Bu lita ysh, apakah ibukota itu sudah dipertimbangkan ke depan kalau keerom yang terletak di perbatasan akan membuka pos lintas batas dengan PNG. Biasanya Pos lintas batas berkembang menjadi titik pertumbuhan. salam
----- Original Message ---- > From: Lita Barus <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Thursday, December 6, 2007 7:04:13 PM > Subject: Re: [referensi]Keerom > > Beberapa tahun ini saya memang sering ke Keerom, salah > satu kabupaten pemekaran dari Kabupaten Jayapura. > Berada di perbatasan dengan PNG. Suku tertua disana > adalah Tabu. Mereka adalah masyarakat Tabu. Dulu ada > anggota OPM yang telah meninggal berasal dari sana, > Marten Tabu. > > Masyarakat ini, sebagian berkerabat erat dengan > masyarakat di PNG, terutama yang berada di dekat > perbatasan, seperti di Waris. Ibukota sementara adalah > Arso. Wilayah ini merupakan wilayah rawa-rawa, > sehingga selalu banjir, jika musim hujan tiba. > > Mereka membutuhkan ibukota baru, dalam Undang-undang > tentang awal pemekaran, ibukota disebutkan di Waris, > namun di Kampung Waris, wilayahnya sangat berkontur > dan gampang longsor, sehingga kami membantu mereka > untuk menemukan wilayah yang layak untuk dijadikan > ibukota baru. > > Kemaren, ketemu Bang Eka di airport, kami, tim baru > saja selesai mengikuti acara Pencanangan Peletakan > Batu Pertama Pembangunan Ibukota Kabupaten Keerom > dengan ucacara adat setempat. Wah seru soalnya banyak > pengalaman unik. Kami juga menyaksikan tari-tarian, > nyanyian, mantera-mantera adat setempat, dll. > Tari-tariannya toples gitu deh... > > Syukurlah segenap unsur masyarakt memberikan dukungan > positip.Smoga kedepan bisa berjalan lancar. Amin. > > Salam, > Lita Sari Barus > --- - ekadj wrote: > > > --------------------------------- > > > Referensiers ysh, > > Saya baru sampai dari perjalanan 2 minggu ini, sangat > melelahkan di perjalanan, dan punya beberapa issue > yang masih belum tersusun. > > Di Kupang, memperhatikan Pak Risman, Pak Ake dkk > ‘mengukur dan menghitung setiap jengkal > tanah’, memperhatikan setiap persil lahan dan > bentuk ruang jalan; menguji ‘nilai jalan’ > adalah mutlak/absolut/pasti dalam menentukan > ‘nilai lahan’. Sehingga kita perlu > memperhatikan ‘kelengkapan jalan’ itu, > berapa lajur, berapa lebar per lajur, apakah ada > trotoar, tanaman peneduh, saluran drainase, jaringan > utilitas, ‘sidewalk’, dlsb; kalau sekarang > ditambah dengan jalur busway. Debat tentang sidewalk: > bahu jalan, pedestrian, atau ‘area’ yang > masih tertempuh oleh roda mobil? ‘Ilmu > perencanaan’ yang diajarkan di sekolah apakah > sudah sampai disitu? Termasuk hal realistis dan > politis bila ‘bina marga’ adalah > ‘anak emas’nya penataan ruang. Perlu > menunggu 50 tahun lagi untuk mengerti? > > Di Biak, antisipasi atau reaksi yang telat? Bila > tidak, perlukah Pak Johand menyiapkan Waigeo untuk > ‘wahana antariksa’? > > Di Jayapura, baca koran Cendrawasih Pos Kamis ini, > ternyata acara di gubernuran kemarin adalah rapat > terbatas Gubernur dengan jajaran SKPD. Pak BTS, > progres terakhir bila dari total APBD Papua 2007 5T, > ternyata baru terealisasi 1,5T, waktu kurang 1 bulan > lagi. Tidak mungkin habis bila hanya untuk jalan-jalan > ke luar negeri. Saya setuju dengan Pak Har, untuk > menghabiskan anggaran besar dengan cepat hanya bisa > dilakukan dengan program ‘infrastruktur > fisik’. Tidak mampu?, jangan kasih uang! > Ndilalah satu-satunya highly recommended untuk program > infrastruktur fisik (heavy) hanya dari RTR, apalagi > bila RTRW/RDTR. Sayangnya para perencana kita (masih > belum) mampu menggerakkan rekomendasi-rekomendasi > pembangunan fisik yang terprogram dan terukur, atau > bahasa UUPR: siap operasional. Kembali ke lagu lama: > RTRW/RDTR benarkah ‘perencanaan fisik’? > Kebijakan dalam negeri? … hehehe … > > Ada 2 issue lagi dari Papua, saya coba besok. > > Sebenarnya saya menemukan 4 buku dalam perjalanan: > > 1 Orang Sabu dan Budayanya, karya Robert Riwu Kaho > (2005) > > 2 Papua Barat dari Pengakuan ke Pengakuan, karya Agus > A. Alua (2006) > > 3 Agama-agama Melanesia, karya Agus A. Alua (2006) > > 4 Islam dan Kristen di Tanah Papua, karya Pdt J.F. > Onim (2006) > > Yang menarik dari 3 buku terakhir, saya baru lihat > (November 2007) padahal sebelumnya saya belum lihat > (sd Juni 2007). Saya akan jelaskan nanti. > > Yang menarik kedua Pak BSP, dari buku 1, sejarah > Majapahit diakui sampai ke Sabu, malah disebutkan > Gajah Mada berasal dari Sabu. Tapi buku 2 dan 4 tidak > mengakui sejarah Majapahit di Papua. > > Saya ingin menarik debat Andri-Dwiagus-Hesthi dalam > konteks pemahaman perbedaan, perencanaan nir-sekuler, > dan ‘mengerti’ orang Papua, mari > diteruskan. Siapa tahu ini ‘tantangan > terbesar’ Pak BSP di masa depan. > > Mudah-mudahan masih ada waktu sampai akhir pekan ini, > sebelum balik lagi ke Papua. Pak Kandipi dan Bu Ninik > nanti kita ketemu. Lita Barus mohon bagi cerita > Keerom. Salam. > > > > -ekadj > > > --------------------------------- > Walla! Mail - get your free 5G mail today > > > > > > > > ________________________________________________________________________________ > ____ > Never miss a thing. Make Yahoo your home page. > http://www.yahoo.com/r/hs > > > Komunitas Referensi > http://groups.yahoo.com/group/referensi/ > Yahoo! Groups Links > > > > http://docs.yahoo.com/info/terms/ > ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

