Pak Akhmad ysh, Terima kasih sudah menanggapi, namun saya sedikit kecewa bila penjelasannya tidak seperti yang saya harapkan. Sebelumnya saya menduga bila arahannya pada pembenahan orientasi karya dan monoloyalisme, namun sepertinya menyasar pada moral hazard. Topik ini pernah kita ungkapkan dalam thread Panen Lontar, sebagaimana dapat dilihat pada posting http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/284, dan sebenarnya bila dikaitkan dengan masalah profesi, target-sasaran, dan korupsi, perlu duduk dulu beberapa persoalan, beberapa di antaranya saya rumuskan sebagai berikut : - Perlu jelas sifat pekerjaan perencanaan: inter-, multi-, atau meta-? - Sehingga mengerti bagaimana dikerjakan: perorangan, maatschaap, firma, perusahaan terbatas? - Sehingga tahu siapa yang bertanggung jawab: bouwheer, perencana, komunal tim, korporasi, ataukah pengguna? - Sehingga paham bagaimana pekerjaan itu dilakukan: diteliti, dijiplak, dipenuhi prosedur dan pedomannya, diciptakan inovasi, half- effort, full-effort? - Sehingga jelas juga masalahnya: public administration, sistem prosedur, kompetensi tenaga ahli, kapabilitas perencana, etika profesi, atau moral hazard? Diskusi kita selama ini belum putus. Mohon bila Pak Akhmad memang mengarahkan ke situ, dapat menguraikan `kompetensi perencana dan pekerjaan perencanaan' yang ideal itu seperti apa. Sementara demikian dulu. Salam.
-ekadj --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Ass.Wr.Wb. > Trimakasih atas tanggapan terhadap tulisan saya ttg Haman. > > Sedikit penjelasan dari maksud tulisan tsb : > > Bahwa Haman ini sebenarnya teknokrat hebat jaman Fir'aun dan selanjutnya > dijadikan "Menteri PU" nya Fir'aun. > > Nabi Musa sebagai utusan Allah ditantang untuk menyadarkan Fir'aun dan > Haman, kemudian kita ketahui bahwa nabi Musa adalah nabinya kaum Yahudi, > Nasrani juga nabinya ummat Islam. Sehingga peringatan ttg Haman ini saya > kira Universal atau bukan hanya miliknya ummat Islam.Jadi mungkin tidak > perlu istilah perencanaan syariah apalagi dikaitkan dengan > kelompok-kelompok islam atau mahzab-mahzab dlsb. > > Tulisan ttg Haman ini cuma ingin mengingatkan jangan kita seperti Haman yg > hanya sebagai hamba/ budaknya penguasa > > Dalam kita merencanakan jadikan kegiatan kita sebagai Ibadah dan akan kita > pertanggungjawabkan dunia dan akherat. Sehinga niat kita dalam membuat > rencana betul-betul ikhlas karena Allah dan jangan dikotori ibadah > merencana kita dengan yg dimurkai Allah (KKN,mengurangi timbangan dlm hal > ini konsultan mengurangi jumlah tng ahlinya dll). > > Dalam beribadah merencana tentunya kita harus berpihak kepada "kebenaran", > kebenaran itu hanya datang dari Allah. Ini kita perlu bertanya pada ulama > yg memang benar-benar ahli. > > Kemudian kita merencana ini untuk 20 tahun, sedangkan apa yg kita ketahui > dan apa yg akan terjadi 20 tahun mendatang ? Apakah semua akan seperti > skenario kita ? Sehinnga kita perlu Tawakal atau serahkan kembali hasil > produk rencana kita pada Allah sang penentu. > > Kemudian dalam memilih alternatif, mungkin kita perlu "Istiqoroh" selain > dengan teknik-teknik analisis yg kita punya. Karena apa yg terjadi ke > depan pengetahuan kita sangat terbatas. > > Memang selama ini saya sadari ilmu perencanaan yg kita pelajari adalah > ilmu Sekuler yg memisahkan urusan dunia dan akherat. Sehingga > pertanggungjawaban produk rencana kita hanya sebatas urusan administrasi > proyek di dunia selesai maka selesai urusan kita. Padahal sebenarnya masih > ada pertangung-jawabannya yang akan terus kita bawa hingga akherat kelak. > > Semoga bermanfaat > > Wassalam > Akhmad

