Pak Aby, Pak Fadjar, dan seluruh pirsawan milist referensi...
 

Pada dasarnya urbanisasi modusnya ada beberapa:
1. migrasi dari desa kota, tentunya bukan utk menjadi petani.
2. perubahan fisik dari suatu pedesaan menjadi kota, contoh suatu 
persawahan/kebun karet yg dibeli ciputra n the gang... itu urbanisasi fisik.
3. ketika TV masuk desa... dan sinetron, MTV merambah kehidupan desa, terjadi 
urban-culture propaganda... meskipun bekerja di sektor pedesaan, tinggal di 
daerah yg dikategorikan desa, tapi pola/tata konsumsinya sangat urban...
4. secara administratif; dulu nya KaDes, dipilih langsung oleh rakyat, menjadi 
Lurah... ditunjuk langsung oleh walikota...

Jadi, memang penduduk urban lebih besar... tapi urban area juga lebih besar... 
kepadatan urban-area cenderung makin merata..

'Membangun daerah' dan 'daerah membangun' menurut saya punya konsekuensi yg 
cukup prinsipil... yaitu letak inisiatif..
beda rasanya ketika orang pusat datang ke suatu daerah yg belum pernah ia 
ketahui sebelumnya, kecuali diatas kertas, lalu spidolnya mulai menari-nari... 
dan sim-salabim...
bedakan dengan seorang putra daerah yg gregetan mengapa daerah kok dari dulu 
gitu-2 aja...lalu ia menimba ilmu dari seluruh penjuru dan dibawanya pulang utk 
membina tanah tumpah darahnya... 
disinilah letak perbedaannya... dan bagi saya sangat esensial!

MEmang betul, tidak pernah ada 'urbanisasi' yg pas.
pada saat inggris mengalami revolusi industri juga ada kebutuhan utk 
'menyesuaikan' kapasitas urban-management utk London...
kisah-2 tragis kejamnya ibukota juga terekam dalam Oliver Twist..

bedanya adalah laju urbanisasi...
London memerlukan waktu 101 tahun utk mengakumulasi jumlah penduduk dari 2 juta 
menjadi 5 juta...
sedangkan Jakarta, Seoul, Manila... cukup 35 tahun... dan itupun dimulai pasca 
PD II... 
Jadi, apa yg telah dipelajari oleh London selama 101 tahun selama abad 19, 
harus dipelajari dan dipraktekkan oleh Jakarta dalam waktu 35 tahun, dan tidak 
terlalu lama menunggu stabilnya pemerintahan nasional dsb...
Tantangan urbanisasi negara-2 ke 3 memang berat. Beban lingkungan ini makin 
diperberat dengan laju motorisasi yg tidak kalah pesat..

Nah... lalu pertanyaan berikut adalah bagaimana menjamin nikmat pembangunan 
jatuh pada mereka yg paling membutuhkan peningkatan ekonomi...
menurut pengamatan saya, selalu terjadi elite-capture... ketika pembangunan 
ekonomi mendahului penguatan demokrasi.. (saya tidak sependapat dengan prof. 
Budiono dalam hal ini)...

Jadi, kalau pertanyaannya adalah kesejahteraan rakyat dan pengurangan angka 
kemisikian yg sustainable.. 
pem-bengkak-an kota bukanlah solusi tunggal yg jitu.

Sistem Kota-Kota adalah fenomena... bukan produk rencana... begitu pula dengan 
megapolitanisasi Bosh-Wash dsb.. 
Apakah berkorelasi positif dengan pembangunan ekonomi?
pada kenyataannya, kota-2 yg bengkak itu memperbesar ketergantungan pada 
kendaraan bermotor sehingga konsumsi BBM dan emisi gas buang lebih tinggi.... 
secara ekonomi, GDP USA itu comparable dengan Eropa
yg kota-2nya lebih kompak dan pendudk per kota-nya juga lebih moderat...

Determinan utama dari kesejahteraan (indikator HDI maybe) bukanlah 
urban-size... 

saya secara pribadi tentunya senang ketika tanah saya yg dulunya kebun singkong 
ditawari sejuta per meter utk pembangunan real estate,
tapi sebagai peneliti perkotaan, saya tidak menganjurkan pembengkakan kota 
sebagai solusi.

salam,
-K-



Harya Setyaka

Duren Tiga Selatan 89

Jakarta INDONESIA



----- Forwarded Message ----

From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>

To: [email protected]; Planologi ITB <[EMAIL PROTECTED]>

Sent: Wednesday, May 9, 2007 3:38:49 PM

Subject: [referensi] Dari Strategi Jagung dan Urban Primacy ke Strategi 
Urbanisasi Indonesia



                              Rekan-rekan milister ysh semua,

 

 Dari diskusi dan eyel-eyelan yang terjadi dengan

 sangat menarik, saya ingin sedikit membelokkan tema

 pembicaraan yang sudah bergulir sedemikian indah.

 

 Melanjutkan diskusi tentang "membangun daerah" dan

 "daerah membangun", serta trend urbanisasi Indonesia

 yang tingkat urbanisasi di tahun 1970 masih 17,1% dan

 tahun 1980 juga masih 22,1%. Seperti yang disampaikan

 oleh Pak Aby, tingkat urbanisasi Indonesia melesat

 pesat sejak tahun 1980. Akibatnya, di tahun 2000,

 tingkat urbanisasi tsb sudah mencapai 42%,

 diperkirakan tahun 2007 ini merupakan tahun peralihan

 Indonesia dari sebagian besar penduduk tinggal di

 pedesaan, menjadi negara yang sebagian besar

 penduduknya tinggal di perkotaan. 

 

 Di tahun 2010, tingkat urbanisasi Indonesia akan

 menjadi 53,7%. Dan selanjutnya, di tahun 2030 akan

 menjadi hampir 70%. Dengan tingkat pertumbuhan dan

 pertambahan absolut yang sangat tinggi (karena jumlah

 penduduk Indonesia cukup besar), saya pikir

 angka-angka tsb perlu kita (perencana) cermati secara

 matang agar kita dapat melakukan tindakan apa yang

 diperlukan untuk dapat mengantisipasi implikasinya.

 

 Dengan pertumbuhan dan pertambahan absolut yang besar

 (tahun 2000 sekitar 87,9 juta orang tinggal di

 perkotaan, tahun 2015 akan menjadi 144,4 juta dan

 tahun 2030 akan menjadi 186,7 juta), sudah dapat

 diramalkan bahwa Indonesia akan mengalami tekanan

 penduduk perkotaan yang sangat signifikan. Apalagi

 hinnga kini kita belum memiliki pengalaman urbanisasi

 yang cocok dijadikan sebagai "best practice" (mengutip

 dari hasil diskusi kita sebelumnya). 

 

 Menariknya, terjadi pergeseran trend urbanisasi pada

 proses urbanisasi yang akan datang. Proporsi penduduk

 perkotaan yang tinggal di kota-kota besar relatif

 menyebar, dengan menyisakan sebagian besar penduduk

 perkotaan di kota-kota kecil dan menengah yang setiap

 kotanya berpenduduk kurang dari 500 ribu. 

 

 Kota yang berpenduduk lebih dari 10 juta masih hanya

 akan ada 1 di tahun 2015, yaitu Jakarta. Kota

 berpenduduk antara 5-10 juta juga cuma 1 di tahun

 2015, yaitu Bandung. Dan kota dengan penduduk antara

 1-5 juta akan berjumlah 10, dimana 7 buah kota

 merupakan kota-kota di Jawa plus Medan, Palembang dan

 Makasar yang berada di luar Jawa. Seluruh kota jutaan

 penduduk ini hanya akan memiliki sekitar 40 juta jiwa

 (28% dari seluruh penduduk perkotaan). Sementara itu,

 jumlah kota yang berpenduduk antara 500ribu - 1juta

 hanya akan sebanyak 8 buah kota di tahun 2015 dengan

 jumlah penduduk sekitar 5,8 juta (cuma 4% dari seluruh

 penduduk perkotaan Indonesia). Namun, jumlah penduduk

 perkotaan yang tinggal di kota-kota dengan jumlah

 penduduk di bawah 500 ribu akan berjumlah sekitar 100

 juta jiwa yang tersebar ke dalam ratusan kota kecil

 dan menengah.

