5 Agustus 1951 By : Ritrina
"Baa dek itu tanyo Gau Piak?," Gaya khas bicara Papaku yang selalu dikomplen oleh Mama. "Iyo baa ajak no hukum Dago Dagi jo Takabau nan maharuskan seseorang untuak marabahkan sikua kabau dek kesalahan talonsong mangecek sacara kasa ka saurang Datuak Pangulu Suku sudah tu kalo indak dilaksanakan baa lo mudaraik no," jawabku lagi mengulangi pertanyaanku padanya. "Dek alun pernah Den mancaliak laih, indak tantu bana dek Den doh Piak, nan jaleh di kampuang awak itu adolah tabu dikarajoan urang dan juo alun ado takarajoan dek urang salamo angok Den ditampuah angok salamo ko," tegas Papaku lagi. "Tapi ado ciek nan bakasan di Kanagarian awak ko yaitu Ranah Tilatang ko saisuak samaso sabalun taun 1955, bek cah luh, Den caliak catatan Den luh dih," kembali Papa bicara. Selang beberapa saat kemudian. "Aaa.. ko no ah, Aden disalangan Nyiak Datuak Rangkayo Basa sari tantang acara adaik nan cukuik gadang ukatu tun, acara no banamo : "Kebulatan Tekad Karapatan 10 Suku Tilatang" tanggal 5 Agustus 1951. Mungkin pembaca yang belum biasa dengan bahasa Minang apalagi bahasa Minang ala Tilatang yang saya bawakan dengan ayahku ini. Baiknya saya pikir akan saya lanjutkan dengan bahasa saya di perantauan ini saja, biar tidak ada kegelian-kegelian tersendiri dengan bahasa Minang ala Tilatang kami yang lumayan unik ini. Papa menceritakan ketika sebelum masa pergolakan daerah yang terkenal dengan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dimana cerita mengenai hal ini telah saya bersambung sampai 15 bagian di masa terdahulu. Masa sebelum itu penuh dengan gejolak social di tengah masyarakat kampung kami di Tilatang yang menghampar disisi Utara dihadapan Gunung Merapi dan Singgalang kota Bukittinggi Sumatera Barat. Wilayah yang luas dikelilingi oleh rentetan perbukitan dan persawahan yang dikenal dengan nama Bukit Barisan itu penuh dengan lika liku sejarah kehidupan bangsa yang banyak belum terungkapkan secara umum. Salah satunya pergolakan adat yang membuat banyak suku diruntuhkan Datuk Pengulunya secara sah dan dengan cara yang cukup unik. Cukup unik disini barangkali penilaian saya pribadi mengenai peristiwa-peristiwa penurunan Datuk Pengulu tersebut. Cobalah saudaraku sekalian bayangkan, bagaimana mungkin seorang laki-laki dewasa berjalan dari luar kampung masuk ke dalam kampung berteriak-teriak mau meruntuhkan seorang Datuk Pengulu Suku A, dia akan terus berteriak-teriak sekeliling kampung sambil salah satu kaki celananya digulung disinsingkan ke batas lutut. Saya sendiri membayangkan seperti orang gila yang lagi kehabisan obat J. Namun tindakan laki-laki tersebut dibenarkan secara adat dan disahkan oleh Kerapatan Nagari sebagai sahnya runtuh atau gugur Datuk Pengulu sebagai pimpinan suatu kaum keluarga. Padahal penyebab dari peruntuhan tersebut terkadang seringnya oleh dendam atau sakit hati yang tak terbalaskan dari suku yang lain. Sehingga masa sebelum 1951 itu banyaklah Datuk-Datuk yang berguguran kepemimpinannya. Sedangkan untuk mengangkat kembali perlu biaya yang tidak sedikit sebab harus merebahkan kerbau sebagai bantaian pembayar pesta adat pengakatan seorang Datuk dari suku yang diruntuhkan. Para tetua Nagari daerah Tilatang yang terdiri dari 10 suku bersama pemerintahan kala itu merasa hal tersebut tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Maka disepakatilah secara bersama 10 suku daerah Tilatang untuk menghapuskan cara-cara peruntuhan suku secara semena-mena tersebut. Hal tersebut tidak bisa dibenarkan lagi sebagai salah satu acara adat yang sah. Penghapusan acara adat peruntuhan Datuk Pengulu itu dikenal dengan acara "Kebulatan Tekad Kerapatan 10 Suku Tilatang" yang mana acaranya berlangsung di Pekan Kamis Tilatang Kamang tanggal 5 Agustus 1951. Acara pesta adatpun digelar secara besar-besaran karena ada beberapa suku yang telah diruntuhkan Datuk Pengulunya kembali mengadakan acara " Batagak Datuak" atau menaikkan kembali para Datuk yang jatuh di masa lampau. Acara berlangsung meriah seperti halnya acara "Alek Nagari" atau pesta rakyat dimana hidangan makan adalah acara utamanya. Kalo zaman sekarang mungkin tidak terlalu menarik acara makan-makan tersebut tapi di saat kemunduran pangan di tahun awal-awal kemerdekaan kala itu tentunya sangat berkesan bagi rakyat yang telah lama dijajah kesejahteraan dan kemerdekaannya dalam berbagai hal. Acara juga dihadiri pihak pemerintahan seperti Kepala Polisi Sumbar, Gubernur, dan semua Pengulu Adat dari sepuluh Nagari di Tilatang Bukittinggi. Mungkin hanya itulah sedikit cerita mengenai acara adat yang pernah terjadi di kampung saya. Bagaimanakah acara adat yang unik yang pernah terjadi di kampung anda??? Batam, 08 Desember 2011 Wassalam Rina, 34, Batam asal Bukik -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
