Pak Duta, dkk yang terhormat, Saya sudah tahu juga bahwa kita berbeda pendapat dari cara melihat permasalahan yang sama, yaitu mengenai penguasaan ekonomi tanah air ini oleh kelompok non-pribumi Cina dan multinasional lainnya, yang telah berjalan dari dahulu sampai sekarang, dari hulu sampai ke muara, dan dari Sabang sampai ke Merauke, Papua sana. Pak Duta cenderung melihatnya dari segi sifat dan budaya bangsa itu, di mana yang satu, khususnya Cina, adalah bangsa yang ulet, gigih, kerja keras, dan hemat serta suka kerjasama. Sementara kita pribumi ini sebaliknya: pemalas, tidak suka kerjakeras, boros, tidak jujur dan tidak suka kerjasama, dst. Jadi pantas kalau mereka yang merajai ekonomi Indonesia ini, sementara kita ini pantas pula jadi budak2 dan kuli2 para cukong dan konglomerat itu. Ini semua tentu ada benarnya, walau sifatnya menggeneralisasi. Tapi inipun adalah juga akibat di samping dalam prosesnya jadi sebab pula. Coba Pak Duta banding: orang Cina di mana2 ini ada. Ada di Amerika, di kampung Pak Duta itu, di Eropah, di Australia, Asia lainnya, di Afrika, dsb. Nah, kenapa di negeri2 Barat itu orang Cina hanya bisa buka restoran, jadi tukang binatu, menguasai pasar eceran kecil2, dan beberapa lainnya, sementara penduduk pribumi di sana menguasai hampir apa saja. Apakah semua itu hanya karena sifat budaya saja, atau kaitannya juga dengan struktur dan sistem sosial-ekonomi dan sosial-politiknya. Juga, kenapa di Indonesia dan Asia Tenggara ini mereka bisa jadi raja dan menguasai ekonomi negeri2 di Asean ini, sementara di negeri2 lainnya itu tidak? Dan juga, dahulu orang Melayu di Malaysia adalah seperti kita juga, tetapi kenapa sekarang, mereka bisa jadi tuan di rumah sendiri, dan orang Melayu maju menyerbu ke bidang2 yang tidak pernah mereka masuki selama ini, khususnya di bidang ekonomi dan teknologi? Padahal orang Cina di Malaysia ada sepertiga dari penduduk Malaysia sementara di Indonesia tidak ada 5 %nya saja. Jadi jelas, tidak cukup hanya dengan melihat satu variabel tertentu saja, yaitu dari sifat dan pola budaya bangsa2 itu. Kita perlu melihatnya secara multi-variabel dan multi-faceted. Saya di samping melihatnya dari segi sosial-budayanya itu juga dari segi struktur dan sistem yang berlaku di negara itu. Seperti yang sering saya kemukakan, sejak dari jaman Majapahit dahulu terus sampai ke hari ini, yang terjadi adalah konglomerasi dan kerjasama yang mesra antara kelompok penguasa politik pribumi yang sifatnya etatik, feodal dan sentripetal, yang tidak mau bersusah-susah, dengan kelompok penguasa ekonomi non-pri dan multinasional yang diberi peluang seluas-luasnya -- malah dilindungi, seperti SARA itu-- oleh kelompok penguasa politik non-pri. Pak Duta, coba Pak Duta kemukakan di mana letak kesalahan dan kejanggalan yang saya lakukan yang selama ini Pak Duta suka ketawakan itu. Salam hormat saya, MN. Kedua2nya jelas bukan mutually exlusive, saling dan ekonomi secara teknis-operasional dan dari sikap budaya masing2 dalam berekoberkaitan. Pak Duta suka melihat kontras yang menyolok antara cara ora, karena kita ini bodoh, tak pandai dan tak sergap dan gesit seperti orang Cina itu. Apalagi dengan sifat2 negatif lainnya, karena pribumi ini pemalas, pengicuh, suka Saya secara struktural-sistemik mendasar. Oke, lanjutlah, tidak masalah. Sekarang ini, Pak Duta, kita sudah punya ribuan sarjana, dari S1, S2 sampai S3. Dan banyak2 juga bersekolah ke Amerika, termasuk saya sendiri. Tapi 90-an %nya bekerja untuk perusahaan Cina dan multinasional lainnya itu, yang berarti memperkuat kekuasaan ekonomi non-pri itu. Bukan kita orang bodoh, tidak.
________________________________ From: AdiSus <[email protected]> To: [email protected]; pipka <[email protected]>; MOCHTAR NAIM <[email protected]> Sent: Friday, October 28, 2011 2:00 AM Subject: Re: [Imsa] Fw: Pertumbuhan Berkeadilan Assalaamu'alaikum wr. wb. Untuk itu, marilah kita dukung UKM di dekat kita semisal http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150360926129765&set=a.10150360912869765.366036.789274764&type=1&theater Atau sekalian membantu IMSA dengan program fundraisingnya yang telah disampaikan oleh mbak Eka Aslan. Istilahnya adalah DO IT and DUIT. Heheheeh... Wassalaam, FKC Owner & Founder -- AdiSus-LA sekeluarga Lets come to Muktamar IMSA (www.imsa.us), 23-27 December 2011, in Las Vegas, NV 2011/10/27 dutamardin umar <[email protected]> Alaikumsalam Kanda Mochtar Naim, > >Dikotomi pri-nonpri rasanya saat ini sudah tidak tepat lagi. Yang pasti mereka >yang disebut nonpri itu bekerja lebih keras untuk menggapai destiny. Sementara >kita yang merasa pri, cukup bangga merasa sebagai pemilik negeri. > >Pengusung pri-nonpri sebenarnya lebih dari kecemburuan atas keberhasilan >mereka dalam berusaha. Lihat contoh kecil di Padang. Kripik Balado itu adalah >produk asli orang Minang. Tapi dengan sedikit sentuhan packaging, servis dan >standarisasi rasa dan ukuran produk itu sekarang dikuasai oleh yang disebut >nonpri itu. > >Orang awak kalau barangnya sudah laku, maka mulai mengurangi rasa dan ukuran. >Akhirnya satu satu pelanggan lari dan mencari yang lebih baik. > >Baa tu pak? > > >2011/10/27 Mochtar Naim <[email protected]> > >Dari Mochtar Naim, >> >>99 % dari pelaku usaha adalah UMKM yang praktis semuanya adalah pribumi. >>Implisit juga berarti bahwa hanya 1 % dari pelaku usaha menengah dan besar >>yang pribumi. >>Artinya juga, makin besar usaha maka makin sedikit penyertaan pribumi. >>Kita lalu bisa pula mengatakan: 99 % dari pelaku usaha besar adalah non-pri >>dan kapitalis multinasional lainnya. Sementara secara demografis mereka, >>khususnya non-pri Cina, hanya 3 % dari jumlah penduduk. >> >>Permasalahan utama kita adalah karena kita masih melanjutkan sistem ekonomi >>kapitalistik pasarbebas yang dualistik menurut jalur etnik-rasial yang sama >>seperti di zaman penjajahan dahulu. >> >>Bagaimana reaksi dan respons dari Anda? >> >> >> >>From: Yusuf <[email protected]> >>To: [email protected]; pipka <[email protected]> >>Sent: Thursday, October 27, 2011 11:38 PM >>Subject: [Imsa] Fw: Pertumbuhan Berkeadilan >> >> >> >>Assalamualaikum wr.wb. >> >>Salah satu gubernur yang rajin menulis adalah pak Irwan Prayitno, >>kekuatan tulisannya sejenis dengan pak Dahlan Iskan. Walaupun nuansanya >>terasa lain. >> >>Ada tulisan menarik dari tulisan gubernur sumbar di bawah ini, >>- 99 % pelaku usaha adalah UMKM(pengusaha kecil menengah) >>- Kredit macet hanya 0.8 % >>- Sektor riil tergantung dari kesuksesan gerakan UMKM >> >>Kekuatan ekonomi UMKM memang menarik di Indonesia, >>mereka menjadi tonggak ekonomi makro/negara. >>Suasana geliat ekonomi mikro ini adalah suasana yang sulit/jarang terlihat di >>negara-negara kapitalis. >>Suasana ini sangat kuat menopang kekuatan ekonomi negara ber"kembang", sulit >>terkena imbas ambruknya system ekonomi makro. >>Sektor riil menjadi salah satu sektor motor penggerak perputaran ekonomi >>kerakyatan. >> >>Melihat orang-orang Amerika dan Inggris melakukan demo di wallstreet dan UK >>bisa dimaklumi. >>Mereka menuntut keadilan dari pengusaha modal besar yang >>mendapatkan bantuan dari pemerintahnya ketika susah, >>dan menyedot uang rakyatnya ketika senang. >> >>Negara-negara yang mempunyai basis UMKM yang kuat, sedang dilirik oleh >>pemilik modal asing. Mereka mulai melirik kekuatan ekonomi negara-negara >>seperti Indonesia. >> >>Wasalamualaikum wr.wb. >> >>Yusuf >> >> >> >>Forwarded by Yusuf <[email protected]> >>----------------------- Original Message ----------------------- >>From: Erwin <[email protected]> >>To: Keadilan for All <[email protected]>, Milis PKS >><[email protected]> >>Date: Thu, 27 Oct 2011 01:17:33 -0700 (PDT) >>Subject: [keadilan4all] Pertumbuhan Berkeadilan >>---- >> >> >>Pertumbuhan Berkeadilan >>IRWAN PRAYITNO >> >>Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang telah umum digunakan >>untuk melihat kondisi ekonomi suatu wilayah. Semakin tinggi angka >>pertumbuhan (hingga batas tertentu) dipandang sebagai prestasi. Semakin >>tinggi investasi akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Demikian pendapat yang >>berkembang selama ini. >> >>Dari segi pemerataan, dibutuhkan pertumbuhan ekonomi berkeadilan, >>yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Pertumbuhan >>ekonomi tinggi belum tentu terjadi pemerataan kesejahteraan. >>Investasi tinggi yang menyumbang pertumbuhan ekonomi mungkin bisa >>saja memunculkan pemilik modal yang semakin kaya dan buruh yang hanya >>hidup sedikit di atas garis kemiskinan. Buruh tidak bisa mensejahterakan diri >>dan keluarganya dengan baik. Kue hasil pertumbuhan menjadi tidak >>terdistribusi merata. >> >>Untuk itu, pendekatan yang diambil untuk terwujudnya pertumbuhan >>berkeadilan adalah memberdayakan masyarakat agar hidup mereka bisa lebih >>sejahtera. >>Pemberdayaan ini dilakukan dengan memberikan bantuan modal berupa KUR, >>KUPS dan lainnya kepada masyarakat. Para perantau bisa juga memberikan >>bantuan modal bagi saudara mereka di kampungnya. Atau para investor >>memberikan bantuan modal kepada industri rumah tangga. >> >>Para pelaku usaha mikro kecil dan menengah jumlahnya 99 persen dari >>pelaku usaha di Indonesia. Mereka membutuhkan bantuan modal yang layak >>untuk usahanya. >>Bukan pinjaman dari rentenir yang sering mencekik leher karena dikenakan >>bunga tinggi. Meskipun pelaku UMKM mampu membayar pinjaman dan bunga >>kepada rentenir, tapi keun-tungan mereka tergerus. >>Bantuan KUR bunganya hanya sekitar 1 persen per bulan. Jauh lebih >>ringan dari rentenir. Hasil usaha pun bisa lebih banyak dirasakan >>manfaatnya baik untuk ditabung, diinvestasikan kembali atau untuk >>lainnya. >> >>Dari hasil pengamatan penulis, para pelaku UMKM ini mengembalikan >>pinjaman mereka tepat waktu. Meskipun di mata bank mereka tidak layak, >>namun dengan bantuan dari KUR dan cara mereka mengembalikan pinjaman, >>sesungguhnya merekalah yang layak dapat pinjaman dari bank. >> >>Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan, para pelaku UMKM ini >>pengembalian pinjamannya lancar dan tidak macet. Informasi dari Bank >>Nagari, jumlah kredit macet untuk debitur KUR ini hanya 0,8 persen. >>Para pelaku UMKM yang mendapat bantuan dari pemerintah terbukti lebih berdaya >>tingkat ekonominya. Banyak dari mereka yang sebenarnya sudah >>memenuhi syarat pinjaman bank, namun mengalami kebuntuan. >>Sudah saatnya pihak bank melakukan jemput bola untuk mendatangi para >>pelaku UMKM ini yang sudah terbukti mampu mengembalikan pinjaman, kredit >>macetnya rendah, dan memiliki rekam jejak sebagai pelaku UMKM >>bertahun-tahun. >>Insya Allah bank akan beruntung mendapatkan nasabah seperti ini. >> >>Memberdayakan masyarakat dengan memberikan bantuan langsung kepada >>mereka adalah jalan menuju tercapainya pertumbuhan ekonomi berkeadilan. >>Karena mereka mendapatkan bantuan dan merasakan langsung hasil dari >>usaha mereka. >> >>Daya beli masyarakatpun akan meningkat dan sektor riil akan bergerak. >>Pertumbuhan ekonomi berkeadilan bisa saja angkanya tidak tinggi, namun >>boleh jadi dari segi pemerataan masyarakat banyak mendapat manfaatnya >>langsung sehingga mampu menggerakkan perekonomian. (*) >> >>Singgalang 25 Oktober 2011 >> >>http://www.irwanprayitno.info/artikel/1319587180-pertumbuhan-berkeadilan.htm >> >> >>Face Book: http://www.facebook.com/TtgGubernurSumbar >>Twitter: @TtgGubSumbar >>Koprol:@ttggubsumbar >>Blog: http://tentanggubernursumbar.wordpress.com-- >>--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ >>- Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/ >>- Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us >>- Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi: >>[email protected] >>- Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ >>- Fundraising untuk IMSA : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734 >>-~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- >> >> >> >>-- >>--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ >>- Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/ >>- Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us >>- Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi: >>[email protected] >>- Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ >>- Fundraising untuk IMSA : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734 >>-~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- >> > > >-- > >Dutamardin Umar/Virginia >----------------------------------------------------- > >If anyone saved a life,it would be as if he/she saved the life of the whole >people (Quran 5:32) > >-- >--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ >- Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/ >- Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us >- Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi: [email protected] >- Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ >- Fundraising untuk IMSA : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734 >-~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- > -- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ - Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/ - Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us - Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi: [email protected] - Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ - Fundraising untuk IMSA : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734 -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
