Cerita dialam akhirat...... tiga orang insinyur....Sipil, Arsitek Planner pada 
pintu pertama akhirat dicegat dan ditanya oleh Malaikat Penjaga :
  “... Hai kalian manusia ..... sebelum aku izinkan kamu melewati pintu ini 
.... jawab dulu pertanyaanku .... apa yang telah kamu  percayai selama masa 
hidup kamu didunia .....”.   Giliran pertama...  sang insinyur Sipil dengan 
bergairah menjawab : “...Saya sangat percaya bahwa civil engineering itu adalah 
untuk kebaikan semua umat manusia ....... baik mulai dari yang tinggalnya 
didaerah paling kumuh  dikolong jembatan sampaipun yang tinggalnya didaerah 
termewah seperti  di Pondok Indah dan Menteng ......”.  
”Ehm..ya..baiklah..masuk!.........    Berikut!...”, kata sang Malaikat sambil 
menunjuk ke Arsitek......  Sang Arsitek dengan tegap dan bangga menjawab : 
“...Seni dan desain yang indah  adalah fundamental daripada semua kenyamanan 
hidup... dan saya telah mengabdikan hidup saya untuk semua itu....”.  
“Ehm..baiklah..ya udah..kamu masuk juga! ......... Dan sekarang kamu!.....”, 
kata Malaikat sambil jarinya ganti menunjuk ke sang  Planner.......  Mas 
Planner : “... Saya
 percaya... bahwa apa yang  Bapak Malaikat saat ini sedang lakukan itu  adalah 
persis sama betul seperti fungsi yang selama ini telah saya jalankan didunia 
......”.  Malaikat Penjaga : “Hhmmm...??!??...”.    
  Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com> wrote :


  BTS: ........Lagi pula apa sih hubungan geografi berupa struktur kota-kota 
dengan kesejahteraan? 
  Apa sih hubungan besaran kota-kota dengan kesejahteraan? 
  Apakah kota besar itu lebih sejahtera? 
  Apakah kota yang kecil itu tidak sejahtera? 
  Untuk itulah yang penting indikator apa tingkat kesejahteraan itu. Itulah 
yang kita kejar, bukan SKK.  SKK itu adalah sistem berkembangnya kota-kota 
dengan sendirinya. Apakah suatu kota mau berkembang cepat ataupun lambat, itu 
kendali pemda setempat/masing- masing melalui kebijakan fiskal daerah dengan 
regulasi-regulasiny a. Toh Pemerintah sudah memberinya DAU yang cukup untuk 
mengembangkan diri melalui Fiscal Gap Policy.............
   
  Tanggapan : ........Wow ini sesuatu yang harus menjadi pembahasan kita ke 
depan...... Pertama tentang konsep kesejahteraan, yang sering menjadi 
perdebatan diantara kita... sejahtera tidak harus diukur dari ekonomi semata, 
oleh karena itu mengembangkan kota tidak harus mengkuti kota besar yang ada 
tapi setiap kota mempunyai karakter yang harus sesuai dengan kondisi sosial 
masyarakatnya. Saya rasa kita telah banyak berdebat soal ini. 
.....................
   
  "Hannie Waworoentoe" <[EMAIL PROTECTED]>  wrote :
   
  “........ Saya sokong sepenuhnya suatu diskussi tentang hubungan antara besar 
atau ukuran kota dengan 'tingkat kesejahteraan penduduknya, saya yakin ada 
banyak yang ingin membahasnya.........”.
   
  *           *           *           *           *           
   
  Milisters semuanya ysh, 
   
  Semula saya agak-agak kurang percaya dan  masih menganggap bahwa beberapa 
rentetan pertanyaan diparagraf pertama diatas itu  hanya sekedar setengah 
bercanda saja .... bukan perkara serius .... tetapi ketika  membaca  tanggapan 
pak Rofiq ......ditambah yang  dari pak Wawo .......  saya mulai percaya ..... 
rentetan pertanyaan itu memang serius .... bukan main-main...... jadi memang 
perlu ditanggapi ...........
  Sambil menanti tanggapan dari teman-teman lain untuk kita dapat saling 
berbagi pandangan......... berikut adalah dari saya ....
   
  Kalau kita amati  dari rentetan pertanyaan diatas .... Pertanyaan yang pokok  
adalah 3 hal : 
   
  x. Apa sih hubungan besaran kota-kota dengan kesejahteraan? 
  y. Apakah kota besar itu lebih sejahtera? 
  z. Apakah kota yang kecil itu tidak sejahtera? 
   
  Pertama.... karena kota setidaknya terdiri dari unsur (a) manusia/ benda 
hidup, (b) suprastruktur/benda mati dan (c) infrastruktur/benda mati ....... 
dan sepertinya yang lebih umum istilah ‘kesejahteraan’ lebih tepat dikenakan 
pada  ‘makhluk hidup’..............  maka saya kira menyangkut pertanyaan (y) 
dan (z) ... pertanyaannya perlu sedikit diubah/ ditambah suku kata ‘manusia’ 
...atau ‘penduduk’ seperti misalnya (y). Apakah ‘manusia/ penduduk’ dikota 
besar lebih sejahtera.... atau  (z). Apakah ‘manusia/ penduduk’ dikota kecil 
tidak sejahtera .........
  Sehingga kalau boleh sedikit diubah... pertanyaannya  adalah kemudian :
   
  x. Apa sih hubungan besaran kota-kota dengan kesejahteraan? 
  y. Apakah ‘manusia/ penduduk’ kota besar itu lebih sejahtera? 
  z. Apakah ‘manusia/ penduduk’ kota yang kecil itu tidak sejahtera? ..........
   
  Perbedaan besaran kota-kota satu sama lain pada dasarnya lebih terbentuk 
utamanya karena perbedaan fungsi-fungsinya ............ 
  Kota-kota paling kecil memerankan fungsinya sebagai pusat layan dari pedesaan 
sekelilingnya.... baik untuk pemasaran hasil-hasil pertanian ataupun untuk 
distribusi barang-barang industri yang dihasilkan oleh kota dan perlu 
dikonsumsi oleh desa .......kota menengah memainkan perannya melayani kota-kota 
kecil serta desa-desa..... dan kota besar melayani kota-kota menengah, kota 
kecil dan desa untuk urusan yang sama ........
  Sementara itu menyangkut  evaluasi tentang ‘kesejahteraan kota’  barangkali 
tergantung pada latar belakang sudut pandang masing-masing profesi.....
  Sudut pandang birokrat.... salaryman... industrialis... 
sosiolog...politikus.... ahli teknik sipil ... arsitek... planner... lawyer... 
budayawan.... orang miskin... penganggur ..... semuanya saling berbeda......
   
  Berbeda dengan pandangan birokrat atau intelektual diuniversitas yang 
barangkali lebih melihat kota sebagai ‘eagle bird eye view’..... bagi simiskin 
dari desa yang tak lagi memadai bertani didesa ... karena tak lagi memiliki 
lahan pertanian yang cukup.... atau terlalu sering gagal bertani... atau karena 
sedang tidak berkegiatan bertani.. baik karena tidak ada air irigasi ataupun 
justru karena sudah selesai bertanam padi lalu daripada menganggur lalu mencari 
tambahan penghasilan kekota............
  Bagi pemuda desa yang menganggur atau kerja tak tentu didesa .... sebagiannya 
percaya bahwa dikota besar kesempatan dan jenis pekerjaan akan lebih luas dan 
beragam..... lalu mereka kekota besar .....
  Bagi petani desa yang harus tunduk pada hukum alam bahwa .... apa-apa yang 
akan dipanen harus menunggu dulu tenggat waktu yang tak dapat digugat seperti  
menanam dan memanen bayam dan ketimun harus menunggu dulu waktu 33  hari... 
bertanam cabe merah dan memanen hasilnya setelah 90 hari dst.......  apapun 
pekerjaan dikota .... bagi mereka itu seakan seperti merupakan ’pekerjaan 
sektor modern’  saja........
  Nilai tambah yang pasti dan .. ‘masa panen yang singkat’ ... hanya dalam 
hitungan menit, jam atau 1-2 hari.....
  Berjualan asongan dilampu merah ..... pagi itu datang dan pada jam berikutnya 
transaksi telah didapat..... dan 100 atau 200 perak masuk kekantong.......
  Bagi tukang sayuryang berkeliling kekompleks perumahan dikota besar.... 
  Tanpa harus menanam.... dimalam hari mereka berkulakan kepasar besar .. dan 
sejak pukul  6 pagi telah mangkal dipojok kompleks atau berkeliling kompleks 
... dan menit-menit berikutnya dari tiap-tiap item yang dijualnya bisa diraih 
untung 500 sampai 1000 rupiah seperti    kangkung, tempe, telur, ikan atau 
bahkan untung 5000 untuk per kg daging..... siangnya mereka pulang kerumah 
kontrak .. rebah-rebahan dan nonton TV, tidur dan tengah malam berangkat 
kepasar besar........ demikian dst..........    
  Bagi para gadis dan pemuda desa yang kekota dengan pandangan ‘worm eye 
view’.... bekerja  diladang selain berat juga tidak menjanjikan penghasilan 
yang pasti dan memuaskan ..... sementara itu dengan ‘berhijrah’ kekota besar... 
menjadi pembantu rumahtangga ..... atau pelayan toko.... jelas bahwa 
‘penghasilan net yang pasti’ akan didapat......
  Dibanding dengan batasan angka kemiskinan BPS 122 ribu rp. sebulan atau 4 
ribu rupiah sehari ... penghasilan net 300-500 ribu rupiah sebulan sebagai 
pembantu rumahtangga jelas cukup memuaskan..... fasilitas makan setidaknya 2 
kali, kamar tidur, fasilitas menonton TV milik majikan, kadang juga fasilitas 
telpon, diajak serta berekreasi dsb....sehari-hari bekerja indoordengan 
penghasilan bulanan  yang pasti tanpa kena sengatan matahari,   jelas merupakan 
‘kehidupan yang relatif makmur’ untuk seorang gadis desa yang semula didesa 
kehidupannya jauh lebih  buruk.... demikian juga pekerjaaan yang setara untuk 
para pemuda desa..........
   
  Tentang (y). Apakah ‘manusia’ kota besar itu lebih sejahtera?  dan (z). 
Apakah ‘manusia’ kota yang kecil itu tidak sejahtera? .............
   
  Yang jelas adalah bahwa rate upah dan biaya hidup dikota besar lebih tinggi 
dibanding dikota kecil ... dan variasi jenis kesempatan kerja jauh sekali lebih 
luas dan beragam dikota-besar baik untuk sektor ‘high level’ maupun untuk 
sektor informal ...... dikota besar pekerjaan-pekerjaan salaryman dengan ‘gaji 
setinggi langit’ lebih banyak diketemukan....yang itu berarti dikotabesar pula 
....  lebih banyak penduduk dengan penghasilan tinggi akan lebih banyak 
ditemukan  dibanding dikota kecil....  dan bagi pedagang .... berjualan dikota 
besar omsetnya  jauh lebih besar dibanding dengan dikota kecil .......
  Dengan kata lain ..... secara umum dan secara kasar .......penduduk dikota 
besar  jauh lebih banyak mendapatkan dan menikmati  fasilitas kota  yang  
modern dan memadai, dan lebih banyak yang berpenghasilan tinggi dibanding 
dengan yang dikota kecil .... atau dengan kata lain  secara umum dan secara 
kasar penduduk kota besar dan kota kecil serta desa dekat disekitarnya lebih 
sejahtera dibanding penduduk kota kecil  dan desa yang teramat jauh letaknya 
dari jangkauan layanan kota besar ..............
   
  Walau secara rinci kota besardan kota kecil  masing-masing memiliki komposisi 
penduduk kaya dan penduduk miskinnya ...... namun kota-kota besar dan kota-kota 
kecil secara fungsional saling berhubungan  satu sama lain ........ dan peran 
unik masing-masing tidak dapat saling tergantikan .......... atau dengan kata 
lain .... konstelasi dari kota-kota besar dan kecil yang tersebar berserakan 
diseluruh negeri pada dasarnya adalah merupakan sebuah  “hamparan sistem 
kota-kota secara nasional’ yang nyatanya  ada dan eksis dan satu sama lain 
saling berhubungan  secara fungsional ........ 
   
  Hanya saja  kalau menurut kaidah perencanaan ruang ... ia  dapat dievaluasi 
... apakah ”telah merupakan sistem kota-kota secara nasional” yang “ideal”  
ataukah “belum”.... utamanya dilihat dari sudut sistem jarak-jarak ideal 
misalnya, dimana dapat dievaluasi apakah radius layan dari  kota-kota telah 
cukup efisien misalnya .... maupun juga dilihat dari aspek ‘sistem hirarkhinya’ 
satu sama lain ....... apakah telah berjalan dengan baik sekali dan efisien 
atau belum ...... utamanya dikaitkan dengan sistem integrasinya secara 
naional..............
  Bila “belum” ... maka jelas dan pasti terdapat inefisiensi sistem  keruangan 
didalamnya... terdapat pula didalamnya inefisiensi sistem perekonomian makro 
dan  perencanaan kesempatan kerja secara nasional.......... yang hampir pasti 
berarti pula ‘penyia-nyiaan pengembangan SDM’ secara nasional ................. 
   
  Maka tiada lain  –suka atau tidak suka–   atau –sulit atau tidak sulit– ia 
merupakan salah satu PR utama masyarakat planner ...... terlebih bahwa ‘sistem 
kota secara nasional’ yang ideal  pasti akan mengkonstribusikan sistem makro 
ekonomi dan  kesempatan kerja  yang  lebih baik dan kehidupan bangsa yang 
secara umum lebih baik pula.............
   
  Wasalam,
  aby

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke