1. Susah juga kalau mbangun infrastruktur untuk para poorest of the poor tanpa 
mencegah orang yang lebih sejahtera untuk menikmatinya,... 

2. Susah pula membangun infrastruktur tanpa menghindari adanya migrasi ke urban 
area dan meninggalkan kawasan terpencil menjadi semakin sepi,... 

3. Maka saya tidak mengerti permasalahannya di mana dari dua fenomena tersebut 
di atas,....  karena kalau ada orang kaya jadi freerider, ya tidak masalah 
bukan,masih banyak cara untuk memastikan poorest of the poor mendapatkan 
benefit sedikit atau banyak...... adanya migrasi ke urban area juga tidak ada 
masalah, kalau memang mamapu meningkatkan taraf hidup orang itu.... 

4. Maka pula saya pikir tidak perlu menutup mata pada kemungkinan effisiensi 
dan efektifitas dari sebuah aglomerasi dan urbanisasi  .... dan juga 
kemungkinan ketidakefisiensian (halah, panjang) dan ketidakefektifitasan (halah 
lagi,...) dari sebuah urbanisasi yang memang dipertanyakan ketika fenomena 
pemindahan kemiskinan desa terpencil ke kota yang dikemukakan Pak ekoBK malah 
cenderung terjadi, .... 

5. Memangbanyak ketidak efisienan biaya pembangunan infrastruktur karena 
pengaruh jarak dan cakupan pelayanan yang jauh dan luas,..... dan kalau secara 
logika sederhana memang keliatan efektifnya pemecahannya adalah pemekaran, dan 
pembentuka aglomerasi baru di luar sistem aglomerasi induknya,... 
Maka saya senang nih ketika Kota Tangerang Selatan terbentuk disetujui oleh 
parlemen, .. paling tidak saya tidak perlu jauh2 lagi mengurus administrasi utk 
segala pelyanan .....  
Dan juga pemekaran kabupaten yang terjadi di provinsi NTT dan NTB yang dalam 3 
tahun terakhir sudah bertambah 6-9 kabupaten baru,... karena banyak daerah2 
terpencil memang tidak terlayani  akrena sistem aglomerasi yang ada sebelumnya 
tidakpunya kapasitas (atau tidak cerdas ??) untuk mendeliver pelayanan sampai 
ke desa-desa terpencilnya,... 
masalah cost efisiensi dan cost efektifitas dari pemekaran itu memang masalah 
lain,... 
Tapi paling tidak, pusat jadi memang harus turut pula bertanggung jawab 
terhadap aglomerasi-aglomerasi daerah terpencil itu,....  karena memang tidak 
ada cara lain barangkali untuk mempush pusat untuk mengembangkan daerah2 
terpencil itu,... 

5. Saya malah penasaran dengan usulan pak BTS untuk menggunakan pendekatan 
pembiayaan melalui anggaran belanja daerah untuk daerah2 terpencil itu,...... 
apakah ada studi empirisnya, pengalaman sekilas,... 
Tapi emmang pernah dibahas dulu, bahwa yang penting adalah daerah terpencil itu 
adalah emndapatkan pelayanan umum yang paling standard ajah dulu,.. baru 
berpikir ambisius "mengembangkan" daerah terpencil itu,.... paling tidak sektor 
kesehatan dan pendidikan dan ketahanan pangannya,.... 
saya pikir anggaran belanja daerah untuk ketiga sektor itu memang yang sangat 
krusial,... dan harusnya bisa diutak-atik oleh pemda sekreatif mungkin,... 
mungkin perbanyak anggaran untuk belanja daerah untuk gaji bidan dan dokter 
desa, tambahan honor untuk dokter PTT, tambahan gaji dan honor untuk penyuluh 
pertanian, penyuluh kesehatan, sekolah keliling, puskesmas keliling, perpus 
keliling, honordan gaji guru keliling, kelas desa, pos yandu,perkuat sistem 
askeskin, kelompencapir, dll.... tak perlu bangun2 infrastrukutr yang kadang 
kita lupa mengukur efesiensi dan efektifitasnya ketika bikin design nya,.... 

maaf cuman komentar ngawur. heheheh

salam dari jakarta,.. 
eh salah, dari Rempoa, Tangerang Selatan, Banten

dwiagus



Eko BK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               Pak Aunur, Pak 
BTS, dan Bung Muli,
 
 Senang juga topik ini diangkat kembali. Kalau Pak Aunur dan Bung Muli
 tidak keberatan melihat kembali posting2 terdahulu, topik ini sudah
 banyak juga saya dan Pak BTS tulis...
 
 Bung Muli tidak sepenuhnya salah (dan Pak BTS tidak sepenuhnya benar)
 ketika dikatakan bahwa Planner lebih condong pada (istilah Pak) BTS:
 "region based development"... mengapa? lihat saja di RTRWN, yg dibahas
 adalah "kawasan andalan", "kawasan tertinggal", dsb... jadi fokusnya pd
 kawasan/ region nya, bukan pd "orang" nya... pdhal dlm kawasan2 andalan
 dan tertinggal tersebut terdapat:
 1. orang kaya dan orang miskin.
 2. orang2 tsb bisa saja migrasi...seringkali kita beranggapan bahwa
 people stay di sana terus...
 
 Akibatnya:
 1. program pembangunan infrastruktur oleh pemerintah ke kawasan2
 tertinggal, misalkan, sering tidak memberikan benefit pd the poorest of
 the poor... malah yg diuntungkan orang2 kaya di kawasan2 tsb...
 2. dengan terbukanya suatu kawasan yg terjadi seringkali migrasi dari
 kwsn tsb ke perkotaan yg membuat kawasan tsb menjadi semakin
 tertinggal... beberapa kabupaten di Madura adalah contoh nyata...
 mungkin juga Garut Selatan... dan masih banyak implikasi lainnya...
 
 Topik ini sebetulnya topik lama dalam dunia akademik... pertamakali
 dilemparkan oleh Louis Winnick di tahun 1966: "Place Prosperity vs
 People Prosperity" (sayangnya papernya tdk dpt saya temukan di
 internet)... kemudian diangkat lagi oleh Roger Bolton dlm artikel di
 jurnal Urban Studies (hard copynya bisa di copy di perpus PL ITB yg
 mengkoleksi jurnal pd tahun tsb)...
 
http://www.ingentaconnect.com/content/routledg/curs/1992/00000029/00000002/art00003;jsessionid=4l56isb4umgc4.victoria
 
 Di internet, masalah ini juga dibahas di blog ini:
 
http://planningresearch.blogspot.com/2007/02/place-based-vs-person-based-community.html
 
 Contoh negara yg pernah menerapkan place prosperity adalah Perancis dg
 Amenagement du territoire nya, yg menggabungkan usaha pembangunan
 ekonomi regional dan nasional dg pembangunan spasial...tetapi penerapan
 kebijakan ini pun sangat terkait dg pemenang politik di negara tsb...
 kebijakan amenagement du territoire ini dimulai oleh pemerintah
 Perancis ketika sosialis memegang tampuk pemerintahan bahkan diangkat
 di bawah kantor perdana menteri... Namun Pemerintah Perancis memang
 lebih serius, beberapa hal yg dipengaruhi kebijakan ini antara lain
 pembangunan TGV, pemberian insentif pajak bagi pengusaha yg invest di
 luar Paris, pengembangan 8 metropolitan penyeimbang Paris (pernah saya
 diskusikan panjang dg Pak Aby di milis ini), dll...di Indonesia kita
 baru sebatas penetapan kawasan andalan, tertinggal, kapet, dan sedikit
 dana pembangunan... semoga kantor Pak Aunur bisa menambah serius
 program ini...
 
 namun kembali, program place prosperity atau region based devt ini
 program yg mahal...lebih efisien menyuruh masyarakat utk migrasi spt
 saran Bung Muli... tapi seperti diskusi saya dg Pak Aby ttg migrasi,
 tdk semudah itu menyuruh, mendukung orang utk melakukan migrasi, banyak
 faktor mulai dari institusi, kultur, yg membuat orang enggan
 bermigrasi... lagi pula urbanisasi berupa migrasi ke urban pun tdk
 terlalu banyak gunanya tanpa transformasi kultur, pola pikir, sikap,
 sistem produksi dari pola rural ke pola urban... tanpa itu, yg terjadi
 hanya urbanisasi semu, hanya memindahkan kemiskinan desa menjadi
 kemiskinan kota...
 
 Mengapa saya senang topik ini diangkat kembali? Karena saya masih
 penasaran dg jawaban, dan ingin belajar, paling tdk pengalaman empirik
 dari bapak2... Indonesia adalah negara unik, kepulauan yg luas dg
 penduduk yg tersebar membuat pembangunan region based menjadi mahal,
 tetapi di sisi lain umumnya setiap suku memiliki keterkaitan kuat
 secara adat, kultur, dg place di mana mereka berasal yg membuat region
 based devt tdk bisa dikesampingkan, karena akan membuat kecemburuan
 antar suku dan keinginan memisahkan diri dari NKRI muncul... so
 bagaimana jawabannya? tidak dapat dicari di literatur karena keunikan
 bentuk Indonesia...semoga bapak2 tdk berkeberatan membagi ilmu...
 terimakasih..
 
 salam dari Savannah..eh Paris...hehe..
 
 Eko...
 
 --- Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
 > milister ysh
 > Saya senang dengan wacana tentang "region based development" vs
 > "people based development", untuk membangun daerah tertinggal, karena
 > saat ini sedang ada debat diantara para birokrat dalam upaya
 > mengurangi "kemiskinan", apakah harus dengan pemberian bantuan
 > langsung pada masyarakat (BLM) seperti yang akan dilakukan melalui
 > PNPM mandiri. Atau kita harus melalui pendekatan region based
 > development lebih dahulu atau dua-duanya...... atau PNPM mandiri
 > hanya sebuah upaya jangka pendek bagi keperluan "politik" atau memang
 > PNPM cocok untuk membangun daerah tertinggal ? Saya ingin memperoleh
 > pencerahan tentang kedua "term" diatas. Mudah2an bung BTS atau bung
 > Muli mau menjelaskan lebih lanjut
 > salam 
 > 
 > 
 > ----- Original Message ----
 > From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
 > To: [email protected]
 > Sent: Tuesday, September 18, 2007 8:46:14 PM
 > Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil
 > 
 > 
 > Ysh Muli dan milister lainnya.
 >  
 > Halo Muli apa khabar?
 >  
 > Memang mencengangkan kalau sebagian besar APBD itu untuk mendanai
 > urusan pemerintahan, yaitu rata-rata 63% untuk belanja rutin dan
 > operasional. Dan hanya sekitar 18% untuk investasi publik. Tetapi
 > tidak usah terlalu risau sebab dari 63% tersebut, sekitar 30% adalah
 > untuk menggaji guru dan paramedis (jadi tidak hanya untuk birokrat,
 > tetapi juga untuk pelayanan). Kemudian sekitar 25% memang untuk gaji
 > pegawai dan pemeliharaan, dan sekitar 7% untuk DPRD, sisanya untuk
 > lain-lain urusan pemerintahan. Kalau tercatat untuk pendidikan itu 5%
 > masih lumayan, saya pernah menghitung rata-rata hanya 3%. Jadi kalau
 > untuk pendidikan dari 3% atau 5% dinaikkan menjadi 20%, maka akan
 > sangat merepotkan bagaimana mengaturnya.
 >  
 > Soal distribusi penduduk yang cenderung "take for granted" memang
 > rada aneh. Kalau mau efisien memang lebih baik di"aglomerasi"kan.
 > Tapi pemikiran semacam ini tidak "main-stream" ya. Malah Departemen
 > Nakertrans  mau membangun banyak (120?) kota terpadu mandiri (KTM) di
 > kawasan perbatasan dan pulau-pulau terpencil dengan biaya Rp 7
 > triliun pada TA 2008. Menkesra juga mau mbangun kota-kota baru di
 > daerah-daerah terpencil. Itu khan "blunder"? Ditjen Tata Ruang juga
 > terus mengembangan tata ruang daerah-daerah remote..entahlah "..dream
 > comes true" atau "... true goes dream". Di Departemen Kelautan dan
 > Perikanan juga ada Direktorat Penataan Ruang Daerah Pesisir (bukankah
 > sebagian besar pesisir adalah daerah remote?).
 >  
 > Ya entahlah, kita monitor dan evaluasi saja, seberapa jauh kinerja
 > program yang dibuat. Semoga berhasil.
 >  
 > Thanks. CU. BTS.
 >  
 > ----- Original Message ----- 
 > From: Mulya Amri 
 > To: [email protected] 
 > Sent: Tuesday, September 18, 2007 3:52 PM
 > Subject: Re: [referensi] Membangun Daerah Terpencil
 > 
 > 
 > Pak Bambang & rekan-rekan ysh,
 >  
 > Terkait dengan judul "membangun daerah terpencil" (walaupun pak BTS
 > khusus membahasnya dari aspek fiskal), mungkin ada referensi yang
 > menarik, yaitu dokumen/laporan yang terkait dengan program
 > Bappenas/UNDP di Tanah Papua, yaitu People-centered Development
 > Programme (PDP). [ http://www.undp. or.id/papua/, lalu klik reports] 
 >  
 > Dalam "Multistakeholder Synthesis of the Development Situation in
 > Papua" (2005), saya agak tercengang membaca paragraf berikut:
 > "Penggunaan kapasitas keuangan daerah ... sangat bervariasi antar
 > daerah, tetapi pada umumnya porsi terbesar dipakai untuk belanja
 > rutin/operasional. Pada tahun 2002, rata-rata 63% dari jumlah
 > penerimaan digunakan untuk belanja rutin/operasional. .. rata-rata 5%
 > digunakan untuk pendidikan.. . rata-rata 2% untuk kesehatan." 
 >  
 > Bagaimana tanggapan Pak Bambang tentang ini?
 >  
 > Selain itu, saya mau angkat pertanyaan yang mungkin agak
 > kontroversial/ nyeleneh. Gak apa2 ya... Sorry, soalnya kaitannya
 > lebih ke tata ruang :) Selama ini, kok kita cenderung take for
 > granted tentang persebaran penduduk di daerah terpencil? Kesannya,
 > karena kondisi ini adalah given, kita (mungkin lebih tepat
 > pemerintah) HARUS melayani semua orang/penduduk, bahkan ketika hanya
 > ada segelintir penduduk di pucuk gunung sana. Akibatnya, biaya untuk
 > melayani segelintir orang itu sangat mahal. 
 >  
 > Kembali dalam laporan sintesis pembangunan Papua di atas, saya
 > menemukan berulang kali kalimat seperti ini: "Sebagian besar anak
 > kampung SD tidak dapat melanjutkan ke SMP karena letak sekolah yang
 > jauh." "Guru yang berkualitas enggan bertugas di kampung." "Pelayanan
 > kesehatan belum menjangkau seluruh warga mengingat wilayah yang luas,
 > dan permukiman penduduk yang tidak terkonsentrasi; diperlukan
 > prasarana dan sarana pelayanan dan pemberian pembiayaan yang optimal
 > disertai ketenagaan dengan jumlah dan kwalitas memadai." "Minimnya
 > infrastruktur membatasi akses pedagang melakukan perjalanan atau
 > komunikasi ke daerah terpencil, membatasi akses ke pasar..." 
 >  
 > Loh, yang letaknya jauh itu SMP-nya atau kampung-nya? Mana yang lebih
 > "baik" (baik dalam arti apapun): menyediakan layanan dan
 > infrastruktur sampai ke kampung-kampung (artinya
 > membangun/meng-"kota"-kan wilayah desa), atau memindahkan
 > kampung-kampung - yang mungkin isinya cuma puluhan orang - ke daerah
 > kota (artinya membangun/meng-"kota"-kan orang desa, sambil membiarkan
 > wilayah desa tetap jadi wilayah desa)? 
 >  
 > Memang, ini pertanyaan lama. Tapi saya masih penasaran. 
 >  
 > Salam,
 > Muli
 >  
 >  
 > On 9/5/07, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED] id> wrote: 
 >  
 > 
 > 
 > 
 > 
 > 
 > 
 >        
 >
 __________________________________________________________
 > Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search 
 > that gives answers, not web links. 
 > http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC
 
 __________________________________________________________
 Luggage? GPS? Comic books? 
 Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
 http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz
 
     
                               


B. Dwiagus Stepantoro   
Jakarta, INDONESIA
http://bdwiagus.blogspot.com 
Just be open,... who knows lightning will strike!!



       
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!

Kirim email ke