Maaf bagi yang sudah baca.
 
Oky Membunuh 3 November 1992, Anaknya Dibunuh 5 November 2011

Oleh: Linda | 05 November 2011 | 14:16 WIB 

Berita mengerikan menyebar sedari pagi hari di berbagai media. Seorang siswa 
sekolah Pangludi Luhur tewas terbunuh di kafe berinterior kaca-kaca keren di 
kawasan Kemang, Shy Rooftop. Raafi Aga Winasya Benjamin, wafat saat usianya 17 
tahun. Berita masih simpang siur penyebab kematiannya. Ada yang mengatakan 
bahwa ia hanya korban dari keributan pihak lain, yang sama sekali tidak 
diketahuinya.

Satu lagi anak bangsa hilang, selagi ia menurut kabar sangat ingin mewujudkan 
cita-citanya untuk menjadi seorang dokter.  Raafi adalah putra Anggi  hasil 
pernikahan dengan Oky. Sang Ibu setelah lama bercerai dari suaminya, begitu 
cermat merawat Raafi dari segala hal termasuk pendidikannya.  Sesungguhnya 
beban berat berada pada hidup Raafi, yang memiliki ayah yang seorang pembunuh, 
dan mendekam di penjara sejak lama. Ia sendiri bertumbuhkembang sebagai remaja 
yang giat belajar, santun dan sangat menghormati orang yang lebih tua.

Barangkali masih banyak yang ingat, betapa hebohnya negeri ini saat terkuak 
berita, seorang  bangsa Indonesia di negeri jauh Amerika,  telah dengan 
mudahnya membunuh tiga orang, Gina, Eri dan Suresh.  Harnoko Dewantoro 
kelahiran 1964  yang disebut Oky memang berdarah dingin. Dengan sadis ia 
membunuh temannya, Gina Sutan Azwar di Los Angeles pada tanggal 3 November 
1992. Mayat Gina disimpan di gudang Sepulvedavia Storage, lalu dipindah lagi 
tujuh bulan kemudian ke gudang tua di Northridge.

Tak hanya itu. Oky dengan mudahnya menghabisi nyawa adik kandungnya sendiri, 
Eri Tiharto Dharmawan, dan Suresh Michandini seorang tukang laundri warga 
campuran India yang memiliki perusahaan Mr Dry Clean. Eri yang terakhir 
dibunuh, digabung dengan dua mayat lain hasil ‘buah tangannya’  di Northridge. 
Detektif LAPD ( Los Angeles Police Departement) menemukan ketiga mayat itu pada 
bulan Agustus 1994. Dalam pemeriksaan, sidik jari Oky berbekas di tubuh para 
korban itu.

Saya, yang kebetulan saat itu masih bergabung di Majalah Berita Mingguan GATRA, 
memperoleh berita aktual sebelum media lain mendapatkannya.  Kebetulan Gina si 
cantik yang terbunuh  itu masih termasuk dalam sanak keluarga saya.  Nenek dari 
Gina bersepupu dengan nenek saya yang orang Minang itu.  Masih saya ingat 
betapa seluruh keluarga Gina kakak beradik dan orang tuanya begitu panik, 
nestapa dan tiada henti bercucuran air mata.

Banyak orang heran, bagaimana seorang pria Indonesia yang berasal dari keluarga 
terpandang, bisa berlaku serupa itu. Sadis sekali memang.  Bahkan nyawa adik 
kandungnya sendiri putus di tangannya. Saat itu kedua orang tuanya memang sudah 
berpisah lama. Ibunya, Tuti, seingat saya bekerja di Bank Bumi Daya di ujung 
jalan Tosari Menteng Jakarta Pusat. Si Bapak, tinggal di kawasan Jakarta Pusat.

Pihak keluarga Anggi,  yang sesegera mungkin mengupayakan perceraian antara Oky 
dan Anggi juga tak kalah panik. Anggi nyaris menjadi korban penyiksaan juga 
selama pernikahannya dengan lelaki itu.  Tak saya lupa bagaimana ibu Anggi,  
Dindin  Benjamin sangat ketakutan melihat anaknya berlama-lama dengan menantu 
serupa itu. Kasihan sekali, hidup mereka saat itu penuh tekanan, depresi dan 
ketakutan.

Detektif Amerika pun sempat datang mondar-mandir ke Indonesia.  Saya sempat 
mewawancarai  secara eksklusif  mereka, yang saya ingat namanya Ted Ball dan  
seorang rekannya di salah satu kafe terkenal di kawasan Kuningan,  tengah 
malam. Dari hasil cerita lengkap mereka, GATRA mengeluarkan cover story yang 
heboh dan dicari masyarakat pada saat itu.

Masih terbayang betapa kengerian dan jerit tangis yang memilukan hati menggema 
di rumah orang tua Gina, saat jenazah tiba dari Amerika.  Juga nestapa di rumah 
ibu Oky, saat jenazah Eri dipulangkan dari Amerika ke Indonesia.  Bulan 
Desember tahun lalu, saat ibunda  Gina meninggal dan dikubur di pemakaman Jeruk 
Purut,  mayatnya ditumpang dengan jenazah putrinya, Gina yang sudah tulang 
belulang. Peti mati Gina yang masih utuh dibongkar dan diletakkan di sisi 
pemakaman karena sudah tidak bisa dipakai lagi.

Semua suasana saat itu tengah terbayang di pelupuk mata saya. Manakala saya 
mendengar berita  pembunuhan mengerikan terjadi di Kemang, pikiran saya 
melayang-layang.  Hati saya bergumam berulang-ulang dengan pedih, “Duh.. dari 
hasil pernikahan Anggi dan Oky belasan tahun silam,  lahirlah Raafi.  Dan anak 
inilah yang terbunuh semalam……..

If you don't know where you are going, any road will take you nowhere - Henry 
Kissinger

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke