Rekan Milister ysh,
Ini isu lain, tapi terpancing oleh komentar dari mas
BTS - ttg penggantian yang layak (pasal 77/3)
Dalam Pasal 77 (3), dinyatakan untuk pemanfaatan ruang
yang izinnya diterbitkan sebelum penetapan rencana
tata ruang dan dapat dibuktikan bahwa izin tersebut
diperoleh sesuai dengan prosedur yang benar, kepada
pemegang izin diberikan penggantian yang layak.
Saya pernah ditanya oleh tabloid Kontan tentang hal
ini maka saya bilang memang nya pemerintah atau
pemerintah daerah sudah kaya raya, sanggup beri
penggantian yang layak.
Dalam bagian penjelasan, ayat ini dinyatakan cukup
jelas. Jadi sah-sah aja kalo ditafsirkan penggantian
yang layak adalah berupa uang.
Ini kan pasal yang serba salah. Bagai buah simalakama.
Bila pemda dan pemohon izin bekerja baik ngikutin
prosedur kok malah harus ganti rugi akibat perubahan
RTRW (kita asumsikan aja dibuatnya juga dengan benar.
Padahal pak Ros bilang banyak RTRW yang dibuat asal2an
walaupun sudah diperdakan). Lebih baik kerja asal2 an
aja kalee ya.
ATAU Kita berharap aja si pemegang izin gak bakalan
berani ngebuktiin kebenaran izin tsb. Kalo dia nekat
pasti proses nya bisa ber-tahun2 karena selalu ada
pengadilan banding. Wah berabe ... lebih baik kompromi
aja deh.
Gimana kalo ada investor dapat izin (SECARA BENAR)
sesaat sebelum UU 26/2007 disahkan, dan kemudian dalam
3 tahun yang akan datang RTRW diubah, lalu lokasinya
dihijaukan. Susah lho bikin RTH 30% ( or pake akal
abunawas spt mas Subhan.. pot kembang kita punya pun
bs dianggap RTH). Dia harus pindah? Padahal
investasinya highly capital, yang produksinya per
jam bisa bernilai miliaran. Mampukah pemda ganti rugi?
Atau sebaliknya ada investor yang mau bangkrut, tapi
dia dapat buktiin bahwa izinnya benar (karena
prosesnya benar maka si pemberi izin pun dengan
welcome membantu membuktikannya). kemudian si investor
main2 ikut buat RTRW yang baru. Lalu lokasinya
dihijaukan. Nah dia bisa nuntut pemda ganti rugi. Uang
ganti rugi bisa bagi2 dgn si pemberi izin. Habis deh
APBD tuh buat bayar ganti rugi.
Apa kata duniaaa? lhoo yang salah (eh benar?) orang
lain kok kita yg harus nanggung !!!
wassalam,
AAS
--- Eko Subhan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> argh ...
> ini sudah menjadi diskusi yg cukup lama bahwa yg
> namanya kewenangan itu adalah milik negara .. lucu
> bila kewenangan tersebut diberikan kepada daerah ..
> emang daerah mau bikin negara dalam negara. wacana
> kewenangan itu dirubah menjadi 'urusan' .. not argue
> with that.
> multiinterpretasi itu penting dalam penataan ruang,
> karena ini memberikan kesempatan bukan hanya bagi
> para 'planner', tapi juga buat para pengacara,
> hakim, jaksa, kpk, polisi, inspektorat; dan di sini
> justru letak lemahnya sistem hukum kita.
> perubahan site menjadi RTH pasti menghantui stiap
> investor, tapi ngga usah khawatir; ngga ada kok yg
> dimaksud 30% itu seperti apa atau 20% RTH publik itu
> seperti apa .. bikin aja centang perenang; pinggir
> jalan, alang-alang, kebun, trotoar yg dikasih pot,
> tiga buah pohon kecil yang ditanam dalam lahan
> sebesar 2m persegi di beberapa spot .. semua menjadi
> sah .. sebab emang UU-nya dibuat serba tanggung.
> lebih jauh lagi tentang standar pelayan minimal
> penataan ruang ... apa emang negara sudah menyiapkan
> dana yang dialokasikan bagi pelaksanaan SPM PR di
> setiap daerah sebagai konsekuensi dari adanya SPM
> ini.. boro-boro ... apa ngga prioritaskan dulu pada
> SPM yg ada dalam agenda MDG .. tapi ya wis .. emang
> SPM PR-juga belum akan ada kok (atau udah ya? share
> doong)
> satu lagi tentang uu26 ini; pada pp 38/07 yg
> diterbitkan juli 07 lamp penataan ruang itu
> disinggung tentang penataan ruang wilayah laut, tapi
> di uu-nya (diterbitkan april 07) urusan laut ama
> udara ngga diatur cuman dirujukkan .. pie to'
> gemana hubungannya rencana tata ruang menurut uu26
> ini dengan RPJPD, satu sisi RPJPD menjadi acuan
> pembuatan RTR disisi lain RTR menjadi pedoman
> pembuatan RPJPD (Ps 25(1) vs Ps 26 (2) untuk
> kab/kota atau Ps 22(1) vs Ps 23 (2)) ...
> mudah-mudahkan saya yg bacanya ngga teliti ...
> katanya 'saling mengacu' .. heug siah ..
> selamat datang di negara lieur ...
>
> Eko Subhan M
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Ibnu Taufan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED];
> [email protected]
> Sent: Monday, May 12, 2008 7:31:33 PM
> Subject: Re: iap-indonesia . UU 26/2007 berpotensi
> menghambat investasi di daerah?
>
>
> bang Abdul yang baik ..
>
> jangan2 ini sebenarnya kegagalan lama yang diualngi
> lagi ... ada kesenjangan antara UUPR yang begitu
> normatif dengan kebutuhan pragamatis di tataran
> pelaksana di daerah jadi sehebat apa pun UUPR-nya
> dan selengkap apa pun RTR-nya .. ya kalau yang jadi
> pelaksana masih lemah pemahaman tentang substansi
> dllsbganya ya pasti terus2an merasa ada yang
> "kurang" ... artinya perlu dorongan kuat agar
> pelaksana di daerah mendapat penguatan .. apakah
> sudah semua kabupaten punya planner yang punya
> kemampuan menjabar RTR jadi operasional ? apa semua
> investor juga mudah memahami RTR ?
>
> kalau mau jujur apakah RTRnya DKI memang sudah
> begitu sempurna sampai menjadi mudah
> dioperasionalkan .. atau investor yang di DKI punya
> cukup kemampuan (jangan karena dekat dgn IAP yaa ?)
> untuk meneterjmahkan jadi pilhan investasi ..
> jangan2 karena peran DTK dan BAPPEDA yang cukup
> dominan sehingga "seindah" apapun RTR DKI ya jadi
> mudah dilaksanakan, mudah jadi rujukan investasi ...
>
> atau semua lagi belagak susah karena ancaman KPK
> sudah mulai merambah kemana-mana .. AA yang anggota
> legislatif plus Sekda Kepri aja bisa disergap KPK
> ... apalagi yg eselon 3 dan 4 yang punya supidol
> nyoret2 RTR ..
>
> tapi bukankah ini berarti makin luas peran planner
> untuk menjadi "interface" antara UUPR yang normatif
> dan multi interpretasi .. dengan kebutuhan pragmatis
> ... ? masih besar ceruk pasar planner di masa depan
> ??
>
> IBNU TAUFAN
> http://ibnutaufan. blogspot. com
> ibnu.taufan@ yahoo.co. nz, [EMAIL PROTECTED] com
> ----- Original Message -----
> From: abdul alim salam
> To: iap-indonesia@ yahoogroups. com ;
> [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Sent: Monday, May 12, 2008 4:27 PM
> Subject: iap-indonesia . UU 26/2007 berpotensi
> menghambat investasi di daerah?
>
> Rekan2 Milister ysh,
>
> Minggu lalu seorang kawan, yang kebetulan Planner
> dan
> juga Ketua Asosiasi Konsultan cabang Sulawesi Tengah
> berdiskusi dengan saya tentang praktek penataan
> ruang
> di sulawesi tengah. Mungkin dia menganggap sebagai
> Ketua BSP-IAP, saya ini lebih "jago" dan katanya dia
> sering baca komentar kritis saya dahulu atas draft
> UU-PR. Padahal kita2 orang ini khan cuma pintar
> dikonsep kalo dihadapin persoalannya nyata, sama aja
>
> bingung bo!
>
> Dengan keluarnya UU-PR No. 26/2007, maka pemda dan
> investor jadi bingung untuk memberikan izin
> lokasi/pembebasan lahan, karena tidak punya
> pegangan.
> Dalam pasal 78 pemda diharuskan menyesuaikan RTRW
> nya
> - dalam waktu 2 tahun (utk provinsi) dan 3 tahun
> (utk
> kabupaten).
>
> Pemda bisa aja mengeluarkan izin atas dasar RTRW yg
> ada - yg sudah diperdakan. Investor minta jaminan
> apakah nanti lokasi nya tidak "di RTH kan", karena
> dengan target 30% RTH akan banyak lahan yang harus
> dihijaukan (lihat pasal 17 - DAS dan pasal 29 utk
> kota). Pemda gak bisa jawab. Nah lho investor
> bingung.
> Ada teman2 yang bisa bantu jawab?
>
> Ini baru satu soal. Padahal masih banyak dari UU-PR
> yang perlu dibedah rame2 oleh Planner. Misalnya :
>
> (1)Apa maksud dari pasal 7 ayat (2) - yg berbunyi :
> ... negara memberikan kewenangan penyelenggaraan
> penataan ruang kepada Pemerintah dan pemerintah
> daerah.
> Apakah ini berarti RTRW tidak perlu dibawa ke DPRD
> untuk diperdakan, cukup dengan Pergub or
> Perbup/Perwalkot aja ? Bukankah pem/pemda sudah
> diberi
> kewenangan!
> Yurisprudensi khan sudah ada. RTRWN ditetapkan dgn
> PP.
> Walaupun dlm UU-PR pasal 23 dan 25 juga dinyatakan
> bahwa RTRW harus di-Perda-kan. ini khan gak
> konsisten
> namanya dgn pasal 7 di atas.
>
> (2)per definisi dalam pasal 1 yang dimaksud dengan
> Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman
> dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang
> berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi
> masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan
> fungsional. Apakah RTRW punya legitimasi hukum untuk
> mengatur sistem pusat yang lain di luar permukiman?
> (misal : perdagangan, transportasi, perikanan, dll)
> Kan gawat kalo kita capek2 bikin tata ruang dgn
> kelengkapan itu semua nya ternyata dianggap tidak
> legitimate oleh sektor lain - karena per definisi
> Struktur Ruang hanya ngurusin permukiman aja.
>
> Rasanya masih banyak isu lain yg perlu dikritisi,
> tapi
> aneh nya kok adem-ayem saja ya . Jangan2 UU-PR yang
> kita anggap sebagai "payung" untuk keterpaduan
> sektoral ini sebenarnya cuma dianggap"angin" lalu
> aja.
>
> Jangan2 bener sinyalemen yang mengatakan bahwa kita2
> aja masyarakat Planner yang "ge-er" padahal orang
> lain
> mah gak peduli2 amat dg penataan ruang dan berbagai
> produk turunannya. The show must go on with or
> without
> RTRW!!! Kalo gini berabee deh.
>
> Wassalam,
> AAS
>
> ____________ _________ _________ _________ _________
> _________ _
> Be a better friend, newshound, and
> know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
> http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR
> 8HDtDypao8Wcj9tA cJ
>
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
>
>
>
>
>
>
>
=== message truncated ===