Lestarikan Identitas Minangkabau melalui Songket

Padang Ekspres • Minggu, 11/12/2011 08:43 WIB • Gusriyono, Jakarta • 25 klik
Sekitar 50 helai kain songket terbentang dan terpajang di Ruang
Pameran Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan No17, Jakarta,
24 November hingga 4 Desember lalu. Pameran bertajuk Replika dan
Konservasi Songket Lama Minangkabau itu sebagai langkah awal dari
upaya konservasi budaya.

Inovasi menarik, barangkali, beberapa songket yang dipamerkan hasil
adaptasi dari motif pakaian yang terpahat pada patung-patung dari
kerajaan Singasari abad ke 13-14. Motif pakaian pada arca Bhairava dan
Syamatara, koleksi Museum Nasional, Jakarta, serta Shiva-Nandhisvara,
koleksi Museum voor Volkenkunde, Leiden, terlihat memiliki kemiripan
dengan motif kaluak paku, balah kacang, dan tampuak manggih, yang
merupakan motif tradisi Minangkabau.
Songket yang ditenun dengan bahan sutera ulat dan benang Makau ini
mencoba menghubungkan ragam hias Minangkabau dari zaman prasejarah
hingga masa kerajaan Hindu-Budha. Meskipun detail motif mengalami
perubahan, namun secara garis besar, pola dasarnya terlihat sangat
identik.
Selanjutnya, pameran yang diselenggarakan Komunitas Pucuk Rebung ini
memajang 40 helai songket hasil revitalisasi songket lama, lima helai
songket dengan disain kontemporer berbasis tradisi, dan 5 helai
songket dengan motif yang ditransformasi dari motif ukir. Selain itu,
bentuk songket yang dipamerkan pun beragam, seperti selendang,
tingkuluak, balapak, deta, dalamak, ikek dan sarung.Di samping itu,
juga dipamerkan pakaian dan perhiasan sebagai pendamping atau
pendukung penggunaan songket-songket tersebut. Antara lain, baju
kuruang basiba, kodek batik tanah liat, kalung kaban, gelang, dan
sebagainya. Semua songket tersebut produksi Studio Songket
ErikaRianti, yang beralamat di Jorong Panca, Nagari Batutaba,
Kecamatan Ampek Angkek, kabupaten Agam.
Adalah pecinta songket asal Bern, Swiss, Benhard Bart, yang melakukan
penelitian terhadap songket lama Minangkabau sejak tahun 2000. Ia
mendokumentasikan foto-foto dan informasi tentang songket dari
berbagai sumber. Seperti, dari koleksi Museum Adityawarman Padang,
beberapa museum di Swiss, Belanda, Jerman, Malaysia, dan Singapura. Di
samping itu, juga dari koleksi beberapa toko barang antik, kolektor,
serta keluarga yang masih menyimpan songket lama peninggalan leluhur
mereka.
Hingga sekarang, telah terdokumentasi olehnya 1.200 songket lama yang
dapat digunakan sebagai referensi bagi upaya revitalisasi sekaligus
konservasi warisan budaya yang sangat bernilai ini.
Upaya ini tidak dilakukan Benhard sendirian, ia bekerja dengan
dukungan istrinya, Erika Dubler, serta pasangan seniman Sumbar, Nina
Rianti dan Alda Wimar. Mereka kemudian mendirikan studi songket
ErikaRianti pada 2005 lalu, yang dikelola Nanda Wirawan bersama
suaminya, Iswandi. Studio ini menghasilkan penenun-penenun muda
terampil dan kreatif dalam pengerjaan songket.
Studio ini bukan saja sebagai tempat proses kreatif seni tenun, juga
sebagai labor eksperimen untuk melahirkan inovasi-inovasi baru dalam
teknik pengerjaan songket sekaligus sebagai salah satu sarana
pengkajian warisan budaya Minangkabau. Manajemen satu atap diterapkan
dalam proses produksinya. Artinya, hal-hal teknis mulai dari
pengolahan benang, pencelupan warna, mancukie motif, menenun, hingga
finishing, dilakukan dalam satu pengawasan. Sehingga pengontrolan
kualitas pengerjaan pada setiap tahapan proses menjadi lebih mudah.
Arti Penting Songket LamaBagi pria yang lahir 26 Februari 1947 ini,
menghidupkan kembali songket lama Minangkabau itu sangat penting.
Sebab, songket lama Minangkabau yang ditenun ratusan tahun lalu itu
memiliki nilai artistik tersendiri. Baik dari teknik pembuatan,
kekayaan motif maupun fungsi dan kegunaannya. Dalam pengamatannya,
songket Minangkabau salah satu kain tenunan tangan terhalus di dunia.
Selain itu, kata lulusan Sekolah Tinggi Teknik di Burgdof tersebut,
songket Minangkabau tidak hanya tampil sebagai sebuah karya seni
dengan segala keindahan dan kehalusannya. Namun juga sebagai media
komunikasi untuk menyampaikan pesan adat bagi masyarakat Minangkabau.
Motifnya, menjadi simbol dari pandangan hidup orang Minangkabau yang
sarat nilai filosofis. Tidak hanya sekadar hiasan atau ornamen, yang
menampilkan nilai estetika semata.
Lebih jauh diungkapkannya, songket-songket lama yang ditenun para
leluhur orang Minangkabau dengan ragam hias atau motif yang unik
menunjukkan kehalusan cita rasa. Serta, kecerdasan mereka menuliskan
ajaran filosofi dalam bentuk simbol yang ditenun sangat halus, dengan
nama dan makna tertentu. Dari itu, melestarikan motif berarti
melestarikan nilai-nilai kehidupan yang menjadi identitas orang
Minangkabau.
Hal senada diungkapkan Pimpinan Studio Songket ErikaRianti, Nanda
Wirawan, bahwa songket lama Minangkabau itu manuskrip filosofi. Setiap
motif yang terkandung dalam sehelai songket mencatatkan ajaran
filosofi, tata cara, dan pandangan hidup.
Jadi, memiliki sehelai songket bagi sebuah keluarga di Minangkabau,
sudah hampir merupakan sebuah keharusan. Karena songket bukan hanya
sebatas selendang yang disampirkan di bahu atau sebagai penutup
punggung. Lebih dari itu, songket merupakan pakaian yang menyertai
peristiwa-peristiwa adat yang tidak bisa lepas dari kehidupan
masyarakat Minangkabau.
Sebagai benda adat, ulasnya, songket menjadi media untuk menyimpan
pesan bermuatan falsafah alam yang tersirat secara simbolis dalam
setiap motifnya. Motif-motif yang dibuat dengan unik dan cerdas sangat
memungkinkan kesinambungan nilai-nilai tradisi yang dianut masyarakat
Minangkabau tetap terjaga. (*)  [ Red/Redaksi_ILS ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=18795

-- 



Wassalam
Nofend/35 CKRG

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke