Rekan-rekan Referensiers ysh.,

Berikut tulisan Bapak Rachmad Mekaniawan, Ciriajasa Group di milis 
Alumni Jurusan Teknik Sipil-ITB yang kami moderatori.

Di-forward atas seizin Pak RM. Semoga artikel beliau ini dapat menggugah 
  kita semua memberantas KKN di NKRI yang - tentu saja - banyak 
berkaitan secara etika, filsafat, dlsb. dengan perencanaan pembangunan 
nasional.
Plan-o-logi. :-)

Mudah-mudahan diskusi ini tidak malah jadi monolog. :-)

Terima kasih.

Salam,

Mohammad Andri Budiman
"Bias-Bias Cak Andri"
http://mandrib.kuyasipil.net/
http://mandrib.multiply.com/


---discussion begins---

Korupsi Kelompok Tiga

oleh: Rachmad Mekaniawan


Saya lanjutkan pembahasan Korupsi yang kelihatannya kurang peminat,
dan lebih tertarik masalah perpeloncoan :-)

Korupsi dilakukan oleh kelompok ketiga seperti dalam posting saya
terdahulu adalah sangat sulit diberantas. Hal ini bisa kita simak
dalam banyak komentar misalnya :"Anda nggak tahu kehidupan PNS sih"
atau "Saya sih diam aja, meski saya tahu mereka-mereka yang korup
atau "Coba anda jadi PNS"."Pejabat" Indonesia bisa dibeli dengan
harga murah dan banyak lagi.

Semua ini muncul karena penghargaan berupa gaji dan fasilitasnya
yang memang kurang dari cukup. Sebetulnya kalau mau berpikir normal,
misal saat ini ada proyek nilainya 100%. di kick back 20 % kenapa
nggak kita bikin aja proyek nilanya 80 % yang 20 % dibuat nambahin
pendapatan PNS secara resmi, kan sama saja. Yang membedakan cuma
cara uang itu mengalir menjadi resmi saja. Memang yang jadi masalah
ketika gaji PNS naik, maka akan diikuti kenaikan harga kebutuhan
pokok atau kebutuhan pokok naik begitu muncul rumor gaji PNS naik.

Minggu kemarin saya terlibat diskusi dengan seorang pegawai Medco
yang tugas di gurun pasir dengan gaji 5500 US $ baru lulus kurang
dari 5 tahun dari elektro UGM, satu lagi dari BP Migas yang mengatur
masalah penggajian tenaga kerja di perminyakkan. Memang secara
gampang kita lihat bahwa teman-teman yang berkecimpung di
perminyakkan mendapat gaji yang jauh lebih baik dibanding sektor
lainnya. Namun untuk mendapat gaji sebesar yang di gurun tentu
sangat mustahil di Indonesia, apa sebab, wong kerjanya sama kok.

Cara berpikirnya yang saya tangkap demikian.

Investor minyak menanggung seluruh biaya eksplorasi. Jika gagal
dapat sumur minyak, maka biaya ini seluruhnya ditanggung investor.
Jika berhasil, maka ada masa recovery untuk pengembalian investasi
dengan pola 75 % investor dan 25 % Pemerintah, setelah lunas dan
tetap berproduksi maka 25 % investor dan 75 % Pemerintah.

Dengan pola yang demikian, maka Pemerintah akan berusaha menekan
biaya investasi sekecil mungkin termasuk berapa banyak bule dan
berapa besar gajinya harus disesuaikan dengan gaji Indonesia. Hal
ini tak lain ditujukan agar periode pengembalian Investasi tidak
panjang, tidak besar dan pada saat pemerintah dapat 75 % bagiannya
sumur masih memiliki cadangan yang memadai untuk berproduksi.

Dengan pola demikian maka mustahil tenaga ahli indonesia yang
bekerja diperusahaan global akan memperoleh gaji dengan standard
global di Indonesia.

entar disambung lagi .....

Salam

RM

---discussion ends---

Kirim email ke