Assalamualaikum, wr.wb.

Dusanak sapalanta yang di rahmati Allah,

Sebuah tulisan yang dikutip dari milist sebelah.

JIKA ALLAH YANG MERESTORASI (MEMULIHKAN)

By DEKA

Banyak diantara kita yang mengira bahwa iman, taqwa, ihsan, ikhlas, sabar, 
bahagia, khusyuk, dan beberapa terminologi lainnya dalam agama islam, seperti 
zuhud, ikhbat, wara', raja', istiqamah, tawakkal, ridha, syukur, tawadhu', 
azam, mahabbah, musyahadah, mukasyafah, musyahadah, hayat, ma'rifat, fana, 
wujud, dan lain-lain sebagainya adalah ilmu yang bisa dipelajari melalui 
buku-buku maupun melalui ceramah-ceramah agama. Makanya umat islam seperti 
berusaha untuk membeli berlemari-lemari buku, dan menghadiri berbagai pengajian 
serta ceramah seperti tak henti-hentinya. 
 
Kelihatan sekali kita umat islam ini sibuk dan ramai mencari sesuatu yang belum 
ketemu. Entah apa yang kita cari.

Padahal sebenarnya banyak sekali terminologi dalam agama islam ini yang 
berkenaan dengan keadaan atau suasana didalam diri kita sendiri. Yaitu keadaan 
atau suasana jiwa kita, keadaan dada kita, keadaan hati kita sebelum, sedang, 
dan sesudah kita melakukan sebuah aktifitas agama (syariat). Tidakkah aktifitas 
shalat itu mudah sekali kita lakukan?. Puasa dan dzakatpun pada tatanan 
tertentu sangat mudah kita laksanakan. Begitupun menunaikan ibadah haji. 
Apalagi kalau hanya sekedar menyebut nama Allah dan kalimat-kalimat thayyibah 
(baik) lainnya. Sama mudahnya.

Tetapi masak sih agama islam itu hanya begitu-begitu saja. Mungkinkah dulu 
Rasulullah akan berhasil mengislamkan dan mengimankan bangsa Arab jahiliyah 
saat itu, kalau kualitas beragama yang Beliau sampaikan hanya seperti yang kita 
sampaikan dan lakukan sekarang-sekarang ini?. Bukankah dengan cara-cara seperti 
yang kita lakukan sekarang ini malah membuat umat islam ini terpecah-pecah jadi 
nggak karuan?. Padahal dulu Beliau berhasil merubah sebuah kaum, bangsa, dari 
bangsa yang berada dalam masa kegelapan dan keterpurukan yang amat sangat 
menjadi umat yang terbaik yang pernah hidup dimuka bumi ini.

Saat itu ditengah-tengah panas terik cahaya matahari gurun yang memanggang 
kulit, bangsa arab malah seperti hidup dalam keadaan gelap gulita yang terus 
menerus. Cahaya matahari itu seperti tidak berhasil menembus hati mereka, 
sehingga hati mereka tetap gelap gulita.

Tapi cukup dengan hanya sebuah peristiwa, yaitu peristiwa di Gua Hira', maka 
penduduk Mekkah seperti mulai mendapatkan sinar matahari yang menerangi 
jalan-jalan yang akan mereka lalui. Ada cahaya yang menerangi batin mereka. 
Sehingga dengan pasti merekapun seperti menjalani sebuah destiny mereka untuk 
menjadi umat yang terbaik.

Ketika di Gua Hira' tersebut, Beliau dituntun oleh Malaikat Jibril untuk 
membaca "sesuatu": "Iqraa ya Muhammad…, bacalah ya Muhammad…!". Beliau 
menjawab: "Ma ana bi qari…, saya nggak bisa baca…, apa yang harus saya baca…, 
saya nggak ngerti?. Berkali-kali Beliau disuruh membaca oleh Jibril, dan 
berkali-kali pula Beliau hanya menjawab bahwa Beliau tidak tahu apa yang akan 
dibaca. Sebab didepan Beliau hanya ada keadaan yang gelap gulita dengan sedikit 
cahaya dari kerlap-kerlip bintang dilangit.

Iqraa' bismirabbik…, bacalah dengan nama Tuhanmu…!. Bacalah…

Lalu Beliaupun memanggil nama Allah…!.

Ya Allah…,

Ya Allah…, lalu dengan seketika itu juga terbentuklah sebuah TALI hubungan 
batin yang sangat rahasia antara Beliau dan Allah. Batin Beliau seperti dibuka 
oleh Allah untuk menerima seuntai TALI yang dijulurkan oleh Allah sendiri. 
Nantinya tali itu akan berfungsi sebagai sarana bagi kedua batin itu untuk 
saling membawa dan mengantarkan informasi.

Karena Beliau memang seorang manusia yang agung, diri yang dipilih oleh Allah 
sendiri untuk menyampaikan ayat-ayat Allah kepada seluruh umat manusia, maka 
Allah sendiri pulalah yang membuat tali penghubung antara batin Beliau dengan 
Allah itu. Akibatnya, melalui tali itulah Beliaupun dengan deras menerima 
berbagai informasi yang memang seharusnya diketahui oleh seluruh umat manusia.

Melalui tali antara dua batin itu, maka kemudian mengalirlah sebentuk vibrasi 
atau daya yang tidak terbaca oleh hati yang gelap. Daya yang tak terbaca oleh 
Iblis. Daya atau vibrasi itu hanya akan terbaca oleh hati yang bening seperti 
hati yang dimiliki oleh Beliau. Proses mengalirnya informasi dan kepahaman dari 
Allah kedalam dada Beliau inilah yang disebut juga sebagai Wahyu, atau Ilham.

Begitu vibrasi itu turun, tubuh Beliaupun bergetar hebat. Tapi bergetarnya 
tubuh Beliau itu hanya sebagai pertanda awal saja bahwa, setelah itu, sebuah 
informasi penting siap untuk diturunkan Allah melalui Tali penghubung antara 
kedua batin yang saling mencintai itu tadi.

Lalu beberapa saat kemudian, sejumput Daya vibrasi yang sangat lembut yang 
membawa kepahaman, yang membawa kemengertian, yang membawa pengetahuan, yang 
membawa keadaan saat awal penciptaan awal manusia di dalam rahim ibupun turun 
memasuki dada Beliau. Malaikat Jibrilpun hanya tinggal menuntun Beliau untuk 
membahasakan Wahyu Pertama itu kedalam bahwa Arab. Bahasa kaum Beliau dimana 
Beliau akan memulai tugas Beliau sebagai Rasulullah. Beliau dituntun untuk 
membahasakan wahyu pertama itu menjadi beberapa ayat didalam surat Al `Alaq.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

(QS Al `Alaq 1-5)

Begitulah, salah satu diantara beberapa cara, turunnya setiap Pengajaran dan 
Perintah dari Allah kepada Beliau untuk dipakai oleh seluruh umat manusia untuk 
menyelesaikan urusan-urusan mereka, atau segala informasi yang akan berguna 
untuk kebaikan hidup seluruh suku dan bangsa. Memang ada beberapa lagi cara 
Beliau menerima Pendidikan dan Pengajaran dari Allah. Tapi itu bukan menjadi 
sesuatu hal perlu dibahas disini.

Dengan turunnya Wahyu Pertama ini, maka metoda pengajaran Allah kepada Beliau 
kembali mengikuti cara-cara seperti yang pernah dialami oleh Nabi-Nabi dan 
Rasul-rasul sebelum Beliau. Dan dengan metoda seperti ini pulalah kelak Allah 
akan mengajari seluruh umat manusia setelah Beliau wafat. Yaitu melalui bahasa 
ilham. Bahasa wahyu yang langsung diturunkan Allah kedalam dada setiap umat 
manusia.

Atau, bahasa Allah itu bisa pula terlebih dahulu diawali dengan sebuah tabir 
(tanda) yang diperlihatkan oleh Allah, dimana dengan tabir itu sebenarnya Allah 
sedang menyampaikan sebuah informasi yang baik ataupun yang buruk kepada umat 
manusia. Atau, bisa pula Allah mengutus seseorang yang sebelumnya telah diberi 
pengertian dan pemahaman terlebih dahulu melalui wahyu atau ilham seperti 
diatas untuk kemudian dia tinggal hanya menyampaikannya kepada orang-orang yang 
sama-sama mau belajar dan memahami tentang hal yang sebenarnya.

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia 
kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus 
seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia 
kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (As Syuura 51).

Dengan cara seperti inilah Allah akan mengajarkan umat manusia yang bersedia 
untuk diajari Allah tentang keadaan yang sebenarnya dari: iman, taqwa, ihsan, 
ikhlas, sabar, bahagia, khusyuk, dan beberapa terminologi lainnya dalam agama 
islam, seperti zuhud, ikhbat, wara', raja', istiqamah, tawakkal, ridha, syukur, 
tawadhu', azam, cinta, mahabbah, musyahadah, mukasyafah, musyahadah, hayat, 
ma'rifat, fana, wujud, dan lain-lain sebagainya.

Yaitu melalui tali yang menghubungkan dua batin. Melalui tali itulah Allah 
menurunkan vibrasi pengajaran-Nya kepada orang-orang yang bersedia untuk 
menyediakan batinnya untuk dihubungkan dengan batin Allah.

Tapi, percaya atau tidak, Allah tidak akan mengalirkan informasi itu kalau kita 
tidak punya urusan dengan Allah, dan Allah tidak punya urusan pula dengan kita. 
Allah hanya akan menurunkan ilham tentang serba serbi ketaqwaan itu hanya bagi 
orang-orang yang bersedia untuk menjadi penyampai ayat dan pengajaran Allah 
kepada orang lain disekitarnya. Walau itu hanya sekedar satu atau dua ayat 
sekalipun, itu tidak jadi masalah. Sebab Allah, dengan segala keagungan-Nya, 
selalu mencari dan mencari orang-orang yang mau dan bersedia dipakai oleh Allah 
sebagai alat-Nya untuk menyampaikan pengajaran-Nya dan untuk menjadi agen bagi 
kemaslahatan umat manusia. Siapapun yang bersedia, pasti akan dibantu dan 
dibela oleh Allah. Pasti.

Kalau kita ujug-ujug datang kepada Allah, walau dengan dzikir dan wiridan yang 
sebanyak apapun, Allah tidak akan menurunkan pengajaran-Nya kecuali untuk 
apa-apa yang kita kehendaki ketika kita datang menghadap kepada-Nya. Walau 
dengan zikir atau wiridan itu kita bisa menangis dan tubuh kita bergetar, Allah 
tetap hanya akan memberikan apa-apa yang kita minta didalam doa kita itu 
sekedar apa yang Dia ijinkan. Allah hanya akan memberikan respon-Nya sekedar 
atas apa-apa yang kita niatkan.

Kalau kita menghadap Allah dengan membawa keinginan hawa nafsu kita, maka Allah 
tidak akan memberi yang lain kecuali apa-apa yang berguna untuk pemenuhan hawa 
nafsu kita itu. Dan nanti kita akan semakin diperbudak oleh keinginan 
berikutnya dari hawa nafsu kita itu yang seperti tidak habis--habis. Dalam 
istilah agama islam keadaan seperti ini disebut sebagai ISTIDRAJ. Keadaan 
dimana kita seperti sedang diulur oleh Allah dengan cara kita bisa mendapatkan 
apapun yang kita inginkan. Bisa?. Ya bisa. Karena Allah sendiri menyatakan 
bahwa Dia itu berkenan bersifat dan berbuat seperti apa yang kita pikirkan.

Sebenarnya tugas kita ini mudah saja. Yaitu untuk mengamati batin kita. Kita 
sedang menghubungkan batin kita dengan siapa ataupun apa. Kalau batin kita 
sedang terhubung dengan benda, maka pastilah pembicaraan kita akan selalu 
tentang benda itu. Kalau batin kita sedang terhubung dengan sebuah konsep atau 
persepsi, maka seluruh pembicaraan dan tingkah laku kita pastilah akan 
berkenaan dengan konsep dan persepsi itu. Kalau batin kita sedang menghubungan 
batin kita dengan batin guru kita sekalipun, maka pembicaraan kita pastilah 
akan lebih sering untuk mengagungkan guru kita itu. Kalau batin kita sedang 
kita hubungkan dengan sebuah kitab atau buku, maka seluruh pembicaraan kita 
pastilah akan berkenaan dengan kehebatan kitab atau buku itu.

Lalu hubungan batin kita dengan batin Allah kita jadikan hubungan yang 
keberapa?. Bukankah Allah tidak berkenan untuk dinomorduakan?. Apalagi untuk 
dinomorsekiankan. Akibatnya, karena ketiadaan Tali yang menghubungan batin kita 
dengan Allah, maka maka segera saja batin kita akan terhubung dengan apa-apa 
yang selain Allah. Dan kitapun akan menjadi budak dari apa-apa yang selain 
Allah itu.

Tahu tidak, bahwa akibat yang paling menyiksa sebenarnya adalah ketika kita 
tidak dapat lagi memahami jawaban Allah terhadap apa-apa yang kita lakukan atau 
kita sampaikan kepada Allah. Saat kita shalat, shalat kita hambar dan kosong. 
Saat kita berdo'a, kita tidak bisa lagi paham tentang apa jawaban Allah atas 
do'a-do'a kita itu. Saat kita berucap rabbighfirli, warhamni, wajburni, 
warfa'ni, wardzuqni, wahdini, wa'afini, wa'fuanni, kita tidak paham apa jawaban 
Allah kepada kita.

Bahkan kita juga tidak paham apakah do'a kita itu adalah do'a karena keinginan 
hawa nafsu kita, atau apakah do'a itu karena Allah memang telah BERKENAN atau 
MENGIJINKAN kita untuk segera berdo'a

----
Semoga berkenan. 


Wassalam
Evy Nizhamul
Kawasan Puspiptek Serpong
 
Wassalam
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke