Nakan Afda sarato  Sanak Sa Palanta Nan Ambo hormati

Sarupo kito ketahui, pembentukan koridor-koridor ekonomi nan anam ko ko
merupokan strategi pengembangan wilayah nan ditetapkan dalam Master Plan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 nan
dicanangkan Presiden SBY pada Mei 2001, sebagai pelengkap Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Pemerintah Pusat. Dengan demikian yang
memutuskan suatu daerah masuak koridor ekonomi Sumatra ko hampie sapanuahnyo
barado di /merupakan domain pemerintah pusat, sesuai jo konsep visi sarato
misi MP3EI ko.

Sarupo dijalehkan Pamarentah, melalui MP3EI ko, Indonesia ka manjadi negara
10 besar dunia pada 2025 dan enam besar pada 2050.

Sesuai jo paparan Kementerian Koordinator Perekonomian sarupo dikutip
Kompas.com s 3 November 2010 *] dissabuikkan baraso dua dari enam koridor
ekonomi yang akan dikembangkan adalah Koridor Sumatera Timur-Jawa Barat Laut
serta Koridor Pantai Utara Jawa. 

Koridor Sumatera Timur-Jawa Barat Laut meliputi tujuh titik utama, yakni
Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, (Bandar) Lampung, Serang, dan Jakarta.
Adapun Koridor Pantai Utara Jawa memiliki empat titik utama, yakni Jakarta,
Bandung, Semarang, dan Surabaya (Kompas.com, 3 November 2010).

Master plan koridor Sumatera meliputi antara lain pembangun megaproyek
jaringan rel kereta api lintas Sumatera, perluasan pelabuhan laut sepanjang
pantai timur Sumatera dari Aceh hingga provinsi Lampung.

Masih manuruik Kompas.com,  ado sekitar 44 proyek yang ditawarkan kepada
para investor untuk Koridor Sumatera Timur-Jawa Barat Laut dan 65 proyek
lainnya untuk Koridor Pantai Utara Jawa. Pengerjaannya akan dibagi dalam dua
periode, yakni 2010-2014 serta 2015-2025.

Walaupun  Padang, Bengkulu, Sibolga dan kota-kota di pesisir Barat Sumatra
nanti akan diinterkoneksikan  dengan kota-kota di titik koridor Timur
(khusus Padang akan dihubungkan dengan Pekanbaru melalui jalan tol yang akan
dibangun oleh investor dari Korea), berada di luar koridor ekonomi--paling
tidak dalam jangka pendek-- Sumatra Barat dirugikan, yakni tidak menjadi
prioritas pemerintah dalam pembangunan infrastruktur (pelabuhan, jalan,
jembatan, jaringan kereta api, listrik, telekomunikasi, air, sanitasi dan
lain-lain).

Hal ko taraso bana katiko suliknyo Pemprov mengatasi dilemma yang timbul
dari kasus hampir ambruknya jembatan Pasa Usang di jalur Padang-Bukittinggi
yang sangat strategis itu. 

Nmun dalam jangka panjang ceritanya mungkin saja berbeda. So what?

Tidak sukar untuk memahami, bahwa MP3EI yang sangat berorientasi pertumbuhan
(tinggi) ini, merupakan pembangunan yang "beridelogi pasar" (penghalusan
dari istilah neoliberalisme), pembangunan yang tidak ada kaitannya dengan
pemerataan atau demokratisasi ekonomi sebagai mana yang diamanatkan oleh
konstitusi RI serta "last but not least", bernuansa pencitraan.

Apakah MP3EI ini akan berhasil atau meleset dari sasaran yang ditetapkan
yang kedengarannya sangat ambisius: menjadikan Indonesia negara 10 besar
dunia pada 2025 dan enam besar pada 2050 hanya waktu yang akan membuktikan

Berhasil atau meleset, selalu ada harga yang harus dibayar suatu wilayah
dengan pertumbuhan tinggi yang prosesnya diserahkan kepada mekanisnya pasar:
ketidakmerataan pendapatan, marginalisasi masyarakat adat dan
kerusakan/kehancuran lingkungan.

Dengan segala kedaifan saya, saya percaya, dengan atau tanpa MP3EI,
perekonomian Sumatra Barat tetap dapat tumbuh secara berkeadilan--sesuai
dengan visi pembangunan yang dicanangkan Pak Gubernur--dengan cara yang
sesuai dengan budaya, karakter serta kearifan dan sistem nilai masyarakat
adat Sumatra Barat sendiri. Ada tiga syarat penting di sini: pimpinan daerah
yang visioner, penguatan (kembali) masyarakat sipil melalui peningkatan
kapasitas nagari-nagari serta dukungan pemikiran, dana serta aksi nyata para
perantau sarupo nan dirintis Gebu Minang,  YPRN/LPM Marapalam, MPKS dan
MAPPAS.

Tentu tidak perlu dikatakan bahwa untuk melakukan hal itu tidak semudah
membalikkan telapak tangan.

Dan kalau gagal, Sumatra Barat/Minangkabau nantinya bisa tinggal nama atau
catatan sejarah belaka.

Wallahualam bissawab

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 68+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok
Alam Takambang Manjadi Guru

*]
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/11/03/13373416/Inilah.Koridor.Eko
nomi.Indonesia

==================

Re: [R@ntau-Net] Kutipan Hari Ini 
Posted by: "Afda Rizki" [email protected] 
Thu Dec 15, 2011 6:39 pm (PST) 

Maaf Mamanda,

Ambo kurang obeh jo masalah koridor ekonomi ko. Apokah domain memutuskan 

suatu daerah masuak koridor ekonomi sumatra ko ado di pemerintah pusat 

sajo, atau lewat lobi-lobi dari pemerintah daerah dan wakil-wakil daerah 

(DPD) di pusat?

Mohon pencerahan .....

Salam hangat,

Afda Rizki Piliang

Lk/33/BL

On 12/16/2011 9:33 AM, Darwin Bahar wrote:

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke