Rekan-rekan dan khususnya rekan BTS,
   
  Barangkali saya bisa berikan sedikit keterangan yang masih berasal dari tahan 
limapuluhan atau mungkin lebih lampau juga. Pada waktu program planologi ITB 
baru dimulai, program itu dibantu oleh PBB melalui Harvard dan MIT, nah salah 
seoarng UN advisor adalah Prof. Jaq Tyrwhitt, tenaga ini datang untuk waktu 
yang singkat satu atau paling lama dua tahun. Sebagai pengganti Prof Tyrwhitt 
telah dipertimbangkan Dr. Richard Meier, sebetulnya seorang demograf tapi 
beliau juga pernah bekerja dalam Manhattan project yang akhirnya menghasilkan 
bom atom pertama. Sayang sekali oleh karena involvement Dr Meier ini dalam 
proyek Manhattan ini maka ia tidak diizinkan untuk membantu kami. 
  Tetapi beberapa tahun kemudian Prof. Meier sempat juga ke Indonesia walaupun 
sebagai turis. Yang saya ingat pada waktu itu di lingkungan Biro Perancang 
Negara -sebelumnya Bappenas pernah mempertimbangkan policy terhadap tenaga 
nuklir. Nah model atau policy yang pada waktu itu dikembangkan adalah suatu 
transisi dari tenaga fossil minyak dan batubara ke tenaga nuklir, sehingga juga 
ada eksplorasi untuk menemukan uranium di Kalimantan. Sedangkan lokasi 
pembangkitnya disekitar Gn Muria di Jawa Tengah karena dianggap paling tua atau 
relatip stabil lahannya.Saya kira sisa dari policy ini mungkin hanya 
pembangunan pembangkit tenaga uap di Paiton yang menggunakan batubara 
Kalimantan dan Suralaya yang menggunakan batubara dari Sumsel. Jelas sejak 
waktu empatpuluhan tahun yang lampau banyak sekali scenario baru yang telah 
berkembang. 
  Barangkali pengalaman tenaga pembangkit nuklir di Jepang yang baru-baru kena 
gempa besar juga patut kita perhatikan. Akhirnya walaupun tenaga nuklir tidak 
ada emissi CO tapi limbahnya tetap sukar di daur ulang jadi, jadi apakah watak 
NIMBY(not in my backyard) masih dapat dipertahankan? 
  Pak Wawo.
  

Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Betul, saya juga pengin tahu bagaimana kaitan antara tata ruang 
dengan rencana nuklir. Tidak cuma itu, saya juga ingin tahu bagaimana tata 
ruang menjawab berbagai perkembangan, misalnya bagaimana tata ruang dengan 
adanya menara-menara BTS (Base Tranceiver Station), bagaimana pengaturan tata 
ruang dengan adanya SUTET,  bagaimana tata ruang dan PKL, bagaimana tata ruang 
bisa mengantisipasi kemungkinan tanah-tanah yang bakal longsor, dsb.
   
  Thanks. CU. BTS. 
    ----- Original Message ----- 
  From: B. Dwiagus Stepantoro 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, July 25, 2007 10:54 AM
  Subject: [referensi] Tata Ruang & Energi Nuklir
  

      Salam,
   
  Setahu saya beberapa waktu lalu ada temu pakar membahas penatan ruang dan 
kaitannya dengan rencana pengembangan energi nuklir (PLTN), yang diadakan 
Dirjen Penataan Ruang PU. 
  Ada yang punya bocoran hasilnya gak yah? Dibagi dong...
  Pak Ruchyat Denni,mungkin bisa berbagi?
  atau pak Eka Dj, bisa dapet akses mendapatkan hasil temu pakar itu?
   
  Saya sekedar tertarik saja mengikuti diskusinya. 
  Pengent tau ada kajian tata ruang yang pro PLTN gak ya? huehehehe


      B. Dwiagus Stepantoro   
  Jakarta, INDONESIA
    http://bdwiagus.blogspot.com 
Just be open,... who knows lightning will strike!!


    
---------------------------------
  Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.   

  

         

       
---------------------------------
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware 
protection. 
       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke