Judul diatas adalah 2 UU yg keluarnya berurutan. UU 24/2006 ttg penanganan Bencana baru disusul UU26/2007 ttg Penataan Ruang.Keduanya mustinya saling terkait mengingat isu bencana,termasuk isu global warming yg merupakan bencana besar berikutnya menjadi sorotan para planner dewasa ini. Peran planner sgtlah besar dalam rekonstruksi kota pasca bencana (faktanya di BRR Aceh) dgn keahlian yg diperoleh diperkuliahan mulai dr site planning, pemberdayaan masyarkt, perumahan, transportasi,perencanaan kota,ekonomi wilayah, urban design, kelautan, dsb. Dengan isu bencana, termasuk global warming planner tampaknya perlu mendalami dan mengurusi juga ttg gejala alam dan bencana,dalam upaya menjinakkan bencana (mitigasi) serta membuat perencanaan bencana (pra-pasca, entah itu hazard mitigation plan atau recovery plan ).
Sayangnya dalam UU26/2007 disinggung sgt sedikit upaya penataan ruang dlm kaitan perencanaan kebencanaan. hanya satu pasal tentang bencana inipun hanya umum dan tidak ada detilnya yg berbunyi Penataan ruang diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana. Sebaliknya UU24/2007 malah menyinggung banyak soal peran penataan ruang dalam penanganan bencana. Ada 4 pasal(35,38,42,47) dalam hal mitigasi bencana dan penanganan prabencana. Kesimpulan sementara, perlu ada kompetensi tambahan dalam IAP utk perencana kebencanaan, mengingat nanti setiap daerah jg hrs membuat rencana aksi daerah penanganan bencana-pra dan pasca (berdasar UU bencana). Kedua, bener, planner(penataan ruang) gak ada matinye. Demikian, Salam hormat buat sensei(suhu),sempai(senior),kohai(junior) planner Togu PARDEDE dr negeri matahari terbit nb: kok kebetulan berurutan, (mungkin spy gampang diingat) ada satu lg UU yg menyinggung mitigasi bencana dan tata ruang yaitu no27/2007 ttg pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. > > Pak Risfan dan milister lainnya, ysh: > > Isu global warming memang lagi "in" saat ini. Memang mengerikan bilamana dampak dari global warming itu sampai menghilangkan pulau2 di Indonesia, spt artikel yg diforwardkan tsb. Konferensi Bali adalah timely utk mitigasi dampak dari global warming. Saya hanya ingin menambahkan "hilangnya" pulau atau coastal cities bukan hanya akibat the rising sea levels tapi juga land subsidence. Sbg contoh di Jakarta hal ini pun terjadi. Tulisan pendek saya di the Jakarta Post bulan April lalu menguraikan isu tsb. > > Seperti disampaikan oleh Pak Iman, saat ini di Konferensi Bali pun tentunya akan dibahas peranan perencanaan kota dan wilayah thd mitigasi global warming ini. Hanya secara ringkas saya ingin menyampaikan janganlah mengembangkan perkotaan di Indonesia spt yg terjadi di US. Suburbanization and highly dependent on automobiles adalah wajah perkotaan di US. Dimulai sejak selesainya WWII sampai sekarang. Ini berkontribusi besar thd carbon emission yg menjadi penyebab greenhouse effect. > > Cobalah mengembangkan kota yg compact dan meminimalkan trip. Begitu pula halnya dg public transportation. Dan juga pentingnya kelestarian hutan dan kawasan hijau lainnya. Inilah kurang lebih kontribusi yg dapat dilakukan profesi perencanaan thd mitigasi global warming. Saya juga melihat adanya kaitan kuat antara sustainability development dan mitigasi global warming ini. > > Sementara sekian dulu saja... > > Salam hangat dari Savannah, > Deden Rukmana > > > ----- Original Message ---- > From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Saturday, December 8, 2007 10:43:36 PM > Subject: [referensi] Climate Change: Jakarta, Semarang, Surabaya terendam dan 2000 pulau tenggelam > > Climate change may wipe some Indonesian islands off map > By Sugita Katyal and Adhityani Arga | Posted Mon Dec 3, 2007 12:11am PST > > JAKARTA (Reuters) - Many of Indonesia's islands may be swallowed up by the sea if world leaders fail to find a way to halt rising sea levels at this week's climate change conference on the resort island of Bali. > Doomsters take this dire warning by Indonesian scientists a step further and predict that by 2035, the Indonesian capital's airport will be flooded by sea water and rendered useless; and by 2080, the tide will be lapping at the steps of Jakarta's imposing Dutch-era Presidential palace which sits 10 km inland (about 6 miles). > The Bali conference is aimed at finding a successor to the Kyoto Protocol, which expires in 2012, on cutting climate warming carbon emissions. With over 17,000 islands, many at risk of being washed away, Indonesians are anxious to see an agreement reached and quickly implemented that will keep rising seas at bay. > Just last week, tides burst through sea walls, cutting a key road to Jakarta 's international airport until officials were able to reinforce coastal barricades. > " Island states are very vulnerable to sea level rise and very vulnerable to storms. Indonesia ... is particularly vulnerable," Nicholas Stern, author of an acclaimed report on climate change, said on a visit to Jakarta earlier this year. > Even large islands are at risk as global warming might shrink their land mass, forcing coastal communities out of their homes and depriving millions of a livelihood. > The island worst hit would be Java, which accounts for more than half of Indonesia 's 226 million people. Here rising sea levels would swamp three of the island's biggest cities near the coast -- Jakarta , Surabaya and Semarang -- destroying industrial plants and infrastructure. > >

