rekan2 sekalian, 
Membaca dan menulis, kita semua telah mengetahuinya dan telah diajarkan sejak 
di sekolah dasar, namun ternyata banyak org yg tak bisa membaca dengan 
sebenarnya, masih banyak org dewasa yg rabun baca, banyak org tak memiliki 
budaya membaca. Sebuah pernyataan yg menyentak yg saya dengar langsung saat 
ngobrol2 dg penulis Gola Gong, saya pun bertanya lebih lanjut mengenai hal tsb, 
akhirnya Gola Gong pun bercerita banyak ttg budaya membaca & menulis yg dikenal 
pula dg istilah budaya literasi, yg masih kurang pada masyarkat kita, padahal 
tsb, salah satu peran penting dalam mewujudkan kemajuan masyarakat/bangsa.
Betapa penting nya membaca, sehingga perintah pertama pada nabi Muhammad yg 
dinyatakan dalam kitab suci al Qur’an, ialah Iqra artinya “Baca lah”, yg 
bermakna tak sekedar membaca, tapi lebih pada proses pemahaman dan penghayatan, 
tentang diri kita sendiri dan alam sekitar dengan segala kehidupan dan 
prosesnya. Orang Minang menyatakan nya dalam pepatah “ Alam terkembang jadi 
guru”, betapa alam yg terkembang, segala sesuatu di sekitar kita, tumbuhan, 
binatang, orang lain, masyarakat, bahkan diri kita sendiri, adalah bagaikan 
guru yg bisa kita ambil pelajaran dari nya. Dan proses itu semua berjalan 
timbal balik dan aktif. Manusia lah yg harus aktif mencari pengetahuan/ ilmu 
untuk memahami nya, bukan sekedar proses pasif, disuapi informasi
Syukur sekali saya bisa bertemu langsung dg penulis Gola Gong, yg jauh2 dari 
banten datang bersilaturahmi ke kampung gurun pasir kami, di Abu Dhabi, minggu 
yg lalu.  Baru pertama kali ini bertemu dengan nya, padahal saya  telah 
mengenal nama tersebut sejak masa remaja saat ia banyak menulis di majalah 
remaja Hai th 80-an. Salah satu novelnya “Balada si Roy”, pasti dikenal org 
muda era thn 80-an. Sanggar membaca rumah dunia yg didirikan  nya, telah 
menginspirasi ribuan taman bacaan masyarakat di seluruh Indonesia.
Berikut cerita lebih lanjut, obrolan Gola Gong ttg budaya membaca, menarik 
sekali, 
Baca selengkap nya, di link berikut ; 
http://hdmessa.wordpress.com/2011/12/28/membaca-dunia/
 
Salam dari gurun pasir Abu Dhabi
HM, 
http://hdmessa.wordpress.com
-------------
Membaca dunia, mencerahkan masyarakat (story of Gola Gong  & Rumah Dunia) 
Usaha meningkatkan budaya literasi masyarakat oleh gola gong dg komunitas baca 
rumah dunia
Saat bermain dg teman2 nya seorang anak kecil terjatuh dari pohon yg tinggi, 
dampaknya sangat parah ia mengalami patah tulang, sampai tangan nya harus 
diamputasi (dipotong). Orang tua mana yg tak sedih melihat anaknya jadi cacat 
kehilangan tangan kirinya. Untuk membangkitkan semangatnya, sang ayah pun 
memberikan buku dan raket badminton pada sang anak, dg harapan ia tak patah 
semangat dan masih bisa berbuat kebaikan mengisi kehidupan nya yg masih panjang 
kelak dg satu tangan nya yg masih ada. Kemudian ia menjadi anak yg senang 
membaca dan bahkan pandai menulis. Walau hanya dg satu tangan ia masih bisa 
main badminton, bahkan jadi pemain badminton yg hebat di daerah nya, tak 
terbayangkan bagaimana ia menjaga kesetimbangan tubuh saat bermain badminton, 
namun terbukti kemudian saat mudanya ia menjadi juara 2 badminton di daerah 
Banten, bertanding dg pemain normal, karena prestasinya ia sempat ikut turnamen 
utk orang cacat (paralympic) dalam level asia
 pasifik, dan menjadi juara pertama. Ia pernah pula melakukan perjalanan 
bersepeda sampai ke Thailand. Walau salah satu tangan nya cacat  tapi ia 
mempunyai tekad dan semangat hidup yg kuat.
Dari buku2 yg diberikan ayahnya ia jadi rajin membaca dan juga pandai menulis. 
Ia jadi penulis handal yg banyak menulis antara lain di majalah remaja Hai di 
tahun 80-an dan banyak buku2 cerita dan novel yg telah ia tulis, antara lain 
novel “Balada si Roy” yg terkenal di tahun 80-an, sehingga ia pun menjadi 
penulis terkenal. Ia sempat pula bekerja di sebuah televisi swasta.
Di tempat tinggalnya ia pun ingin agar anak2 senang membaca pula, karena itulah 
di belakang rumahnya ia mendirikan taman bacaan bagi anak2 masyarakat sekitar, 
itulah yg kemudian menjadi sanggar baca Rumah Dunia, sebuah gerakan 
pengembangan masyarakat yg fenomenal di Serang, Banten yang meng- inspirasi 
tumbuhnya ribuan taman bacaan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.
Sebuah cerita perjalanan hidup anak manusia yg mengharukan, yang saya dengar 
langsung dari orang bersangkutan, yang jauh2 datang bersilaturahmi dari banten 
ke kampung gurun pasir kami di Abu Dhabi ini. Beliau lah Heri Hendrayana yg 
lebih dikenal dg nama pena Gola Gong. Saya telah mengenal nama tersebut saat 
remaja dulu, melalui majalah remaja Hai di tahun 80-an, dan juga berbagai 
tulisan dan buku karyanya, namun baru saat ini di rantau gurun pasir yg jauh 
ini, saya bertemu muka dg beliau, Alhamdulillah.
Ngobrol2 dg beliau, saya tanya, apa sebenarnya tujuan beliau banyak membuat 
taman bacaan yg sepertinya hal sederhana saja. Ia berkata bahwa ia ingin 
mengembangkan budaya membaca dan menulis pada masyarakat. Saya tanya membaca 
adalah kemampuan umum yg diajarkan di sekolah, apa perlunya lagi mengajarkan 
kemampuan membaca dan menulis tsb ?
Ternyata menarik yg dikatakan Gola Gong, bahwa membaca & menulis, kemampuan 
literasi yg dimaksudkan ialah kemampuan dasar manusia untuk bisa memahami 
sesuatu dg baik, mengembangkan persepsi tersendiri dari yg ia fahami tersebut, 
menyampaikan nya (menulis) dan kemudian mewujudkan nya dalam sebuah tindakan 
nyata. Kira2 mirip dg tahapan era informasi ; Data – Information – knowledge - 
action, dimana data/informasi baik berupa buku, alam yg ada disekitar kita, 
atau tingkah laku orang lain, berusaha difahami dg baik. Bila diandaikan 
makanan, informasi “dikunyah” dg baik, dari sana bisa didapatkan pemahaman 
(knowledge) dan penghayatan yg kemudian menjadi dasar tindakan (action) seorang 
manusia.  Jadi budaya membaca / literasi  adalah sebuah proses yg lengkap, tak 
sekedar membaca menyerap informasi belaka, tapi lebih dalam lagi.
Betapa penting nya membaca, sehingga perintah pertama pada nabi Muhammad yg 
dinyatakan dalam kitab suci al Qur’an, ialah Iqra artinya “Baca lah”, yg 
bermakna tak sekedar membaca, tapi lebih pada proses pemahaman dan penghayatan, 
tentang diri kita sendiri dan alam sekitar dengan segala kehidupan dan 
prosesnya. Orang Minang menyatakan nya dalam pepatah “ Alam terkembang jadi 
guru”, betapa alam yg terkembang, segala sesuatu di sekitar kita, tumbuhan, 
binatang, orang lain, masyarakat, bahkan diri kita sendiri, adalah bagaikan 
guru yg bisa kita ambil pelajaran dari nya. Dan proses itu semua berjalan 
timbal balik dan aktif. Manusia lah yg harus aktif mencari pengetahuan/ ilmu 
untuk memahami nya, bukan sekedar proses pasif, disuapi informasi.
Data BPS (2006) menunjukkan, orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan 
informasi baru 23,5 persen dari total penduduk. Sedangkan yang menonton 
televisi sebanyak 85,9 persen dan mendengarkan radio  40,3 persen.  Data itu 
menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia kita lebih suka mendapatkan informasi 
dari media elektronik, terutama televisi. Masyarakat kita berlaku sebagai 
“pembaca pasif” yang mendapatkan informasi dengan tenang mengunyah renyah 
segala persepsi yang dikemukakan di televisi. Sehingga persepsi yang ada dalam 
masyarakat, selalu berdasarkan persepsi dari televisi. Fenomena itu disebutkan 
peneliti Ignas Kleden sebagai kelisanan sekunder (secondary orality). Budaya 
kelisanan sekunder tersebut menggambarkan bahwa kemampuan baca-tulis tidak 
terlalu dibutuhkan karena sumber informasi lebih bersifat audio-visual. Karena 
dalam budaya kapitalis, manusia dianggap sebagai factor produksi, menjadi 
pekerja dan pada sisi lain adalah konsumen
 penikmat produk dan jasa  belaka. Sungguh sebuah degradasi /penurunan dari 
hakekat penciptaan manusia menjadi sekedar komoditas ekonomi.
Dengan kemajuan teknologi informasi  & komunikasi saat ini, dimana internet dan 
alat komunikasi semacam hand phone/smart phone telah menjadi budaya baru, 
ternyata kemampuan membaca tak meningkat juga. Karena walau informasi bertambah 
banyak, tapi informasi tak bisa di olah jadi knowledge / pengetahuan yang 
berharga karena ia tak punya skill mengolah informasi tersebut. Informasi yg 
terlalu berlimpah seperti informasi dari internet dan social network semacam 
facebook, malah membuat manusia kewalahan menampungnya.  Kemajuan teknologi yg 
tak diimbangi dg kemajuan kemampuan membaca perkembangan jaman, tak memberikan 
dampak besar untuk kemajuan hidupnya dan akhirnya hanya membuat orang2 terjebak 
jagi konsumen penikmat informasi belaka. Anekdot sederhananya, bagai orang 
mengeluarkan uang banyak membeli smart phone yg canggih, namun hanya digunakan 
untuk keperluan2 sepele belaka. Hal tersebut bisa dianalogikan bagai orang yg 
membeli mobil mewah Ferrari, tapi
 digunakan untuk mengangkut pasir bangunan dari sungai.
Banyak juga orang yg bisa membaca tapi sebenarnya rabun baca, semisal di suatu 
tempat ada tulisan dilarang parkir tapi tetap saja memarkir kendaraan nya 
disana, ada tulisan di larang masuk, tapi tetap saja masuk. Pada bungkus rokok 
ada tulisan rokok merusak tubuh, menimbulkan penyakit, tapi tetap saja orang2 
merokok, tak mempedulikan tulisan peringatan tersebut. Contoh lain ialah saat 
ada orang lain sedang berbicara, telinganya mendengar, tapi jarinya sibuk 
mengetik sms di hand phone nya. Dan banyak contoh2 lain nya yg menggambarkan 
betapa  orang sebenarnya tahu tapi seperti tak tahu, tak mau tahu, hakikatnya 
ia belum bisa benar benar “membaca”.  Hal itu semua menggambarkan betapa 
kemampuan membaca dalam makna yg lebih hakiki, bukan sekedar membaca tulisan 
belaka, adalah sebuah kemampuan dasar manusia yg penting. 
Kalau kita belajar dari sejarah, para tokoh besar peradaban dunia, adalah orang 
yg banyak membaca, mempunyai budaya literasi yg kuat. 
Gola Gong menyatakan  bahwa, membaca menjadi kebutuhan kita sebagai bangsa. 
“Dulu kita punya semboyan merdeka atau mati. Sekarang kita harus memiliki 
semboyan membaca atau mati. Karena satu-satunya jalan untuk kita bisa bertahan 
sebagai bangsa bila kita memiliki pengetahuan. Pengetahuan itu diperoleh dengan 
membaca. Sama dengan para pejuang negeri ini, mereka sangat gemar membaca. 
Soekarno, Syafrudin Prawiranegara, Mohammad Hatta dan lainnya memiliki budaya 
literasi yang sangat tinggi,” katanya.
Hakikat membaca seperti yg dimaksud dg perintah membaca dalam al Qur’an tsb, 
dan juga membaca alam, dalam pepatah alam terkembang jadi guru, adalah jauh 
lebih bermakna lagi,. Lebih dari sekedar membaca tulisan yg kita fahami selama 
ini dari sekolah. Bisa memahami makna yg tersurat maupun yg tersirat dari 
sebuah tulisan. bisa memahami maksud terselubung dari suatu gejala alam atau 
tingkah laku masyarakat. 
Dalam dunia yg penuh kompetisi seperti saat ini, kemampuan membaca sangatlah 
penting, semisal ; 
Pemain catur , bisa membaca langkah2 lawan nya, ia bisa membaca dua langkah ke 
depan. Ahli politik, pandai membaca situaasi negara dan tindakan2 lawan politik 
nya. Pebisnis atau diplomat ulung, bisa membaca karakter ucapan dan tingkahlaku 
lawan nya dan berbagai contoh kemampuan membaca lain nya.
 
Kemampuan2 itu semua, dimulai dari hal kecil, yaitu membaca buku yang kemudian 
meningkat sampai membaca hal2 yg lebih besar, spt membaca body language  
(bahasa tubuh), membaca gelagat masyarakat, membaca gejala alam, membaca 
rahasia2 alam sampai membaca hakikat penciptaan manusia dan alam ini dimana 
pada ujungnya kita bisa memahami hakikat kehidupan ini.
Orang yg telah mempunyai kemampuan membaca dengan baik, memiliki kemampuan 
menyerap makna tersurat dan tersirat, bisa memahami struktur sebuah system 
dengan baik, akan mempunyai kemampuan berpikir yg terstruktur pula untuk 
menyampaikan pendapatnya, baik dalam bentuk verbal ataupun tulisan. Kemampuan 
membaca dan menulis tersebut, menjadi kelengkapan dari kemampuan literasi dari 
seorang manusia. Masyarakat yg memiliki budaya literasi yg baik, pandai membaca 
dan menulis, akan menjadi masyarakat yg maju.
Produk tulisan, dalam berbagai bentuknya, mulai dari sekedar sms, status di 
facebook, email, tulisan di Koran, sampai berbentuk sebuah buku, adalah 
perwujudan ide dan pikiran manusia yg bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. 
Seperti buku yg akan terus memberi manfaat bagi orang banyak, walau penulis 
bersangkutan telah meninggal dunia. Penulisan sebuah buku adalah juga sebentuk 
amal jariyah, kebaikan social yg terus memberi manfaat bagi masyarakat banyak.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan juga mengajarkan membaca dan menulis, tapi 
sayang lebih pada sisi pasif, dimana manusia seolah2 “disuapi” , “di-isi” 
informasi yg akhirnya bersifat hapalan atau pengetahuan dasar saja, tanpa bisa 
memahami esensi dari ilmu yg disampaikan. Lebih jauh lagi logika kapitalisme 
telah menjadikan sekolah, menjadi institusi bisnis, bagai “pabrik pengetahuan” 
yg menghasilkan para tenaga kerja untuk memutarkan roda2 perangkat  bisnis 
(pabrik, toko, jasa dll ). 
Realita dunia saat ini yang cenderung kapitalis telah membuat masyarakat 
materialis ( kesenangan materi) dan hedonis ( mencari kenikmatan) , telah 
membuat kegiatan membaca dan menulis menjadi kegiatan yg tak popular, tak 
begitu disukai. Mulai dari anak2, orang muda sampai dewasa secara umum lebih 
terpikat untuk menjadi pembaca pasif, menjadi konsumen informasi dan hiburan, 
mulai dari koran, televisi sampai internet. 
Langkah2 nyata utk meningkatkan budaya literasi, budaya membaca dan menulis 
pada masyarakat, seperti yg digiatkan oleh Gola Gong dengan komunitas Rumah 
Dunia nya, adalah sebuah langkah nyata untuk mencerdaskan masyarakat, 
mengembangkan karakter manusia seutuhnya, menambahkan pengetahuan yg tak 
didapatkan di bangku sekolah. Komunitas membaca rumah dunia telah menginspirasi 
tumbuhnya taman bacaan masyarakat di berbagai tempat di negeri ini. Telah 
melahirkan banyak penulis2 baru yang dengan karya tulisan yg mencerahkan 
masyarakat, baik pada tulisan2 di Koran, majalah atau buku2 yg diterbitkan.  
Marilah kita dukung langkah nyata pencerdasan bangsa tersebut yg akan memberi 
kebaikan bagi kita semua dan anak2 cucu kita kelak. Insya Allah semua ini  
adalah juga amal jariyah yg kebaikan nya akan terus mengalir sepanjang masa, 
amien.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke