Mungkin inyo kecewa, urang Pagai nan dulu terkenal lurus dan lugu, Bupati 
pertamanyo nan asli putra daerah lah terindikasi korupsi juo

--TR
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Dedi Nofersi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 5 Jan 2012 17:12:00 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Dunia Pendidikan: Pencetak Koruptor?

Dunia Pendidikan: Pencetak Koruptor?Paul Septinus SagajinpoulaOrang Mentawai, 
dari Pulau Siberut. Sekarang masih menempuh pendidikan S1 Kimia di Universitas 
Andalas, Padang.
dimuat 
di http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/21/dunia-pendidikan-pencetak-koruptor/

Istilah korupsi dan koruptor tentu sudah sangat akrab ditelinga kita. Mungkin 
kita sudah bosan dan muak dengan berita-berita yang berhubungan dengan korupsi 
dan koruptor karena hampir setiap hari kita menyaksikan itu, baik di 
koran-koran ataupun di stasiun-stasiun televisi. Bisa jadi karena sudah begitu 
seringnya kita mendengar pemberitaan tentang korupsi yang terus merajalela di 
negeri ini, kita menjadi apatis dan skeptis terhadap pemberantasan korupsi di 
negeri ini. Mungkin kita berpikir dan berandai-andai, akankah negara kita, 
Indonesia tercinta ini menjadi negara yang bersih dari korupsi suatu saat 
nanti? Masing-masing kita tentu mempunyai jawaban yang berbeda jika dihadapkan 
pada pertanyaan ini.

Menurut pendapat saya, cikal bakal koruptor itu sudah ada sejak seseorang duduk 
di bangku sekolah (SD, SMP dan SMA) sampai pada bangku kuliah atau perguruan 
tinggi (kampus). Ketika seseorang melakukan tindakan korupsi, bisa jadi karena 
pengaruh dari perilakunya dulu yang suka tidak jujur dan kesenangannya hanya 
berbuat curang. Di bangku sekolah (SD, SMP dan SMA) misalnya, fakta-fakta yang 
menunjukkan banyaknya kasus-kasus kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional 
(UN) selama ini sepertinya mengindikasikan bahwa dunia pendidikan pun sedang 
mempersiapkan para siswa menjadi orang-orang yang (kemungkinan) akan menjadi 
cikal bakal koruptor di masa depan, siapa tahu kan?

Sementara itu di dunia kampus, perilaku berbuat curang dan tidak jujur juga 
sudah menjadi budaya yang “lazim” dan bukanlah suatu hal yang baru lagi 
dikalangan mahasiswa. Budaya titip absen (TA), mencontek pada saat kuis dan 
ujian, pemalsuan tanda tangan, plagiasi karya ilmiah dan lain sebagainya, 
adalah beberapa contoh budaya yang “lazim” di kalangan mahasiswa. Mungkin masih 
ada beberapa budaya dan kebiasaan “lazim” lainnya yang menjadi hal lumrah di 
kalangan mahasiswa. Dan ketika ada mahasiswa-mahasiswa yang tidak mau melakukan 
budaya-budaya yang “lazim” itu, mereka malah dianggap “aneh” dan dibilang sok 
suci oleh teman-teman mereka, dan terkadang mereka dijauhi karena terkesan 
“aneh” dan tidak “lazim” itu. Itulah kenyataannya sekarang yang sedang terjadi 
di dunia kampus.

Jika melihat fakta-fakta yang sudah “lazim” tersebut, maka boleh-boleh saja 
kita berpendapat bahwa masa depan bangsa ini masih sangat suram. Harapan kita 
untuk melihat Indonesia yang bersih dari korupsi sepertinya memang akan tinggal 
harapan. Mahasiswa yang seharusnya menjalankan perannya sebagai agent of 
change sepertinya sudah tidak bisa diharapkan lagi. Jika melihat budaya-budaya 
yang selama ini sudah “lazim” dikalangan mahasiswa, maka bisa dikatakan bahwa 
dunia kampus saat ini pun sedang menjadi sarana percetakan bagi cikal bakal 
koruptor masa depan di negeri ini. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah, 
apabila ada diantara para mahasiswa/aktivis kampus yang (mungkin) selama ini 
bersikap idealis dan selalu menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, tapi 
justru dalam realitanya hidupnya sehari-hari di kampus, juga termasuk dalam 
kategori mahasiswa yang melakukan budaya-budaya yang “lazim” di lingkungan 
kampus, itu sangat berbahaya sekali.
 Bisa jadi ketika mereka masih berstatus mahasiswa, mereka bersikap idealis dan 
tidak kenal kompromi dengan yang namanya korupsi. Tapi mungkin setelah tamat 
atau selesai kuliah dan bekerja di suatu tempat atau instansi pemerintahan, 
justru mereka yang tidak tahan dengan rayuan untuk melakukan korupsi. Siapa 
tahu kan?

Sebagai seorang warga negara Indonesia yang baik dan cinta kepada tanah airnya, 
tentu kita semua menginginkan negeri kita Indonesia tercinta ini, suatu saat 
nanti bisa benar-benar bersih dari yang namanya korupsi. Memang untuk 
memberantas mata rantai korupsi bukanlah pekerjaan yang mudah seperti semudah 
membalikkan telapak tangan dan penulis merasa kita semua sepakat dengan hal 
itu. Namun bukan berarti, impian kita untuk melihat negeri ini benar-benar 
bersih dari korupsi tidak bisa terwujud. Itu semua dapat terwujud apabila kita 
semua memberi dukungan terhadap gerakan pemberantasan korupsi di negeri ini, 
dimana sekarang ini sedang berusaha dikerjakan oleh-oleh orang yang terkait di 
dalamnya dengan upaya yang semaksimal mungkin. Kita semua perlu memberikan 
dukungan dan doa kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar mereka selalu 
menjadi garda terdepan dalam pemberantasan mata rantai korupsi di negeri ini.

Tulisan ini dibuat bukan dengan maksud ingin mematahkan semangat pemberantasan 
korupsi di negeri kita, Indonesia tercinta ini. Tulisan ini juga bukan 
bermaksud untuk menghilangkan harapan dan impian masyarakat Indonesia akan 
terwujudnya Indonesia yang bersih dari korupsi suatu saat nanti. Tulisan ini 
juga bukan bermaksud untuk mengajak kita menjadi warga negara yang apatis dan 
skeptis terhadap masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia. Akan tetapi, 
saya berharap melalui tulisan ini, bisa menjadi bahan refleksi bagi kita semua, 
secara khusus generasi-generasi muda penerus bangsa akan peran kita dalam 
pemberantasan korupsi kini dan kelak. Saat ini mungkin kita masih berstatus 
siswa/mahasiswa, namun sepuluh atau dua puluh tahun ke depan kita tidak tahu 
nanti akan bekerja dimana dan dibidang apa. Tentunya kita berharap, 
perilaku-perilaku curang dan kebiasaan “lazim” yang (mungkin) sering dilakukan 
sewaktu masih menjadi siswa/mahasiswa tidak terbawa
 ketika kita sudah bekerja. Oleh karena itu, pada akhir tulisan ini, saya ingin 
mengutip pernyataan dari Endang Suparta pada Opini Padang Ekspres (Padek, edisi 
14/12/2011) yang mempunyai impian akan Indonesia bersih dari korupsi dan 
menyatakan bahwa: “korupsi dapat diberantas salah satunya dengan memulainya 
dari lingkungan terkecil dan dari hal terkecil”. Hal-hal terkecil itu bisa 
diberantas salah satunya dengan tidak lagi menjadi bagian dari 
perilaku-perilaku curang dan kebiasaan-kebiasaan “lazim” yang ada baik itu di 
sekolah ataupun di dunia kampus. Semoga.

Data tambahan 
: http://birokrasi.kompasiana.com/2010/11/08/hapuskan-perguruan-tinggi-kedinasan/

NB: Jadi ragu jo kualitas mental hasil didikan dari Institute atau Universitas 
ternama kita.

Dedi N - 49"Berusaha untuk Qona'ah"

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke