Ada karaguan istilah dan penggunaannya dalam rangkaian posting ini. 

1. Saya setuju pendapat dan saran jelas Angku Ambiar Lani yang jelas tepat, 
"bahwa labiah elok awak mamakai istilah nan alah baku dan standar yaitu 
psikosomatik dari pado manggunakan istilah lain nan dicari-cari dan terkesan 
diilmiah-ilmiahkan." 

2. Kutipan Angku Saaf "> Pak Ambiar, Rina, saya tak berkeberatan jika istilah 
'padangitis' dan 'minangitis' -
> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita." 
> tampaknya kurang lengkap, kalimatnya seperti terputus, belum selesai. 
> Hasilnya ambiguitas (ketidakjelasan, bermakna ganda) apakah Angku Saaf "tak 
> berkeberatan jika istilah 'padangitis' dan 'minangitis'-" dipakai atau tidak 
> dipakai?

3. Pemakaian istilah "psikomatik" dalam untaian thread ini (sperti dipakai Evy 
Nizhamul) pun tampaknya meragukan. Apakaah itu istilah baru yang saya 
ketinggalan zaman, ataukah salah ketik dan kacau pengertian saja. Saya anggap 
itu typo saja, tetapi karena "psikomatik" itu setidak-tidaknya muncul dua kali 
dalam satu posting terakhir [dan mungkin juga sebelumnya], itulah menyebabkan 
keluarnya pertanyaan saya. Istilah teknis yang biasa saya kenal adalah 
"Psikosomatik" seperti yang dipakai Angku Ambiar Lani.


Melihat keterangan angku Ambiar Lami dari semula, saya sangat setuju istilah 
"padangitis" dan "minangitis" itu tidak dipakai dalam tulisan-tulisan ilmiah 
yang serius. Orang awam akan membaca dan akibatnya akan menjurus ke arah 
stereotip etnik. [Dalam salah satu posting dalam thread ini secara kelakar saya 
sudah ceritakan tentang "padang benkok", lagak padang, minangkiauw, nama 
kenalan Titis Idris, dsb.]

Gangguan Jiwa atau Psikosomatik bukanlah monopoli "Orang Padang" atau "Orang 
Minang" saja. Jadi baiklah dihindarkan atau dipopulerkan istilah-istilah 
"padangiti" dan "minangitis" yang hanya mengarah kepada etnik ini saja. Seperti 
isyaratan Angku Ambiar Lani, kok manapuak aia di dulang awak jadinyo. Sebagai 
kelakar -- yah kelakar ada di mana-mana -- tetapi untuk karya ilmiah, sebaiknya 
istilah-istilah-isltilah kelakar seperti itu dihindarkan saja.

Sekedar variasi dan tinjauan bahwa Psikosomatik itu bukanlah "monopoli" "Orang 
Padang" atau "Orang Minang" itu saja, lihat antara lain-lain situs berikut:

http://www.melindahospital.com/modul/user/detail_artikel.php?id=1545_Gangguan-Jiwa-Psikosomatik,-Paling-Sering-Ditemui

Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, California
November 23, 2011
http://www.wunderground.com/radar/radblast.asp?zoommode=pan&prevzoom=out&num=6&frame=0&delay=15&scale=1.000&noclutter=0&ID=MUX&type=N0R&showstorms=10&lat=36.97417068&lon=-122.02971649&label=Santa%20Cruz,%20CA&map.x=400&map.y=240&scale=1.000&centerx=400&centery=240&showlabels=1&rainsnow=0&lightning=0&lerror=20&num_stns_min=2&num_stns_max=9999&avg_off=9999&smooth=0


--- In [email protected], hyvny07@... wrote:
>
> Salam dusanak sadonyo,
> 
> 1. Saya setuju dengan usulan pak Ambiar Lani yang uraiannya sangat jelas .
> 
> 2. Mari kita kembalikan istilah padangitis pada diagnosa murni psikomatik.
> 
> 3. Memang sebaiknya dilakukan penelitian sebab dan akibat psikomatik itu. 
> Berapa prosentase dari penyebab terjadi penyakit ini, dari tinjauan ekonomi, 
> politik dan sosial kemasyarakatan. Saya tidak yakin  terjadi kasus ini 
> disebabkan adat dan budaya semata.
> 
> 4. Milist kita ini terbuka dan bisa di baca oleh khalayak umum sementara kita 
> tidak pernah meng close suatu topik dalam satu kesimpulan yang valid.
> 
> Akhirkata saya mohon dimaafkan ya..jika tanggapan saya ini ada yang kurang 
> berkenan.
>  
> Wassalam,
>  
> Evy Nizhamul
>  
>  
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
> 
> -----Original Message-----
> From: Ambiar Lani <rang_kito@...>
> Sender: [email protected]
> Date: Wed, 23 Nov 2011 15:26:34 
> To: [email protected]<[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Cc: saaf10leo@...<saaf10leo@...>; arina_widya_murni@...<arina_widya_murni@...>
> Subject: Re: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan 
> obatnya.
> 
> Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Ibu Arina sarato jo Pak Saaf dan 
> dunsanak kasadonyo.
> 
> Amhamdulillah......, kalau ibu satuju jo pandapek ambo, bahwa labiah elok 
> awak mamakai istilah nan alah baku dan standar yaitu psikosomatik dari pado 
> manggunakan istilah lain nan dicari-cari dan terkesan diilmiah-ilmiahkan. 
> Samantaro manuruik pak Zubir Amin, istilah itupun terlahir dari ota 
> bagarah-garah sejumlah kalangan dokter yang berasal dari sebuah universitas 
> terkemuka di Jakarta. Masak pulo sesuatu nan datang dari ota bagarah-bagarah 
> yang mungkin juga dimaksudkan sebagai hiburan selingan di tengah beban kerja 
> harus kita terima sebagai sebuah istilah yang akan berkonotasi ilmiah dengan 
> efek akan mengeneralisir urang awak mayoritas mengidap psikosomatik, barek 
> atau ringan..... (ha.....ha.....ha.....), sementara tantu labiah banyak urang 
> awak nan sehat dari pado nan sakik. (?) Antah kok indak ?
> 
> Demikian juga halnya dengan pak Saaf, yang merasa tidak keberatan dengan 
> istilah tersebut untuk tidak dipakai lagi, membuktikan bagi kami, bahwa pak 
> Saaf adalah figur yang memiliki integritas dan komitmennya yang tinggi kepada 
> ranah. Pemikiran-pemikiran beliau yang cemerlang dan perhatiannya yang tulus 
> kepada ranah, tentu ditunggu oleh kita semua.
> 
> Rada-radanya sudah agak mangarucuik ko, rancak ibu pacapek seminar tu....! 
> Terima Kasih ~ Billahitaufiq wal hidayah.
> 
> 
> Wassalam,
> 
> 
> Ambiar Lani,
> L/59/Jkt-Bekasi    
> 
> ________________________________
>  From: Dr Saafroedin Bahar <saafroedin.bahar@...>
> To: Rantau Net Rantau Net <[email protected]> 
> Sent: Tuesday, November 22, 2011 7:31 AM
> Subject: Re: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan 
> obatnya.
>  
> 
> Pak Ambiar, Rina, saya tak berkeberatan jika istilah 'padangitis' dan 
> 'minangitis' -
> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
> ________________________________
> 
> From:  Arina Widya Murni <arina_widya_murni@...> 
> Sender:  [email protected] 
> Date: Tue, 22 Nov 2011 07:30:09 -0800 (PST)
> To: <[email protected]>
> ReplyTo:  [email protected] 
> Subject: Re: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan 
> obatnya.
> 
> Assalamu'alaikum pak anbiar..
> Jadi seru juga nih topik padangitis, jujur ambo setuju jo pandapek bapak, 
> bahaso kito labiah ancak baliak ka pemahaman ttg gangguan psikosomatik 
> daripado mambangkik an baliak istilah nantun,  karano pemahaman nan muncul 
> bisa macam macam
> Demikian, wassalam
> Arina,41th, padang  
> 
> ________________________________
>  From:  Ambiar Lani <rang_kito@...>; 
> To:  [email protected] <[email protected]>; 
> Cc:  "[email protected]" <[email protected]>; 
> "mochtarnaim@..." <mochtarnaim@...>; amri aziz <amri.aziz@...>; andi ko 
> <andi.ko.ko@...>; taufiq rasjid <taufiqrasjid@...>; ermansyah jamin 
> <hann.jamin@...>; "gebuminangpusat@..." <gebuminangpusat@...>; k suheimi 
> <ksuheimi@...>; zulhendri chaniago <zulhendri_a290@...>; Riri Chaidir 
> <riri.chaidir@...>; refrizal <refrizal2006@...>; "amboaini@..." 
> <amboaini@...>; asril tanjung <menaragading@...>; Rantau 
> <[email protected]>; saaf10leo@... <saaf10leo@...>; ambiar lani 
> <rang_kito@...>; 
> Subject:  Re: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan 
> obatnya. 
> Sent:  Tue, Nov 22, 2011 3:08:48 PM 
>  
> 
> Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
> 
> Pak Saaf nan ambo hormati sarato para dunsanak nan kami cintai.
> 
> Menurut hemat kami persoalannya bukanlah terletak pada suka atau tidak suka 
> kelemahan atau kekurangan dari kita sebagai suku bangsa diungkapkan secara 
> terbuka dan ilmiah. Tapi sekali lagi masih menurut hemat kami nan paralu kito 
> hindari basamo-samo adalah meng-stigmanisasi fenomena gejala gangguan 
> psikologis atau dengan sebutan yang lebih spesifik gejala gangguan 
> psikosomatik tersebut dengan penyebutan sebagai Padangitis atau Minangitis, 
> yang nota bene tentu tidak akan mendatangkan keuntungan apa-apa bagi kita 
> bersama, dan mungkin malah akan mendatangkan sebuah kerugian sosial yang 
> tidak terperkirakan. 
> 
> 
> Oleh sebab itu menurut hemat kami akan tetap lebih baik dan objektif apabila 
> gejala gangguan kejiwaan tersebut disebut saja fenomena gangguan psikologis 
> dan atau fenomena gangguan psikosomatik. Disamping istilah atau penyebutan 
> seperti ini bersifat umum, kan juga sudah merupakan penyebutan yang bersifat 
> baku dan standar serta juga sudah dikenal dengan luas. 
> 
> Syukran katsira ~ Billahitaufik walhidayah
> 
> Wassalam,
> 
> Ambiar Lani,
> L/59/Jkt-Bekasi
> ________________________________
>  From: Dr Saafroedin Bahar <saaf10leo@...>
> To: roestam hamsyal <hamsyal48@...>; Rantau Net <[email protected]> 
> Cc: Ambiar Lani <rang_kito@...>; "[email protected]" 
> <[email protected]>; "mochtarnaim@..." <mochtarnaim@...>; amri aziz 
> <amri.aziz@...>; andi ko <andi.ko.ko@...>; taufiq rasjid <taufiqrasjid@...>; 
> ermansyah jamin <hann.jamin@...>; "gebuminangpusat@..." 
> <gebuminangpusat@...>; k suheimi <ksuheimi@...>; zulhendri chaniago 
> <zulhendri_a290@...>; Riri Chaidir <riri.chaidir@...>; refrizal 
> <refrizal2006@...>; "amboaini@..." <amboaini@...>; asril tanjung 
> <menaragading@...>; Rantau <[email protected]> 
> Sent: Tuesday, November 22, 2011 12:09 AM
> Subject: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan 
> obatnya.
>  
> 
> Assalamualaikum ww para Sanak sapalanta, 
> 
> Saya percaya bahwa tidak ada orang - atau suku bangsa - yang suka  kelemahan 
> atau kekurangannya diungkap, baik oleh keluarganya maupun oleh orang lain. 
> Sikap itu adalah manusiawi dan dapat difahami. Tentu saja lebih menyenangkan 
> jika yang ditampilkan adalah kekuatan dan kelebihan kita.
> 
> Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan atau 
> kekurangan yang benar-benar ada pada diri kita atau pada kelompok kita. 
> 
> Rasanya ada dua pilihan, yaitu 1). 'dilampok' saja, seakan-akan hal itu tidak 
> ada; atau 2) dihadapi secara lugas, dicari akar penyebabnya, dan seiring 
> dengan itu dicarikan cara mengatasinya. Kalau saya tidak salah, cara yang 
> kedua ini lazim dipakai di kalangan kedokteran, yang lazimnya meminta data 
> pasien berupa anamnesa, untuk kemudian didiagnosa, dibuatkan prognosa dan 
> terapinya ( maaf kalau keliru.)
> 
> Dalam hubungan ini tidaklah heran, bahwa lumayan banyak pengarang yang 
> mempunyai latar belakang dokter yang tertarik pada masalah kemanusiaan dan 
> kebudayaan , baik masalah kemanusiaan dan kebudayaan pada umumnya, maupun 
> masalah kemanusiaan dan Kebudayaan dari  golongannya sendiri pada 
> khususnya. 
> 
> Saya melihat ada kepekaan seperti itu di kalangan sebagian dokter Minang. 
> Berbeda dengan kecenderungan para Pujangga Baru dalam tahun 1930-an  yang 
> mengeritik budaya Minang dengan keras, kelompok dokter ini lebih tertarik 
> untuk meneliti - bukan untuk mengeritik - satu fenomena psikologis, mungkin 
> lebih tepat jika disebut sebagai fenomena psikosomatik yang khas terdapat 
> pada suku Minang. Kalau saya tak salah ingat, mungkin Dr Mohammad Amir di 
> Medan, seorang Minang, yang pertama kali menengarai adanya gejala 
> psikosomatik yang kemudian dinamakannya sebagai 'padangitis' atau 
> 'minangitis' itu. Istilah yang sama kemudian dipakai oleh Prof Dr Tan 
> Pahlawan, yang melihat gejala yang sama pada pasien orang Minang di RS Dr 
> Tjipto Mangunkusumo di Jakarta dalam tahun 1950-an.
> 
>  Sanak Taufiq Rasyid mencatat bahwa istilah itu memang ada dan dipakai dalam 
> tahun 1970 - 1980-an untuk menerangkan gejala kejiwaan orang Minang 
> pasca-PRRI. Dengan kata lain, gejala psikologis yang disebut sebagai 
> 'minangitis' atau 'padangitis' itu bisa terlihat secara individual atau 
> secara kolektif.
> 
> 
> Saya kurang tahu apakah ada gejala psikologis sejenis pada suku-suku perantau 
> lainnya, seperti Bugis, Madura, atau Batak. Ada atau tidak ada, rasanya 
> gejala psikologis yang kelihatannya banyak diidap oleh kita orang Minang, 
> layak untuk diteliti dan dikaji secara ilmiah, setidak-tidaknya untuk 
> menambah pengetahuan dan wawasan kita.
> 
> Saya sangat menghargai adanya semangat ilmiah yang kuat pada dr Rina di 
> Padang, yang berkebetulan profesi beliau memang seorang dokter psikosomatik. 
> Dr Rina tertarik pada fenomena penyakit maag yang diidap pasien-pasien beliau 
> orang Minang, yang setelah diperiksa kemana-mana ternyata tidak jelas 
> penyebabnya. Sebagai seorang ilmuwan, Dr Rina ingin mencari akar penyebabnya 
> agar dapat dilakukan pencegahan dini. Saya sangat menghargai semangat beliau 
> sebagai ilmuwan, yang merencanakan pertemuan ilmiah di Padang bulan Februari 
> 2012. Saya telah mendaftar untuk ikut 'nguping' dalam pertemuan tersebut. ( 
> Mungkin Sanak Taufiq Rasyid, pak Ambiar Lani, pak Roestam Hamsjal, pak Farhan 
> Moein Dt Bagindo, pak Azmi Dt Bagindo, dan - last but not least - pak Mochtar 
> Naim juga berminat 'nguping' bersama mendengarkan pembahasan tema yang 
> menarik ini.)
> 
> Saya bergembira, bahwa Trysna Dewi, yang mengaku bukan dokter, ternyata juga 
> berminat pada masalah ini, dan menengarai kemungkinan adanya sebab-sebab 
> kultural dari gejala ini. Saya harap Trysna juga dapat ikut bersama 
> mendengarkan wacana yang mungkin punya dimensi kultural ini.
> 
> Wassalam,
> SB.
> 
> Dikirim dari iPad saya
> 
> Pada 22 Nov 2011, at 09:40, roestam hamsyal <hamsyal48@...> menulis:
> 
> 
> Assm ww bpk/ibu
> >Mengenai istilah Padangitis atau Minangitis harus hati2 karena dapat 
> >menimbulkan persepsi negatif, kalau tidak jelas maknanya jangan dipakai 
> >istilah itu. Ambo sebagai orang minang sangat tidak setuju istilah tsb sebab 
> >konotasinya dapat mengartikan tidak baik. Tks Roestam Hamsyal
> >
> >Dikirim dari iPad saya
> >
> >Pada Nov 22, 2011, at 9:19, Ambiar Lani <rang_kito@...> menulis:
> >
> >
> >Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh,
> >>
> >>
> >>Bung Taufiq sarato Bapak dan Ibu para dunsanak pengunjung palanta nan ambo 
> >>hormati.
> >>
> >>
> >>Labiah kurang ampia samo jo Bung Taufiq, ambo pun buliah dikatokan atau 
> >>dimasuakkan ka dalam kalompok nan kurang mangarati (ataupun mungkin tidak 
> >>mengerti) dengan apa yang disebut dengan istilah Padangngitis atau 
> >>Minangitis itu.
> >>
> >>
> >>Nan ambo ketahui adalah bahwa imbuhan kata itis itu adalah istilah dalam 
> >>ilmu kedokteran. Misalnya; parringitis artinya radang tenggorokan, 
> >>gastritis artinya radang usus dua belas jari, sinusitis artinya radang 
> >>rongga hidung, miningitis artinya radang selaput otak, dan 
> >>seterusnya........ 
> >>
> >>(mohon kepada dunsanak nan baprofesi sebagai dokter atau mendalami ilmu 
> >>kedokteran pengetian istilah yang kami tulis tersebut untuk dikoreksi agar 
> >>menjadi lebih tepat, terima kasih terlebih dahulu)
> >>
> >>
> >>Dalam hal penggunaan kata imbuhan itis (dan ataupun mengadopsi kata imbuhan 
> >>itis) terhadap penyakit sosial di tengah masyarakat, dengan melekatnya dan 
> >>ataupun menyebutkannya untuk dan kepada etnis tertentu seperti Padangitis 
> >>atau Minangitis itu, ambo kiro kepada yang pertama kali menggunakan istilah 
> >>ini perlu kita minta dan kita beri kesempatan untuk menjelaskan dan 
> >>menafsirkannya secara ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
> >>
> >>
> >>Kalau misalnya yang dimaksudkan dengan Minangitis atau Padangitis itu 
> >>misalnya dengan penyakit sosial sms (susah mancaliak urang sanang ~ sanang 
> >>mancaliak urang susah) di tengah komunitas urang awak, pemalas, ujub (agak 
> >>kurang randah hati), kurang ridha / kurang ikhlas, kurang ramah kepada tamu 
> >>/ kurang menonjol dalam pelayanan dan lain-lain sebagainya, hal sama juga 
> >>ditemui pada etnis atau daerah yang lain. Lantas kenapa kita menggunakan 
> >>kosa kata yang seharusnya kita banggakan itu Minang dan Padang, untuk 
> >>sebuah sebutan yang bersifat penyakit kronis Minangitis atau Padangitis itu?
> >>
> >>
> >>Agak khawatir ambo kalau-kalau kita manapuak aia di dulang ~ mamacik 
> >>(memercik) ka muko awak juo.
> >>
> >>
> >>Menjadi harapan bagi ambo dan mungkin juga dunsanak palanta nan lain, ndak 
> >>usahlah awak manggunokan istilah yang nampaknya diilmiah-ilmiahkan itu, 
> >>tapi tidak dapat dijelaskan secara etimologis dan akademis.
> >>
> >>
> >>Akhirulkalam, mohon maaf kalau ada kurang berkenan atau yang kurang 
> >>terletak pada tempatnya. Billahitaufiq walhidayah.
> >>
> >>Wassalam,
> >>Ambiar Lani,
> >>L/59/Jkt-Bekasi.
> >>________________________________
> >>From: "taufiqrasjid@..." <taufiqrasjid@...>
> >>To: [email protected] 
> >>Sent: Monday, November 21, 2011 3:51 AM
> >>Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo
> >> 
> >>
> >>Ambo indak tau pasti baa nan sabananyo Padangitis iko
> >>
> >>Tapi perkiraan ambo adolah salah satu side effect urang awak nan marasai 
> >>pasca PRRI
> >>Mereka lari ka Rantau dan bertungkus-lumus menuju sukses
> >>
> >>Ketika harapan itu mulai agak terbuka, mereka keburu napsu untuk 
> >>mengaktualisasikan diri
> >>
> >>Akibatnya kondisi yg berangsur lumayan bukan difocuskan untuk meningkatkan 
> >>performance dan asset. Tapi utk remeh-temeh kebanggan diri terutama 
> >>kekampung
> >>
> >>Akibatnya  bisnis mulai goyang, parasaan pun ilang-ilang timbua. Akhirnyo 
> >>stress berat
> >>
> >>Iyo baitu ??
> >>
> >>--TR


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke