Daripada berdesak2 an di Jakarta, mendingan hidup nyaman di ranah minang yg 
membanggakan
 
Terima kasih banyak pak Muljadi, pak Zul atas doa dan  penjelasan nya, 
 
Terima kasih pak Muljadi penjelasan nya, baik saya mengerti sekarang jadi nya,
 
Alhamdulillah, semua ini atas takdir Allah semata, saya hanya ingin berbagi 
bukan bermaksud ujub , 
tapi ingin membangkitkan semangat anak2 muda kita utk terus maju.
 
Khusus utk urang awak, ada sebuah fenomena unik yg tak disadari orang banyak.
 
Ranah minang tanahnya luas, alam nya kaya dan indah, cuacanya sejuk,  
 
Tapi mengapa banyak orang awak yg mau bersempit2 hidup di Jakarta yg sumpek, 
udaranya tak segar, jalanan nya macet, saat hujan banjir,
cari kerja susah, di jalanan tak aman dll  ?
padahal di ranah minang, banyak rumah kosong, tanah tak tergarap,  karena 
ditinggalkan anak muda nya yg merantau ke kota besar, 
 
Padahal di kota besar spt Jakarta pun, ia tak selalu mendapatkan hidup yg lebih 
baik daripada di kampung nya sendiri ..
 
Nampaknya rasa gengsi yg tinggi salah satu penyebabnya, 
Anak muda lebih bergengsi pindah ke kota besar, kerja di kantoran walau gaji 
pas2an atau malah jadi pengangguran, 
daripada menggarap sawah dan ladang di kampungnya sendiri, kerja pertanian 
dianggap tak bergengsi. Padahal kalau bisa dikelola dg baik, 
bisa menghasilkan uang yg lebih besar daripada apa yg didapat di jakarta, 
misalnya.
 
Iko kisah nyata di kampuang rang gaek ambo sendiri, mungkin hal yg sama terjadi 
pula di kampuang awak lain nyo.
Banyak anak2 mudo tanggung yg merasa malu tetap di kampung halaman nyo,
pergi ka Jakarta, tapi malah jadi pengangguran terselubung pulo di Jakarta, tak 
lebih baik hidupnya daripada di kampuang nyo sendiri.
 
Korban rasa gengsi yg membelenggu diri
 
Sebuah fenomena umum di Indonesia, orang2 dari daerah pergi menumpuk ke 
Jakarta, 
Pada sisi lain org2 kaya Jakarta pergi berbondong2 ke Singapore atau Australia
 
Bagai sebuah lingkaran setan yg tak ada habis nya.
 
Mungkin harus dibangkitkan mimpi baru utk anak2 muda urang awak, 
Bahwa ranah minang adalah tempat yg bergengsi, 
Kerja pertanian adalah kerja yg bergengsi pula
 
Bangga berada di ranah minang, bangga mengembangkan potensi alam ranah minang..
Bisa mewujudkan mimpi baru, 
Tinggal dan kerja di ranah minang, tapi dapat income yg lebih besar daripada di 
Jakarta, 
Hidup lebih nyaman dan bergengsi dibanding jakarta
 
Daripada hidup berdesak2, tak nyaman, bergaji pas2an di Jakarta, 
 
Sudah saat nya urang2 awak kembali ke ranah minang, 
Hidup yg lebih nyaman , sebuah ranah minang yg membanggakan
 
Btw, ambo sendiri punyo mimpi, 
Suatu saat kelak setelah salasai mengembara di nagari gurun pasir ko, 
Pulang pulo ka negeri nyiur melambai, 
 
Mungkin indak pulang ka banduang tampek ambo sabalun nyo, 
Tapi ingin pulang ka ranah minang, ke bukittinggi, negeri indah, tanah kelahiran
Semoga bisa berbuat amal kebaikan pula disana
Semoga terwujud amal jariyah yg terus mengalir pahalanya,  saat badan berkalang 
tanah kelak..
 
Wassalam 
HM malin sinaro
http://hdmessa.wordpress.com
 
 
Sanak Hendra nan berbahagia, 
Sanak Hendra sudah menyuguhkan potret nyata kehidupan di kota metropolitan 
dengan menarik.  Bergaji kota, tinggal di desa. 
Ada yang bilang hidup di Jakarta bak memiliki tagline P15: pergi pagi pulang 
petang, pendapatan pas-pasan, potong pajak potong pinjaman, pinggang 
pegel-pegel, pala puyeng.  Mungkin inilah hidup dalam "rat race trap", serasa 
sudah berlari jauh, kenyataannya masih tetap di sana. 
Selamat buat Sanak Hendra yang sudah hidup dalam impiannya. 
Tidak semua mimpi akan bisa dicapai, tetapi tidak ada pencapain tanpa 
diimpikan. 
Semoga tambah sukses. 
"Succes is not the key to happiness.  Happiness is the key to success.  If you 
love what you are doing, you will be successful." [Albert Schweitzer] 
Salam, 
ZulTan, L, 51, Bogor 
Sent from my iPad 2 
On 7 Feb 2012, at 18:33, Hendra Messa <[email protected]> wrote: 
----------
 
tak ingin habis umur di jalanan (org jakarta kurang produktif ?)
 
 
"Muljadi Ali Basjah" <[email protected]> Feb 07 07:34PM +0100  

Assalamualaikum Wr.Wb. yth. bapak Hendra Messa di Abu Dhabi.
 
Saya sangat bergembira melihat nasib baik pak Hendra Messa, serta keuletan 
perjuangannya. Moga2 bisa lebih sukksses lagi, dibanding seperti sekarang ini.
 
Saya kutip dari tulisan pak Hendra Messa:
"waktu kerja di bandung selatan tsb, ada project besar, banyak org asing 
disana. Jadi saya pun banyak kerja bareng mereka. ternyata kemampuan pekerja 
asing tsb tak jauh beda pula dg kita, tapi mereka dapat gaji yg jauh lebih 
besar, spt tak adil..."
 
Disisi lain saya ingin sedikit mencoba menerangkan kenapa bangsa asing bergaji 
lebih tinggi dibanding dengan salarynya pak Hendra Messa, sewaktu bekerja di 
Indonesia dahulu.
 
Standard hidup negara asalnya jauh lebih tinggi dibanding dengan standard hidup 
dinegara tempat mereka berkerja, Sepertinya kira2 penduduk Jakarta bersalari 
seperti diJakarta tetapi bekerja diBukittinggi.
Jadi mereka dianjurkan membayar sebagian dari pendapatannya untuk pajak sosial 
(perpajakan negara yang bersangkutan, misalnya, pensiun) tentunya dalam 
standard dan matauang negara beliau, walaupun prosentual tidak sebanyak sewaktu 
bekerja diNegaranya sendiri.
Tergantung dengan perpajakan negara asal masing2 pekerja.
Biasanya tatausaha suatu perusahaan multi-nasiaonal, mempunyai daftar grad2 
pemasukan pegawai menurut negara masing2 untuk sebagai acuan. Selebihnya itu 
adalah negotiable, antara calon pegawai dengan perusahaan yang dimaksud.
Bagaimana menurut pak Hendra Messa, apakah adil seandainya salary pak Hendra 
sama dengan kollega asing yang dimaksudkan diatas?
Sedangkan dia musti kembali kenegara asalnya setelah kontraknya selesai? 
 
Keadilan hanya ada di depan Allah, didunia rasanya tidak ada keadilan.
 
Wassaam,
Muljadi Ali Basjah
 
--------
 
Rekan2 sekalian, 
  
Di tengah kerumunan org yg berdesak2an di dalam bis kota Jakarta, yg tak 
bergerak juga karena terjebak macet, 
Para pengamen, penjual Koran, penjual permen, pengelap kaca dan pengemis 
memanfaatkan kesempatan tersebut untuk ikut mengais rezeki pula. 
  
Sambil termenung melihat ke luar jendela, jadi bertanya2 kok seperti begini nya 
cari duit, habis umur di jalan , 
Jadi inget celetukan si Amung , pemuda tanggung yg biasa nongkrong di pos 
gardu, senang yah mas, bisa dapat kerjaan, saya dari dulu nganggur terus nih… 
Alhamdulillah bisa kerja, tapi apakah harus seperti ini, menyiksa diri di jalan 
dan membiarkan keluarga kehilangan sang ayah, hampir sepanjang hari, yg hanya 
pergi di waktu subuh dan kembali selepas malam, apakah harus seperti ini terus 
hidup itu…. lebih banyak waktu habis di jalan daripada di tempat kerja sendiri, 
bagai kata pepatah, lebih besar pasak daripada tiang 
  
akhirnya semua org menganggap biasa hal tsb, dianggap normal2 saja, dinikmati, 
( walau memaki dlm hati ) ,jadi tambah cepat tua juga deh , 
  
Masih di dalam bis kota tsb, sambil ngelamun saya ngebayangin, bisa nggak yah, 
kerja di tempat yg sepi, nyaman, indah, tapi dapat uang lebih besar daripada 
gaji di Jakarta ? 
Sebuah impian di siang bolong…. , tapi apa kata pepatah guru ngaji di pesantren 
dulu, man jadda wa jadda , siapa berusaha, dia akan mendapatkan nya 
  
Alhamdulillah , beberapa tahun kemudian, impian tersebut terwujud, saya pindah 
kerja ke alam indah di tengah  kebun teh gunung Malabar bandung selatan, 
tak ada macet, udara segar dan yg membuat syukur, bisa dapat gaji lebih besar 
daripada saat kerja di Jakarta dulu, waktu pun lebih banyak bisa kumpul dg 
keluarga, Alhamdulillah.. 
  
rasanya seperti mimpi di siang bolong, keluar dari kesumpekan pulogadung – 
Jakarta dan ditakdirkan ke tempat indah di lereng gunung Malabar, Bandung 
selatan 
tapi kalau mau berusaha, insya Allah, akan ada jalan nya 
  
waktu kerja di bandung selatan tsb, ada project besar, banyak org asing disana. 
Jadi saya pun banyak kerja bareng mereka. ternyata kemampuan pekerja asing tsb 
tak jauh beda pula dg kita, tapi mereka dapat gaji yg jauh lebih besar, spt tak 
adil... 
  
jadi mimpi lagi deh, bisa nggak yah, kerja dg income yg sama seperti para bule 
tsb ? 
  
dengan bantuan Allah semata, beberapa tahun kemudian akhirnya mimpi tsb 
terwujud pula , dapat rizki di luar negeri, kerja dg org berbagai negara dan 
dapat income yg sama spt para pekerja asing tsb, alhamdulillah 
  
 hikmahnya ; seseorang tidak bisa mengubah nasibnya, kecuali ia sendiri yg 
berusaha utk merubah nya . tapi tak semua orang ingin berpindah dari status quo 
yg dianggap sebagai comfort zone. namun semua hanya usaha manusia, Allah lah yg 
menentukan semua nya, selalu lah berdoa 
  
Demikian lah sekelumit cerita masa lalu, yg mudah2an bermanfaat 
  
  
Salam dari gurun pasir abu dhabi 
HM,
http://hdmessa.wordpress.com 

            
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post. 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke