YSH Rekan2 milist referensi, Tadi pagi mendengar di radio, ulasan tajuk berita di beberapa surat kabar, dan mendengar koran SINDO mengupas ketimpangan PDB antara Jawa dan luar jawa. Bayangkan, dominasi pulau jawa lebih dari 50% menyumbang PDB Nasional. Strategi nasional penataan ruang dan pembangunan perkotaan ternyata selama ini sejak UU24 thn 1992, belum bisa menjawab masalah ketimpangan regional ini. Terbukti gagal, ataukan masih mau tetap optimis? Kalau tidak optimis, itu bukan seorang planner sejati mungkin ya? Atau perlu inovasi2 pendekatan lain?
Mungkin ini bisa menambah semangat Bung Andri, untuk lebih bergairah lagi berjuang mengurang ketimpangan ini,....... asal, kalau ke Jakarta, mampir2 kunjungi kami dong, bawa bolu meranti dan jus terong belanda. Huehehehehe. Tapi ada berita bagus pula,.. 1. Walaupun sektor pertanian masihunderdog, tapi mulai ada peningkatan kontribusi sektor ini? Ada penjelasan kah untuk ini? Sudah mulai dilirik beberapa orang mungkin? 2. bank dunia melangsir bahwa akan ada pengurangan jumlah pendudk miskin sampai sekitar 4,6 juta, pada akhir tahun ini,...... diduga karena program BLT, dan segala macam program pemberdayaan masyarakat. Bisa kah strategi penataan ruang dan pembangunan perkotaan menjadi supporting system dari program2 yang ada ini? mungkin kuncinya adalah community development dan kembali melirik sektor pertanian,.... kalau penataan ruang silahkan sit beauty (duduk manis, kalau kata Tukul) dan menjadi pendukungnya saja ya.... Lampiran: 2 copies -------------------- Ekonomi Indonesia Masih Timpang Jum'at, 16/11/2007 JAKARTA (SINDO) – Perekonomian Indonesia masih timpang, kendati mampu tumbuh 6,5% pada kuartal III 2007. Secara umum, Pulau Jawa menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi. ”Kue PDB (produk domestik bruto) masih didominasi Pulau Jawa. Persentasenya tidak banyak berubah dibanding tahun lalu,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di Jakarta kemarin. Berdasarkan data BPS, sumbangan Pulau Jawa dalam pembentukan PDB Indonesia pada kuartal III 2007 mencapai 59,25%. DKI Jakarta merupakan provinsi penyumbang terbesar (15,93%) dengan laju pertumbuhan ekonomi 6,73%. Setelah Jawa, Pulau Sumatera menjadi penyumbang terbesar kedua dengan porsi 23,19% dari PDB nasional. ”Disusul Pulau Kalimantan sebesar 8,95%, Sulawesi 4,05%, dan Bali 1,30%. Provinsi-provinsi lain seperti Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua secara keseluruhan menyumbang 1,72%,” ungkap Rusman. Rusman mengatakan, secara kumulatif selama periode Januari–September 2007, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan tumbuh paling tinggi dalam 11 tahun terakhir sebesar 4,3%, dibandingkan periode yang sama 2006. Meski begitu, kinerja sektor-sektor yang tergolong padat karya tersebut masih menjadi penghambat ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih tinggi. ”Sejarah menunjukkan pertanian selalu underdog di dalam pertumbuhan ekonomi. Selalu menarik ke bawah, sekarang pun masih menarik ke bawah dari 6,3% (kumulatif kuartal I–III 2007). Dia (pertanian) masih tumbuh 4,3%,” ujarnya. Rusman menambahkan, berdasarkan pendekatan pengeluaran, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2007 belum berkualitas. Pertumbuhan ekonomi masih didominasi komponen yang tidak memiliki efek berganda (multiplier effect) bagi penciptaan lapangan kerja. ”Belanja pemerintah juga one shot (berdampak tunggal). Ekonomi yang dipicu oleh konsumsi saja itu hanya one shot, tidak memiliki multiplier effect,” katanya. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2007, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sebagian besar bersumber dari komponen ekspor barang dan jasa, yaitu sebesar 3,6%. Sumbangan terbesar kedua (3%) dari komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang merupakan komponen terbesar PDB. Pembentukan modal tetap bruto memberi sumbangan pertumbuhan 1,9%, sedangkan konsumsi pemerintah memberikan kontribusi pertumbuhan paling kecil, yakni 0,5%. Di tempat terpisah,Presiden Direktur Institute for Development Economics and Finance (Indef) M Fadhil Hasan mengatakan, pertumbuhan sektor pertanian tahun ini disebabkan oleh faktor alam. Dengan demikian, pertumbuhan sektor pertanian tidak mencerminkan adanya usaha sungguhsungguh pemerintah.”Itu ekonomi untung-untungan karena bukan buah suatu kebijakan,”katanya. Fadhil menambahkan, untuk menekan kesenjangan antardaerah, pemerintah perlu mengembangkan sektor usaha tertentu yang berbeda pada satu kawasan dengan kawasan lainnya. Diperlukan pula dana khusus dari pemerintah untuk mempercepat pembangunannya. Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2008 bisa mencapai 6,4%. Angka ini meningkat 0,1% dari proyeksi pertumbuhan tahun ini, 6,3%. Ekonom Bank Dunia William E Wallace mengatakan, peningkatan investasi dan konsumsi domestik bakal mendorong pertumbuhan ekonomi 2008. Pertumbuhan investasi diprediksi naik menjadi 10,6% dari 7,7% pada 2007. Dia menambahkan, ekspor akan berkontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan sebagai kompensasi kenaikan harga minyak dunia. ”Peningkatan konsumsi dan investasi domestik akan mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah terjadinya perlambatan ekonomi global dan penurunan ekspor ini,” ujar Wallace di Jakarta,kemarin. Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Joachim von Amsberg mengatakan, kendati terjadi perlambatan ekonomi global, Indonesia bisa mencapai momentum pertumbuhan ekonomi yang positif. Syaratnya,selain meningkatkan belanja infrastruktur, Indonesia juga harus menarik investasi asing. ”Reformasi iklim investasi akan mendorong tambahan investasi ke Indonesia.Ini akan menambah lapangan pekerjaan dan men- dorong peningkatan pendapatan sehingga kemiskinan bisa dikurangi,” jelas dia. Disinggung prediksi pemerintah bahwa pertumbuhan ini meleset dari target 6,3% menjadi 6,2%, Wallace menilai realisasi pertumbuhan sebesar itu tidak akan berdampak terlalu besar. Pasalnya, investasi yang menggerakkan sektor riil tetap tumbuh, meski tidak secepat yang diharapkan. Bank Dunia melaporkan, pertumbuhan ekonomi di negaranegara Asia Timur pada tahun depan akan mencapai 8,2%. Angka ini sedikit turun dibanding pertumbuhan ekonomi Asia Timur tahun ini sebesar 8,4%, menyusul perlambatan ekonomi global. Hal ini tidak akan sampai pada tingkat mengkhawatirkan karena perekonomian kawasan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi China yang memiliki tingkat konsumsi dan investasi tinggi. Lebih jauh, Bank Dunia mencatat negara-negara di kawasan ini membukukan tingkat pertumbuhan ekonomi signifikan tahun depan. Pertumbuhan ekonomi China, misalnya, diperkirakan mencapai 10,8% pada 2008,Korea 5,1%,Vietnam 8,2%, dan Thailand 4,6%. Sementara tingkat pertumbuhan ekonomi Jepang hanya mencapai 1,8% Ekonom Utama Bank Dunia Vikram Nehru mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang cepat di Asia Timur akan mendorong penurunan angka kemiskinan.Menurut catatan Bank Dunia, jumlah penduduk miskin yang hidup dengan penghasilan di bawah USD2 per hari di kawasan ini akan turun menjadi 27% dari sebelumnya 29,5%. ”Pesatnya pertumbuhan Asia Timur akan cukup berhasil mendorong penurunan angka kemiskinan. Hanya, negara-negara kawasan ini penting memelihara iklim investasi yang mendukung,”ujar dia. (muhammad ma’ruf/ zaenal muttaqin) Jumlah Penduduk Miskin Turun Jum'at, 16/11/2007 JAKARTA(SINDO) – Bank Dunia memprediksi jumlah penduduk miskin di Indonesia turun 4,6 juta orang pada tahun depan,dari 105,3 juta (45,2%) menjadi 100,7 juta (42,6%). Sementara penduduk sangat miskin diperkirakan turun dari 6,7 juta menjadi 5,9 juta jiwa. Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia William Wallace mengatakan, masuknya aliran investasi di industri manufaktur dan perkebunan yang padat karya akan mendorong penurunan kemiskinan. "Ini merupakan perkiraan Bank Dunia yang sudah menghitung pertumbuhan, inflasi serta dampak kenaikan harga minyak dunia. Masih ada banyak lagi faktor yang dimasukkan, tapi ini mengasumsikan pemerintah tidak menaikkan harga BBM pada tahun depan," ujarnya di Jakarta kemarin. Perhitungan itu menggunakan definisi bahwa penduduk miskin adalah warga yang hidup dengan pendapatan USD2 per hari per orang. Sementara penduduk sangat miskin memiliki pendapatan USD1 per hari. Jumlah penduduk Indonesia diasumsikan 232,9 juta jiwa pada 2007 dan 236,4 juta jiwa pada 2008. Wallace menjelaskan, penurunan jumlah penduduk miskin bisa tercapai seandainya seluruh skenario yang muncul dalam tinjauan itu terjadi. Skenario- skenario itu antara lain pertumbuhan ekonomi 6,4%, inflasi 6,0%, defisit anggaran 1,8%, dan harga rata-rata minyak dunia USD72,4 per barel. "Selain itu, pertumbuhan ekonomi AS yang melambat tidak terlalu parah, paling tidak masih sekitar 2%," jelasnya. Dia menambahkan, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan Program Keluarga Harapan (PKH) juga diyakini bakal dapat menekan jumlah penduduk miskin. “Transfer tunai yang menjadi sasaran juga turut memberikan kontribusi penurunan angka kemiskinan yang terjadi di tahun ini,” ujar Wallace. Menurut Wallace, beberapa indikator penurunan angka kemiskinan terlihat dari peningkatan angka siswa yang mendaftar sekolah dasar, tingkat kematian anak, dan akses pada sarana air bersih yang lebih baik. Meski belum begitu optimal, perbaikan indikator-indikator lain yang terangkum dalam millennium development goals (MDGs) juga mencerminkan adanya kecenderungan penurunan angka kemiskinan. “Kendati begitu, sebagian besar penduduk masih tetap dalam keadaan yang rawan dengan banyaknya rumah tangga yang dekat dengan garis kemiskinan,” lanjut Wallace. Dihubungi terpisah, staf ahli Meneg PPN/Kepala Bappenas Bidang Sumber Daya Manusia dan Kemiskinan Bambang Widianto mengatakan, perkiraan penurunan angka kemiskinan sangat logis. Hal ini mencerminkan keberhasilan pemerintah menekan angka kemiskinan. Menurut Bambang, untuk mengejar target penurunan kemiskinan 2008, pemerintah akan mendorong realisasi investasi infrastruktur dan sektor ekonomi padat karya lainnya.“ Kita juga akan mengoptimalkan program-program sosial seperti PNPM yang ditambah daya jangkaunya hingga 3.800 kecamatan atau dua kali lipat yang sudah dijangkau tahun ini,” jelas dia. Di tempat terpisah, anggota Komisi XI DPR Dradjad H Wibowo mengatakan, Bank Dunia kembali membuat kesalahan dalam membuat proyeksi terhadap Indonesia. "Bank Dunia terbukti sering salah. Datanya pun bukan hasil sensus,tapi survei yang terbatas," katanya. Dia menambahkan, Bank Dunia juga ingin menjustifikasi bahwa kebijakan neoliberal yang diambil pemerintah saat ini sudah berhasil menurunkan kemiskinan. "Namun faktanya di masyarakat, banyak yang merasa hidup makin susah.Jadi saya tidak percaya data Bank Dunia tersebut," katanya. Sementara itu, Direktur International Center for Applied Finance and Economic (Inter- CAFE) Iman Sugema mengatakan, pemerintah perlu mencari terobosan baru untuk mengurangi kemiskinan.Selamaini,terobosan yang ditempuh pemerintah seperti PNPM,Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan Jaring Pengaman Sosial (JPS) kurang begitu inovatif. Hal itu menyebabkan upaya menekan kemiskinan cenderung jalan di tempat. “Kalau terobosannya masih begitu-begitu saja, tidak akan ada akselerasi pengurangan kemiskinan.Padahal kita ingin pengurangan bisa dilakukan dengan cepat,” ujar dia. (zaenal muttaqin/ant) B. Dwiagus Stepantoro Jakarta, INDONESIA http://bdwiagus.blogspot.com Just be open,... who knows lightning will strike!! ____________________________________________________________________________________ Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage. http://www.yahoo.com/r/hs

