Sabtu, 04 Februari 2012

Asep Salahudin

http://oase.kompas.com/read/2012/02/04/02464126/Meneladani.Asketis.Nabi

Salah satu spirit kenabian yang patut kita renungkan dalam konteks Maulid
adalah politik zuhud asketisme. Ketika manusia yang mengklaim dirinya umat
menampakkan gejala hidup hedonistis larut dalam pesona dunia dengan
menghalalkan segala cara, kita perlu meneladani asketis Nabi.

Zuhud asketis artinya meninggalkan keduniawian untuk hidup sederhana, jujur,
dan rela berkorban. Diakui atau tidak, saat ini kita hidup dalam ketamakan.
Dengan telanjang kita saksikan bagaimana uang miliaran rupiah yang
seharusnya untuk kepentingan publik menjadi ajang bancakan sejumlah
kalangan.

Hiruk-pikuk Badan Anggaran (Banggar) DPR sudah lebih dari cukup
menggambarkan sikap rakus itu. Lihat saja catatan Sekretariat DPR tahun 2012
yang sangat melecehkan akal sehat: langganan jasa internet (Rp 3,47 miliar),
pemeliharaan dan biaya makan rusa (Rp 598,3 miliar), pengharum ruangan (Rp
16 miliar), renovasi ruang kerja Banggar (Rp 20,3 miliar), kalender (Rp 1,3
miliar), pekerjaan servis kompleks DPR Kalibata (Rp 36,3 miliar).

Kita juga membaca tentang 76 kepala daerah yang telah menjadi tersangka.
Persoalan ternyata lagi-lagi penyalahgunaan kekuasaan yang berpangkal pada
praktik korupsi.

Otonomi yang seharusnya membersitkan berkah bagi semua-karena diandaikan
kesejahteraan terdistribusi merata ke sejumlah daerah-ternyata
disalahgunakan para pengelola, yang seharusnya menyikapi kuasa sebagai
"amanah" malah menjadi "gonimah" untuk memperkaya diri.

Korupsi memang belum juga terselesaikan. Bahkan, indeks korupsi semakin
menaik. Penyakit akut yang menjadi akar hancurnya negara despotis Orde Baru
tidak diputus, tetapi kuantitas dan kualitas, baik jumlah maupun modusnya,
malah dipercanggih.

Kesederhanaan

Maulid Nabi Muhammad SAW sesungguhnya mengabarkan kisah seputar politik
asketis yang diterapkan oleh Sang Nabi. Seorang dengan kekuasaan yang sangat
luas ternyata lebih berminat mengambil opsi hidup jauh dari kemegahan ketika
pada saat yang sama raja-raja di seputarnya, baik Persia maupun Romawi,
hidup bergelimang benda.

Rasulullah lebih memilih menyatu dengan rakyat. Istananya tidak dibangun
berlapiskan emas permata, tetapi menjadi bagian depan masjid tempat keluar
masuk masyarakat. Alih-alih memakai pagar yang menghabiskan uang rakyat,
pintu rumahnya justru dibiarkan terbuka agar para sahabat dan komponen
bangsa dapat berdialog setiap saat.

Dapat kita bayangkan, seorang manusia pilihan Tuhan, yang telah sukses
menggulingkan "kekuasaan tirani" Mekkah dan menjungkalkan orde represif
jahiliah, masih sempat menjahit sendiri bajunya yang sobek.

Di meja makannya kerap tidak tersedia makanan sehingga Nabi lebih memilih
menghabiskan hari-hari dengan berpuasa. Jangan bayangkan Nabi memperoleh
banyak harta rampasan perang sebab seluruh bagian untuknya dikembalikan ke
kas negara.

Politik asketis diterapkan dalam maknanya yang sempurna. Hidup sederhana
tidak sekadar slogan untuk membangun pencitraan-sementara misalnya di
belakang ternyata menumpuk harta, diam-diam menerima upeti dan membangun
perusahaan sebagai persiapan setelah tidak berkuasa-tetapi menjadi pilihan.
Hidup sederhana adalah panggilan jiwanya. Terbukti ketika dipanggil Sang
Kuasa, tidak ada harta yang diwariskan.

Apa yang diucapkan berbanding lurus dengan praksisnya. Tekad, ucapan, dan
tindakan menyatu sehingga "perubahan sosial" yang diinginkan lekas
diwujudkan. Maka, mencapai negara kesejahteraan dan Madinah yang berkeadaban
tidak harus menunggu ratusan tahun, tetapi dapat disaksikan sendiri oleh
Nabi.

Kunci keteladanan

Kunci transformasi sosial yang sangat cepat itu ternyata salah satunya
adalah keteladanan, asketisme yang utuh, dan pejuang militan yang setiap
perkataannya sejalan dengan seluruh tindakannya. Tidak heran jika seorang
orientalis, Michail Hart, menobatkan Nabi sebagai orang pertama dari seratus
orang berpengaruh di dunia yang sukses mengubah sejarah kemanusiaan.

Maka, menjadi dapat dipahami jika kemudian Sang Nabi menjadi rujukan para
sahabatnya. Rujukan bukan hanya dalam ritus, melainkan juga dalam ruang
sosial yang lebih luas: politik, budaya, dan terutama moralitas.

Nabi sadar betul bahwa kata-katanya hanya menjadi gema yang tidak berarti
kalau semuanya hanya sebatas slogan. Kekuasaan akan menjadi "hantu" manakala
yang ditampilkan adalah hidup serakah.

Seorang sahabatnya pernah bertanya, "Ya, Rasul tunjukkanlah suatu tindakan
yang apabila aku mengamalkannya, Tuhan dan manusia mencintaiku?"

Rasulullah menjawab, "Zuhudlah kamu terhadap dunia, niscaya Tuhan
mencintaimu. Zuhudlah kamu pada apa-apa yang ada pada tangan manusia,
niscaya manusia mencintaimu."

Di lain kesempatan diujarkannya, "Orang yang kaya bukanlah orang yang
berlimpah harta, sesungguhnya orang yang kaya adalah orang yang kaya
jiwanya."

Benda disikapinya tidak sebagai segala-galanya, tetapi justru sebagai media
untuk merengkuh keluhuran pekerti sebagai alat kejuangan.

Mungkin dalam perjalanan bangsa, hal itu mengingatkan kita pada manusia
pergerakan, semacam Hasyim Asy'ari, M Natsir, Hatta, Syafruddin
Prawiranegara, Hamka, dan Tan Malaka. Mereka terus dikenang karena berjuang
demi kemanusiaan, demi kemerdekaan, bukan lainnya.

Hanya sementara

Politik asketis menempatkan benda tak lebih dari tempat mengembara untuk
melanjutkan perjalanan menuju keabadian.

"Jadilah kamu di dunia ini seolah-olah kamu orang yang mengembara atau orang
yang melewati jalan. Persiapkanlah bahwa dirimu akan termasuk (kelompok)
orang-orang yang telah mati. Apabila dirimu berada di waktu pagi, janganlah
menceritakan bahwa kamu akan bisa berada di sore hari.

Seandainya kamu menghirup udara sore, jangan yakin bahwa hal yang sama akan
bisa dilakukan esok hari. Jadikanlah kesehatanmu untuk sakitmu, kemudaan
untuk masa tua, kekayaan untuk kefakiran, dan hidupmu untuk matimu. Kamu
sungguh tidak akan mengetahui siapakah namamu besok."

Dalam kearifan perenial diteguhkan bahwa ketika sikap asketis ini tidak
diinternalisasikan, perburuan terhadap benda akan menjadi napas manusia.
Inilah lingkaran kejahatan itu, muara dari seluruh laku negatif. Perburuan
baru selesai ketika napas sudah di ujung tenggorokan. Tak ubahnya meminum
air laut, semakin diteguk semakin haus.

Dalam ungkapan Rasulullah, "Andaikata anak Adam mempunyai emas dua lembah,
niscaya dia menghendaki yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi perut anak
Adam, kecuali tanah."

Alhasil, perayaan Maulid menjadi relevan karena kehidupan tengah
terpelanting dalam arus keserakahan. Upacara kelahiran Nabi mengingatkan
kembali ingatan tentang politik asketis sebagai modal sosial membangun
negara berkeadaban.

ASEP SALAHUDIN Wakil Rektor IAILM Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke