FYI
Membuat KTP di Jepang : Beres dalam sekejap
Jump to Comments
Hari ini saya mengurus perpindahan alamat baru dari Kelurahan Minato
(Minato ku) ke Kelurahan Chikusa (Chikusa-ku). Langkah ini wajib
dikerjakan karena tidak saja menyangkut urusan surat menyurat tetapi
juga menyangkut asuransi kesehatan dan sistem pembayaran pajak.
Sewaktu datang pertama kali ke Jepang, urusan membuat KTP (????????=
gaikokujin touroku shoumeisho)dibantu sepenuhnya oleh volunteer Nagoya
University di kantor kelurahan (???=kuyakusho)Chikusa. Waktu itu kami
datang jam 4 sore dan urusan beres hanya dalam satu jam. Ketika saya
pindah ke Minato sama juga, urusan beres dalam sejam. Hari ini pun
kembali saya mendatangi kantor kelurahan Chikusa sekitar jam 4.30
sore, saya sudah khawatir karena jam kantor akan berakhir pukul 5.17
sore. Tapi kekhawatiran itu pupus, karena pengurusan alamat yang baru
hanya berlangsung 10 menit dan urusan penggantian kartu asuransi
kesehatan hanya butuh waktu 15 menit.
Saya masih berdiri terpaku di depan petugas yang mengasungkan kartu
asuransi yang baru dan terbengong dengan cekatannya mereka melayani
warga. Kalau tidak karena ucapan `otsukaresama deshita`, mungkin saya
masih mematung di situ. `Haik, arigatou gozaimashita`.
Hampir semua urusan tetek bengek sebagai warga di Jepang senantiasa
berjalan cepat dan tidak perlu biaya. Biaya hanya saya bayar ketika
membuat KTP pertama kali sebesar 300 yen (sekitar Rp 21,600) dan
setiap membuat surat bukti sebagai warga setempat juga keterangan
berapa besar tax yang saya bayar, untuk surat rekomendasi ini saya
juga hanya membayar 300 yen. Tidak ada uang pelicin, sebab semuanya
sudah berjalan sangat licin !
Hanya sekali saya menunggu agak lama, yaitu ketika mengurus
perpanjangan visa di kantor imigrasi. Sebagai pelajar, visa saya
berlaku 2 tahun, dan harus diperpanjang 2 tahun lagi, karena saya akan
tinggal di Jepang hingga tahun 2009. Dengan status sebagai mahasiswa
yang tanpa beasiswa (self-financed student), saya seharusnya
menyetorkan fotokopi rekening bank yang menunjukkan apakah saya bukan
orang yang kere (>_<), tapi punya cukup dana untuk hidup di Jepang.
Dokumen ini lupa saya sertakan, sehingga visa baru saya
terkatung-katung hingga 3 minggu. Urusan baru beres setelah saya
menelpon langsung ke kantor imigrasi dan menanyakan keterlambatan
visa. Hari itu juga saya menerima panggilan untuk datang mengambil
visa baru sambil membawa fotokopi rekening bank.
Begitulah, semuanya berjalan serba cepat di Jepang sebagaimana
orang-orangnya yang selalu terburu-buru ketika berjalan kaki, bahkan
kalau perlu berlari demi datang tepat waktu.
KTP saya di Indonesia kadaluarsa 2005 yang lalu, saya harus
memperbaharuinya ketika pulang nanti. Saya masih ingat mengurus
sendiri pembuatan KTP, mulai dari minta surat keterangan dari Pak
RT/RW, datang ke kantor kelurahan, dan terakhir ke kecamatan. Ketika
di kantor kelurahan, staf setempat meminta uang jasa yang ketika saya
tanya berapa jumlahnya dia mengatakan seikhlasnya. Karena memang kere
waktu itu saya hanya bayar Rp 1000, dan petugas menerimanya dengan
merengut tanpa sedikit pun ucapan terima kasih. Di Kantor kecamatan,
staf meminta saya membayar Rp 10,000 dengan alasan peraturannya
begitu. Ketika saya minta ditunjukkan peraturannya, petugas mengatakan
tidak ada, itu sudah tradisi, jadi bayar saja. Jadi setelah
menghitung-hitung biaya yang saya habiskan untuk mengurus KTP berikut
dengan ongkos transpornya sekitar Rp 23,000. Hampir sama jika saya
minta tolong Pak RT yang menguruskannya, biayanya Rp 25,000.
Gaji saya sebagai guru waktu itu hanya Rp 300,000. Saya tidak pernah
berfikir itu di bawah upah minimum, sebab saya masih bisa hidup dan
bebas bergerak dengan dana sebesar itu. Tapi saya sangat sedih dengan
perlakuan orang-orang yang tidak jujur. Saya tahu mereka mungkin juga
bergaji sama dengan saya, bahkan mungkin lebih kecil, tetapi apa
nikmatnya memakan gaji dari hasil pemerasan ?
Dulu saya sering terkena lemparan batu di angkot yang isinya pelajar
STM, masa itu ramai-ramainya pelajar tawuran. Saya sangat heran kenapa
pagi-pagi orang mempunyai nafsu berkelahi demikian kuat. Saya pikir
salah satu penyebabnya karena anak-anak itu barangkali diberi makan
dari harta yang tidak bersih. Uang haram yang masuk ke tubuh anak-anak
melalui makanan yang mereka makan berubah menjadi energi kekerasan.
http://murniramli.wordpress.com/2007/04/03/membuat-ktp-di-jepang-beres-dalam-sekejap/
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.