Empat Langkah Mempelajari Islam yang Kamil [1]

Jangan pernah belajar kepada orientalis. Dan tidak semua orang IAIN ahli fikih 

Oleh: Shalih Hasyim 

MEMAHAMI Islam secara menyeluruh (kamil, mutakamil) adalah penting, sekalipun 
tidak secara terperinci. Kesalahpahaman dalam memahami Islam berefek pada 
kerusakan dalam mengkomunikasikan dan  mengamalkannya pada realitas kehidupan 
pribadi, keluarga, bangsa dan negara. Semakin luas wawasan dan mendalam 
pengalaman ruhani seseorang dalam menghayati dan mengamalkan Islam semakin 
lapang (terbuka) pula dadanya untuk menerima kebenaran mutlak (Hakikah al 
Muthlakah). Sebelumnya diliputi berbagai kegelapan, kesempitan dada,  setelah 
itu berada pada cahaya (keimanan).

Orang-orang jahiliyah dahulu mudah terjangkiti berbagai penyakit moral; molimo 
– lima perbuatan jahat - (mencuri, main perempuan, memakan barang riba, 
membunuh) karena syaraf-syaraf otaknya telah mengalami kerusakan disebabkan 
banyak minum-minuman keras. Kejahatan lain, selain kerusakan pola pikir masih 
mudah untuk diperbaiki. Sebaliknya, menyembuhkan/mendiagnosa penyakit yang 
diakibatkan oleh kerusakan pikiran memerlukan cost yang sangat mahal. Karena, 
orientasi, cara berpikir dan cara pandang adalah titik tolak (dasar berpijak)  
aktifitas seseorang.

Demikianlah cara yang paling minimal untuk berinteraksi dengan agama Islam agar 
menjadi pengikut Islam yang komitmen, konsisten dan konsekwen.

Guna menghindari kesalahpengertian, kerancuan dan stigma negatif terhadap 
keunggulan Islam, maka untuk memahaminya secara benar dan lurus perlu ditempuh 
lima cara-cara berikut:

Pertama, Islam harus dipelajari dari sumbernya yang masih orisinil dan otentik.

Yang wajib dipelajari adalah Al-Quran dan As Sunnah. Al-Quran adalah firman-Nya 
yang suci, dan As Sunnah adalah firman-Nya yang kedua, sekalipun redaksinya 
bersumber dari Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  
al Ma’shum. Umat Islam yang hidup pada masa keemasan Islam, merekalah yang 
teruji otoritas keilmuannya, paling bersih hatinya, paling sedikit neko-nekonya 
(sikap kepura-puraannya), mereka berada pada petunjuk yang benar, mereka yang 
dipilih oleh Allah SWT untuk menemani Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam 
(صلى الله عليه و سلم) .

Karena itulah, Allah SWT langsung menjaminnya ke dalam surga.

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ 
اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ 
لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ 
الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan 
Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah 
ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi 
mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. 
mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah (9) : 
100).

Di antara kekeliruan memahami Islam adalah orang hanya mengenalnya dari 
sebagian ulama dan pemeluk-pemeluknya yang telah jauh dari pimpinan Al-Quran 
dan As Sunnah. Atau proses pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan tasawuf 
dengan berbagai bid’ah dan khurafat yang muncul bersamanya.

Mempelajari Islam dengan cara demikian menjadikan orang tersebut sebagai 
pemeluk Islam singkritisme, hidup penuh bid’ah dan khufarat, yakni ibadah dan 
kepercayaannya bercampur aduk dengan hal-hal yang tidak islami (dhannul 
jahiliyah, hukmul jahiliyah, hamiyyatul jahiliyah, tabarrujul jahiliyah, dakwal 
jahiliyah, syakwal jahiliyah),  jauh dari ajaran Islam yang murni dan lurus.

Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial 
(sebagian-sebagian)

Apabila Islam dipelajari secara sebagian saja dari ajarannya (kulitnya), bukan 
pokoknya (ushul), dan dalam bidang khilafiyah (yang diperselisihkan) (furuiyah, 
cabang-cabang agama), tentu pemahaman keislamannya sangat dangkal.

Bukankah dari sisi kulitnya saja, Islam sekarang ini telah dicabik-cabik? 
Apalagi isinya.

Efeknya, ia akan bimbang terhadap hal-hal yang nampaknya antagonistic. Akhirnya 
bersikap ekstrim dalam beragama. Baik ekstrim kanan, maupun ekstrim kiri. 
Misalnya, bersikeras dengan masalah furuiyah dan toleran dengan persoalan 
ushul. Pemahaman Islam secara parsial juga akan membawa akibat seperti hikayat 
pengenalan dari empat orang buta terhadap seekor gajah.

Bagi mereka yang kebetulan memegang ekornya berpendapat bahwa gajah itu panjang 
seperti cambuk. Bagi mereka yang memegang kakinya berkata bahwa gajah itu 
ibarat pohon kelapa, dan yang kebetulan memegang telinganya mengatakan bahwa 
gajah itu lembek dan lebar. Yang kebetulan memegang perutnya saja memahami 
gajah itu bagaikan barang bergantung yang besar.

Untuk menghindari kekeliruan semacam itu, Islam harus dipelajari secara 
menyeluruh.  Dan pekerjaan ini tidak cukup mudah. Islam adalah agama universal 
dan dapat diterima oleh segala macam level  intelektualitas manusia. Dengan 
mempelajari prinsip-prinsip ajaran Islam, mudah ditemukan pola ajaran Islam 
dengan sebaik-baiknya sebagai agama yang mengajarkan tentang keseimbangan 
kehidupan duniawi dan ukhrawi. * bersambung tulisan kedua

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke