Milisters  ysh, 
   
  Dari data PDRB per kapita di KTI pada 2003 rata2 Rp. 7,511,914........ dimana 
angka rata2 ini sedikit lebih rendah daripada PDRB nasional Rp. 8,304,300..... 
atau KBI Rp 8,857,156....... (BPS, 2003)........ 
  Analisis lebih jauh mengindikasikan.... Pengeluaran bulanan per kapita di 
SulSel rata2 dibawah Rp 150.000.- ......Hanya sekitar 1.000.000 penduduk 
(sekitar 12%) berpengeluaran lebih dari Rp.300.000.-........ Ini 
mengindikasikan bahwa daya beli termasuk untuk kebutuhan pendidikan dipropinsi 
ini atau di KTI secara umum sangat rendah.......... 
  Itu menunjukan bahwa usaha menaikkan biaya sekolah yang dimaksudkan untuk 
meningkatkan mutu pendidikan juga akan sulit untuk dilaksanakan di KTI......  
Dan kehadiran jasa2 tingkat tinggi di Makassar juga menjadi belum banyak 
memiliki nilai pasarnya yang ekonomis karenanya.......
  Jika melihat kontribusi dari 2 sektor pada PDRB dikawasan ini : ‘pertanian’ 
dan ‘industri’........ Terlihat jelas bahwa sektor pertanian sangat mengungguli 
sektor industri........
  Pada tingkat nasional...... Kontribusi dari ‘pertanian’ dan ‘industri’ pada 
PDRB per kapita nasional adalah masing2 16.58% dan  24.65%..... Kontras dengan 
data KTI yang adalah  32.32% dan 10.33%.......... 
  Sementara itu data untuk masing2 propinsi di  KTI  sendiri  juga amat 
bervariasi........ Seperti   6.55%: 38.75% untuk Kaltim.... Untuk Sulteng  
adalah 49.13%: 8.31% ....... Sementara untuk SulSel sendiri adalah 35.82% : 
11.46% ......(BPS, 2003).........
  Data itu menunjukan bahwa kegiatan ekonomi di KTI adalah utamanya digerakkan 
oleh sektor pertanian...... Propinsi SulSel  sendiri misalnya..... Dikenal 
sebagai pusat produksi padi di KTI... dan ekspor coklat juga mendominasi 
kegiatan ekonomi wilayah ini...........
  Terdapat pula beberapa produk pertanian dan perikanan potensial pula seperti 
kopi, jagung, jambu mete, rumput laut dan udang..... Sayang bahwa jangankan 
bicara tentang industri berbahan baku non SDA...... Bahkan beberapa produk SDA 
disini tidak didukung oleh industri terkait utk  mengolah lebih jauh proses 
untuk meningkatkan nilai tambah produk derivatnya kecuali itu baru terjadi pada 
 industri minyak goreng dan gula saja............ 
  Akibatnya banyak produk pertanian diekspor dalam bentuk bahan mentahnya..... 
Padahal sementara pihak berpendapat.... kehadiran dari demikian banyak 
perguruan tinggi disana seharusnya dapat  mendorong berdirinya industri 
derivatif ini (ini pandangan dari sudut pendidikan.... dari sudut ekonomi tentu 
beda lagi... dari sudut enjinering keruangan apalagi)........
  Meski bbrp industri berbasis non-pertanian ada juga disana.....  tetapi 
kehadirannya tidaklah seintensip seperti industri berbasis pertanian.... dan 
kehadirannya tak selalu berkait dengan industri manufaktur disana...... Proses 
sekunder dan tersiernya utamanya dilakukan dikawasan lain......
  Sangat sedikit daripadanya adalah PT. Inco/ pertambangan nikel dan PT Semen 
Tonasa di SulSel, PTFreeport di Papua, bbrp industri perminyakan dan gas di 
Kaltim dan industri terkait perkayuan utamanya di Kalimantan dan SulSel........
  PT Freeport melakukan eksploitasi penambangan di Timika Papua, tetapi proses 
kelanjutannya di Gresik, Jatim.... Dengan demikian kesempatan kerja industri 
terkait tidaklah tersedia secara luas dikawasan itu...... PT Incopun sama 
saja....  memproses nikelnya di Luwu dan samasekali tak terdapat kaitan 
industrialnya dengan sektor industri dikota Makassar.............
  *           *           *
  Sementara demikian dan salam,
  aby
   
  ( bahan2 a.l. dikutip dari Unhas Self Evaluation Report )

       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

Kirim email ke