halo semua... Memang seru nampaknya topik terhangat ini, hehehe... Niatnya masih ingin jadi pembaca dan konsumen referensi, eh malah gereget nimbrung nulis untuk topik ini... Kebetulan saya juga tinggal di Bintaro, dan kerap kali menjadi pengguna jalan tol JORR dan BSD... cuma bisa bilang, dinamika pembangunan memang memaksakan Jasa Marga untuk melakukan langkah2 dan keputusan yang tidak populer dan cenderung merugikan pengguna...
Mereka pun punya beban untuk secepat mungkin membuka akses dari barat ke timur jakarta yang melingkar, sehingga kendaraan2 berat langganan pantura bisa nambah alternatif dengan melingkari jakarta instead of melewati tol dalam kota... Masih ada tol BSD - Balaraja - Tangerang, Trus kelanjutan JORR yang ke Airport (ini yang ditunggu2), dan Jebolnya JORR ke Cikampek (ini so pasti dinantikan warga Bintaro dan BSD untuk trip ke Bandung, hehehe)... Jadi, ya mudah2an Jasa Marga mau mendengar, menerima, dan berubah ke arah yg lebih baik terhadap masukan dan kritikan dari masyarakat, terutamanya para pakar... Meanwhile, untuk pengguna JORR, tarifnya masih dibawah US$1 kok, hahaha... Saya jadi kebayang, gimana kalo seandainya si decision makers dari Jasa Marga yang langsung jadi penjaga loket tiket JORR, pastinya bakal seru dan keputusan dibatalkan... salam hangat dari Bintaro:) ----- Original Message ---- From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, August 29, 2007 10:20:12 PM Subject: [referensi] Tol-JORR TOL JORR NAIK BERLIPAT-LIPAT Setiap kali ada kenaikan tarif jalan tol, walaupun kenaikan hanya 10-20%, selalu ada yang memprotes. Saya 2 kali menulis di media dan selalu membela kenaikan jalan tol. Alasan saya, jalan tol itu jalan alternatif. Jadi kalau nggak setuju kenaikan tol, lewat jalan lama saja yang gratis. Lagipula kenaikan tarif tol itu juga memberi iklim investasi yang menarik bagi calon investor untuk ruas jalan yang lain. Tapi kali ini, kenaikan jalan tol JORR (Jakarta Outer Ring Road) membuat saya benar-benar KO. Bayangkan, saya biasa menggunakan jalan tol ruas Pondok Ranji sampai ke Veteran hanya membayar Rp 2000, tiba-tiba saya harus membayar Rp 7.500. Gila! Kenaikan sampai 375%. Hal ini juga dialami oleh pengguna lain. Apalagi pengguna ruas Veteran sampai Pondok Pinang yang hanya Rp 1000 berubah menjadi Rp 6000, atau kenaikan 600%. Pagi itu saya berangkat ke kantor lewat pintu tol Pondok Ranji-Bintaro. Di hadapan saya sudah antri sepanjang kira-kira i km. Rupanya banyak pengguna tol yang pada balik arah. Ketika mendekati pintu tol, terlihat layanan pembayaran sangat lambat. Sesampai di pintu tol saya baru kaget, rupanya kemacetan itu karena banyak yang kaget, ya seperti saya, mereka harus membayar Rp 7.500. (dari sebelumnya hanya Rp 2000). Saya sempat bilang sama penjaga pintu tol itu "sialan!". Saya janji, nanti sore pulang kantor, saya tidak akan melewati tol lagi. Sore hari, ternyata jalan yang non-tol menuju Bintaro macet... cet...cet, akhirnya saya harus bayar lagi Rp 6.500 lewat tol. Aku sempat bilang ke penjaga tol "Pemerasan!" . Sampai di pintu Pondok Ranji saya pikir tidak mbayar lagi, ternyata saya harus bayar Rp 1.500. Saya sempat melotot ke penjaga pintunya. Jadi total bayar tol pergi-pulang Rp 15.000. padahal biasanya hanya Rp 4.000. Saya heran, mengapa Jasa Marga tidak men-sosialisasikan (Bahasa Indonesia yang tidak ada padanan Bahasa Inggrisnya) terlebih dahulu? Saya pikir bukan kurang sosialisasi, tapi sengaja tidak men-sosialisasikan. Karena dengan kenaikan 20% saya masyarakat protes, apalagi sekarang kenaikan sampai 600%. Jadi ini cara-cara pemerasan! Jasa Marga memang sudah siap dengan jawaban bahwa pengguna jarak pendek memang terasa mahal, tetapi pengguna jarak panjang terasa lebih murah. Lho, pengguna jarak pendek koq harus menyumbang pengguna lainnya? Istilahnya "Cross-subsidy" . Ini tidak betul dan diskriminatif. Menurut UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, Hak Konsumen, pasal 4.h" Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif" dan tentang Kewajiban Konsumen pasal 5 "Membayar sesuai nilai tukar yang disepakati". Sementara Hak Pelaku Usaha pasal 6 "Hak menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar yang diperdagangkan" dan kewajiban Pelaku Usaha pasal 7 b " memberikan informasi yang jelas....", c" ...memperlakukan atau melayani konsumen secara jujur dan tidak diskriminatif" . Nah harga yang naik sampai 600% itu apa sudah disepakati, apa sudah diinformasikan dengan jelas, apakah sesuai dengan nilai tukar transaksi? Menurut saya ini pelanggaran hukum. Mengapa Jasa Marga berbuat demikian? Sebetulnya pola JORR yang melingkar itu tegak lurus atau tidak sesuai dengan pola pergerakan sehari-hari masyarakat Jakarta. Pergerakan sehari-hari masyarakat Jakarta berpola memusat (menuju Pusat Kota), sedangkan JORR justru melingkar dan tegak lurus dengan pola pergerakan yang ada. Jadi pengguna JORR itu bukan pergerakan jarak jauh, tetapi sebagian besar pengguna jarak pendek saja, dari pintu ke pintu yang dekat saja, untuk menghindari kemacetan, bukan karena lewat jalan tol ingin lebih ekonomis. Alhasil, pendapatan Jasa Marga jauh lebih rendah dari perkiraan, alias rugi. Ini juga karena kesalahan dalam perencanaan. Dalam perencanaan (Feasibility Study), kunci utama adalah proyeksi arus lalu lintas. Kalau sudah mencapai 25.000 kendaraan lewat perhari, maka secara finansial akan layak. Dengan data pertumbuhan kendaraan, pola land use, dan survey origin-destination, melalui program komputer, maka diperoleh angka proyeksi. Mungkin saja hasil proyeksi terlampau besar, dan ternyata pengguna umumnya berjarak pendek. Pengguna jarak pendek ini juga hanya beberapa ruas saja, misalnya ruas Pondok Ranji-Veteran atau Ampera-Pondok Indah. Yang lain sepi. Bagi Jasa Marga, pengguna berjarak pendek dan hanya ruas tertentu tidak efisien. Lebih dari itu, dengan sistem tertutup dengan kartu, akan sangat sulit mem-verifikasi pendapatan berdasarkan warna tiket. Ini juga bisa terjadi kebocoran. Selain itu ongkos personal penjaga pintu tol juga sangat banyak. Ini juga kerugian. Kerugiannya tidak cuma itu. Berlarut-larutnya ruas Jatiwarna-Cikunir karena soal tanah, itu juga kerugian yang sangat besar. Maka Jasa Marga berpikir bagaimana menutupi potensi kerugian-kerugian semua itu. Kalau tarif hanya dinaikkan hanya 20%, maka nggak nyampai. Menurut perhitungannya, mungkin rata-rata kenaikan harga harus sekitar 200-300%. Kalau diumumkan naik 200-300%, wooau.... pasti masyarakat pengguna marah. Oleh karenanya dibuat taktik dengan mengubah Sistem Tertutup menjadi Sistem Terbuka, atau jauh dekat sama Rp 6000. Dengan tarif itu Jasa Marga sudah menyiapkan jawaban bahwa pengguna jarak pendek membayar lebih mahal, tapi pengguna jarak jauh jauh lebih murah. Seolah ini pernyataan yang logis, padahal yang pengguna jarak jauh itu sangat sedikit dibandingkan pengguna jarak pendek yang hanya pada ruas tertentu saja. Jadi lebih banyak pengguna dirugikan daripada yang diuntungkan. Oleh karena itu Jasa Marga sengaja tidak mensosialisasikan. Seperti rampok saja. Jasa Marga sepertinya yakin. Dalam sebulan dua bulan penghasilan akan turun karena pengguna seperti saya ini ogah lewat jalan tol lagi. Lagi-lagi yakin, itu tidak berjalan lama karena jalan yang lama, atau non-tol akan terus menerus macet...cet. ..cet. Akhirnya pengguna jarak pendek itu lama-lama akan masuk tol lagi. Yakin dah!. Ketika menulis posting ini, masih ada rasa marah. Saya merasa bersalah mengumpat penjaga pintu tol dengan ucapan yang tidak pantas seperti "sialan", pemeras, dsb. Mereka hanya pegawai saja. Ya maaf. Akhirnya saya ambil positipnya saja. Besok saya dari rumah akan jalan kaki sampai gerbang komplek perumahan. Lumayan olah raga untuk memperkecil perut. Selanjutnya saya mau ambil angkot dan terus naik Bus Feeder Bintaro-Senayan sambil tidur. Dari sana kemudian naik Bus Way. Biasanya di Bus Way ketemu banyak mahasiswi Atmajaya. Udah gitu saja. Entah kuat sampai kapan. Thanks. CU. BTS. <!-- #ygrp-mkp{ border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;} #ygrp-mkp hr{ border:1px solid #d8d8d8;} #ygrp-mkp #hd{ color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;} #ygrp-mkp #ads{ margin-bottom:10px;} #ygrp-mkp .ad{ padding:0 0;} #ygrp-mkp .ad a{ color:#0000ff;text-decoration:none;} --> <!-- #ygrp-sponsor #ygrp-lc{ font-family:Arial;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{ margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{ margin-bottom:10px;padding:0 0;} --> <!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 0 1em 0;} #ygrp-tpmsgs{ font-family:Arial; clear:both;} #ygrp-vitnav{ padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} #ygrp-vitnav a{ padding:0 1px;} #ygrp-actbar{ clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} #ygrp-actbar .left{ float:left;white-space:nowrap;} .bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{ font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} #ygrp-ft{ font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666; padding:5px 0; } #ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;} #ygrp-vital{ background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;} #ygrp-vital #vithd{ font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;} #ygrp-vital ul{ padding:0;margin:2px 0;} #ygrp-vital ul li{ list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; } #ygrp-vital ul li .ct{ font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;} #ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold;} #ygrp-vital a{ text-decoration:none;} #ygrp-vital a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor #hd{ color:#999;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov{ padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} #ygrp-sponsor #ov ul{ padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{ list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov li a{ text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc{ background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor .ad{ padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{ font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;} o{font-size:0;} .MsoNormal{ margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{ font-size:120%;} blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq{margin:4;} --> ____________________________________________________________________________________ Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out. http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469