 

 Jadi salah satu trend ke depan adalah pertumbuhan dari

 kota-kota kecil dan menengah. Makasar yang Pak Aby

 inginkan bisa menjadi sebuah kota metropolitan besar

 (mengutip istilah Pak Aby untuk kota yang berpenduduk

 antara 3-5 juta jiwa), diperkirakan baru mencapai 1,7

 juta di tahun 2015. Sementara Medan sekitar 3 juta dan

 Palembang 2,3 juta jiwa. Padahal, seperti yang saya

 pikir kita pahami beersama, perhatian kita terhadap

 pembangunan kota-kota kecil dan menengah hingga saat

 ini masih sangat minim. Kota-kota kecil seperti itu

 masih menjadi "anak tiri" dalam discourse pembangunan

 perkotaan kita. Perhatian kita cenderung terkuras pada

 Jakarta, Bandung dan Surabaya dan beberapa kota besar

 lain, sementara jumlah saudara-saudara kita di

 kota-kota kecil meningkat semakin banyak. lebih dari

 itu, kita semua pasti paham dengan kemampuan/kapasitas

 dari kota-kota kecil semacam itu untuk mengelola

 urbanisasi dan pembangunan perkotaannya. Saya yakin

 semua setuju apabila saya mengatakan bahwa

 kemampuannya "teramat sangat minim sekali", sebagai

 suatu ungkapan metabolis dari kondisi kapasitas

 institusi, finansial, teknis, dsb, dari kota-kota

 kecil seperti itu.

 

 Saya pikir, selain mengandung sejumlah ancaman dan

 tantangan sebagai akibat dari implikasi perkiraan

 urbanisasi tsb, prediksi ini memiliki sebuah peluang

 yang perlu bisa kita manfaatkan. Menurut saya

 pemberian fokus dan perhatian kepada urbanisasi dan

 pembangunan perkotaan bagi kota-kota kecil dan

 menengah akan berpeluang untuk menjadi salah satu

 kunci keberhasilan pencarian "best-practices"

 pengelolaan pembangunan perkotaan Indonesia. 

 

 Untuk itu, saya ingin mengundang diskusi dan debat

 dari rekan-rekan semua terhadap suatu kasus riil yang

 akan kita hadapi ini. Apakah kita ingin

 pengalaman-pengalam an buruk dari proses urbanisasi

 kita juga terreplikasi di kota-kota kecil kita?

 Apabila tidak, apa yang perlu kita cermati dan

 waspadai.

 

 Mohon tanggapan dari rekan-rekan semua.

 

 Salam hangat selalu,

 

 Fadjar

 PWK Undip

 

 --- hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

 

 >   

 > Para milisters semuanya ysh,

 >   Terimakasih pak Risfan masih  berkenan melanjutkan

 > diskusi..... .alamat kita pasti akan dapat menarik

 > banyak manfaat daripadanya. ..... berikut adalah

 > tanggapan saya kembali atas beberapa penggal

 > paragraf beliau dari posting yang lalu......tidak

 > semuanya bersifat menolak.... tetapi setidaknya

 > menyodorkan alternative opinion .....

 >    

 >   >>>>>>> ”........Jargon “daerah membangun”

 > digunakan sebagai ganti “membangun daerah.” Tapi

 > beberapa departemen sektoral belum. 

 >   Lebih dari itu orientasi kebijakan nasional masih

 > didominasi kebijakan makro dan sektoral. Atau lebih

 > tepatnya sasaran pertumbuhan ekonomi nasional. Ini

 > bisa dimengerti, bagaimanapun pemerintah (rezim)

 > yang berdurasi kerja 5 tahun dituntut untuk

 > menunjukkan peningkatan pertumbuhan ekonomi,

 > stabilitas moneter dst, daripada indicator yang

 > berjangka panjang. Itulah tantangannya. 

 >




 
____________________________________________________________________________________
Food fight? Enjoy some healthy debate 
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545367


Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke