. Sebetulnya sejak tahun 1894, pakar
seismologi Jepang, Fusakichi Omori sudah mengamati adanya pola teratur
penyebaran gempa susulan secara global. Perhitungan matematik dari pola
penyebaran seismik ini kemudian disebut hukum Omori. Berdasarkan hukum
Omori, kemungkinan terjadinya gempa susulan setelah gempa utama adalah yang
paling besar, dan menurun secara eksponensial bersamaan dengan faktor waktu.
Banyak ahli seimologi yang mengabaikan gempa susulan ini sebagai faktor
penting bagi gempa berikutnya.Dalam penelitian yang dilakukan Stein dan
kelompok penelitinya, di patahan San Andreas di California, terlihat bahwa
gempa susulan merupakan hasil interaksi dari gempa utama. Diamati, setelah
terjadinya gempa hebat berkekuatan 7,3 pada skala Richter, di kawasan dalam
radius 100 kilometer persegi dapat diramalkan adanya gempa susulan dengan
kemungkinan 67 persen. Ini berarti, risiko gempa yang meningkat 20.000 kali
lipat dibanding hari-hari biasa jika tidak ada gempa. Tiga jam setelah gempa
utama di kawasan gurun di California selatan, di kawasan Big Bear yang
berada di luar jalur patahan, terjadi gempa susulan dengan kekuatan 6,5 pada
skala Richter.
Pola gempa susulan, jika dilihat dari aspek waktu cocok dengan teori Omori.
Akan tetapi jika dilihat dari lokasi gempa, terjadi anomali karena lokasi
gempa susulan tidak berada di kawasan kegempaan utama. Fenomena ini cocok
dengan teori “stress pemicu”. Yakni munculnya gempa, akibat stress di
kawasan sekitar.Mengacu pada terori “stress pemicu”, diyakini berlakunya
efek domino pada gempa bumi. Jika pola dari efek domino itu telah diketahui,
maka peramalan yang relatif akurat dapat dibuat. Efek domino yang dimaksud
adalah, satu gempa memicu gempa lainnya. Ibaratnya permainan dengan kartu
domino yang ditaruh tegak, berbaris ke belakang. Jika yang terdepan jatuh,
kartu akan menabrak tetangganya hingga juga ikut jatuh, begitu terus
berlanjut.Untuk lebih menguatkan bukti teori “stress pemicu” ini, Stein
melakukan penelitian di zone kegempaan Turki, bersama pakar geofisika James
Dietrich dari jawatan gempa bumi AS dan ahli geologi Aykut Barka dari
Universitas Teknik Istanbul. Penelitian difokuskan ke zone patahan Anatolia
utara. Kawasan kegempaan ini merupakan yang paling padat penduduknya di
seluruh dunia. Sasaran utama penelitian, adalah untuk membuat peramalan
gempa, agar jumlah korban tewas akibat gempa dapat dikurangi. Ketiga pakar
kegempaan itu meneliti apa yang disebut tekanan Coulomb. Yakni resultat dari
berbagai gaya tekanan pada batuan di kawasan patahan. Biasanya jika gaya
tekanan horizontal ataupun vertikal meningkat melebihi ketahanan batuan,
akan terjadi pergerakan dari dua zone tumbukan kerak bumi di kawasan
patahan.Dalam kejadian ini dilepaskan energi dalam jumlah besar berupa
getaran hebat, alias gempa bumi. Dalam penelitian di Turki, secara matematik
dihitung di kawasan mana tekanan Coulomb meningkat, akibat dipicu gempa
sebelumnya. Berdasarkan hasil perhitungan, diramalkan, di dekat kawasan
Izmit antara tahun 1997 sampai tahun 2007, akan terjadi gempa besar dengan
kekuatan sekitar 7 pada skala Richter. Akurasi ramalan ini sekitar 12
persen. Akurasinya tergolong tinggi, karena untuk peramalan biasa, rata-rata
akurasinya hanya satu persen. Pembuktian ramalan tidak perlu waktu lama.
Bulan Agustus 1999, Izmit diguncang gempa berkekuatan 7,4 pada skala
Richter. 25.000 orang tewas dan kerugian harta benda mencapai 6,5 milyar
Dolar.Berdasarkan prinsip efek domino dan teori “stress pemicu”, ahli geolog
Turki Aykut Barka membuat peramalan gempa susulan, bagi kawasan kegempaan
Dzce sekitar 100 kilometer di timur Izmit. Di kawasan itu, Barka mencatat
terjadinya peningkatan tekanan Coulomb, akibat dipicu gempa Izmit. Ia segera
menulis hasil penelitiannya, dan mengingatkan penduduk agar menghindari
bangunan yang mudah runtuh. Pengawas bangunan di kota Dzce langsung menutup
sekolah dan tempat umum yang rusak ringan pada saat gempa Izmit. Bulan
November 1999 ramalan Barka menjadi kenyataan. Dzce diguncang gempa hebat
berkekuatan 7,1 pada skala Richter. Jumlah korban tewas dapat diminimalkan.
Gedung-gedung sekolah yang ditutup, terbukti sebagian runtuh akibat
gempa.Dengan
pembuktian itu, teori “stress pemicu” kini semakin diakui oleh para ahli
kegempaan. Para ahli mulai melakukan pengukuran seismik teratur, untuk
mencatat efek domino dari gempa sebelumnya. Memang diakui, peramalan gempa
memang tetap rumit, namun akurasinya pelan-pelan meningkat.*Sumber : jurnal
iptek kelas mikrokontrol**
**
*



http://gempapadang.wordpress.com/2011/10/24/teori-domino-gempa-bumi/#more-1489


auliahazza.38.p.depok

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke