~~."IJP".~~

-----Original Message-----
From: Koran Digital <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 14 Nov 2011 09:48:32 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Koran-Digital] IJP : Strategi Kebudayaan atas Papua

Strategi Kebudayaan atas Papua
Indra J. Piliang DEWAN PENASIHAT THE INDONESIAN INSTITUTE

*Indonesia tidak bisa lagi di- anggap enteng dalam Olimpia- de fisika 
dan matematika, ka- rena ada antara lain anak- anak Papua di dalamnya. 
Di dunia sepak bola, anak-anak Papua memicu euforia tentang Burung 
Garuda, baik ketika In- donesia kalah, apalagi me- nang.*

Masalah Papua terletak dalam sudut pandang Jakarta. Memang ada persoalan 
kompetensi pejabat-pejabat Papua yang mendapat kesempatan setelah 
otonomi khusus dijalankan, dan nama Papua dikembalikan dari nama Irian 
Jaya oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Ratarata sejumlah kepala suku 
(besar) di Papua mendapatkan posisi, baik di pemerintahan, swasta, 
perusahaan, maupun perguruan tinggi, sampai jabatan-jabatan lain. Tak 
aneh kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memasukkan unsur 
"Papua"sebagai salah satu pertimbangan dalam matrikulasi reshuffle 
kabinet, sembari "melupakan"etnis Sunda atau Jawa Barat. Masalah ini, 
lagi-lagi, terkait dengan pola pikir Jakarta atas Papua dan 
daerah-daerah lain.

Papua memang kesulitan masuk dalam bingkai keindonesiaan, terutama 
terkait dengan proses asimilasi, misalnya lewat perkawinan antarsuku 
Melanesia dengan suku Melayu, Jawa, Sunda, dan Batak. Sebaliknya, proses 
asimilasi terjadi di kalangan suku-suku lain, sehingga "nasionalisme 
etnis"terkendalikan dalam darah baru keindonesiaan. Sulitnya asimilasi 
suku-suku Papua dengan suku-suku Indonesia lainnya membuktikan kembali 
argumentasi Mohammad Hatta, yang memang tidak sepenuhnya mendukung Irian 
Jaya sebagai bagian dari Indonesia.

Namun, karena Papua secara administrasi sudah lama menjadi bagian dari 
Belanda dan lalu Indonesia, persoalan kultural bisa dijadikan sebagai 
unsur penguat, bukan penghambat. Hanya, sampai sejauh ini Papua terlalu 
didekati sebagai masalah keamanan, ketimbang kesejahteraan. Penyebutan 
nama "gerakan separatis", misalnya, tidak diimbangi dengan upaya-upaya 
lain untuk membatasi gerak ekspansi modal ke Papua, yang semakin 
memperkeruh situasi. Konsesi yang diberikan kepada kaum pemodal di dalam 
dan luar negeri ternyata menjadi alasan bagi munculnya "gerakan 
separatis", yang sebetulnya berakar dalam kesenjangan ekonomi.

Ras Melanesia memang sudah diakui eksistensinya di dalam Undang-Undang 
Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Papua. Bahkan 
Majelis Rakyat Papua (MRP) dijadikan sebagai lembaga kultural 
satu-satunya di tingkat provinsi di Indonesia. Masalahnya, MRP 
menghadapi ganjalan, baik dari sisi regulasi di bawah UU Nomor 21/2001 
yang tidak selesai maupun dari luasnya wilayah yang mereka harus wakili. 
Tetap terus dicatat bahwa luas Papua adalah 3,5 kali Pulau Jawa, dengan 
infrastruktur yang minim.

Penelitian Papua adalah lokasi penelitian yang termasuk paling baik di 
Indonesia. Hasil-hasil penelitian itu sudah dipublikasikan di dalam dan 
luar negeri. Setiap tahun, selalu saja terbit buku-buku yang bercerita 
tentang Papua, dari masyarakat, kekayaan alam, sampai penghuni lain 
berupa hewan dan tumbuhan. Padahal proses penelitian itu belum 
dimaksimalkan, mengingat keringnya visi riset para pengambil keputusan 
di Indonesia.

Sejumlah buku menyebutkan besarnya peran tentara dalam proses 
pembangunan Papua. Lembah Baliem, yang dihuni suku Dani, misalnya, sudah 
dimasuki pada 1964 lewat Operasi Karya Kodim 1712 dari Ko dam 
XVII/Cenderawasih (Koentjaraningrat: 1993: 297). Para mahasiswa juga 
dilibatkan dalam proses itu, terutama untuk percepatan di bidang 
pendidikan. Belakangan proses itu dilakukan secara "normal"oleh 
pejabatpejabat pemerintah dan swasta. Akibat yang muncul adalah semakin 
banyak penduduk dari luar Papua yang masuk ke Papua. Persentasenya 
diperkirakan sama, 50 persen : 50 persen, dalam waktu dekat.

Masalahnya, apa model yang tepat dalam pembangunan Papua ke depan? 
Apakah Papua dibangun untuk warga Papua dalam ras Melanesia? Ataukah 
memang seperti yang dilancarkan sejak Operasi Koteka pada 1975--termasuk 
pembangunan alat komunikasi sebagai receiver Satelit Palapa--yakni 
mengejar kesejajaran dengan belahan Indonesia lain? Ataukah Pa pua 
dikembangkan dengan model yang berbeda dengan bagian Indonesia lainnya? 
Tidak mudah untuk memulai lagi suatu proses pembangunan yang sudah 
berjalan lama dengan akibat-akibat positif dan negatifnya. Memindahkan 
barak-barak militer dari lokasi yang berdekatan dan di tengah-tengah 
penduduk saja sulit.Yang bisa dilakukan adalah evaluasi yang bersifat 
komprehensif dan multi-aspek. Evaluasi itu dilakukan berdasarkan cetak 
biru (blueprint) lama menyangkut Papua, baik dari sisi regulasi, 
ekonomi, sosial, budaya, maupun masalah yang terkait dengan masyarakat 
internasional.

Apabila blueprint itu tidak ada, dasar perundang-undangan saja tidak 
cukup, karena terjadinya saling tabrak antar-undang-undang. UU Nomor 21 
Tahun 2001, misalnya, membutuhkan undang-undang sektoral di bidang 
pendidikan dan kesehatan. Kalaupun Presiden SBY sudah mengeluarkan 
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan 
Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, sifatnya hanya "macan kertas", 
karena tidak disertai dengan bentuk kelembagaan khusus. Inpres Nomor 
5/2007 itu hanya bersifat koordinasi antarkementerian dengan pemerintah 
provinsi.

Papua memang kecil dari sisi jumlah penduduk, tapi besar dari sisi 
ekonomi, lingkungan hidup, ilmu pengetahuan, luas wilayah, kebudayaan, 
dan segala sesuatu yang terhubung dengan peradaban. Dan yang menciptakan 
kebudayaan adalah manusia. Manusia-manusia Papua berada pada sisi paling 
puncak untuk mengedepankan kemajuan Indonesia dari sisi peradaban itu. 
Dalam beberapa tahun terakhir, anak-anak Papua sudah berkontribusi 
dengan sangat fenomenal di sisi ilmu pengetahuan dan olahraga.

Indonesia tidak bisa lagi dianggap enteng dalam Olimpiade fisika dan 
matematika, karena ada, antara lain, anak-anak Papua di dalamnya. Di 
dunia sepak bola, anakanak Papua memicu euforia tentang Burung Garuda, 
baik ketika Indonesia kalah, apalagi menang. Sekalipun kecil dari sisi 
jumlah, nama Indonesia yang dibawa oleh anak-anak Papua berhasil 
menaikkan posisi yang baik bagi negara yang berpenduduk nomor empat di 
dunia ini. Keberhasilan anak-anak Papua itu juga diiringi dengan 
dukungan yang semakin fanatik terhadap masalah-masalah Papua dalam 
masyarakat

Indonesia, terutama ketika berhadapan dengan sentimen "anti atau 
pro-pemerintah".

Data-data menunjukkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir ini tidak ada 
perubahan berarti dari sisi distribusi penduduk, indeks pembangunan 
manusia, sampai pemerataan pembangunan. Pulau Jawa kian penuh dengan 
manusia, karena besarnya jumlah penduduk yang hidup dan bertempat 
tinggal di sana. Cina, sebagai bangsa, melakukan semacam revolusi 
kebudayaan untuk mengubah karakternya. Revolusi itu antara lain ditandai 
dengan proses "penghancuran"kapitalisme, termasuk dengan menyuruh kaum 
intelektual memegang cangkul ketimbang pena.

Indonesia barangkali tidak perlu melakukan proses yang memakan korban 
banyak itu. Namun satu strategi kebudayaan perlu disusun atas Papua. 
Strategi kebudayaan itu disusun berdasarkan pilinan kisah sejarah dan 
mitologi yang lama tertanam di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, 
tentang perbenturan kekuasaan. Dengan memasukkan Papua sebagai bagian 
dari strategi kebudayaan itu, mau tidak mau Jakarta perlu memikirkan 
bagaimana menempatkan manusia dan tanah Papua dalam bingkai kehidupan 
Indonesia di masa mendatang.

Apakah akan semakin banyak migrasi manusia Melayu berambut lurus dan 
berkulit sawo matang ke daerah-daerah yang ditinggali manusia-manusia 
Papua berambut keriting dan berkulit hitam itu? Bagaimana pola asimilasi 
yang dilakukan, berikut antisipasi atas proses akulturasi yang terjadi 
pada ras Melanesia? Pertanyaan-pertanyaan besar dan mewah ini tidak bisa 
hanya didiskusikan menjadi produk kebijakan yang bersifat ad hoc, tapi 
juga tersusun rapi dalam bentuk yang paling akademis berupa platform 
yang disusun oleh para ahli.

Saya yakin, pada akhirnya akan semakin banyak orang Indonesia di tanah 
Jawa yang sudah saling-silang secara genetika dan kebudayaan yang di 
kemudian hari datang ke Papua. Nah, masalahnya, apakah tempat yang nanti 
menjadi masa depan Indonesia itu adalah wilayah yang sudah luluh-lantak, 
sebagaimana nasib para Aborigin akibat kolonialisme perbudakan 
bangsa-bangsa Eropa di Australia atau di Amerika Serikat? Indonesia 
wajib menunjukkan keberadabannya dibandingkan dengan sejarah masa lalu 
bangsa-bangsa Eropa itu. Dan cara satu-satunya adalah serius dengan 
masalah-masalah Papua serta berpikir besar dan humanistik dalam 
menyelesaikannya....



http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/11/14/ArticleHtmls/Strategi-Kebudayaan-atas-Papua-14112011011010.shtml?Mode=1

-- 
"One Touch In BOX"

To post  : [email protected]
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : -  Gunakan bahasa yang baik dan santun
                 -  Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
                 -  Hindari ONE-LINER
                 -  POTONG EKOR EMAIL
                 -  DILARANG SARA
                -  Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau  
                   Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.       
       
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang 
sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von 
Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang 
lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke