Dan...yang menjadi pertanyaan kenapa hal seperti ini tidak muncul dari kampus 
(university). 
Seharusnya hal2 praktis dapat menjadi inspirasi bagi aktifis university yang 
sebenarnya cukup banyak di Sumatera Barat.

Sangenek..

rahyussalim
berbagi meringankan derita bangsa

-----Original Message-----
From: "Darwin Bahar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 28 Jan 2012 12:36:42 
To: Palanta Rantaunet<[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Marajo, Memadukan Mata Pencaharian dan Pelestarian

Kompas, Sabtu, 28 Januari 2012

INGKI RINALDI

Ketekunan membuat Marajo terus memetik sukses membudidayakan ikan nila di
habitat air tawar ke dalam tambak air payau. Belakangan, tambak itu ditanami
pohon bakau dan ikan-ikan nila lalu bisa dibudidayakan di laut.

Hasil ketekunan Marajo kini dimanfaatkan sebagian nelayan di Kabupaten
Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Sebagian di antara mereka turut menekuni
jejak keberhasilan Marajo mengatasi hambatan alam.

Upayanya telah memberikan pilihan lain bagi nelayan. Meski praktik
pemeliharaan ikan nila dalam tambak air payau bukan hal baru mengingat
kemampuan ikan nila hidup dalam kondisi relatif ekstrem. Namun, pengetahuan
itu relatif baru bagi sebagian nelayan di tempat Marajo tinggal.

Upayanya menjadi alternatif saat nelayan tak bisa melaut. Nelayan tetap
berpenghasilan dari ikan nila yang dibudidayakan dalam keramba air laut.

Marajo, yang bernama asli Syamsul Bahri, memulai upaya itu dengan
membolak-balik lahan pusaka istrinya di Kanagarian Carocok Anau, Kabupaten
Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar). Lahan milik istrinya itu relatif
tak ideal untuk pertanian karena berupa rawa dan ditumbuhi pohon nipah.
Lahan ini diubahnya menjadi tambak ikan air payau dengan pepohonan bakau di
dalamnya.

Dengan cangkul, ia butuh waktu berbulan-bulan sebelum kerja berat itu mulai
menampakkan hasil. Mengingat kawasan tersebut berupa rawa, Marajo lalu
membuat kolam ikan.

Karena letak kolam berdekatan dengan muara sungai, tempat budidaya ikan itu
pun terkena pasang surut air laut. Ini membuat kolam air tawar yang
dikelolanya dimasuki air payau. Namun faktanya, ikan-ikan itu tetap hidup.
Itu membuat Marajo tertantang melakukan eksperimen.

Perlahan-lahan kandungan air payau dalam kolam dia tambah hingga ikan nila
pun bisa beradaptasi di air laut. "Ikan nila yang dipelihara dalam keramba
air laut lebih segar, dengan tekstur daging yang lebih padat," katanya.

Bibit ikan nila yang bisa dipelihara dalam keramba air laut berasal dari
kolam air payau. Belakangan, pesanan bibit ikan nila jenis itu melonjak
sampai 15.000 ekor setiap bulan. "Sementara ini kami hanya memenuhi
kebutuhan di Kabupaten Pesisir Selatan karena belum mampu mengirim lebih
banyak," katanya.

Sebelumnya, upaya Marajo itu sempat dicibir orang. "Tak mungkin ikan nila
bisa dipelihara dalam kolam air payau," tutur Marajo menirukan keraguan
orang kepadanya.

Tahun 2004 ia mendirikan kelompok usaha untuk mengelola pembudidayaan ikan
nila dan patin. "Setelah belajar sambil praktik, banyak orang yang mengikuti
jejak kami," katanya.

Konservasi

Tahun 2007 ia mengikuti pelatihan tentang konservasi kawasan pesisir dari
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pesisir Selatan. Topiknya tentang
kawasan hutan mangrove dan perannya dalam ekosistem kelautan.

Marajo pun bertanya apakah ia bisa mengembangkan bibit pohon bakau yang
diperkenalkan dalam pelatihan itu. Tak lama, 10 .000 lembar plastik polybag
diberikan kepadanya. Ia pun mulai mengembangbiakkan bibit pohon bakau dan
menanamnya.

Tahun 2009 peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Bung Hatta, Padang, mendekati Marajo. Ia dikenalkan pada konsep pengelolaan
ekosistem mangrove yang dipadukan budidaya ikan nila pada tambak air payau
di sela-sela tanaman bakau. Konsep yang meningkatkan kualitas ekologi dan
peningkatan taraf ekonomi masyarakat di kawasan pesisir ini dinamai wanamina
atau silvofishery.

Dengan harga sekitar Rp 16.000 per kilogram (kg) daging ikan nila, budidaya
lewat cara ini relatif menguntungkan. Apalagi tingkat kegagalan dari sejak
menabur benih hanya sekitar 10 persen.

Marajo mengakui dibutuhkan penyesuaian ketat sebelum ikan nila bisa
dibudidayakan di air payau. "Ikan nila sebelumnya tetap dipelihara dalam
kolam air tawar sembari perlahan-lahan dialiri air payau setiap hari.
Perlahan-lahan saluran dari muara yang berair payau dibuka agar masuk ke
tambak, sekitar 10 menit per hari, selama sebulan," paparnya.

Hal itu diperlukan, lanjut Marajo, agar ikan nila bisa beradaptasi dengan
tingkat keasinan (salinitas) dalam ekosistem air payau.

Dari sisi ekologis, katanya lagi, ekosistem hutan mangrove menjamin
keberlangsungan kekayaan biota laut. Selain juga menjadi solusi alami untuk
mengatasi bencana abrasi atau angin kencang hingga sedimentasi kawasan
pesisir.

Pada September 2011, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar serta Pusat Studi
Pesisir dan Kelautan Universitas Bung Hatta Padang membuat proyek wanamina
di lokasi yang dirintisnya. Kelompok masyarakat pesisir, Pemuda Mandiri
Cinta Bahari Ampang Pulai, menjadi pengelolanya.

Namun, kata Marajo, muncul masalah hama burung, jamur, dan relatif cepatnya
waktu reproduksi ikan nila. Cepatnya waktu reproduksi ini, menurut peneliti
Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Bung Hatta Padang, Ade Winanda,
berakibat pada tak maksimalnya upaya pembudidayaan pada generasi
selanjutnya. Sementara penyakit jamurnya bisa diatasi dengan memberikan
gerusan daun pepaya sebagai campuran pakan.

"Persoalan reproduksi ikan diatasi dengan secepatnya memindahkan ikan nila
dewasa siap panen dan membiarkan generasi baru tumbuh," kata Ade
menambahkan.

Ulet

Sebelum fokus membudidayakan ikan nila sekaligus mengurus konservasi, Marajo
bekerja di toko bangunan. Pekerjaan itu dia jalani tahun 1985-1987 di Kota
Bukittinggi setelah kuliahnya putus saat menyusun skripsi karena ketiadaan
dana.

Tahun 1988 ia menikah di Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Istrinya
menjadi pegawai negeri sipil, sementara Marajo mengolah lahan dengan
bertani. Namun karena lahan tersebut tidak ideal untuk bertani, Marajo
sempat beralih menjadi tukang ojek pada 1990-1991.

"Setelah itu, barulah saya kembali mencoba membuat kolam dan tambak ikan.
Itu saya lakukan di lahan yang sama, tanah yang memang sulit diolah untuk
pertanian," kata Marajo.

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta Padang,
Suardi Mahmud Lasibani, mengakui keuletan Marajo dalam membudidayakan ikan
nila.

Apa yang membuat Marajo terus berproses dengan ulet adalah hasratnya untuk
selalu memelihara kemampuan berpikirnya. "Saya pikir-pikir terus, apalagi
usaha yang bisa dilakukan dengan segenap keterbatasan lahan yang kami
miliki," kata Marajo mengenang masa peralihannya dari tukang ojek menjadi
petambak ikan.

***

Syamsul Bahri alias Marajo

. Lahir: Pesisir Selatan, 30 Oktober 1960 

. Istri: Renowati 

. Anak: Andreansyah 

. Pendidikan: 

- SD Ujung Air, Ampang Parak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, lulus 1974 

- ST Kambang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, 1977

- STM Negeri 1 Kota Padang, 1980 

- Kuliah di Jurusan Teknik Industri, Akademi Teknik Industri Padang, tak
tamat, 1985

http://cetak.kompas.com/read/2012/01/28/02425388/memadukan.mata.pencaharian.
dan.pelestarian

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke