Sabtu, 05 November 2011
Oleh Syafiq Basri Assegaff
Alkisah, pada suatu musim haji, dua malaikat bercakap-cakap di dekat Kabah
di Masjidil Haram.
- Berapa jumlah orang yang naik haji tahun ini?
- Enam ratus ribu.
- Berapa yang diterima hajinya?
- Hanya dua orang, salah satunya bahkan tidak menunaikan hajinya ke sini.
Kisah bernuansa sufi itu dinisbatkan kepada ulama Abdullah bin Mubarak yang
bermimpi bertemu dua malaikat saat ia tidur di dekat Kabah. Dalam mimpi itu,
malaikat menyatakan, seorang yang tidak pergi, tetapi diterima hajinya itu
adalah Ali bin Al-Mufiq, orang Damaskus.
Belakangan, Abdullah pun mencarinya. Ternyata Al-Mufiq adalah tukang semir
sepatu yang menyerahkan 3.000 dinar hasil jerih payah yang ditabungnya untuk
bekal haji kepada seorang tetangga dengan anak-anak yang sudah tiga hari
kelaparan.
Esensi haji
Itu dulu. Itu di Damaskus. Di Indonesia, yang terjadi sekarang ini berbeda.
Di media sosial Twitter terbetik pembicaraan bahwa meski tiap tahun jumlah
jemaah haji kita terus meningkat, agaknya banyak di antara mereka adalah
para koruptor yang menganggap bisa mencuci uang haramnya di Masjidil Haram.
Namun, ulama bilang, "Mereka beranggapan sepulang haji akan bersih dari
dosa, padahal haji yang dibiayai uang haram sama sekali tak akan diterima."
Bahkan, seorang yang pergi haji, tetapi membiarkan tetangganya yang
kelaparan pun tidak akan mabrur sekalipun uang yang dipakai berhaji itu uang
halal.
Mungkin saja mereka lupa pada salah satu esensi ajaran Islam berupa Tauhid
al-Ibadah, sebagaimana dicontohkan Ibrahim AS ('Alaihis Salam) dan
keluarganya. Mungkin mereka lupa haji itu sebuah cermin pernyataan tekad
tentang kesiapan menghamba hanya kepada Tuhan, bukan kepada uang atau
kekuasaan, yang secara tegas diwujudkan dalam kalimat talbiyah: Labbaik
Allahumma Laka Labbaik. Haji itu sebuah penelusuran sejarah pengabdian
Ibrahim dan keluarganya, sebuah "tapak tilas" pengorbanan bagi orang lain,
demi ibadah kepada satu Tuhan Yang Mahaagung.
Al Quran menggambarkan secara tegas bahwa Ibrahim, istri dan putranya,
Ismail, adalah orang-orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan
sehingga perintah apa pun akan mereka jalani meski hal itu bertentangan
dengan perasaan atau pikiran mereka. Kata Ibrahim dalam doanya,
"Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup, dan matiku kepunyaan Allah Rab
al-Alamin...." Ismail juga demikian: siap disembelih sesuai dengan perintah
Allah. Bagi Ibrahim dan keluarganya, penyerahan total, Tauhid al-Ibadah, itu
adalah siap mengorbankan nyawa Ismail di meja sembelihan.
Namun, belakangan Allah gantikan nyawa Ismail dengan "Penyembelihan Agung"
(bi dzibhin 'adziim). Ahli tafsir memaknai frase "Penyembelihan Agung" dalam
Al Quran bukan sekadar penukaran Ismail dengan seekor domba (mana mungkin
kambing lebih agung dari nyawa seorang nabi?), melainkan berupa pemenggalan
anak-cucu Ismail, yakni Al-Husain AS.
Sejarah mencatat, pada 10 Muharam 61 Hijriah (8 Januari 680 M) Al-Husain
mati syahid dengan kepala terpenggal akibat penentangannya terhadap penguasa
Bani Umayyah yang tiran, Yazid bin Muawiyah. Al-Husain adalah cucu Nabi
Muhammad SAW. Ia dan abangnya, Al-Hasan AS, adalah anak-anak putri Nabi,
Siti Fatimah AS, yang menikah dengan khalifah ke-4, Ali bin Abi Thalib.
Berhubung Nabi Muhammad SAW adalah cucu Nabi Ismail AS, dalam sebuah
hadisnya, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa, "Husain dari aku dan aku dari
Husain."
Lama sebelum itu, Husain mengetahui bahwa mayoritas Muslimin menentang
kekuasaan Yazid. Tak kurang dari 12.000 surat diterima Husain dari penduduk
Irak, Yaman, dan negeri lain; semua menolak kepemimpinan Bani Umayyah yang
penuh korupsi, kolusi, dan nepotisme itu.
Sesudah dicincang tentara yang dipimpin Shimr Bin Dziljawshan, kepala Husain
dipermainkan bagai bola, digiring bersama putranya (yang sakit) Ali Zainal
Abidin-yang jadi kakek moyang para sayid di dunia, termasuk para habib di
Indonesia-dan para tawanan wanita keluarga Nabi Muhammad SAW, menuju istana
Yazid di Damaskus, tempat ia biasa mabuk-mabukan dan bercengkerama dengan
monyetnya.
Sebetulnya Husain telah berada di Mekkah sekitar tiga bulan sebelum musim
haji, tetapi ia membatalkan hajinya. Itu dilakukannya untuk menunjukkan,
memerangi penguasa zalim, memperjuangkan keadilan, dan melepaskan rakyat
yang lemah (al-mustadz'affin) dari penderitaan sebagai sebuah tindakan yang
lebih penting.
Sekiranya Husain bersama 72 pengikutnya tak memerangi pasukan Yazid saat
itu, barangkali brand Islam bakal berantakan, menjadi "Islam" yang
ditentukan oleh diktator dan koruptor. Bukan Islam yang penuh akhlak mulia,
yang menjunjung keadilan dan kekuatan pembebas manusia dari belenggu
kemiskinan, kebodohan, dan kezaliman.
Kesyahidan Husain pada 10 Muharam-lazim disebut 'Asyura'-itu kini jadi
legenda di dunia, baik di kalangan penganut Syiah maupun Sunni. Di
Indonesia, misalnya, orang tabu mengadakan pesta (perkawinan, misalnya) pada
bulan Syura. Saat itu, di banyak tempat seperti di Pariaman, Sumatera Barat,
masyarakat memperingatinya dengan acara Tabot atau Tabuik, sementara
anak-anak yatim-mulai dari Aceh, Jawa, hingga Kalimantan dan Sulawesi-dijamu
makanan semacam bubur merah-putih.
Berkorban untuk sesama
Keteladanan Husain itu jadi relevan untuk dikenang saat memperingati hari
raya (Kurban) sekarang ini. Pertama, menjadikannya salah satu cermin
beragama di "jalan lurus". Kedua, mengajarkan, berkorban diri untuk
menggembirakan orang lain merupakan budi pekerti yang utama dalam Islam.
Kata Nabi Muhammad SAW, "Aku diutus menyempurnakan akhlak."
Kepergian Husain untuk berperang melawan 4.000-an pasukan bersenjata (bukan
seperti teroris yang membunuh kaum sipil tak berdosa dan tanpa senjata),
sebagaimana kesiapan Ismail untuk mati, jadi teladan bahwa berkorban untuk
orang lain sangat utama nilainya dibandingkan dengan ibadah ritual.
Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan, orang yang menyantuni janda dan orang
miskin, misalnya, mendapat pahala seperti pejuang di jalan Allah, seperti
halnya orang yang terus-menerus shalat malam dan terus-menerus puasa.
Demikian pula mencari ilmu satu hari lebih utama nilainya dibandingkan
dengan puasa tiga bulan. Sebaliknya, tidaklah beriman orang yang tidur
kenyang, sementara tetangganya kelaparan.
Walhasil, kita jadi bertanya, apakah koruptor yang berhaji masih bisa merasa
tenang ketika masyarakat di sekeliling mereka, yang miskin dan
terpinggirkan, akan menuntut hak mereka kepada Tuhan-nya orang lemah (Rabb
al-Mustadz'affin)? Islam menegaskan, doa kaum mustadz'affin atau tertindas
sangat mustajab, apalagi jika para malaikat mengamini doa mereka.
Syafiq Basri Assegaff Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan
Universitas Paramadina
http://cetak.kompas.com/read/2011/11/05/02100091/Ketika.Malaikat.Bicara.Haji
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/