Kok menghimbau ?, tagak di kampuang mambela kampuang, tagak di nagari membela nagari, kok hanyo menghimbau.
Salam andiko On Nov 11, 2:16 pm, "Nofend St. Mudo" <[email protected]> wrote: > Jumat, 11 November 2011 > Padang, Singgalang - Semua tokoh Minangkabau yang dimintai > pendapatnya, menyatakan sedih dan menyayangkan tindakan aparat > kepolisian yang main senjata terhadap perempuan petani di Maligi, > Sasak, Pasbar. Mereka minta tindakan itu, dihentikan.“Hentikan, masak > perempuan dilawan dengan senjata,” kata anggota Komisi III DPR Taslim > Caniago dari Jakarta, Kamis (10/11). Ia meminta aparat kepolisian > menghentikan tindakan anarkis terhadap perempuan di Maligi, Sasak, > Pasbar. Sementara Wagub Sumbar menilai, kekerasan hanya akan > melahirkan tindakan kekerasan berikutnya.Kasus rusuh di Maligi yang > diiringi letusan senjata, menurut Wakil Gubernur Muslim Kasim, bukan > cara penyelesaian terbaik. Kekerasan akan menghasilkan tindakan > kekerasan berikutnya.“Tahan diri, selesaikan dengan dialog, pakai > kepala dingin,” katanya di Padang, Kamis (10/11). > > Sebagaimana diberitakan sejak dua hari ini, telah terjadi kerusuhan di > Maligi, Sasak, Pasbar. Aparat kepolisian berhadapan dengan kaum ibu. > Durian dengan mentimun. Maka jatuhlah korban.“Saya sangat prihatin > mendengarkan kerusuhan yang terjadi di Pasaman Barat itu. Saya harap > kedua belah pihak dapat saling menahan diri. Utamakan dialog, ini > adalah budaya kita yang mencerminkan mencari mufakat dengan > musyawarah,” sebut Muslim. > > Dikatakannya, tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Asalkan > kedua belah pihak yang bertikai mau duduk bersama. Begitu juga dari > petugas kepolisian agar dapat mengarahkan penyelesaian dengan jalan > musyawarah.Dikatakannya, jika kejadian itu terus berlanjut akan > berdampak pada iklim investasi di Sumbar. Karena tidak mudah juga > untuk membawa investor mau menanamkan modalnya di daerah ini. > > Sementara itu, Bupati Pasbar, Baharuddin R menyesalkan kerusuhan di > Maligi. Ia meminta aparat keamanan persuasif menangani persoalan > sehingga kasus selesai, rakyat tak tersakiti. “Sedih saya, rakyat > Pasaman Barat disakiti. Investor jangan memandang rakyat sebagai musuh > tapi mitra,” katanya.Kekayaan alam Pasaman Barat seharusnya maksimal > untuk kemakmuran rakyat. Karena itu, naif kalau investor > berhadap-hadapan dengan rakyat. “Aparat keamanan saya minta untuk > bertindak lembut menghadapi rakyat yang tidak bersenjata,” katanya. > HentikanAnggota DPR-RI asal Sumbar Taslim meminta kepolisian untuk > tidak menangkap rakyat. “Itu hanya unjukrasa petani, hadapi dengan > bijaksana, bukan dengan senjata,” kata dia. > > Ia minta seluruh korban tindak kekerasan agar diobati dengan biaya > ditanggung polisi. “Polisi harus persuasif,” kata dia seraya > menyebutkan bahwa perempuan tidak sewajarnya dihadapi dengan > pengamanan ekstra keras semacam itu. Taslim mengaku sudah bicara > dengan Wakapolda Sumbar dan meminta agar polisi ditarik dari lokasi > kerusuhan. > TarikKomite Peduli Kampung Maligi (KPKM) Jakarta, Bogor, Depok, > Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), mendesak aparat kepolisian > menghentikan aksi anarkis dan main tembak. Mereka juga menuntut agar > polisi ditarik dari kawasan Maligi, karena dikhawatirkan justru akan > semakin memperkeruh suasana.“Konflik tanah ulayat dengan PT PHP II > yang berujung pada aksi main tembak oleh aparat kepolisian yang > menyebabkan 18 kaum ibu Maligi patah-patah sudah di luar batas > kewajaran. Ini jelas tindakan memalukan,” terang Ketua KPKM Eryzon, > Sekretaris Jon Kenedi Syahril dan Penasihat KPKM Prof. Dr. H. Syafril > Kemala, dalam keterangannya yang disampaikan kepada Singgalang, Kamis > (10/11). > > Dalam pernyataan sikapnya, KPKM Jabodetabek mengaku sangat menyesalkan > tindakan brutal aparat kepolisian terhadap kaum ibu yang berunjukrasa > pada 8 November 2011 di perkebunan milik PT PHP II. Selain > menyesalkan, mereka juga menilai tindakan polisi sangat > memalukan.Pemuka masyarakat Maligi di Jabodetabek juga menduga, adanya > kepentingan-kepentingan pihak tertentu dalam kasus Maligi telah > membuat suasana jadi chaos. Apalagi, ada pula upaya mengalihkan isu > dari tuntutan masyarakat Maligi yang sesungguhnya. > DisayangkanKetua DPRD Sumbar, H. Yulteknil dan Ketua LKAAM Sumbar, M. > Sayuti Dt. Rajo Penghulu sama-sama menyayangkan terjadinya bentrok > polisi dengan masyarakat di Desa Maligi. Polisi yang semestinya > melindungi masyarakat seperti mottonya malah membuat masyarakat > terluka. “Seharusnya polisi melakukan tindakan persuasif, bukan > membuat adanya korban,” sesal politisi Partai Demokrat Sumbar itu yang > ditanyai melalui telepon genggamnya kemarin sore. > > Dia melihat terjadinya bentrok masyarakat dengan polisi sebagai akibat > tidak komitnya investor terhadap perjanjian. “Persoalannya kan tidak > direalisasikannya plasma masyarakat oleh investor. Mestinya investor > komit, karena pemerintah daerah telah memberikan kemudahan bagi > masuknya mereka,” sesalnya lagi. Dari itu, dia mendesak agar Pemkab > dalam hal ini Bupati, H. Baharuddin R segera menuntaskan kasus itu. > “Bupati harus duduk semeja bersama investor dengan masyarakat > menuntaskan kasus ini,” katanya. > > Bila dibiarkan berlarut-larut, Yulteknil mengkhawatirkan makin banyak > korban yang berjatuhan. Kepada pihak kepolisian, terutama Polda Sumbar > diminta juga segera mengendalikan aparatnya agar tidak lagi bertindak > anarkis di lapangan. “Semestinya sesuai dengan motto yang terpampang > di setiap kantor polisi, yakni melindungi dan mengayomi masyarakat. > Bukan sebaliknya melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Kalaupun > polisi bertugas melakukan pengamanan, lakukan tindakan persuasif, > bukan dengan senjata atau kekerasan,” pesannya lagi. > > Diakui Yulteknil, dia dan Wagub melakukan pembicaraan itu. Bahkan > Wagub, Muslim Kasim sudah mengirimkan SMS meminta Kapolda Sumbar > mengendalikan aparatnya. Tak hanya DPRD Sumbar, pihak Lembaga > Kerapatan Adat Minangkabau (LKAAM) Sumbar juga menyayangkan terjadinya > aksi kekerasan di Maligi, Pasaman Barat tersebut. Kekerasan dimaksud > dianggap tidak akan menyelesaikan persoalan. Solusinya bisa > diselesaikan secara adat, karena masalah investasi di Sumbar sudah ada > aturannya.Menanggapi persoalan itu, dalam waktu dekat, LKAAM mengajak > MUI, LBH Padang dan Komnas HAM untuk meninjau lokasi sekaligus > memediasi kedua belah pihak.Ketua LKAAM Sumbar, M.Sayuti Dt. Rajo > Penghulu mengatakan, kasus di Maligi tidak perlu terjadi jika saja > perusahaan yang bersangkutan bisa cepat tanggap dan menyelesaikan > dengan baik. “Jika saja perusahaan tersebut tidak mendatangkan > kepolisian, kekerasan itu bisa dihindari,” katanya kepada Singgalang. > > Ia menilai, persoalan itu dimulai dari tidak tuntasnya kesepakatan > antara PT GMP dengan penduduk/kaum setempat. Sebagai tanah ulayat yang > dipakai oleh investor, PT GMP perlu melihat kembali tata aturan > menempati wilayah ulayat. Secara adat, kata Sayuti, sudah ada aturan > yang jelas. “Kaum ulayat tidak akan menghalang-halangi investor yang > masuk. Namun syarat dan prosedurnya harus sama-sama disepakati oleh > kedua belah pihak, dengan cara kerja sama, penempatan tenaga kerja > atau pembagian hasil melalui koperasi,” kata Sayuti. > > Sayuti menyarankan, masalah itu mesti diselesaikan secara adat. Harus > diselediki apakah benar tanah itu milik ulayat, agar investor bisa > langgeng di sana. Ia berharap, pihak kepolisian bisa bertindak sebagai > mediator, bukan ikut terjun dalam baku hantam. Jika melakukan > kekerasan, kesannya seolah-olah berpihak kepada investor, yang belum > tentu benar. > > Ke depannya, Sayuti meminta kepada siapapun investor yang hendak > menanamkan modal di Sumbar, perlu menyediakan ruang setidaknya 10 > persen dari tanah ulayat yang hendak dipakai. Gunanya, tanah itu untuk > ruang publik yang bisa digunakan masyarakat. (104/405/211 401) > > http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=9448 > > -- > > Wassalam > Nofend/34+ CKRG -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
