Assalamualikum ww.
Ibu2, Bapak2, Mamak2 Dan Dunsanak Palanta nan Ambo hormati.
Beberapa Hari nan lalu, ado topic yang membahas tentang kebiasaan makanan urang
awak yang sangat berpotensi menimbulkan berbagai jenis penyakik. Dari
pengalaman Ambo merawat Ibu di RS Harapan Kita, persentase urang awak terkena
serangan Jantung cukup tinggi. Nan sekamar dengan Ibu Ambo hanya satu diluar
urang awak (Bapak2). Selidik punya selidik, ternyata sang Bapak tadi istrinya
urang awak.
Disamping cerita tentang sakik Jantung, tulisan ini Ambo buek dalam rangka
menyambut Hari Ibu.
Ibuku, Ibu
dari 17 Anak.
Oleh : Reflusmen
Guru SD di Nagari Tanjuang Barulak, Batusangka , Sumatera Barat, lahir 05
Maret 1928, mengajar sejak tahun 1946 satu tahun setelah Indonesia Merdeka.
Wafat jam 06.00 tanggal 06 Juni 2006 setelah sholat subuh terkena serangan
jantung, mukena masih menempel di badannya.
Ibu pertama kali kena serangan jantung tahun 1998 di Tanjung Pinang saat
menghadiri pernikahan sepupuhku. Disinyalir karena Ibu di atas Kapal
(Pekanbaru-Tanjung Pinang) makan rendang hati yang dibawahnya dari kampung,
buah tangan tambahan lauk untuk di pesta.
Dalam kondisi tak sadar, Ibu dibawah ke RS Harapan Kita dan langsung dapat
pertolongan Dokter tanpa harus antri.
Dari tahun 1998 – 2006, selama delapan tahun, Ibu hanya makan nasih lembek
(bubur) dan makan obat mulai dari 7 jenis sehari. Hebatnya, tanpa rujukan
(nasehat) Dokter, Ibu mengurangi sendiri obat yang dimakannya, terakhir sebelum
meninggal hanya makan obat satu jenis, itupun hanya setengahnya.
Setiap 6 bulan dalam tempo delapan tahun, Ibu bolak-balik Padang – Jakarta
untuk control ke RS Harapan Kita. Beberapa kali beliau datang sendirian naik
pesawat, kami hanya menunggu di Cengkareng.
Ibu nggak takut ?. Ibu kan tidak sendiri, orang itu (sambil menunjuk seseorang
penumpang), tadi Ibu yang bantuin pakai ikat pinggang, dia baru pertama kali
naik pesawat. Terlihat kebanggaan diwajahnya dapat membantu orang lain.
Setiap control, tak lupa Ibu membawa oleh-oleh untuk Dokter Ana yang
merawatnya. Ibu lebih hebat dari saya !. Mengurangi sendiri obat yang dimakan,
kata Dokter Ana sambil mereka berpelukan. Tak ubahnya seperti seorang Ibu dan
anak kandungnya. Dokter Ana, terima kasih atas perhatian Bu Dokter yang merawat
Ibu kami dengan penuh kasih sayang.
Dihari Ibu meninggal, setelah berpisah selama 32 tahun (aku meninggalkan
kampuang tahun 1974), baru pertama kali kami berkumpul 17 bersaudara yang
datang dari Banjarmasin, Surabaya, Semarang, Taksimalaya, Duri, Padang, Jakarta
dan Tangerang, merantau, mencari sesuap nasi, seperti orang Minang pada
umumnya. “Sayang di anak dilacuiti, sayang di kampuang ditinggakan. (Sayang
pada anak dipukuli, sayang pada kampung ditinggalkan)
Tujuh belas (17) bersaudara ? Ibuku istri kedua, melahirkan 14 dan saat ini
saudara se Ibu ada 9 ditambah 8 dari Ibu pertama. Ayah menikah dengan Ibu,
tahun ke 2 setelah menikah dengan istri pertama. Ayahku juga tak kalah hebat,
bisa dapat dua anak dalam satu tahun, satu dari Ibuku, satu dari Ibu Tua.
Ayah Poligami ?. Punya Ibu 3 atau 4 nggak apa-apa, asal hubungan kita seperti
ini, begitu statement kakak tertua, karena kekompakan kami.
Herannya, tak satupun dari kami yang mengikuti jejak Ayah.
Mungkin karena bukan zamannya ya !
Setelah Ibu Pertama meninggal tahun 1980, sejak itu kami tujuh belas bersaudara
hanya punya seorang Ibu. Kalau kami ditanya, nomor berapa dari saudara se Ibu
?. Aku harus berpikir dulu untuk menjawab, karena aku selalu memperkenalkan
diri, anak ke 9 dari 17 bersaudara, begitu juga dengan saudaraku yang lain.
Waktu kedua Ibu masih hidup, kami bebas mau makan dimana, dirumah Ibuku atau di
rumah Ibu Tua.
Hal lain yang sangat kukagumi dari Ibu adalah hubungannya dengan menantu, baik
mantu laki maupun mantu perempuan, semua rebutan untuk duduk disamping Ibu
sambil berpelukan dan tertawa-tawa karena Ibu selalu bercerita hal yang
lucu-lucu, tak sekalipun kami mendengarkan curhat atau keluhan darinya.
Suatu ketika disaat kumpul-kumpul mudik lebaran, salah seorang menantu lelaki
(kawin dengan Saudara perempuan, anak Ibu Pertama) sambil memeluk Ibu, beliau
bertanya. Ibu !. Siapa menantu yang paling Ibu sayangi ?. Ibu nggak punya
menantu, kalian semua adalah anak Ibu. Begitu jawaban Ibu. Iparku hanya
mesem-mesem dan memperkuat pelukannya.
Saat kami mudik lebaran, pagi-pagi Ibu sudah menyiapkan makanan, sementara kami
anak dan cucu masih tertidur. Ayo bangun…. Bangun….makan…. makan…… begitu
biasanya Ibu berteriak. Disaat itu,kami sering ngeledek beliau sembari tertawa.
Kok Ibu nggak marah sich !. Dulu waktu kami masih kecil, Ibu sering marah-marah
saat kami makan. Ingat….ingat….., makan sedikit-sedikit biar nasinya bisa
habis, sambil mencolek sepotong telor yang dibagi delapan.
Waktu berpamitan untuk kembali ke rantau, Ibu selalu memberi uang kepada anak
dan cucunya. Aku selalu merengek, Ibu !, minta piti tuk beli minyak. Ini
sengaja kulakukan, sebelum Ibu bertanya. Lai ado piti tuk beli minyak ?. Ibu
memberikan piti dengan muka berseri-seri, terlihat kebanggaan diwajahnya,
terobati rindunya dikunjungi anak,menantu dan cucu.
Setelah Ibu meninggal, setiap lebaran, aku iri, sedih, melihat dengan pandangan
kosong kesibukan orang pulang kampong, hal rutin yang kulakukan selama ini di
saat ibu masih hidup. Sekarang mau mudik kemana ???????
Untuk Almarhum Ibuku : Hajjah Marliah.
Wassalam
Reflus/L 54 tahun.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/